PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
041. CINTA ITU MEMANG RUMIT


__ADS_3

Ares hanya diam saja saat ibunya datang menanyakan mengenai siapa Dyara. Pemuda itu benar-benar sedang malas saat ini, bahkan rasa kesalnya karena telepon Tania tidak aktif membuatnya sangat ingin marah.


"Selamat siang, tante. Namaku Dyara Rosalin. Aku dan Kak Ares akan pergi ke acara ulang tahun temannya nanti. Tapi aku datang terlalu cepat." Ucap Dyara dengan sangat sopan.


"Dyara Rosalin?" Kejut Athena yang berdiri di lantai dua di dekat pagar pembatas bersama dengan kembarannya. "Dia selebgram yang jadi incaran para pria itu."


"Benarkah? Pantas saja dia sangat cantik." Ujar Aphrodite.


"Apa aku menggangu?" Tanya Dyara pada Tasya.


"Tentu saja tidak, duduklah, kau bisa datang ke rumah ini kapan saja." Jawab Tasya dengan berjalan menghampiri Dyara dan mempersilakan gadis itu duduk dengan hangat.


"Sebenarnya aku masih sangat ngantuk dan berniat tidur beberapa lama lagi. Apa kau tidak keberatan kalau aku tinggal tidur sebentar?" Tanya Ares dengan sedikit keraguan.


"Es..."


"Tidak masalah, Kak... Aku akan menunggumu tidur." Jawab Dyara dengan tersenyum pada Tasya yang hendak komplain pada sikap putranya.


Ares langsung bergegas kembali menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Kedua adik perempuannya menghampirinya dengan penuh penasaran namun pemuda itu tidak menggubrisnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Ares kembali mencoba menelepon Tania namun ponsel gadis itu masih saja tidak aktif.


Selama lebih dari satu jam Ares berada di kamar sambil berusaha menghubungi Tania namun usahanya sama saja dan tidak membuahkan hasil.


Hingga terdengar suara pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Ares segera membuka pintu kamarnya meski dirinya sudah tahu kalau ibunya yang pasti memanggilnya.


"Es, kenapa kau belum bersiaplah? Dyara sudah lama menunggumu. Mama juga akan pergi sekarang jadi tidak bisa menemani gadis itu." Ujar Tasya.


"Aku akan bersiap-siap sekarang, Ma." Jawab Ares. "Mama akan pergi sekarang juga?"


"Ya. Cepatlah, dan jangan membuat gadis itu menunggumu lebih lama lagi." Seru Tasya.


Ares masuk kembali ke dalam kamar dengan perasaan enggan untuk bersiap-siap. Pemuda itu malah kembali duduk di kursi meja belajar untuk mencoba menghubungi Tania lagi.


Hingga tanpa sadar waktu terus berjalan dan pintu kamarnya kembali diketuk. Kali ini adalah kedua adik kembarnya yang berdiri di depan pintu.


"Kak, ini sudah jam lima sore dan kau belum bersiap-siap? Bukankah acaranya pukul lima ini?" Tanya Aphrodite heran melihat Ares masih memakai pakaian sebelumnya.


"Jangan bilang kalau kau tidak ingin pergi?" Tatap Athena menyelidiki.

__ADS_1


Ares mengangguk tipis dan membuat kedua adiknya semakin heran.


"Gadis itu sudah menunggu dua jam tapi kau tidak ingin pergi? Jika Mama tahu dia pasti akan memarahimu."


"Papa pasti akan membunuhmu juga, Kak." Aphrodite menimpali perkataan Athena.


Tiba-tiba Ares memikirkan sesuatu. Pemuda itu menjadi memiliki rencana agar dirinya tidak perlu pergi ke acara tersebut dengan Dyara.


"Apa kalian berdua mau membantuku?" Tatap Ares penuh harapan. "Katakan padanya kalau aku tiba-tiba sakit dan tidak bisa pergi, tapi jangan biarkan dia datang ke kamarku."


"Kenapa kami harus membantumu?" Ujar Athena.


"Aku akan membelikan kalian tiket konser boyband yang kalian suka." Jawab Ares.


"Katakan pada kami dulu, apa benar dia selebgram yang sedang banyak dibicarakan anak muda saat ini?" Tanya Athena.


"Apa? Aku tidak tahu pada hal itu. Tapi sepertinya benar." Jawab Ares tampak berpikir.


Akhirnya kedua adik kembarnya mau membantu Ares dengan imbalan yang dijanjikan oleh pemuda itu. Segera Aphrodite dan Athena menuju lantai satu untuk menemui Dyara.


"Sepertinya Kak Es tidak bisa pergi ke acara itu. Entah bagaimana tubuhnya menggigil kedinginan tampaknya dia sedang tidak enak badan." Ujar Athena pada Dyara.


"Apa kondisinya sangat parah? Apa aku boleh menemuinya?" Tanya Dyara dengan khawatir.


"Sebaiknya tidak usah, dia bilang... Dia... Dia malu karena kondisinya sangat berantakan." Jawab Athena dengan tergagap.


"Benar, Kak. Dia hanya ingin istirahat, karena itu sebaiknya kau juga tidak menemuinya. Bisa saja kalau ternyata penyakitnya juga menular. Itu tidak akan bagus untukmu."


"Benar sekali. Nanti kau bisa tertular. Wajahnya juga terdapat bintik merah... Sepertinya penyakit kulit... Itu akan buruk kalau kau sampai tertular." Athena menimpali ucapan Aphrodite kembali.


Dyara terlihat memikirkan sesuatu. Gadis itu menengadah dan melihat ke lantai dua, saat yang bersamaan Ares yang awalnya berdiri memperhatikannya dari atas dengan bersembunyi, langsung menundukkan kepalanya agar gadis itu tidak melihat dirinya.


"Baiklah. Sampaikan salamku padanya, katakan semoga lekas sembuh. Besok kami akan bertemu lagi." Ujar Dyara.


Setelah Dyara keluar dari rumah itu, kedua kembar kembali menaiki tangga untuk menemui kakak laki-laki mereka yang berdiri di dekat pagar, memantau apa yang terjadi sejak awal.


"Tidak sulit, dia langsung pergi begitu saja. Aku yakin untuknya kau bukan siapa-siapanya, karena itu dia tidak terlalu memikirkan keadaanmu." Ucap Athena pada Ares.


"Tidak, aku merasa kalau gadis itu menyukaimu, Kak." Aphrodite tidak mau kalah mengomentari.

__ADS_1


"Sudahlah, Kalian jangan berisik! Jangan katakan hal macam-macam ya!!" Seru Ares.


"Lalu kapan kau akan membelikan tiket konser pada kami?" Tanya Athena. "Kau sudah janji, jadi jangan menipu kami ya."


Ares langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa memedulikan perjataan Athena. Pemuda itu berniat mandi dan bersiap-siap untuk ke suatu tempat.


Aphrodite dan Athena hanya berteriak kesal karena Ares tidak menggubris perkataan mereka.


Setelah rapi, Ares langsung keluar dari rumahnya dengan menaiki mobil.


Kedua adiknya terus memperhatikan Ares yang tampak sangat terburu-buru ketika pemuda itu keluar dari kamarnya.


"Kira-kira mau ke mana dia?" Tanya Athena pada Aphrodite saat mereka berdua berdiri di lantai dua melihat Ares berjalan keluar rumah.


"Memangnya ke mana lagi? Aku rasa dia pasti akan menemui Kak Tania. Ya, aku yakin kalau sebenarnya Kak Es menyukainya." Jawab Aphrodite dengan tersenyum.


"Dia memang aneh, padahal Dyara sangat cantik, kenapa dia tidak menyukai gadis itu?" Heran Athena pada kakak laki-lakinya.


"Aku rasa Papa mencintai Mama juga bukan karena kecantikannya. Ya meskipun Mama sangat cantik, tapi ada hal lain yang dilihat oleh Papa dari Mama." Sahut Aphrodite. "Cinta itu memang rumit. Dia datang menghampiri seseorang tanpa orang itu menyadarinya. Aku rasa itu yang terjadi pada Kak Es."


Dalam perjalanan, Ares terus menerus mencoba menghubungi Tania, namun tetap gadis itu belum mengaktifkan ponselnya.


Ares berdecak kesal dengan menggeram karena hal tersebut.


"Apa yang dilakukannya? Kenapa dia membiarkan ponselnya tidak aktif selama itu?" Gumam Ares sangat kesal.


Pada akhirnya Ares mengirimkan pesan pada gadis tersebut.


Kenapa kau mematikan teleponmu?


Tidak berapa lama, Ares menghentikan mobilnya di depan rumah Kayden. Segera pemuda itu bergegas masuk ke dalam pekarangan dan menuju bangunan kecil yang ada di sana. Bangunan di mana Tania tinggal seorang diri di kota ini.


Dengan langkah cepat yang terburu-buru, Ares mengetuk pintu kamar Tania dengan sangat tidak sabar.


Wajahnya terlihat sangat kesal karena menahan amarahnya perkara ponsel Tania yang tidak aktif.


"Kenapa ponselmu tidak aktif?" Tanya Ares pada Tania yang membuka pintu.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2