
"Jangan bilang kau tidak menyadarinya." Ares berjalan mendekati arah meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Tania. "Kau benar-benar tersenyum saat mendengar ucapanku tadi."
Tania langsung memberikan tatapan dingin pada Ares. Tentunya dia tidak ingin menjawab kalau memang dirinya tanpa sadar tersenyum tadi.
"Tidak. Aku memang tersenyum dan alasan aku tersenyum karena aku berpikir apa yang kau katakan itu terdengar sangat lucu." Ujar Tania.
"Apa maksudmu?"
"Pertama, aku tidak mengerti kenapa kau mengatakan hal itu padaku. Kedua, seharusnya jika kabar itu tidak benar kenapa kau membiarkan kabar itu terus ada? Dan yang terakhir, aku sama sekali tidak peduli dengan yang kau katakan dab mengenai semua kabar itu." Terang Tania. "Sekarang kau bisa keluar dari sini dan jangan pernah masuk ke ruangan ini lagi, terutama di saat ada aku di sini."
Ares menatap tajam Tania dengan kesal. Pemuda itu tampak tidak bisa menerima maksud dari perkataan gadis yang menatapnya dengan tatapan datar tersebut.
"Apa kau ingat? Kau punya hutang padaku?" Tatap Ares.
"Hutang?" Tania tidak mengerti perkataan Ares.
"Ya, hutang saat aku menang karena bisa menulis dengan sangat bagus dan indah tempoh hari." Ares menyunggingkan sudut bibirnya dengan angkuh.
Tania mengingatnya. Dirinya harus menuruti permintaan pemuda itu setelah dia kalah darinya waktu itu.
"Lalu kenapa?" Tanya Tania heran. "Apa kau ingin memintaku untuk membiarkanmu melakukan semua yang kau mau?"
"Ti—tidak! Aku hanya mau kita belajar bersama lagi." Jawab Ares. "Ujian akhir semakin dekat, aku tidak bisa belajar sendirian. Kau pun tahu itu kan? Lihat saja, berapa banyak soal yang aku jawab dengan tidak benar."
Tania tidak menjawab Ares, gadis itu memperhatikannya sesaat.
"Karena itu kau harus membantuku belajar lagi. Banyak sekali rumus yang aku tidak mengerti." Lanjut Ares.
"Keluargamu sangat kaya, kau bisa meminta orang tuamu untuk mendaftarkanmu pelajaran tambahan. Biasanya semua keluarga kaya melakukannya untuk anak mereka." Ujar Tania.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membayarmu?" Tatap Ares berharap Tania menyetujuinya.
"Berapa banyak? Jujur saja, ayahmu juga menawarkan aku hal yang sama jika aku berhasil membuatmu lulus nanti."
"Benarkah?" Ares terkejut karena sebelumnya pemuda itu tidak mengetahui hal tersebut.
"Ya, karena itu aku tanya berapa banyak kau bisa membayarku?" Tanya Tania mengulangi. "Aku ingin kau membayarku sesuai dengan biaya iuran sekolah. Bagaimana?"
"Tidak masalah. Kau tahu kan, orang tuaku membebaskan aku menggunakan uang sesuka hatiku." Jawab Ares dengan senyum sombongnya.
Tania tidak menjawabnya. Gadis itu mengambil ponselnya dan tidak mau meladeni perkataan Ares lebih lanjut.
"Kenapa diam saja?" Tanya Ares heran karena Tania tidak menanggapinya.
__ADS_1
"Ya sudah, kau bisa keluar sekarang. Kita sudah sepakat. Tapi jangan menggangguku di saat jam istirahat ataupun yang lainnya. Sepulang sekolah nanti kita bisa mulai belajar lagi bersama." Jawab Tania tanpa melirik sedikitpun pada Ares dan tetap memfokuskan dirinya ke layar ponsel.
Ares diam sesaat, pemuda itu bingung harus bagaimana, karena sejujurnya dirinya masih ingin berada di dalam ruangan itu. Namun sudah tidak ada alasan apapun lagi yang bisa dia katakan.
"Nanti sepulang sekolah benar kita akan belajar?" Tanya Ares memastikan.
"Hhmm..." Jawab Tania.
"Kita akan belajar di rumahku lagi?"
"Hhmm..." Tania tetap tidak menjawab dengan kata.
"Kau tidak ada rapat OSIS, kan? Jika ada aku akan menunggumu. Kita akan pulang bersama kan?" Tanya Ares dengan tatapan lekat.
Dengan tatapan dingin, Tania menoleh pada Ares untuk menjawab pertanyaan pemuda tersebut.
"Sekarang keluar lah dari sini! Pulang nanti kita bisa langsung ke rumahmu untuk belajar bersama. Dan ingat, jangan ganggu aku saat jam istirahat selanjutnya!!" Jawab Tania menatap dingin Ares. "Cepat keluar, atau aku akan menarik perkataanku?!" Geram Tania dengan kesal pada Ares.
Secepatnya Ares langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu, tidak ingin sampai Tania menarik semua perkataannya tersebut.
Melihat Ares yang langsung keluar dengan cepat, membuat Tania tanpa sadar tersenyum kembali. Akan tetapi gadis itu langsung memudarkan senyumnya saat menyadarinya.
"Ada apa denganku? Si bodoh itu benar-benar membuatku jadi seperti orang aneh!!" Gumam Tania dengan memasang wajah ciri khasnya yang datar.
Ares yang keluar dari ruangan OSIS mendapatkan tatapan aneh dari beberapa murid. Akan tetapi sepasang mata yang melihat padanya menjadi fokusnya.
Kayden bersama dengan Ares berada di atap sekolah, dengan berdiri saling berhadapan. Kayden meminta Ares mengikutinya tadi.
"Ada apa Pak Guru?" Tanya Ares tidak mengerti kenapa Kayden terlihat ingin berbicara dengannya.
"Sepertinya kau lupa, apa aku harus mengingatkanmu?" Tanya Kayden dengan wajah serius.
"Aku lupa apa?"
"Sudahku katakan kalau kau harus menjauh dari Tania. Aku akan membatalkan pertandingan besok karena kau masih saja mendekatinya." Ujar Kayden sambil menghidupkan sebatang rokok di selipan bibirnya.
"Apa?" Ares terlihat bingung.
Ares menjadi teringat kembali kalau dirinya memang lupa mengenai hal tersebut. Padahal baru kemarin dia berpikir kalau dan menanyakan mengenai hal tersebut pada Kayden.
"A—aku... Aku lupa." Jawab Ares merasa sangat bodoh.
Entah kenapa karena melihat Tania yang menjauhinya dan terkesan tidak ingin mendekatinya membuat Ares menjadi melupakan hal tersebut. Dirinya hanya ingin kembali seperti sebelumnya dengan Tania, sehingga melupakan perjanjian dengan Kayden tersebut.
__ADS_1
"Berhenti mendekatinya lagi, kalau tidak, aku tidak akan mau bertanding denganmu besok." Seru Kayden.
Ares tidak berkata apa-apa. Dirinya menjadi bingung mendengar peringatan Kayden. Hingga sampai jam istirahat berakhir, dirinya masih memikirkan apa yang akan dia lakukan.
Pemuda itu sudah berkata pada Tania kalau mereka akan belajar bersama lagi, namun Ares tidak ingin kalau pertandingannya dengan Kayden dibatalkan. Itu membuatnya bingung harus bagaimana.
Ares terus menatap punggung Tania yang duduk membelakangi kursinya. Padahal tadi dia sudah senang karena gadis itu akhirnya mau belajar lagi bersama dengannya.
Hingga bel pulang berbunyi. Kebingungan masih melanda Ares, apakah dirinya akan tetap pulang dan belajar bersama Tania atau mengatakan pada gadis itu kalau dirinya tidak bisa melakukannya.
"Kau menunggu apa? Ayo!" Ujar Tania berdiri dan berbalik melihat pada Ares.
Beberapa murid di dalam kelas memperhatikan mereka berdua.
Tania berjalan keluar dari kelas, dan Ares mau tidak mau mengikuti gadis itu dari belakang.
Baru keluar dari kelas, mereka berdua sudah menjadi bahan tatapan semua murid dan sayup-sayup terdengar bisikan mereka semua.
Langkah Tania terhenti saat melewati kelas Dyara berada, begitupun dengan Ares yang hanya mengikutinya dengan terus kebingungan harus melakukan apa.
Mereka berdua melihat pada Dyara yang baru saja keluar dari kelasnya. Akan tetapi, penampilan Dyara membuat Tania dan Ares merasa aneh. Gadis itu menutupi sebagian wajahnya dengan masker.
Dyara sempat terkejut saat melihat Ares dan Tania di depan kelasnya.
Banyak dari murid-murid di sana memperhatikan mereka.
"Kau sedang sakit?" Tanya Tania pada Dyara.
Sikap Dyara terlihat sangat aneh, gadis itu tampak seperti kebingungan harus menjawab apa.
Ares mencurigai sesuai sehingga langsung melangkah mendekat pada Dyara. Tanpa mengatakan apapun, pemuda itu melepas masker yang menutupi hidung dan bibir Dyara.
Ares dan Tania terkejut saat melihat lebam di sudut bibir kiri Dyara, bahkan bibir gadis itu terlihat terluka dengan sobekan.
Melihatnya, Ares tahu apa yang terjadi pada Dyara. Semua luka itu gadis itu dapatkan dari mantan kekasihnya, yaitu Shane.
"Kenapa kau bisa terluka?" Tanya Tania.
"I—ini..." Dyara tampak kebingungan menjawabnya karena banyak sekali murid yang juga menunggu jawaban dari hal yang dirinya sembunyikan sejak hari ini di sekolah. "Aku hanya terjatuh saat—"
"Ikutlah denganku, aku akan memberi pelajaran pada si berengsek itu!!" Geram Ares yang langsung menyambar lengan Dyara dan menarik gadis itu mengikutinya.
Tania hanya tertegun melihat Ares yang pergi dengan membawa Dyara, tanpa mengatakan apapun padanya.
__ADS_1
Semuanya semakin diperparah dengan bisikan-bisikan negatif yang terdengar dari para murid yang menyaksikan semua itu berlangsung.
...–NATZSIMO–...