
"Mantan ketua OSIS." Panggil Tyaga saat Tania hendak masuk ke dalam ruang OSIS.
Tania jadi menahan langkahnya dan melihat pada Tyaga yang berjalan mendekatinya.
"Apa kau tahu? Rapat komite sekolah akan dimajukan menjadi hari sabtu ini." Ucap Tyaga setelah berjalan mendekati Tania yang berdiri di depan pintu masuk. "Aku yakin sekali kalau peraturan sekolah yang baru akan diterapkan saat itu juga."
"Itu hal yang baik." Jawab Tania dengan sangat terkejut.
"Setelah aku pikir sebaiknya kau tidak perlu ikut rapat OSIS lagi." Ujar Tyaga.
"Memang ada apa?" Tanya Tania heran mendengar perkataan Tyaga.
Saat yang bersamaan, Ares melintasi mereka berdua dengan mendehem, meski begitu, baik Tania maupun Tyaga hanya melihat padanya sesaat dan kembali saling tatap lagi.
"Kenapa aku tidak perlu ikut rapat OSIS lagi?" Tanya Tania heran.
"Masuklah, akan aku jelaskan." Jawab Tyaga langsung membuka pintu ruang OSIS.
Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan meja besar berada di antara mereka.
"Aku menyimpulkan kalau tugasmu sudah selesai. Selanjutnya, aku akan meneruskan semuanya tanpa bantuanmu mulai saat ini." Ujar Tyaga berbicara sangat serius dengan Tania.
"Apa seperti itu? Atau semua karena kabar yang beredar karena foto yang ada di forum?" Tanya Tania memastikan.
"Sejujurnya bagiku reputasi diriku sangatlah penting maka dari itu, aku merasa terganggu dengan kabar tersebut." Ucap Tyaga. "Tapi alasanku sepenuhnya bukanlah karena hal itu."
"Aku mengerti." Jawab Tania. "Baiklah, untuk selanjutnya, aku akan menyerahkan semuanya padamu."
"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan melanjutkan segalanya dengan sangat sempurna. Sebaiknya kau fokus saja pada pelajaranmu. Ah, lebih baik kau juga memastikan kalau orang yang kau lindungi itu benar-benar tidak akan membuat masalah lagi. Aku pasti akan senang hati menyingkirkannya dari sekolah ini." Seru Tyaga.
"Jadi itu alasanmu kenapa aku tidak perlu lagi berada di sini." Ucap Tania diakhiri dengan menghela napas. "Ya baiklah, kau juga tidak akan bisa melakukannya kalau dia tidak membuat masalah lagi. Jadi aku tidak perlu khawatir."
Tyaga hanya menunjukkan senyum percaya dirinya pada Tania.
"Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang, aku tidak akan ikut campur lagi pada apapun hal mengenai OSIS. Aku juga tidak akan datang ke sini lagi." Ujar Tania sambil bangkit berdiri. "Selamat mengerjakan semuanya."
Tania bangkit berdiri dan langsung berjalan ke pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu sebentar." Seru Tyaga. "Kau tahu? Sebelumnya aku mengidolakanmu, tapi sayangnya sekarang kau berubah."
"Bukan aku yang berubah, tapi sebelumnya kau tidak mengenal bagaimana aku yang sebenarnya." Jawab Tania setelahnya memegang kenop pintu.
__ADS_1
"Sebaiknya kau mengetahui satu hal, mantan Ketua OSIS." Seru Tyaga lagi sebelum Tania membuka pintu. "Seekor ikan tidak akan pernah lupa bagaimana caranya berenang. Begitu pula dengan seseorang yang sudah terbiasa berkelahi."
Tania tidak menanggapi, dia langsung membuka pintu ruangan tersebut dan berjalan keluar dari sana.
"Dia benar-benar serius ingin mengeluarkan si bodoh itu." Gumam Tania sambil berjalan keluar gedung sekolah.
Dalam perjalanan pulang, Tania memikirkan agar Ares tidak lagi melakukan pelanggaran apapun. Rapat komite akan di adakan sabtu pagi, dan jika mereka menyetujui, maka saat itu juga peraturan yang baru berlaku.
Tania menjadi sedikit risau kalau Ares akan melakukan pelanggaran nantinya. Bisa gadis itu lihat kalau Tyaga benar-benar ingin membuat Ares dikeluarkan dari sekolah.
Dengan langkah gontai, Tania sampai di pekarangan rumah Kayden. Gadis itu melihat motor Ares yang terparkir di sana, dan membuatnya menjadi teringat kalau pemuda itu memintanya untuk menghubunginya jika rapat sudah selesai.
Namun yang terjadi, dirinya tidak ikut rapat sehingga pulang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Apa dia masih di dalam?" Tanya Tania memikirkan Ares yang datang menemui Kayden. "Sebaiknya aku langsung menemuinya."
Tania berjalan dan membuka pintu rumah tersebut. Setelah menutupnya, pandangannya mengarah pada sesuatu hal yang tampak mengherankan.
"Aku memohon padamu." Satu kalimat permohonan yang terlontar dari Kayden, didengar olehnya.
"Ada apa ini? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memohon padanya, Kay?" Tatap Tania tidak mengerti dengan apa yang terjadi. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Bangunlah, Pak Guru. Sudah aku katakan sebaiknya kau tidur saja di kamarmu." Seru Ares langsung membantu Kayden berdiri dan berpura-pura membantu Kayden yang terjatuh. "Kau baik-baik saja?"
"Kepalaku sakit sekali. Antarkan aku ke kamarku saja." Ujar Kayden sambil memegang kepalanya.
Tania hanya diam memperhatikan kedua pria itu menaiki tangga dengan saling merangkul. Dirinya hanya heran karena tadi tidak mungkin dia salah dengar. Jelas-jelas Kayden seperti sedang memohon pada Ares.
"Sepertinya dia tidak separah itu hingga harus dibantu berjalan." Gumam Tania memperhatikan kedua orang yang menaiki tangga.
Ares membantu Kayden dengan memapahnya hingga masuk ke dalam kamar gurunya itu.
"Apa-apaan kau, Pak Guru. Kau terlalu mendramatisir semuanya. Tidak perlu sampai berlutut seperti itu tadi." Protes Ares pada Kayden yang duduk di sisi tempat tidur. "Tapi benar kah? Apa kau serius akan memberikan bocoran soal ujian matematika kalau aku berhasil membuat Hany datang ke negara ini dan bertemu denganmu?"
Kayden mengangguk mengiyakannya. "Aku juga pasti akan membantumu dalam segala hal. Aku sudah meminta bantuan pada Symphony, tapi tak ada yang bisa dia lakukan juga."
Ares tampak berpikir sejenak hingga tersungging salah satu sudut bibirnya karena memikirkan sesuatu.
"Baiklah, aku akan mencoba lagi. Aku sudah memiliki sebuah cara untuk membujuk Bibi Melody." Senyum Ares dengan percaya diri.
"Benarkah?" Kayden tampak senang dengan ekspresi wajah yang terlihat berubah dari sebelumnya.
__ADS_1
"Kau harus berjanji untuk membantuku dalam segala hal." Ujar Ares tersenyum sombong.
Tidak berapa lama, Ares menuruni tangga dan melihat Tania yang sedang duduk di salah satu sofa di ruang tamu.
"Bagaimana keadaannya? Apa aku boleh melihatnya? Dia sudah baik-baik saja kan? Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit? Tapi sepertinya dia baik-baik saja tadi." Ucap Tania seraya bangkit berdiri saat Ares berjalan mengarah dirinya.
"Dia baik-baik saja, sebenarnya dia hanya berakting sakit agar bisa bermalas-malasan di rumah dan tidak pergi mengajar." Bisik Ares dengan gestur yang sama-sama seperti sedang berbisik.
Tania menatap malas pada Ares karena tahu pemuda itu hanya asal berbicara.
"Tadi aku mendengar dia memohon padamu. Apa itu benar?" Tanya Tania menyelidiki.
"Memohon? Tidak, kau salah dengar. Pak Guru tidak ada berkata seperti itu padaku."
"Sudahlah." Sahut Tania. "Sebaiknya kita segera belajar. Kita bisa belajar di luar—"
"Tu—tunggu!" Seru Ares memotong perkataan Tania. "Kenapa kau sudah pulang? Bukannya kau rapat OSIS?"
"Katanya aku sudah tidak dibutuhkan, karena itu aku tidak perlu datang lagi ke ruang OSIS ataupun ikut campur dalam masalah OSIS lagi." Jawab Tania.
"Benarkah?" Tanpa sadar Ares tersenyum saat bertanya seperti itu.
"Kenapa kau tampak senang?" Tania menatap heran pada pemuda itu.
"Tidak, sebaiknya kita mulai belajar saja. Aku sudah bilang pada Pak Guru kalau kita bisa belajar di sini saja." Ujar Ares langsung berjalan mengarah ke meja makan di mana tas miliknya berada untuk menghindari pertanyaan Tania tersebut.
"Oh iya, sejak kapan kalian berdua menjadi sangat dekat? Apa yang terjadi?" Tania bertanya begitu sambil berjalan mengarah meja makan mendekati Ares.
"Dekat? Tidak, aku tidak merasa dekat dengannya." Tandas Ares sambil duduk di salah satu kursi.
"Oh iya, rapat komite akan diadakan sabtu pagi. Sudah seratus persen kemungkinan peraturan yang baru akan diterapkan hari itu juga." Ujar Tania masih berdiri di meja tempat makan.
"Kau tidak perlu mengatakannya padaku. Itu semua bukan urusanku."
"Jangan melakukan pelanggaran apapun lagi, kalau tidak, kau akan langsung dikeluarkan. Apa kau mengerti?" Wajah Tania terlihat sangat serius mengatakan hal tersebut pada Ares.
"Apa itu berarti kau tidak ingin aku dikeluarkan dari sekolah?" Tanya Ares dengan tatapan yang lekat ke mata Tania. "Apa itu juga berarti kalau sekarang kau mulai menyukaiku?"
Tania mengerjapkan matanya saat mendengar pertanyaan Ares. Dirinya seraya berpikir apa yang akan dia jawab.
"Ya, kau benar... Sekarang aku mulai menyukaimu." Jawab Tania terus-terang.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...