PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
038. CIUMAN KETIGA


__ADS_3

Hari sabtu tiba, sehabis memberikan private pada anak-anak sekolah dasar, Ares dan Tania pergi bersama untuk membeli keperluan perlengkapan membuat prakarya untuk mata pelajaran kesenian.


Mereka berdua masuk ke dalam toko yang menjual berbagai macam keperluan yang mereka butuhkan.


Meski Tania sudah menolak dan berniat untuk membelinya seorang diri, namun seperti biasanya Ares selalu memaksa sehingga gadis itu mau tidak mau menurutinya.


"Apa semua ini sudah cukup?" Tanya Ares pada Tania sambil melihat keranjang yang sudah berisi berbagai macam keperluan yang hendak mereka beli.


"Aku rasa sudah." Jawab Tania.


"Baiklah kalau begitu." Ujar Ares segera berjalan ke kasir untuk membayarnya.


Setelah keluar dari sana, mereka mampir ke coffee shop untuk beristirahat.


"Sebentar lagi akan gelap, seharusnya kita mengerjakan semua ini, dan tidak berada di tempat ini untuk bersantai." Seru Tania yang duduk di hadapan Ares.


"Kita beristirahat sejenak, setelah kita menghabiskan kopinya... Kita bisa langsung pulang untuk mengerjakannya." Jawab Ares setelah itu menyeruput es kopi miliknya.


Tania pun segera menghabiskan minumannya karena tidak ingin membuang waktu di tempat tersebut, sedangkan dirinya masih memiliki berbagai macam kesibukan. Salah satunya adalah menyusun peraturan sekolah yang hendak dirinya ubah.


"Besok itu apa kau juga mengajar anak-anak?" Tanya Ares namun tidak langsung mendapatkan jawaban dari Tania. "Kalau tidak, aku ingin mengajakmu untuk menghadiri acara ulang tahun temanku."


"Kenapa aku harus menemanimu?" Tania balik bertanya dengan heran.


"Bagaimana ya, di sana mereka semua pasti membawa pasangan mereka masing-masing, jadi tidak mungkin kalau aku pergi seorang diri." Jawab Ares tampak berpikir.


"Aku bukan pasanganmu." Jawab Tania dingin.


"Ya memang benar, tapi tidak ada yang bisa aku ajak untuk pergi ke sana. Itu akan sangat memalukan jika aku pergi seorang diri."


"Kalau begitu kau tidak perlu pergi."


Ares berdecak karena jawaban gadis yang ada di depannya. Meski begitu, dirinya juga tidak mungkin memaksa Tania untuk pergi bersama dengannya.


"Bagaimana kondisi punggungmu? Apa sudah sembuh?" Tanya Ares.


"Ya, aku rasa seperti itu. Aku juga sudah tidak meminum obat pereda nyerinya karena sudah tidak terasa sakit seperti kemarin-kemarin. Aku rasa besok sudah sembuh." Jawab Tania.


"Itu bagus sekali."


"Kak Ares?!"


Terdengar suara seorang gadis memanggil Ares dari arah pintu masuk. Tania menoleh ke sumber suara dan melihat Dyara berdiri dengan sebuah senyum melihat pada Ares yang juga menatap kehadiran gadis tersebut.


"Ya, ampun... Sepertinya sudah takdir kalau kita bertemu lagi, Kak." Seru Dyara saat menghampiri meja Ares dan Tania. "Aku boleh duduk di sini?"

__ADS_1


Ares memberikan gestur tangannya untuk mempersilakan gadis itu duduk di kursi yang ada di sisi antara Ares dan Tania.


"Kakak sedang apa di sini? Aku sangat senang bertemu denganmu lagi." Ujar Dyara dengan sangat antusias.


"Kalau begitu kau bisa mengajaknya ke acara ulang tahun temanmu besok." Seru Tania yang mendapatkan ide dengan hadirnya Dyara di sana.


"Apa?" Tanya Ares tidak mengerti.


"Acara ulang tahun?" Tanya Dyara menatap pada Ares. "Apa Kak Ares sedang mencari seseorang untuk diajak ke acara ulang tahun teman Kakak?"


"Ya seperti itu, apa kau bisa menemaninya? Dia bilang, kalau dia akan malu jika pergi seorang diri tanpa pasangan." Jawab Tania mewakili Ares.


"Tentu saja, dengan senang hati aku akan menemani Kak Ares." Senyum Dyara dengan senang.


"Itu bagus sekali kan. Kau sudah mendapatkan jalan keluar untuk masalahmu." Ujar Tania pada Ares. "Dan lagi, aku sudah melihat akun sosial mediamu, tidak aku sangka kalau kau seorang selebgram."


"Ya, itu benar sekali. Aku mempunyai tiga ratus ribu pengikut. Itu banyak sekali untuk ukuran orang biasa dan bukan publik figure." Sahut Dyara dengan senyuman yang terus menerus tergambar di wajah cantiknya. "Kak, berapa nomer ponselmu? Aku akan menyimpannya. Besok aku akan dandan dengan sangat cantik." Dyara mengambil ponselnya dengan tangan kanan yang masih dibalut kain pelindung atau deker.


"Tanganmu sudah lebih baik?" Tanya Tania memperhatikan lengan Dyara yang masih terbungkus kain pelindung."


"Ya, ini sudah berangsur-angsur pulih." Jawab Dyara. "Kak Ares, berapa nomermu?"


Ares segera menyebutkan nomer ponselnya pada Dyara. Pemuda itu masih terlihat bingung karena terkejut Tania mengusulkan kalau dirinya mengajak Dyara ke acara ulang tahun temannya besok. Akan tetapi dia tidak bisa menolaknya.


Sejak kedua kembar adik perempuan Ares bergosip ria mengenai kedekatan mereka berdua, Ares mengajak Tania untuk belajar di dalam kamarnya saja.


Tentu saja dengan sifat Tania, gadis itu tidak keberatan. Apalagi dia tahu bagaimana sifat Ares yang tidak pernah berbuat hal-hal aneh pada dirinya.


"Argh!! Kenapa guru itu harus memberikan tugas seperti ini? Untuk apa dia meminta kita membuat rumah dari kardus atau pun stik es krim seperti ini? Memangnya ini akan berguna di kemudian hari? Siapa juga yang ingin tinggal di rumah kardus atau pun rumah yang terbuat dari kayu?!" Seru Ares dengan sangat kesal setelah mengacak-acak prakarya miliknya yang belum sedikitpun berhasil dia bangun.


"Rasa kesal hanya membuat semuanya berantakan. Kau harus lebih bersabar dalam membuat prakarya ini. Mungkin itu tujuan dari guru kesenian memberikan tugas seperti ini, ya tentunya di luar dari menguji kreativitas kita." Sahut Tania yang duduk di samping Ares dengan menoleh pada pemuda yang sedang duduk bersandar di kursinya dengan kesal.


"Kreativitas? Aku ingin melanjutkan perusahaan ayahku nanti, apa itu berguna? Aku tidak ingin menjadi seorang seniman, untuk apa aku belajar menjadi seorang seniman seperti ini." Tandas Ares dengan mengernyitkan dahinya.


"Kau pikir menjadi seorang pengusaha itu tidak membutuhkan kreativitas? Kalau kau tidak kreatif, usahamu akan tergilas dengan kemajuan jaman." Timpal Tania melihat pada Ares. "Dan sebaiknya kau tidak mengeluh, hanya orang lemah yang suka mengeluh. Tidak ada yang bisa kau lakukan hanya dengan mengeluh. Sepertinya kau tidak cocok menjadi seorang pengusaha dengan sifatmu yang suka mengeluh itu."


Ares menatap Tania dengan tatapan kesal karena perkataan gadis itu. Ditambah dirinya mengingat bagaimana tadi Tania tanpa persetujuannya terlebih dahulu mengusulkan dirinya mengajak Dyara ke acara ulang tahun temannya.


Tidak mungkin kalau tadi pemuda itu menolaknya langsung di depan gadis tersebut, itu sangat tidak sopan dan Ares tidak ingin menyakiti perasaan Dyara.


Tapi sekarang, mengingatnya membuat Ares kesal.


"Ada apa? Dari pada melihatku dengan kesal seperti itu, lebih baik kau menyalurkan rasa kesalmu itu dengan menyelesaikan prakarya tersebut. Ini sudah sangat malam, aku harus segera pulang karena masih memiliki hal yang harus aku lakukan lainnya."


"Kenapa kau mengatakan pada gadis itu mengenai aku yang ingin ke acara ulang tahun temanku?" Tanya Ares dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ada apa? Bukannya itu hal yang bagus? Dyara juga sudah setuju untuk menemanimu. Kau bisa pergi ke acara itu tanpa malu karena seorang diri." Seru Tania.


"Tapi aku tidak meminta—"


"Aku sudah memberikanmu sebuah solusi terbaik. Seharusnya kau berterimakasih pada—"


Tanpa di duga, Ares mencium bibir Tania untuk menghentikan gadis itu berbicara panjang lebar.


"Apa yang kau lakukan?" Tania terlihat marah saat Ares menjauh setelah menciumnya.


"Maafkan aku, aku melakukannya karena kau terus saja mengoceh dengan tidak memedulikan apa yang ingin aku katakan padamu!!" Jawab Ares dengan bingung karena dirinya juga tanpa sadar mencium gadis tersebut.


"Aku akan membunuhmu!!" Geram Tania memukuli Ares dengan kedua tangannya.


Ares langsung beranjak berdiri untuk menghindari amukan gadis itu yang terus memukuli dirinya. Namun Tania terus mengejarnya untuk melampiaskan rasa marahnya pada pemuda tersebut.


Ares berlari ke sekeliling kamar untuk menghindari Tania yang tidak henti-hentinya mengejarnya dengan pandangan dingin seperti ingin membunuhnya.


"Sekarang aku akan benar-benar membunuhmu!!" Geram Tania terus mengejar Ares.


"Hentikan! Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi. Lagi pula kita juga sudah dia kali berciuman, seharusnya kau tidak semarah itu!!" Ares naik ke atas tempat tidur untuk menghindari Tania.


"Keduanya adalah hal yang berbeda!! Aku tidak akan mengampunimu, bodoh!!" Segera Tania melangkah ke atas tempat tidur untuk mengejar Ares, namun kakinya goyah sehingga gadis itu seperti akan terjungkal ke bawah.


Ares yang berada di atas tempat tidur langsung memegangi Tania dan menariknya hingga mereka berdua terjatuh ke atas tempat tidur.


Tania jatuh dengan menindih tubuh Ares yang berbaring di atas tempat tidur, dengan kacamata gadis itu terlepas dan jatuh ke samping mereka.


"Aku sangat suka melihat matamu." Ucap Ares yang menatap lekat pada Tania.


Mendengarnya Tania tertegun karena terkejut dengan perkataan Ares tersebut.


Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dengan keras dan kedua adik kembar Ares terjatuh ke lantai sehingga mengalihkan perhatian kedua orang yang berada di atas tempat tidur tersebut.


"Apa yang kalian lakukan?!" Geram Ares yang masih berada di posisinya pada kedua adik perempuannya yang mengintip.


Aphrodite dan Athena segera bangun dengan senyuman ketakutan karena mereka berdua ketahuan mengintip.


"Maafkan kami." Ujar Aphrodite langsung bergegas keluar kamar bersama dengan Athena yang sudah lebih dulu kabur.


"Apa mereka mengintip kita selama ini?" Tatap Ares pada Tania yang masih berada di atasnya.


Saat tersadar Tania langsung beranjak bangun dan menghindar dari Ares dengan sikap canggung.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2