
"Maafkan aku, aku kesal mendengarmu terus mengocah tanpa mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan karena itu aku melakukannya. Kalau tidak begitu, kau pasti akan terus mengoceh panjang lebar." Ucap Ares saat mengantar Tania pulang dengan mobil.
Meski masih tersisa rasa kesalnya, namun Tania tidak ingin memikirkannya lagi. Toh dirinya sejak awal tidak pernah menganggap kalau sebuah ciuman adalah sesuatu yang penting baginya.
"Lalu apa yang ingin kau katakan tadi?" Tania menoleh dingin pada Ares yang berada di sampingnya sedang menyetir.
Ares melihat pada Tania sejenak dan langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah depan. Sejujurnya pemuda itu ingin ke acara ulang tahun temannya itu jika Tania yang menemaninya. Entah karena apa, namun kedekatan antara dirinya dengan gadis itu membuat pemuda itu merasa nyaman bersama dengannya.
"Sudahlah, lagi pula semuanya sudah terlanjur. Aku akan pergi dengan gadis itu besok. Terimakasih karena kau memberikan solusi terbaik untukku." Jawab Ares.
Tiba-tiba ponsel pemuda itu masuk sebuah panggilan telepon. Dengan segera Ares menjawab telepon dari sahabatnya—Anton.
"Es, kau di mana? Baru saja The Bloody Rose menghubungiku. Dia ingin bertanding denganmu hari sekarang juga di tempat kemarin." Seru Anton di ujung telepon.
"Benarkah?" Tanya Ares namun dirinya kembali melirik pada Tania, tidak mungkin dia mengatakan hal tersebut saat ada gadis itu bersama dengannya. "Aku akan menghubungimu nanti." Setelahnya Ares menutup telepon tersebut.
Tania tidak bertanya apapun meski dirinya sedikit penasaran dengan telepon yang baru diterima Ares. Akan tetapi dia tidak ingin menanyakannya karena merasa kalau itu bukan urusannya.
"Besok kau tidak kemana-mana?" Tanya Ares saat sampai dan ketika Tania hendak turun.
"Ya, aku akan sibuk besok. Jangan menggangguku." Jawab Tania setelahnya menoleh pada Ares yang melihat padanya. "Kau akan langsung pulang kan? Sebaiknya kau selesaikan prakaryamu itu malam ini karena besok kau akan pergi."
"Ya, baiklah." Jawab Ares.
Ares langsung menjalankan mobilnya dengan cepat saat Tania masuk ke dalam pekarangan rumah.
Melihatnya, Tania tahu kalau Ares pasti berniat ke suatu tempat saat ini.
Segera Gadis itu berjalan mengarah ke kamarnya dan saat yang bersamaan, Kayden keluar dari rumah dengan pakaian rapi dan membawa sebuah tas.
"Kau baru pulang?" Tanya Kayden pada Tania.
"Ya. Kau pasti mau ke rumah temanmu untuk bermain game kan?" Tania ikut bertanya melihat Kayden yang hendak pergi.
"Ya begitulah." Jawab Kayden setelah itu berjalan keluar pagar.
Sejenak Tania hanya melihat pada Kayden yang pergi dengan berjalan kaki, namun setelahnya gadis itu masuk ke dalam tempat tinggalnya.
...***...
__ADS_1
Ares meluncur dengan motornya sangat cepat dan berhenti di mana Anton beserta teman-temannya yang lain berada.
Setelah mengantar Tania, pemuda itu kembali ke rumah hanya untuk menukar kendaraannya. Saat ini dirinya akan melakukan pertandingan balap kedua kalinya dengan sosok yang selalu menjadi pemenang dalam perlombaan balap motor jalanan, The Bloody Rose.
"Dia belum datang?" Tanya Ares saat sudah melepaskan helmnya.
"Belum, sepertinya sebentar lagi." Jawab Anton.
Benar saja tidak lama dari itu meluncur sebuah motor mengarah pada mereka, dan berhenti tepat di samping motor Ares.
Melihatnya Ares mendengus dengan pria yang masih saja menutupi dirinya dengan segala atribut seperti biasanya.
"Baiklah taruhannya seperti kemarin, aku akan menuruti semua yang kau minta kalau aku kalah. Tapi jika aku menang aku ingin hal yang lainnya. Bagaimana?"
The Bloody Rose tidak menjawab, pria itu hanya mendengus sambil menggeber motornya, siap untuk pertandingan.
Aba-aba diberikan, dan perlombaan balap di mulai. Mereka berdua saling menyalip satu sama lain. Hingga mencapai garis akhir yang ditentukan.
Lagi-lagi Ares tidak mampu mengalahkan The Bloody Rose.
Dengan kesal Ares membuka helm sambil menggeram tidak bisa menerima kekalahan dirinya yang kedua kali.
"Sialan, lagi-lagi kau beruntung." Kesal Ares menoleh pada pengendara motor yang masih menutupi dirinya. "Katakan, apa yang kali ini kau inginkan dariku? Aku pasti akan melakukannya agar kau mau menerima tantanganku lagi, Pak Guru!"
Ares hanya mendengus karena dugaannya sangatlah tepat.
"Kali ini aku ingin kau melakukan sesuatu juga." Seru Kayden setelah memperlihatkan dirinya pada Ares.
"Katakan saja, aku pasti akan melakukannya juga. Aku pasti akan mengalahkanmu di tantanganku selanjutnya. Jadi katakan keinginanmu." Ujar Ares.
"Menjauhlah dari Tania." Seru Kayden dengan tatapan kaku pada Ares.
"Apa?"
"Aku akan menerima tantanganmu selanjutnya kalau kau menjauhi Tania." Lanjut Kayden. "Kau mendengarku, kan?"
"Tapi kenapa aku harus menjauh darinya? Bukan karena kau cemburu padaku, kan?" Tatap Ares heran. "Itu tidak mungkin, aku rasa kau pun tidak benar-benar menyukai gadis itu. Sejujurnya aku kasihan padanya karena dia hanya dijadikan objek pelarianmu dari rasa tersiksa karena tidak bisa melupakan wanita yang kau cinta."
"Diamlah! Ini tidak ada hubungannya dengan semua itu." Sangkal Kayden. "Ingatlah, aku tidak akan menerima tantanganmu kalau kau tidak menjauh darinya. Pahami itu!!" Kayden memakai kembali helmnya.
__ADS_1
"Apa-apaan kau Pak Guru? Aku tidak mung—"
Perkataan Ares terhenti saat Kayden melaju dengan motornya meninggalkan Ares sendirian di tempat tersebut.
"Sialan!! Kenapa aku harus menjauh dari gadis itu?!" Geram Ares sedikit berteriak karena kesal ke arah Kayden yang sudah pergi. "Bukannya aku tidak mau, tapi dia harus membantuku dalam belajar. Jadi tidak mungkin aku menjauh darinya." Gumam Ares dengan kesal.
...***...
Keesokan harinya ketika langit menjelang malam, Tania yang sedang sibuk dengan pekerjaan OSIS-nya meregangkan tubuhnya sejenak karena rasa lelah mulai terasa. Gadis itu bersandar di kursinya dengan merasakan punggungnya, apakah masih terasa sakit atau tidak.
Tapi sepertinya sekarang punggungnya benar-benar sudah pulih, bahkan setelah duduk hampir tiga jam tanpa bersandar, dia tidak merasakan nyeri lagi.
Sejak memberikan pelajaran tambahan pada anak-anak, gadis itu duduk di meja belajarnya sedang menyusun kembali peraturan sekolah yang dirinya ingin ubah.
"Baguslah, ini benar-benar sudah sembuh sekarang. Dengan begitu si bodoh itu tidak akan terus menerus mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia jadi tidak perlu melakukan hal-hal yang disebut tanggung jawab itu padaku. Selama seminggu ini, aku sangat merasa tidak leluasa karena dia selalu bersamaku. Bahkan saat rapat OSIS sekalipun. Semua murid jadi mengira yang tidak-tidak pada kami."
Tania menghela napas panjang dengan kelegaan karena akhirnya dirinya akan terbebas dari Ares.
Gadis itu juga menjadi sangat kesal saat mengingat apa yang dilakukan pemuda itu tadi malam. Meskipun dirinya tidak menganggap serius ciuman itu namun tetap saja dia tidak bisa menerima perlakuan Ares padanya.
"Aku tidak akan membiarkannya melakukannya lagi. Bahkan mulai besok aku akan memintanya menjauh dariku!!" Kesal Tania.
Tiba-tiba terbersit pikiran mengenai Ares yang hari ini akan pergi ke acara ulang tahun temannya bersama dengan Dyara.
Acaranya pukul lima sore, dan itu berarti sudah satu jam berlalu. Entah kenapa gadis itu menjadi merasa penasaran apa yang akan terjadi pada Ares dan Dyara.
Mengingat bagaimana Dyara yang memiliki wajah cantik itu selalu terus terang mengatakan suka pada Ares, pasti akan mudah menarik hati pemuda itu. Tania tidak tahu apakah itu hal yang bagus atau sebaliknya.
"Aku rasa itu hal yang bagus untuknya. Mungkin saja dengan begitu dia akan lebih bersemangat dalam belajar." Ujar Tania sambil melihat layar ponselnya.
Tania baru sadar kalau ponselnya dia aktifkan mode pesawat ketika sibuk tadi. Segera oleh gadis itu dirubahnya kembali.
Masuklah sebuah pesan di ponselnya yang baru aktif.
"Kenapa si bodoh ini mengirim pesan?"
Ketika Tania hendak membuka pesan tersebut, pintu kamarnya diketuk seseorang. Segera Tania meletakkan ponselnya sebelum sempat membaca pesan dari Ares.
Gadis itu berjalan mendekati pintu untuk membukanya.
__ADS_1
"Kenapa ponselmu tidak aktif?" Tanya Ares yang datang menemuinya.
...–NATZSIMO–...