PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
031. PERGI BERSAMA


__ADS_3

Seketika Kayden teringat kembali apa yang terjadi sekitar lima tahun lalu. Sesuatu yang bisa dibilang tidak akan pernah bisa dia lupakan.


"Ada apa, Pak Guru? Apa aku perlu mengatakan semua yang terjadi pada—"


"Diamlah, kau tidak tahu apapun." Sambar Kayden masih berusaha menahan emosinya.


Ares mendengus pada perkataan Kayden.


"Tidak mungkin aku tidak tahu, waktu itu seluruh anggota keluargaku sangat terkejut pada apa yang terjadi. Kau pun tahu bagaimana bibiku Melody menjadi sangat bersedih saat anak perempuannya hampir saja mati hanya karena seorang pria. Ya, pria yang tidak mau bertanggung jawab dan lebih memilih—"


Brak!


Tiba-tiba Kayden mendorong Ares hingga pemuda itu terpojok di salah satu pintu yang tertutup. Raut wajah kemarahan pria tersebut terlihat sangat jelas dengan mata yang menancap tajam pada kedua netra muridnya.


"Kenapa kau begitu marah, Pak Guru? Apa kau menyesali apa yang terjadi waktu itu?" Dengan santai dan dengan bibir tersungging Ares membiarkan dirinya dicengkram gurunya itu dan tidak menghindar.


"Tutup mulutmu!! Kau tidak tahu apapun, bocah sialan!!" Geram Kayden sangat kesal.


"Sudah aku bilang, aku tahu semuanya. Kau adalah The Bloody Rose. Bukan begitu, Pak Guru?" Kali ini Ares menatap Kayden dengan tajam.


Sisi pintu lainnya terbuka, membuat kedua orang itu langsung teralihkan saat Tania muncul dari luar melihat pada mereka dengan wajah yang terkejut.


"Kalian sedang apa?" Tatap Tania dengan heran.


Kayden langsung melepaskan cengkramannya pada Ares, dan berjalan menaiki tangga untuk menghindari pertanyaan gadis itu.


"Apa yang terjadi?" Tania semakin heran karena Kayden malah pergi tanpa menjelaskan apapun. Gadis itu melihat pada Ares. "Apa kalian bertengkar?"


"Tidak, tapi sepertinya Pak Guru marah karena aku menyinggungnya." Jawab Ares sambil merapikan pakaiannya.


"Menyinggungnya? Apa yang kau katakan?" Tanya Tania penasaran.


"Sudahlah, itu tidak penting. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Ujar Ares sambil melangkah keluar dari pintu.


Sejenak Tania melihat ke arah lantai dua karena gadis itu sangat penasaran apa yang terjadi. Yang dia tahu kalau Kayden adalah orang yang santai dan tidak mudah terpancing emosi. Apalagi sampai marah dan melakukan tindakan kekerasan. Ditambah, Ares adalah murid di sekolahnya, Kayden pasti tidak akan bersikap kasar padanya.


"Ada apa? Ayo pergi!!" Seru Ares menoleh ke arah Tania yang masih berada di tempatnya dan tidak bergeming.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang saat Tania dan Ares masuk ke sebuah mall. Kedua orang itu langsung menuju ke sebuah toko kacamata di mana tadi Ares membelinya.


"Apa kau sudah benar-benar sembuh?" Tanya Ares saat mereka berada di tengah eskalator.


Tania berdiri di belakang Ares yang membelakanginya. Pemuda itu menoleh untuk mengetahui kondisi gadis itu.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Tania hanya menatap punggung Ares.


Meski yang sebenarnya kalau Tania masih merasakan sedikit sakit ditubuhnya, namun gadis itu tidak mempermasalahkannya.


"Bilang saja kalau kau tidak kuat saat berjalan." Seru Ares melangkah keluar dari eskalator setelah sampai di lantai dua.

__ADS_1


Tania tidak menjawabnya, gadis itu hanya mengikuti langkah Ares. Walau sesungguhnya perkataan Ares barusan membuat Tania menjadi berpikir mengenai apa yang akan dilakukan pemuda itu kalau Tania tidak kuat berjalan. Tidak mungkin kan kalau dia akan menggendongnya.


"Aku akan menggendongmu kalau perlu." Tiba-tiba Ares mengatakan hal yang dipikirkan Tania. "Kalau kau tidak kuat berjalan aku akan menggendongmu. Ingat, sampai kau benar-benar sembuh, kau adalah tanggung jawabku."


Tania tetap tidak berkata apa pun, meski dirinya menjadi sedikit merasa lucu karena Ares benar-benar mengatakan hal yang dirinya pikirkan barusan. Tapi dia tahu kalau pemuda itu pastinya tidak benar-benar serius dengan perkataannya.


Tidak lama mereka sampai di sebuah toko kacamata. Ares segera berjalan masuk saat seorang pramuniaga menghampirinya. Pemuda itu langsung memberikan paper bag yang dibawanya dan mengatakan maksud tujuannya ke sana.


"Lebih baik kita test dulu untuk keakuratan minusnya." Ujar si pramuniaga. "Silakan."


Tania berjalan mengikuti si pramuniaga untuk mengecek minus mata gadis itu. Sedangkan Ares sedang sibuk melihat-lihat model kacamata yang lainnya.


"Untuk bingkai apakah akan ganti juga?" Tanya si pramuniaga saat berjalan kembali dengan Tania.


"Tidak perlu." Jawab Tania.


Ares menoleh pada kehadiran Tania setelah berjalan kembali dari sebuah etalase yang ada di sudut lainnya.


"Ikutlah denganku." Tanpa sadar Ares langsung menarik lengan Tania.


Tania yang sedang menunggu si pramuniaga yang sibuk mencatat, terkejut dan tidak sempat menarik lengannya karena lebih dulu sampai di sebuah etalase.


"Maaf, tolong ambilkan lensa kontak (softlens) yang sesuai dengan minusnya." Ujar Ares pada pramuniaga lainnya yang berdiri di balik sebuah etalase lensa kontak.


"Kenapa lensa kontak?" Tanya Tania heran.


"Sebaiknya kau memakai lensa kontak saja dari pada harus repot-repot memakai kacamata. Untuk gadis sepertimu yang selalu bersikap masa bodoh, akan pemborosan jika harus terus menerus membeli kacamata yang rusak." Jawab Ares langsung melihat kembali pada si pramuniaga.


"Tidak usah yang berwarna, berikan saja yang bening. Bola matanya sudah indah dengan warna cokelat, dia tidak perlu mengubahnya." Ucap Ares tanpa sadar.


Tania terkejut dengan perkataan pemuda itu yang seperti memuji bola matanya yang berwarna cokelat terang.


Ares yang baru saja menyadari apa yang keluar dari mulutnya melirik pada Tania dengan salah tingkah. Dia juga tidak mengerti kenapa sampai mengatakan hal-hal yang tidak perlu dia ucapkan seperti tadi.


Pramuniaga memberikan kotak berisi lensa kontak pada Ares.


"Kau pernah memakai lensa kontak sebelumnya?" Ares menoleh pada Tania yang berdiri sedikit agak ke belakang, di sampingnya.


Tania menggeleng menjawabnya.


"Sebaiknya tidak usah. Aku tidak pernah memakainya dan tidak ada niat untuk memakai benda itu. Aku lebih nyaman memakai kacamata. Itu lebih mudah untukku." Jawab Tania. "Lain pula, kalau aku ingin pun aku akan membelinya sendiri. Kau tidak perlu membelikannya untukku."


"Tidak masalah, aku akan membelinya juga untukmu. Anggap saja ini bonus untuk kacamata yang aku berikan itu." Ujar Ares.


"Mohon maaf, untuk kacamatanya apa bisa menunggu paling cepat tiga puluh menit?" Tanya si pramuniaga yang menangani kacamata tadi.


"Kenapa lama sekali?" Tania merasa heran.


"Baiklah, tidak masalah." Jawab Ares setelahnya menoleh pada Tania. "Ini sudah jam makan siang, perutku sudah lapar. Sambil menunggu lebih baik kita makan siang dulu. Kita akan kembali lagi nanti. Bagaimana?"

__ADS_1


Tania juga sudah merasa lapar, ditambah dirinya harus meminum obat pereda nyeri karena punggungnya mulai terasa lebih sakit kembali.


Ares bersama dengan Tania keluar dari toko kacamata dengan jalan beriringan. Pemuda itu memilih restoran dengan mengitari pandangannya ketika sedang berjalan.


"Aku sedang ingin makan steak, aku lupa di mana restoran steak berada. Apa kau tau?" Tanya Ares sambil terus celingukan mencari.


"Ini pertama kali aku ke tempat ini." Jawab Tania.


"Benarkah?" Ares menoleh pada Tania dengan heran. "Kau pasti bercanda, kan?"


Tania tidak menjawabnya lagi. Untuknya itu bukan sesuatu yang penting sama sekali.


"Restoran steak sepertinya ada di lantai satu. Ayo!" Seru Ares berjalan lebih cepat menuju eskalator.


Tania mengikuti langkah Ares yang lebih dulu masuk ke eskalator, namun karena pandangannya buram sebab tidak mengenakan kacamata, dan di tambah punggungnya mulai terasa lehih sakit, langkahnya goyah saat masuk ke anak tangga eskalator di belakang Ares.


Beruntung Ares yang berdiri di depannya sehingga gadis itu memegang tubuhnya.


"Ada apa? Apa punggungmu masih sakit?" Tanya Ares yang terkejut hingga menoleh pada Tania. "Perhatikan langkahmu. Bagaimana kalau kau jatuh?"


"Semua hanya karena aku tidak memakai kacamata. Maafkan aku." Ucap Tania menjadi malu bercampur rasa canggung, karena baru saja dirinya seperti memeluk pemuda itu dari belakang.


Ares melangkah ke anak tangga yang sama dengan Tania. Pemuda itu menjadi sedikit takut kalau Tania akan terjatuh lagi.


"Perhatikan langkahmu." Ujar Ares saat mereka berdua hendak sampai di lantai satu.


Mendengarnya Tania sedikit kesal karena dirinya menjadi malu saat beberapa orang memperhatikan ke arah mereka berdua.


"Di mana ya restorannya?" Ares kembali menoleh ke tiap sudut mall mencari restoran steak yang mereka tuju.


Tania hanya diam saja mengikuti langkah pemuda itu dengan sedikit berjalan di belakangnya.


"Itu dia. Ayo cepat!!" Tanpa sadar lagi-lagi Ares menarik lengan Tania agar mengikutinya.


"Singkirkan tanganmu!!" Seru Tania dingin menghentikan langkahnya.


Ares tersadar dan langsung melepaskan lengan gadis itu dengan sedikit malu.


"Maafkan aku, tanpa sadar aku melakukannya. Aku biasa menggandeng ibuku saat berjalan di mall. Aku lupa kalau kau bukan ibuku." Ucap Ares mencari alasan. "Ayo cepat, ini jam makan siang. Bisa jadi restorannya penuh."


"Es? Kau ada di sini?"


Terdengar suara seorang pria dari arah belakang mereka ketika Ares dan Tania hendak melangkah kembali.


Segera mereka berdua menoleh ke sumber suara dan melihat seorang pria berusia 40 tahunan yang wajahnya masih sangat tampan dan tentunya masih terlihat muda, seperti halnya ayah Ares.


"Paman, kenapa paman ada di sini?" Tanya Ares pada pria tersebut.


"Paman sedang ingin makan siang setelah selesai syuting sebuah film. Apa dia kekasihmu?" Pria itu menatap pada Tania.

__ADS_1


Melihatnya, Tania tahu siapa pria tersebut. Dia adalah murid yang dulu menyebabkan ibu gadis itu diberhentikan secara tidak hormat sebagai guru di sekolahnya. Salah satu dari The Three Musketeers, Prothos Due Sanzio.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2