PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
027. TERJEBAK SITUASI


__ADS_3

"Maafkan aku. Lupakan saja, aku akan melakukannya sendiri." Ujar Dyara menggeser duduknya dan mengulurkan tangan mencoba mengambil sendok yang ada di atas lantai.


Tentu saja Ares yang melihatnya langsung bergegas mendekati gadis itu untuk membantunya mengambil sendok di bawah.


"Terimakasih, Kak." Jawab Dyara saat Ares memberikan sendok yang diambil pemuda itu padanya.


Dyara mencoba mengambil tisu untuk membersihkan sendok yang terjatuh untuk digunakannya makan, namun gadis itu terlihat sangat kesulitan.


Melihatnya, Ares langsung mengambil kembali sendok tersebut dan membersihkannya dengan tisu yang ada di atas meja samping ranjang.


"Baiklah, aku akan membantumu makan." Ujar Ares dengan perasaan yang mau tidak mau melakukannya.


Ares segera mengambil makanan gadis itu dan menggeser kursi yang ada di sana, untuk menyuapi Dyara.


Tania yang sedang memakan makanannya hanya melirik melihat pemuda itu membantu gadis lain.


"Makanan rumah sakit tidak terlalu enak, sebenarnya aku tidak suka berada di sini tapi karena jatuh dari tangga, tanganku retak makanya aku dirawat di sini." Ucap Dyara.


"Ya, siapapun juga tidak suka dirawat di rumah sakit." Jawab Ares mencoba bersikap ramah pada gadis yang sedang dirinya suapi.


"Hhmm... Biasanya di rumah aku selalu memakan makanan yang aku suka. Daging dengan kualitas premium, dan pelayan di rumahku juga sering membuatkan cake buatku. Tapi cake yang dia buat tidak selezat cup cake yang Kakak kasih tadi." Ujar Dyara dengan diiringi sebuah senyum ceria.


"Ya itu bagus." Respon Ares sekedarnya dan kembali menyuapi gadis itu


"Aku bersekolah di cahaya pelita, aku mempunyai banyak sekali teman. Ya, karena aku memiliki banyak pengikut di sosial media. Sepertinya mereka semua sangat suka berteman— Ohok ohok..."


Perkataan Dyara terhenti karena gadis itu tersedak. Ares segera memberikan minuman pada gadis tersebut.


"Terimakasih, Kak." Ucap Dyara memberikan kembali gelas berisi air putih yang isinya sudah setengah.


"Sebaiknya saat makan tidak perlu berbicara dulu." Seru Ares menjadi sedikit khawatir pada gadis itu. "Kau bisa mengatakan semuanya setelah makan nanti."

__ADS_1


"Baiklah." Ujar Dyara tersenyum mendengar Ares yang berbicara memperhatikannya.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncul beberapa orang yang seusia dengan mereka. Jumlahnya kisaran sepuluh orang yang terdiri dari lima pemuda dan lima gadis.


"Kalian ke sini?" Dyara tampak terkejut melihat kehadiran orang-orang tersebut.


Mereka semua adalah teman sekolah gadis itu yang datang untuk menjenguknya.


Ares langsung bangkit berdiri dari duduknya untuk menghindar dari mereka semua dan kembali ke area di mana Tania dirawat.


"Kak Ares, mereka semua ini teman-teman sekolahku. Astaga, kenapa kalian datang sepagi ini? Dan lagi seharusnya kalian tidak perlu datang dan cukup diwakilkan beberapa orang saja." Ujar Dyara sambil memegang lengan Ares agar pemuda itu tidak kemanapun.


Itu membuat Ares tidak bisa pergi kemanapun, dirinya juga tidak mungkin menarik lengannya yang dipegang Dyara karena tidak ingin membuat gadis itu menjadi malu di depan teman-temannya.


Tania melihat pada Ares yang menjadi tampak terjebak di antara Dyara dan teman-temannya yang banyak itu. Tanpa sadar gadis menyunggingkan bibirnya namun segera dia tahan agar tidak tertawa karena Ares saat ini menatap padanya.


"Tidak, kau tau sendiri kalau semua yang ada di sekolah sangat mengkhawatirkanmu saat mendengarmu jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit." Ujar seorang teman Dyara yang merupakan seorang gadis. "Mereka semua ingin menjengukmu tapi itu tidak mungkin kan."


"Kalian kan tahu aku sangat penakut, tidak mungkin aku berani sendirian di ruangan itu." Jawab Dyara.


"Jangan bercanda. Kau kan tidak sendirian." Sahut teman Dyara yang lainnya sambil melirik pada Ares. "Jadi dia yang kau bicarakan tempo hari?"


"Apa?" Tanya Ares dengan heran karena tidak mengerti maksud pembicaraan tersebut.


"Sudahlah kalian ini." Seru Dyara. "Tapi aku sangat berterimakasih karena kalian sudah repot-repot datang ke sini."


"Bagaimana ceritanya kau bisa jatuh dari tangga? Bukannya kau bilang kau selalu menggunakan lift saat di rumahmu yang memiliki empat lantai itu?" Tanya teman Dyara yang merupakan seorang pria.


Dyara berdecak dengan pertanyaan tersebut.


"Aku berniat berolahraga, makanya aku memilih naik tangga tapi sepertinya aku masih mengantuk makanya aku terjatuh." Jawab Dyara memasang wajah yang tertekuk.

__ADS_1


Semua temannya langsung berdesis saat mendengar cerita Dyara. Mereka semua memperlihatkan wajah khawatir pada gadis itu.


"Kau ini ada-ada saja. Tapi kami tidak heran, kau memang aneh. Keluargamu sangat kaya tapi kau memilih bersekolah di sekolah biasa. Itu saja sudah aneh buat kami, kan."


Dyara hanya mengembangkan senyumnya saat mendengar perkataan temannya itu.


Ares hanya menyimak perbincangan tersebut dengan tidak ingin terlalu ikut campur. Tatapannya hanya terus mengarah pada Tania yang sesekali terlihat tertawa kecil meledek padanya.


Selang lima belas menit, teman-teman Dyara pergi dari sana saat perawat datang memberikan obat kepada Tania dan Dyara.


Ares masih berbaik hati membantu gadis itu untuk menuangkannya air dan memberikan obat padanya.


"Maaf ya kak, tadi kakak tampak bingung. Mereka semua juga tidak bisa mengontrol apapun yang dikatakan." Ucap Dyara pada Ares yang masih berdiri di samping ranjangnya. "Oh iya mengenai hal yang disinggung tadi, mungkin mereka mengira kalau kakak itu kekasihku. Aku akan menjelaskan pada mereka kalau itu salah saat sembuh nanti."


"Tidak masalah." Jawab Ares yang tidak mau ambil pusing dengan hal-hal seperti itu.


"Sebenarnya aku baru saja berpisah dengan kekasihku seminggu lalu. Padahal kami pun juga baru berpacaran satu bulan. Ya, tapi mau bagaimana lagi... Aku melihatnya pergi dengan gadis lain. Karena itu aku memilih untuk berpisah darinya." Dyara terlihat murung saat menceritakan hal itu.


Ares bingung harus menanggapi cerita itu bagaimana, pemuda itu bahkan terlihat menjadi sangat canggung.


"Kau mengambil langkah yang benar. Kau tidak perlu membuang-buang waktu untuk mereka yang tidak menghargai dirimu. Kau sangat cantik, pasti sangat mudah mendapatkan pria lainnya. Tentunya yang jauh lebih baik dari pria itu." Sahut Tania yang menanggapi perkataan Dyara karena gadis itu tahu Ares tampak bingung.


"Ya, itu benar. Pamanku juga pernah berkata padaku, jika orang yang kau cintai mengkhianatimu maka perpisahan adalah jalan terbaik. Di dunia ini tidak ada seseorang yang berkhianat hanya sekali, tapi percayalah, pasti ada seseorang yang sama sekali tidak akan pernah berkhianat." Ucap Ares dengan mengutip perkataan yang pernah dia dengar dari pamannya.


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ares, membuat Tania mengingat ibunya. Kata-kata itu sangat persis dengan yang pernah disampaikan kepadanya. Dulu ketika ibunya memilih berpisah dari ayahnya setelah ayahnya itu berselingkuh sebelum meninggal.


Tania menjadi tahu siapa paman yang dimaksud oleh Ares. Pria yang dulu membuat ibunya dikeluarkan dari sekolah saat menjadi guru di sekolah tersebut. Ibunya dikeluarkan setelah dituduh memaksa dengan ancaman pada seorang murid untuk berpacaran dengan ibunya. Murid itu adalah paman yang dimaksud Ares, yaitu Prothos.


"Bahkan seorang pengkhianat juga bisa menuduh pasangannya berkhianat. Itu yang terjadi pada ibuku." Ucap Tania dengan wajah berubah murung karena mengingat apa yang dilakukan ayahnya pada ibunya dulu.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2