
Tania menoleh ke arah Kayden saat melihat seorang pemuda datang menemuinya seperti itu. Dia tahu kalau gurunya itu yang menghubungi pemuda tersebut mengenai rencananya yang berubah.
"Kau hanya memintaku untuk tidak mengatakannya pada si bodoh itu." Jawab Kayden mengerti dengan siratan mata dari Tania.
"Kenapa kau merubah rencanamu dan tidak memberitahuku?" Tanya Tyaga sambil berjalan mendekat ke arah meja makan.
Tyaga lah yang diberitahu mengenai kabar perubahan rencana kepergian Tania, dan pemuda itu yang datang dengan sangat terburu-buru setelah mengetahui kabar tersebut.
"Saat perjalanan setelah keluar dari rumah sakit, aku juga baru memikirkannya. Aku memutuskannya secara mendadak." Jawab Tania sambil bangkit berdiri dari duduknya. "Lagi pula, untuk apa aku memberitahumu?"
"Kau adalah mantan Ketua OSIS, kau harus memberitahukan kepindahanmu terlebih pada orang yang menggantikanmu." Ujar Tyaga.
Tania tertawa kecil mendengar perkataan pemuda itu sambil berusaha membawa kedua koper besar miliknya, namun Tyaga langsung mengambil keduanya.
"Biar aku bantu. Aku akan mengantarmu ke bandara." Seru Tyaga sambil menarik pegangan koper dari tangan Tania.
Tania tidak menolaknya, gadis itu langsung berbalik dan melihat ke arah Karen dan Kayden yang masih duduk di meja makan.
"Bu Kepala Sekolah, dan Pak Guru, aku pamit pergi dulu. Terimakasih karena sudah merepotkan kalian berdua di sekolah mau pun di rumah." Ucap Tania. "Aku akan sering menghubungi kalian berdua."
Kayden menghela napasnya sambil bangkit berdiri. Pria itu sedikit kesal pada Tania.
Tania dan Tyaga berjalan keluar dari rumah itu, dan Kayden mengikutinya ketika waktu semakin malam.
"Kabari aku kalau kau sudah sampai di sana." Seru Kayden.
"Baiklah." Jawab Tania kembali menoleh pada Kayden yang berdiri di depan pintu. "Kau harus mengundangku saat kau menikah nanti."
Kayden mendengus dengan menyunggingkan senyumnya, menunjukkan lesung pipi yang ada di pipi kirinya.
"Aku pergi dulu." Ujar Tania setelahnya berjalan mengikuti Tyaga yang sedang memasukkan koper ke bagasi mobil pemuda itu.
Kayden mengantar kepergian Tania hingga mobil Tyaga menghilang dari pandangannya. Setelahnya pemuda itu berjalan masuk kembali ke pekarangan rumahnya dan duduk di tempat favoritnya dengan menghela napas.
"Mereka berdua seperti magnet." Gumam Kayden sambil membuang napasnya memikirkan Tania dan Ares.
Tania dan Tyaga berada di dalam perjalanan menuju bandara.
"Apa dia datang menemuimu? Karena itu kan kau jadi mempercepat kepindahanmu?" Tanya Tyaga.
__ADS_1
Tania tidak langsung menjawab karena perkataan Tyaga benar. Namun gadis itu tidak ingin mengiyakannya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau memutuskan pindah sekolah?" Sesekali Tyaga menoleh pada Tania dan jalanan di depannya. "Apa kau benar-benar ingin pindah?"
Tania mengangguk menjawabnya.
"Aku hanya ingin kembali seperti dulu." Jawab Tania.
Jawabannya itu membuat Tyaga heran, dia tidak mengerti dengan maksud perkataan gadis itu.
"Kau bilang aku berubah kan? Sebenarnya aku juga merasakan hal seperti itu. Aku tidak tahu kenapa rasanya sekarang aku tidak bisa berpikir seperti dulu lagi." Ucap Tania sambil menatap kedua tangannya yang terkepal.
Tyaga diam saja dengan menyimak perkataan gadis itu. Sebenarnya dia tahu kalau yang dikatakan gadis itu semuanya karena perasaan Tania yang sudah berubah saat ini, namun dirinya pun juga tidak mempercayai mengenai sesuatu hal.
Mengenai cinta yang mampu mencairkan hati yang sedingin es, mengenai cinta yang bisa merubah sikap seseorang karena merasakannya.
"Karena itu, lebih baik aku kembali saja ke rumahku. Lagi pula akhir-akhir ini aku sering merasa kesepian. Dengan bersama dengan ibu dan adik-adikku, aku pasti tidak akan merasakan kesepian lagi." Ujar Tania menoleh pada Tyaga.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Tyaga ketika berhenti di lampu merah.
Pemuda itu menoleh pada Tania yang menjadi tampak terkejut dengan mata yang membola setelah mendengar pertanyaannya.
"Kau bilang kalau kau berubah, apa itu semua karena kau menyukai Ares?" Tyaga mengulang kembali pertanyaannya. "Jika memang seperti itu, bukankah seharusnya kau mengatakannya saja padanya? Kau juga tahu kan kalau dia menyukaimu?"
"Karena itu, sudah ku bilang katakan saja kalau kau menyukainya. Kau merasa terbebani karena kau tidak mengatakan hal itu padanya." Seru Kayden terlihat menjadi kesal. "Dia juga menyukaimu, seharusnya itu bukan masalah untuk kalian berdua jika kalian berdua jujur."
Tania menarik tatapannya dari Tyaga dan melihat keluar jendela pintu mobil. Gadis itu tidak berniat mengatakan apapun lagi.
Akan tetapi dia teringat mengenai perkataan Harmony padanya kemarin. Mengenai sesuatu yang sesuai dengan perkataan Tyaga barusan.
Cinta itu memang rumit. Tapi semuanya menjadi tidak rumit lagi setelah kedua orang yang saling mencintai berkata yang sejujurnya.
...***...
Ares berada di dalam kamarnya saat jam sembilan malam. Pemuda itu sejak makan malam terus belajar untuk memperbaiki nilainya.
Keinginannya untuk lulus kembali muncul lagi setelah meminta maaf pada Tania.
"Aku yakin bisa lulus. Nilaiku juga sudah jauh lebih baik sekarang. Semua karena dia." Ucap Ares sambil meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
Terlintas pikirannya untuk menghubungi Tania. Pemuda itu menjadi ingin berbicara dengannya saat ini.
Segera dia menghubungi gadis itu dengan ponselnya, namun sayangnya teleponnya tidak di angkat. Beberapa kali Ares mencoba menelepon namun tetap tidak diangkat.
"Apa dia sedang tidur?" Tanya Ares merasa heran.
Dicobanya lagi untuk menghubungi Tania, namun dia terkejut karena teleponnya kali ini seperti di tolak.
"Ada apa ini? Dia menolaknya? Apa dia tidak sengaja?" Gumam Ares.
Sekali lagi pemuda itu menelepon Tania. Kali ini ponsel gadis itu tidak aktif. Itu berarti Tania menonaktifkan ponselnya tersebut.
"Ada apa dengannya?" Perasaan Ares menjadi tidak enak mengenai Tania. "Apa dia sengaja melakukannya karena tidak ingin berbicara denganku?"
Segera Ares bangkit berdiri dan bergegas keluar dari kamarnya. Pemuda itu berniat untuk menemui Tania saat ini.
"Kau ingin ke mana, Kak? Ini sudah malam." Tanya Aphrodite yang baru saja keluar kamarnya dan melihat kakak laki-lakinya berjalan pergi dengan langkah lebar.
Ares tidak menjawab pertanyaan adiknya itu dan langsung berjalan menuju tangga dengan sangat cepat.
"Apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan berkelahi?" Tanya Athena yang menjadi ikutan keluar dari dalam kamar Aphrodite.
Ares melajukan motornya dengan sangat cepat. Pemuda itu berhenti di depan rumah Kayden.
Kebetulan gurunya itu sedang menikmati malam di tempat favoritnya, namun kali ini tidak ada batang rokok yang terlihat dihisapnya. Semua itu karena kehadiran Harmony yang merubah kebiasaan buruk pria itu dan membuatnya berhenti merokok sekarang.
Kayden menoleh pada kedatangan Ares yang terlihat sangat terburu-buru dengan bergegas menuju ke tempat Tania tinggal setelah turun dari motornya.
Ares mengetuk pintu kamar Tania dengan tidak sabar, meski jika dilihat dari luar, kamar itu tampak gelap.
"Kau terlambat." Seru Kayden pada Ares.
Mendengarnya, Ares menahan tangannya yang mengetuk pintu dan segera menoleh pada gurunya itu.
"Baru saja dia pergi." Lanjut Kayden yang hanya menoleh dengan santai ke arah Ares yang berada di depan pintu kamar Tania.
"Pergi? Kemana?" Ares menahan napasnya, merasa sesuatu hal yang tidak diinginkannya terjadi.
"Dia akan pindah dan kembali tinggal bersama dengan ibunya. Malam ini juga dia berangkat dan meninggalkan kota ini." Jawab Kayden.
__ADS_1
Ares terkejut mendengar perkataan Kayden tersebut. Hal mengenai Tania yang pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
...@cacing_al.aska...