
"Kak, bagaimana kalau hari ini kita menonton film di Bioskop lagi?" Tanya Dyara pada Ares.
Baru saja bel pulang berakhir, gadis itu langsung bergegas menuju kelas Ares untuk menemuinya.
"Maafkan aku, aku harus ke suatu tempat." Jawab Ares tidak menghentikan langkahnya berjalan.
"Kemana? Aku ikut ya?" Ujar Dyara.
Gadis itu merangkul lengan Ares, membuat pemuda itu menghentikan langkahnya. Dilepaskannya tangan Dyara yang memegang lengan Ares, dan ada yang ingin disampaikannya saat ini pada gadis tersebut.
Dyara merasa heran karena tidak biasanya Ares menyingkirkan langannya seperti itu. Sejak waktu itu ketika dirinya berkata ingin membantu pemuda itu, Ares tidak masalah tiap kali Dyara memeluk lengannya saat berjalan.
"Ada apa, Kak?" Tatap Dyara dengan sedikit takut kalau Ares merubah kembali sikapnya padanya.
"Aku ingin ke rumah sakit." Jawab Ares. "Maaf, aku tidak bisa menonton ke Bioskop bersamamu."
Setelah mengatakan hal itu, Ares berjalan pergi meninggalkan Dyara yang tampak sangat kecewa setelah mendengar perkataan Ares tersebut.
"Ada apa ini? Itu bukan berarti hubungan kami berakhir bukan?" Gumam Dyara dengan sangat perlahan.
Gadis itu tersadar kalau beberapa murid memperhatikannya. Segera dia mengubah raut wajahnya dengan memulas senyuman.
"Hati-hati di jalan ya, Kak." Seru Dyara melambaikan tangannya meski Ares tidak menoleh sedikitpun padanya.
Semua itu dilakukannya hanya untuk menunjukkan pada semua murid di sana kalau tidak ada yang terjadi pada hubungannya dengan Ares. Dia ingin memberitahu pada mereka kalau dirinya dengan Ares masih sepasang kekasih.
Meski begitu, ketika Dyara berjalan sendiri, gadis itu kembali memasang wajah sedih bercampur kesal. Dia menjadi risau karena Ares berkata ingin ke rumah sakit. Itu berarti kalau pemuda itu akan menemui Tania.
Dyara menjadi takut kalau Ares akan bersikap baik padanya. Padahal sebelum ini dirinya sudah sangat senang karena pemuda yang sangat dia cintai itu bersikap baik padanya dan beberapa kali juga mereka sudah sering pergi bersama. Tapi perasaannya menjadi takut saat ini.
"Kenapa sulit sekali membuatmu mencintaiku?" Gumam Dyara sambil berjalan mengarah keluar pintu gerbang sekolah. "Aku berharap gadis itu tidak ada."
...***...
Baru saja jarum infus pada Tania dilepaskan. Gadis itu akan segera keluar dari rumah sakit segera. Saat ini dia sedang merapikan semua barang-barangnya.
"Kau tidak memberitahu ibu kan, Paman?" Tanya Tania pada pamannya yang datang untuk membawanya keluar dari rumah sakit. "Aku tidak ingin dia tahu kalau aku masuk rumah sakit lagi."
"Kau tenang saja, aku tidak mengatakan apapun padanya." Jawab Wisnu—Paman Tania.
Tatapan Tania yang sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas miliknya teralihkan ketika melihat seseorang datang membuka tirai.
"Ares?" Tanya Paman Tania dengan heran melihat anak dari pemilik perusahaan di mana dirinya bekerja datang. "Sedang apa kau di sini?"
"Paman, apa administrasinya sudah kau urus?" Tanya Tania agar pamannya itu segera meninggalkan dirinya dengan Ares.
__ADS_1
"Ah iya, baiklah aku urus dulu." Jawab Wisnu mengetahui maksud dari perkataan keponakannya tersebut.
Sepeninggalan Wisnu, Ares berjalan masuk dengan berdiri di dalam tirai ruangan tersebut. Kehadirannya ke sana untuk mengatakan terimakasih pada gadis itu.
Setelah dirinya memikirkannya, setidaknya dia harus tetap berterimakasih pada Tania, karena berkat gadis itu, dirinya tidak dikeluarkan dari sekolah.
"Kau akan keluar dari rumah sakit?" Tanya Ares.
Tania yang berdiri di jarak tiga meter darinya hanya sedikit menganggukkan kepala.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baik-baik saja?" Tanya Ares lagi.
"Aku rasa sudah Baik-baik saja." Jawab Tania. "Ada apa kau menemuiku?"
"Aku ingin berterimakasih padamu. Karena kau, Shane mencabut laporannya, selain itu, aku juga berterimakasih karena membuat Tyaga tidak mengeluarkan aku dari sekolah." Ucap Ares.
"Kau tidak perlu berterimakasih, aku melakukannya hanya karena nama baik sekolah." Jawab Tania. "Aku juga akan melakukannya jika murid lain yang mengalaminya."
Ares terdiam karena bingung harus mengatakan apalagi. Ada hal yang ingin dia sampaikan pada gadis itu, namun hal itu membuatnya sedikit sulit mengatakannya karena rasa penyesalannya.
"Jika tidak ada lagi, kau bisa pergi. Aku harus bersiap-siap untuk pulang."
"Maafkan aku." Ucap Ares sangat cepat menyambar perkataan Tania. "Tidak seharusnya aku menyalahkanmu atas kematian sahabatku."
"Tidak masalah, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Jika itu membuatmu merasa lebih baik, kau bisa terus menyalahkan aku." Jawab Tania. "Aku memahami kesedihanmu, semua orang juga pasti akan merasakan kehilangan yang sangat besar saat sahabat mereka meninggalkan mereka selamanya. Aku mengerti dengan yang terjadi padamu."
"Sebaiknya kau pulang sekarang, dan belajarlah." Ujar Tania yang ingin Ares segera pergi dari sana.
"Baiklah." Jawab Ares setelah perlahan membalikkan badannya.
Sebenarnya pemuda itu masih enggan untuk melangkah pergi dari tempat itu. Rasanya masih ada yang mengganjal pada sikap Tania.
Tadinya dia pikir jika dirinya berterimakasih mau pun meminta maaf pada gadis itu, maka semuanya akan kembali seperti kemarin. Namun yang terjadi, Tania seperti tidak ingin dirinya berada lama di sana.
Ares menahan langkahnya, pemuda itu kembali berbalik melihat pada Tania.
"Aku tidak akan melanggar peraturan sekolah lagi. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus nanti." Ucap Ares menatap kembali wajah Tania.
"Ya, itu bagus." Hanya itu yang Tania jawab atas perkataan Ares.
Mau tidak mau, Ares berbalik lagi dan segera berjalan pergi dari sana.
Tania menghela napasnya setelah Ares meninggalkannya. Dirinya tidak mengira kalau pemuda itu akan datang menemuinya dan mengatakan semua itu padanya. Itu membuatnya menjadi bingung harus bersikap bagaimana.
Meskipun begitu, dirinya merasa sudah tidak harus berbuat apapun sekarang. Saat ini dia hanya berniat untuk meninggalkan kota ini dan kembali tinggal bersama dengan ibunya.
__ADS_1
"Apa sudah selesai?" Tanya Wisnu—paman Tania yang kembali datang setelah dari luar.
"Ya, kita bisa pergi sekarang, Paman." Jawab Tania.
"Baiklah. Ayo kita pergi." Seru Wisnu.
Tania berada di dalam mobil bersama dengan pamannya. Gadis itu akan tinggal bersama pamannya itu sebelum dirinya kembali ke tempatnya berasal beberapa hari lagi.
Setelah Ares datang menemuinya, Tania menjadi memikirkan sesuatu hal. Dia menjadi berpikir kalau dirinya ingin lebih cepat meninggalkan kota itu.
"Paman," Tania menoleh pada pamannya yang sedang menyetir.
"Ada apa?" Tanya Wisnu.
"Aku ingin lebih cepat pulang. Apa bisa kalau jadwal tiketnya diubah? Aku ingin meninggalkan kota ini dan pulang ke rumah secepatnya." Tanya Tania.
...***...
Tania meminta pamannya untuk mengantarnya ke rumah Kayden. Gadis itu ingin mengambil barang-barangnya yang masih berada di sana.
Setelah merubah keputusannya untuk segera meninggalkan kota ini, Gadis itu ingin juga menemui wali kelas dan kepala sekolahnya untuk berkas-berkas kepindahan sekolahnya.
"Kenapa kau tiba-tiba mempercepat kepindahanmu?" Tanya Karen yang duduk di samping Kayden dan di hadapan Tania di meja makan. "Kau bilang sebelumnya, kau akan pindah besok lusa."
"Aku merasa tidak ingin membuang-buang waktuku." Jawab Tania. "Semakin cepat aku pindah, semakin cepat juga aku bisa menyesuaikan diri dengan cara belajar di sekolahku nanti."
"Itu bukan alasan yang bisa aku terima. Kau tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri. Bahkan untuk apa kau menyesuaikan diri dengan cara belajar di sekolah itu, tidak lama lagi kau akan mengikuti ujian kelulusan." Seru Kayden dengan melipat tangannya di depan dadanya. Dia merasa heran dengan keputusan gadis itu yang terlalu tiba-tiba. "Apa karena hal lainnya?"
"Tidak, tidak ada seperti itu. Aku hanya ingin lebih cepat kembali tinggal bersama dengan ibuku. Kesehatannya sudah kurang baik, dia membutuhkan aku berada bersamanya." Jawab Tania lagi. "Baiklah, semuanya sudah lengkap... Aku harus segera pergi."
"Di mana pamanmu?" Tanya Karen.
"Dia memiliki urusan lain, karena itu aku akan pergi sendiri ke bandara." Jawab Tania.
"Dengan barang sebanyak itu?" Tatap Kayden melirik ke dua koper besar milik Tania. "Aku akan mengantarmu."
"Aku akan naik taksi ke terminal bus, setelah itu naik bus ke bandara. Itu tidak masalah untukku." Ucap Tania.
Kayden mendengus mendengar perkataannya. Pria itu tidak bisa berkata apapun lagi pada gadis yang ada dihadapannya. Sebelum ini dirinya juga sudah memberikan saran agar Tania tidak terlalu mengambil keputusan dengan cepat, namun tampaknya gadis itu memiliki pemikirannya sendiri.
Brak!
Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, Tania langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka dengan kasar, dan melihat seorang pemuda muncul dari balik pintu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanya pemuda tersebut pada Tania.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...