PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
063. KETUA OSIS BARU


__ADS_3

Tyaga Zeza Jayantaka adalah ketua OSIS yang baru saja terpilih hari ini. Merupakan murid terpintar di kelas XI dan terkenal dengan sikap yang amat sangat dingin. Banyak murid merasa segan padanya karena kepintaran dan sifatnya itu.


Sejak awal pemuda itu memang digadang-gadang akan menjadi ketua OSIS selanjutnya, menggantikan Tania. Para guru mencalonkannya dan dengan dukungan dari banyaknya murid perempuan yang mengidolakannya membuat Tyaga terpilih.


Melihat murid yang dia tabrak adalah murid yang memiliki kedudukan yang penting saat ini, membuat Ares menahan rasa amarahnya.


Kedua pemuda itu menjadi bahan tatapan dan pembicaraan banyak murid yang melihat pada mereka.


"Maafkan aku." Ucap Ares merasa kalau memang dirinya yang salah karena berjalan tanpa melihat ke arah depan.


"Ck! Apa aku tidak salah dengar? Kau baru saja meminta maaf padaku?" Ujar Tyaga, pemuda yang memiliki tinggi tubuh 183 cm tersebut. "Ku pikir seorang Panglima Perang tidak akan dengan mudah mengatakan maaf seperti itu."


"Kau salah, aku diajarkan untuk meminta maaf jika memang aku salah. Dan tadi seperti katamu, aku memang berjalan dengan menundukkan kepala dan tidak melihat ke depan hingga tanpa sengaja aku menabrakmu. Karena itu aku meminta maaf." Ucap Ares menahan emosi yang sesungguhnya meski dirinya memang merasa bersalah.


"Benarkah seperti itu?" Tanya Tyaga dengan tatapan dingin yang datar. "Lalu kenapa tadi aku merasa kalau kau ingin marah?"


"Ada apa ini?" Tegur Kayden yang datang setelah melihat kedua pemuda itu terlihat bersitegang.


Kehadiran seorang guru membuat suasana yang semula memanas menjadi teralihkan. Ares mau pun Tyaga yang sebelumnya saling tatap, langsung melihat pada kehadiran Kayden.


"Tyaga, Kepala Sekolah mencarimu. Datanglah ke ruangannya sekarang." Seru Kayden.


Tyaga menatap kembali pada Ares dan menyunggingkan senyuman yang di mata Ares terlihat seperti menantangnya, lalu setelahnya berjalan pergi menuju ruangan Kepala Sekolah.


Ares mendengus dengan tidak percaya melihat tingkah dari pemuda yang baru saja seperti mengolok-olok dirinya itu. Rasa kesalnya mulai mengerubungi dirinya.


Sebelum ini dirinya tidak tahu apapun mengenai Tyaga, yang dia tahu kalau adik kelasnya itu juga merupakan anak dari pengusaha kaya, Jayantaka Enterprise.


Akan tetapi tidak dia kira kalau sikap dari pemuda itu begitu sangat menyebalkan. Entah kenapa Ares merasa kalau Tyaga tidak menyukai dirinya.


"Dia benar-benar membuatku menahan emosiku tadi." Ares menggerutu sambil berjalan memasuki kelas.


Ketika masuk ke dalam kelas, pemuda itu melihat meja Tania yang kosong sehingga membuatnya kembali memikirkan gadis tersebut.


Saat yang bersamaan, masuk juga Wanda dari luar melewati pemuda itu.


"Tunggu dul!" Seru Ares dan membuat Wanda menoleh padanya.


"Kau memanggilku? Ada apa?" Tanya Wanda.


Mereka berdua masih berdiri di depan kelas dan kelas sudah terisi oleh beberapa murid karena tidak lebih dari lima menit lagi, jam istirahat usai.


"Apa kau tahu di mana kampung halamannya si kacamata?" Tanya Ares pada Wanda. "Ma—maksudku, ketua OSIS. Argh! Mantan ketua OSIS, Ta—Tania." Ares terlihat kebingungan saat bertanya.


"Kampung halamannya?" Wanda menunjukkan wajah bingungnya. "Kau tahu, bahkan tidak ada yang tahu di mana dia tinggal. Dia menyembunyikannya dan selalu bilang itu bukan urusan kami semua. Aku pikir kau tahu."


"Ya, aku tahu di mana dia tinggal. Ck! Sudahlah." Jawab Ares berdecak dan langsung duduk di tempatnya.


Saat pulang sekolah, Ares berada di rumah Kayden. Entah apa yang dipikirkan olehnya, dia menjadi ingin tahu di mana kampung halaman Tania.

__ADS_1


"Sudah aku katakan untuk apa kau ke sana?" Tanya Kayden sambil mengambil dua kaleng minuman soda dan memberikannya pada Ares satunya sebelum dirinya duduk. "Lagi pula apa aku tidak salah, kenapa kau sampai datang ke rumahku hanya untuk menanyakan hal itu. Bukannya kau bilang, kau tidak menyukainya?" Kayden mendengus dengan tawa heran pada Ares.


"Bukannya begitu, aku membutuhkan dia untuk menemaniku belajar. Aku harus serius belajar sekolah karena ujian akhir sebentar lagi." Ares mencari alasan, dan hanya itu yang terpikirkan olehnya.


Kayden menjadi tertawa kecil mendengarnya.


"Apa aku harus meminta ketua OSIS baru untuk membantumu dalam belajar?" Ujar Kayden dengan senyum mengejek.


"Sialan! Apa maksudmu Pak Guru?! Mana bisa dia mengerti soal kelas XII." Kesal Ares mendengar ocehan Kayden.


"Asal kau tahu, tahun kemarin Kepala Sekolah meminta dia untuk mengikuti program akselerasi karena kecerdasannya di atas rata-rata, sayangnya dia menolak." Terang Kayden. "Ya, dulu ayahmu juga menolak program itu karena ingin lulus bersama dengan kedua kembarannya."


"Apa dia sepintar itu?" Ares terkejut mendengarnya. "Berengsek! Pantas saja dia sangat sombong seperti itu. Semua orang pintar selalu sombong dan angkuh, termasuk ayahku."


"Sebaiknya kau tidak mencari masalah dengannya jika tidak ingin dikeluarkan dari sekolah." Ujar Kayden.


"Apa maksudmu? Mana bisa aku dikeluarkan dari sekolah."


"Ck! Kau tahu? Saat dia melihat peraturan yang sudah dibuat Tania, dia ingin agar peraturan tersebut diterapkan dalam waktu dekat ini dan tidak menunggu tahun ajaran baru." Terang Kayden setelah itu meminum minuman kalengnya.


"Kau serius? Kau tidak bercanda kan? Tapi apa itu bisa? Bukannya peraturan yang baru akan diterapkan di tahun ajaran baru saja?"


"Kau memang sangat bodoh!" Cerca Kayden menatap Ares kesal. "Tyaga sedang berusaha untuk menerapkan peraturan baru itu secepatnya. Dia meminta untuk mengadakan rapat komite sekolah lebih cepat untuk mensahkan peraturan tersebut."


Ares terkejut mendengar penjelasan Kayden. Tidak dia kira kalau murid laki-laki yang membuatnya kesal sewaktu jam istirahat sekolah, sekarang membuatnya menjadi kesal kembali.


"Kenapa sepertinya dia ingin aku dikeluarkan." Ucap Ares dengan heran.


"Sialan! Pantas saja tadi dia terlihat sangat sombong dan seperti menantangku!!" Geram Ares menjadi kesal saat mendengar semua yang dikatakan Kayden.


"Oh iya, apa kau tidak tahu, paman Tania adalah direktur produksi di perusahaan kosmetik ayahmu. Seharusnya kau bisa bertanya di mana kampung halamannya pada orang tuamu." Seru Kayden.


"Benarkah?" Ares terkejut karena dirinya sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.


Sepulang dari rumah Kayden, Ares langsung kembali ke rumahnya. Kebetulan Tasya—ibunya sedang berada di rumah saat ini.


Pemuda itu langsung bergegas menemui ibunya yang sedang menyusun makanan di meja makan untuk makan malam.


"Kau sudah pulang? Apa hatimu menyenangkan?" Sapa Tasya pada Ares yang berjalan ke arahnya.


"Ma, apa mama tahu kalau paman Tania adalah direktur produksi di perusahaan?" Tanpa basa-basi Ares langsung bertanya seperti itu.


"Ya, tentu saja." Jawab Tasya dengan tersenyum ciri khasnya. "Ada apa, sayang?"


"Kalau begitu, apa Mama juga tahu di mana rumah orang tuanya?" Tanya Ares lagi. "Beritahu aku jika Mama tahu."


"Untuk apa? Apa kau ingin ke sana menemuinya?" Tanya Tasya sambil berjalan ke dapur dan Ares mengikutinya dari belakang.


"Beritahu saja di mana padaku, Ma." Seru Ares.

__ADS_1


Aphrodite dan Athena yang baru saja turun dari lantai dua melihat aneh pada kakak laki-laki mereka.


"Ternyata dia memang menyukai Kak Tania." Ujar Athena dan mendapat senyuman setuju Aphrodite.


...***...


Pagi-pagi sekali Ares sudah datang ke sekolah, pemuda tersebut berjalan memasuki gedung sekolah sehabis dari parkiran sambil mencari lokasi rumah Tania.


Semalam akhirnya pemuda itu mendapatkan alamat rumah orang tua Tania dari ibunya, setelah pemuda tersebut sangat memaksa.


"Jika naik mobil membutuhkan minimal delapan jam. Sepertinya lebih baik kalau aku membeli tiket pesawat dari sekarang." Oceh Ares sambil memperhatikan layar ponselnya saat berjalan.


"Jangan melihat ponsel saat berjalan."


Ares melihat ke arah orang yang baru saja menegur dirinya.


"Tumben sekali kau datang sepagi ini." Ujar Kayden yang berdiri di dekat Ares.


"Kau tahu Pak Guru, aku sudah mendapatkan alamatnya." Ucap Ares dengan tersenyum senang.


Kayden mendengus dengan tawa.


"Sebenarnya kalau kau memaksaku, aku pun akan memberitahumu. Sudah ku bilang aku akan membantumu. Sayangnya kau tidak mau berkata jujur padaku."


"Kau ini bicara apa." Desis Ares. "Aku sudah mendapatkannya, sepulang sekolah aku akan ke sana."


"Ck! Tidak perlu. Dia sudah pulang dini hari tadi dan saat ini juga sudah berada di sekolah." Seru Kayden.


"Apa maksudnya? Dia sudah berada di sekolah?"


"Saat ini pasti berada di ruang OSIS ber—"


Ares langsung bergegas menuju ruang OSIS dan tidak menunggu Kayden menyelesaikan perkataannya.


"Ya terserah saja. Sepertinya ini akan seru." Gumam Kayden dengan tawa kecil melihat Ares yang berjalan cepat meninggalkannya.


Dengan langkah lebar Ares menuju ruang OSIS karena ingin segera menemui Tania.


Dibukanya langsung pintu ruangan OSIS tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Wajah Ares yang semula menunjukkan raut wajah yang senang langsung berubah ketika melihat Tania duduk berdua bersama dengan seseorang.


Pemuda yang duduk di samping Tania itu menghela napasnya saat melihat kehadiran Ares.


"Biasakan mengetuk pintu terlebih dahulu, dan tidak langsung membukanya jika belum dipersilakan. Aku rasa itu hal dasar dari tata krama." Seru Tyaga menatap Ares dengan dingin.


...–NATZSIMO–...


Tyaga Zeza Jayantaka adalah putra dari Zeno Royce Jayantaka dan Moza Cayapata, dari cerita author di platform kuning yang berjudul Obsesi Cinta CEO Gay.

__ADS_1


Silakan dibaca juga kalau penasaran 🤗🤗🤗


__ADS_2