
Ares berada di dalam kamarnya setelah menghadiri pemakaman sahabatnya—Anton. Pemuda itu duduk di kursi meja belajarnya dengan hati yang merasakan kesedihan.
Semalam, acara ulang tahunnya dibatalkan. Tidak mungkin dirinya masih melanjutkan pesta ulang tahun sedangkan sahabat baiknya berpulang.
Rasa bersalah masih terus pemuda itu rasakan. Ares merasa kalau seharusnya kemarin dirinya tetap pergi mencari Anton, mungkin jika dia melakukannya, perasaan menyesal tidak akan dirinya rasakan sebesar sekarang.
Saat ini dirinya sedang berusaha mencari keberadaan Shane. Pemuda itu berniat untuk membalaskan semua perbuatan Shane pada Anton. Tidak peduli apapun akibat yang akan dia terima.
Ponselnya muncul sebuah pesan dari nomer asing. Pemuda itu membuka pesan tersebut dengan heran. Ternyata sebuah pesan bergambar di mana Tania sedang bersama dengan Tyaga tempo hari. Ketika mereka berdua tidak sengaja bertemu di mall.
Ares tidak bereaksi apapun saat melihat foto tersebut. Pemuda itu masih merasakan kemarahan dalam benaknya. Ya, saat ini ada terselip sedikit rasa kecewanya pada Tania, setelah apa yang terjadi pada Anton.
Melihat foto yang dikirimkan oleh seseorang yang tidak dia ketahui itu, menjadi membuatnya berpikir kalau tidak seharusnya selama ini dirinya mengikuti semua perkataan Tania. Dan hal itu juga yang membuatnya semakin ingin menyangkal rasa cintanya pada gadis tersebut.
Di lain tempat, seseorang yang baru saja mengirimkan foto pada Ares tampak terlihat sangat senang. Tepat sekali, dia adalah Dyara.
Dyara sedang berada di sebuah kafe bersama dengan beberapa temannya. Baru saja dirinya mengirimkan foto Tania bersama dengan Tyaga yang dia ambil saat mengikuti Tania tempo hari.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya salah satu teman gadis itu yang sedang bersama dengannya.
"Tidak ada." Jawab Dyara menutup ponselnya.
"Ah, iya Dy, kenapa kau tidak bersama dengan kekasihmu? Bukankah sahabatnya meninggal kemarin? Seharusnya kau menemaninya." Ujar yang lainnya.
"Nanti malam aku akan menemuinya. Saat ini dia sedang berduka dan ingin sendirian, karena itu aku memberikannya waktu." Jawab Dyara.
Tania berada di dalam kamarnya, gadis itu baru saja selesai mengajar dan saat ini duduk di kursi meja belajar dengan melihat pada ponsel miliknya yang rusak.
Akibat terlepas dari genggaman Ares dan terjatuh ke lantai, saat ini ponselnya itu rusak. Itu membuat gadis tersebut tidak bisa menghubungi Ares meski Tania sangat ingin menanyakan kabar pemuda tersebut.
"Saat ini dia pasti sedang sangat bersedih. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menemuinya?" Pikir Tania dengan sedikit merasakan rasa takut kalau Ares masih marah padanya seperti kemarin.
Di lihatnya hadiah ulang tahun yang ingin diberikannya pada Ares. Kemarin karena pesta ulang tahun pemuda itu batal, maka dirinya belum memiliki kesempatan untuk memberikannya.
Terbesit pikiran Tania untuk menemui Ares sekarang juga. Dia ingin memberikan hadiah tersebut pada pemuda itu, sekalian ingin melihat keadaannya. Dia tidak peduli apakah Ares masih akan bersikap seperti kemarin padanya atau tidak.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap pergi, Tania keluar dari kamarnya hendak segera ke rumah Ares. Saat yang bersamaan sebuah mobil berhenti di depan pekarangan saat gadis itu hendak keluar.
Tania merasa heran saat melihat Tyaga keluar dari mobil tersebut. Itu membuatnya bingung karena pemuda itu datang.
"Ka—kau, kenapa kau di sini? Apa kau ingin menemui Pak Guru?" Tanya Tania heran.
"Aku meneleponmu berkali-kali tapi nomermu tidak aktif. Karena itu aku menelepon Pak Guru, dan katanya ponselmu rusak karena itu aku langsung datang ke sini." Jawab Tyaga.
"Tunggu dulu, dari mana kau tahu aku tinggal di sini? Kau tidak akan menghubungi Pak Guru kalau tidak tahu aku tinggal di rumahnya." Tanya Tania semakin heran.
"Tampaknya kau lupa. Bukankah sudah aku katakan kalau aku mengetahui banyak hal. Di tambah aku ini ketua OSIS sekarang, walau sebelumnya aku pun juga sudah mengetahui apa pun dan mengenaimu salah satunya." Jawab Tyaga.
Tania mengingat perkataan Tyaga waktu itu, namun tidak dirinya kira kalau pemuda itu akan sampai menemuinya ke tempat di mana dia tinggal.
"Lalu, ada apa kau sampai datang menemuiku?" Tanya Tania.
"Sebenarnya aku ingin memintamu untuk menemaniku ke suatu tempat." Ucap Tyaga.
"Ke suatu tempat? Maaf sekali, saat ini aku sedang ingin pergi jadi aku tidak bisa menemanimu." Ujar Tania yang hendak pergi ke rumah Ares. "Dan tidak biasanya kau meminta seseorang untuk menemanimu."
Akhirnya Tania bersama dengan Tyaga pergi menuju rumah Ares. Saat mereka berdua tiba, Ares masih saja berada di dalam kamarnya.
Pemuda itu terus mengurung diri di dalam kamar setelah kembali dari pemakaman Anton. Bahkan hari ini Ares belum makan apapun.
Dengan di temani si kembar, Tania dan Tyaga mendatangi kamar Ares.
"Kak Es." Seru Aphrodite mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Pintunya tidak dikunci, ada apa?" Tanya Ares menoleh ke arah pintu.
Pintu kamar terbuka, dan Tania muncul dari luar dengan membawa hadiah yang akan diberikan gadis itu pada Ares.
Melihat Tania datang menemuinya membuat Ares menjadi teringat mengenai rasa kesalnya pada perkataan gadis itu. Kemarahannya semakin bertambah ketika Tyaga muncul di belakang Tania.
Ares mendengus menahan kesalnya saat melihat mereka berdua datang bersama. Segera pemuda itu beranjak berdiri untuk menanggapi kedua orang yang datang bersama menemuinya.
__ADS_1
"Ada apa kalian berdua datang? Aku rasa aku tidak melanggar apapun hingga mantan Ketua OSIS dan Ketua OSIS yang baru sampai datang menemuiku bersama." Ujar Ares dengan nada suara sarkastis.
Perkataan Ares membuat Tania sadar kalau pemuda itu masih marah padanya. Meski begitu, dirinya memakluminya.
"Jujur saja, aku juga tidak mau menemuimu, hanya saja sebagai perwakilan sekolah aku ingin mengatakan padamu sebaiknya kau tidak berbuat apapun hingga ikut terseret masalah yang sedang diusut pihak kepolisian. Kau juga tahu kan kalau kematian sahabatmu saat ini menjadi perbincangan dan mendapatkan perhatian karena sedang proses hukum untuk para pelakunya." Terang Tyaga. "Walaupun sebenarnya aku juga tidak peduli meski kau melalukan sesuatu hingga melanggar peraturan sekolah. Bahkan itu sesuatu hal yang aku tunggu."
"Cih!" Ares menyunggingkan senyum kecutnya. "Jika memang seperti itu kau tidak perlu repot-repot datang ke sini. Dan aku pikir mantan Ketua OSIS sudah tidak ada kaitannya dengan kegiatan OSIS apapun, lalu kenapa kau mengajaknya? Ah, aku salah... Sepertinya kalian memang selalu kemanapun bersama."
Tyaga menghela napas menahan emosinya. Dirinya merasa tidak perlu menjelaskan apapun atau pun menyangkal perkataan Ares padanya itu.
"Baiklah, aku rasa, keperluanku sudah selesai. Aku akan pergi sekarang." Ujar Tyaga. "Meski begitu, aku tepat turut berduka cita pada yang terjadi sahabatmu. Aku mewakili sekolah mengucapkan turut berbelasungkawa."
Ares tidak mengucapkan apapun untuk menanggapi perkataan Tyaga. Pemuda itu hanya terdiam hingga Tyaga pergi keluar dari kamarnya, meninggalkan dirinya bersama dengan Tania yang sejak masuk belum mengatakan apapun.
Mata Ares mengarah pada gadis itu saat ini. Siratan mata yang siapapun tahu kalau terkandung rasa kesal di dalamnya.
"Kenapa kau tidak ikut keluar? Bukankah kau datang menemaninya?" Tatap Ares dengan masam.
Tania berjalan ke arah meja belajar untuk meletakkan hadiah ulang tahun darinya untuk Ares, lalu kembali berjalan dan berdiri di hadapan pemuda yang memperhatikannya dengan sangat dingin.
"Kau baik-baik saja? Aku ingin menghubungimu untuk menanyakan keadaanmu tapi—"
"Sudah aku katakan, kau tidak perlu berada di sini." Sambar Ares tidak membiarkan gadis itu bicara. "Kau juga tidak perlu berpura-pura peduli pada keadaanku, sedangkan kau tidak menghubungiku untuk sekedar menanyakan kabarku."
Tania terdiam karena Ares tidak membiarkan dirinya menjelaskan mengenai keadaan ponselnya yang rusak.
"Kau bilang padaku kalau semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata itu bohong. Yang terjadi lebih buruk dari pada apa yang aku pikirkan. Seharusnya aku tidak mendengarkan perkataanmu. Seharusnya aku tetap pergi untuk mencari keberadaannya. Sekarang lihat yang terjadi? Aku kehilangan sahabatku untuk selamanya. Aku kehilangannya di hari ulang tahunku. Kemarin adalah hari ulang tahunku yang terburuk selama aku hidup... Dan semuanya karena kau!!"
Tania hanya diam saja mendengarkan semua perkataan lirih pemuda yang ada di hadapannya. Saat ini rasa bersedih Ares begitu besar, itu bisa dilihat olehnya karena pemuda itu berbicara dengan mata yang tergenang air mata.
"Kau tahu? Aku sangat menyesal karena mendengarkan semua perkataanmu." Ucap Ares dengan tatapan dingin pada Tania. "Pergilah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi."
Tania menahan rasa sedihnya saat Ares berkata seperti itu padanya. Akan tetapi, dia bisa memakluminya, bahkan dirinya tidak masalah mengenai semua perkataan Ares padanya.
"Baiklah, aku tidak akan menemuimu lagi. Kau juga bisa menyalahkan diriku atas apa yang terjadi pada sahabatmu. Tapi berjanjilah padaku, kau tidak akan melakukan apapun yang bisa membuatmu dikeluarkan dari sekolah." Jawab Tania menahan rasa sedihnya. "Aku akan melakukan apapun asalkan kau tidak sampai dikeluarkan dari sekolah."
__ADS_1
...@cacing_al.aska...