PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
053. PLAYING VICTIM


__ADS_3

Perkataan Tania membuat Dyara melirik ke arah belakangnya dari sudut mata. Gadis itu berharap tidak ada siapapun yang mendengarkan apa yang diucapkan Tania tadi.


Setelahnya, Dyara merubah ekspres wajahnya dan kembali memulas senyum seperti biasanya.


"Ah, tidak. Sepertinya kau salah sangka. Aku tidak ingin membahas apapun mengenai hal itu. Ada hal lainnya yang ingin aku katakan." Ujar Dyara langsung merubah maksud tujuannya menemui Tania.


"Baiklah, silakan katakan saja. Jika perlu, masuklah lebih dahulu." Seru Tania merasa heran karena Dyara lebih memilih terus berdiri di ambang pintu.


"Ti—tidak perlu. Aku hanya ingin menyampaikan kalau aku mengundurkan diri dari calon kandidat ketua OSIS." Jawab Dyara.


Sayup-sayup langsung terdengar bisikan para murid yang sejak awal terus memperhatikan mereka.


"Kak Ares memintaku untuk tidak mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Dia tidak ingin aku terlalu sibuk nantinya." Ucap Dyara, tentu saja gadis itu berkata bohong.


Dia hanya ingin membuat keadaan berada di pihaknya. Dengan kata lain, ingin menunjukkan kalau Ares sangat memperhatikan dirinya. Itu sama saja mengatakan kalau Dyara dan Ares merupakan sepasang kekasih.


"Sayang sekali." Ujar Tania sambil mengambil formulir pendaftaran milik Dyara dan memisahkannya dari tumpukan berkas formulir lainnya. "Tapi baiklah, aku akan memberitahu Pak Guru."


"Aku minta maaf, karena sepertinya aku terlihat hanya bermain-main saja." Dyara berkata sambil melirik ke sudut matanya.


"Tidak masalah. Itu adalah hakmu." Jawab Tania.


...***...


Ares yang menaiki tangga, menuju ke atap sekolah. Dia tahu kalau tempat itu adalah tempat favorit Kayden. Ada sesuatu yang ingin dirinya tanyakan saat ini pada guru sekaligus rivalnya tersebut.


Saat keluar atap sekolahnya, Ares melihat Kayden sedang berdiri memunggungi arah pintu masuk sambil menghisap rokoknya.


"Ada apa kau datang ke sini?" Tanpa menoleh Kayden bertanya seperti itu pada kehadiran Ares.


"Dari mana kau tahu kalau aku yang datang?" Tanya Ares heran sambil berjalan masuk dan berdiri di samping gurunya.


Kayden mendengus dengan tawa kecil.


"Tidak ada yang pernah datang ke sini selain kau. Semua murid dan guru tahu kalau setiap istirahat aku merokok di sini. Dan lagi awalnya aku tidak mengira kalau yang datang adalah kau. Aku hanya bertanya dengan pertanyaan umum." Kayden menyunggingkan senyumnya yang terlihat meremehkan Ares. "Kau memang bodoh."


"Sialan!" Gumam Ares kesal mendengar cercaan Kayden.


"Lalu ada apa kau ke sini?" Tanya Kayden.

__ADS_1


"Aku ingin tahu sesuatu, apa alasanmu melarangku mendekati si kacamata? Kalau kau menjawab karena kau menyukainya, aku tidak percaya." Ujar Ares.


"Kalau begitu jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kau ingin tahu alasan aku melarangmu mendekatinya? Apa kau keberatan? Jika memang ya, beritahu aku apa alasannya?" Tatap Kayden menoleh pada Ares yang berdiri di sebelah kanannya. "Apa kau menyukainya?"


"Tidak! Aku tidak menyukainya. Dia bukan tipeku." Jawab Ares dengan entengnya.


"Bagaimana tipemu? Apa gadis yang pergi bersama denganmu kemarin? Ya, kalian berdua terlihat serasi."


"Diamlah! Dia juga bukan tipeku." Seru Ares menunjukkan kekesalannya. "Beritahu saja apa alasannya."


"Tidak ada. Aku hanya tidak suka kau mendekatinya."


"Apa maksudmu?" Ares tampak kesal.


"Jangan mendekatinya, jika kau tidak menyukainya aku rasa itu tidak masalah kan?" Kayden menghadap Ares dengan tatapan lekat. "Lantas kenapa sepertinya mempermasalahkannya? Kau bilang dia bukan tipemu, karena itu kau tidak perlu dekat-dekat dengannya."


Ares mengerti maksud perkataan Kayden akan tetapi dirinya menjadi terdiam. Meski dia mengatakan tidak menyukai Tania dengan berkata kalau gadis itu bukanlah tipenya, namun larangan untuk tidak mendekati Tania tidak bisa dirinya terima. Entah karena apa, tapi pemuda itu merasa sangat keberatan.


"Ada apa? Kau terlihat bingung?" Kayden sedikit mencondongkan badannya ke arah Ares.


"Lalu apa setelah pertandingan besok, larangan itu masih berlaku?" Ares mengarahkan tatapannya pada Kayden setelah sempat terlihat berpikir.


"Jawab saja!" Seru Ares semakin kesal.


Kayden kembali memutar tubuhnya dan menghadap ke depan. Pria itu kembali menghisap rokoknya.


"Kita lihat saja nanti setelah pertandingan." Jawab Kayden dengan mulut dan hidung yang mengepulkan asap.


Ares berdecak kesal mendengar jawaban Kayden yang dikatakan dengan sangat santai tersebut.


"Kau ingin merokok?" Tanya Kayden menawarkan rokoknya dengan menyodorkan sebungkus rokok miliknya.


Melihatnya Ares mendengus tidak percaya. Sebagai guru dan wali kelas, Kayden malah menawarinya merokok, itu sangatlah aneh.


Segera Ares berbalik hendak masuk ke dalam gedung sekolah, namun langkahnya masih tertahan. Pemuda itu menoleh pada Kayden yang tidak melihat padanya.


"Sebaiknya berhentilah merokok! Kau tahu? Nenekku meninggal karena kanker paru-paru. Tidak ada satu pun dari keluargaku merokok maupun menyukai seorang perokok." Seru Ares masih menoleh menatap punggung Kayden. "Begitupun dengan sepupuku Hany."


Kayden tidak menjawab apapun untuk menanggapi perkataan Ares. Pria itu masih menghisap batang rokoknya dan mengepulkan banyak asap ke udara.

__ADS_1


Selama beberapa detik setelah Ares meninggalkannya, Kayden merokok dengan tatapan satu arah.


Dibuangnya napas panjang bersamaan dengan kepulan asap yang banyak.


"Ya, kau benar. Dia tidak menyukainya, karena itu aku melakukannya sekarang." Oceh Kayden menanggapi perkataan Ares tadi.


...***...


Tania berada di ruang OSIS setelah bel pulang berbunyi. Dirinya akan mengadakan rapat OSIS sepulang sekolah.


Sebelum itu, gadis tersebut mempersiapkan semuanya sekaligus menunggu para anggota OSIS datang.


"Ketua OSIS!" Seru Wanda yang membuka pintu ruang OSIS dengan sangat kasar hingga membuat Tania tersetak kaget.


"Sudah berapa kali aku bilang, bukanlah pintu dengan perlahan! Kau membuat aku hampir terkena serangan jantung." Gumam Tania melihat Wanda dengan kesal.


Tampak tidak memedulikan perkataan Tania, Wanda berjalan menghampiri gadis itu dengan membawa ponsel miliknya.


"Lihat ini, ketua OSIS. Satu sekolah menganggap kalau kau mengganggu hubungan antara Ares dan Dyara karena unggahan gadis itu." Ujar Wanda memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya.


Gambar yang merupakan akun media sosial milik Dyara. Sebuah unggahan di mana Dyara memotret dirinya saat berada di sekolah dengan sebuah keterangan gambar yang berbunyi;


Aku tidak mungkin merelakanmu hanya demi posisi itu. Bagaimanapun aku tidak akan menang karena aku tahu seseorang akan mencoba menghalangiku. Karena itu, lebih baik aku mundur demi bisa bersama dan menjagamu.


Tania tidak mengerti maksud dari unggahan dan keterangan yang dicantumkan Dyara tersebut.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Tania yang tidak ingin terlalu berpikir dengan hal yang menurutnya tidaklah penting.


"Bacalah komentar-komentarnya. Semua murid jadi menganggap kalau kau tidak akan membiarkan gadis itu terpilih menjadi ketua OSIS karena kau merasa cemburu pada hubungannya dengan Ares." Ujar Wanda menunjukkan komentar-komentar unggahan Dyara.


Yang dikatakan Wanda benar. Semua yang berkomentar seperti berpikiran negatif tentang Tania.


Banyak yang mengatakan kalau gadis itu cemburu pada hubungan Ares dan Dyara, sehingga berniat untuk menggagalkan pencalonan diri Dyara sebagai calon kandidat ketua OSIS.


Bahkan beberapa juga berkomentar kalau Tania dengan sengaja mendekati Ares dengan menggunakan jabatannya sebagai ketua OSIS, untuk membuat pemuda itu dan Dyara berpisah.


"Jadi bagaimana menurutmu, Ketua? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau menyukai Ares seperti dugaan semua orang?" Tatap Wanda penuh selidik.


Melihat tatapan Wanda padanya, membuat Tania sadar kalau Dyara sudah memberikan pengaruh buruk saat ini. Banyak murid yang mempercayai gadis itu dan membuat Tania menjadi tampak jahat di mata siapapun.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2