PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
014. KECEMBURUAN


__ADS_3

"Maaf ya, karena sudah menyita waktu jam istirahat kalian selama beberapa menit." Ujar Kayden saat berada di sebuah kelas.


Baru saja pria itu mengakhiri kelasnya lebih telat hampir sepuluh menit dari waktu istirahat. Namun tak ada satu pun di kelas itu yang merasa keberatan karena memang dia merupakan guru idola banyak murid, tentu saja karena usianya yang masih muda dan berwajah tampan.


"Baiklah, selamat istirahat dan jangan lupa kerjakan tugas kalian, kalau tidak bapak akan menghukum kalian semua." Ucap Kayden menyunggingkan senyumnya dan memperlihatkan sebuah lesung pipi di pipi kanannya.


Setelah mengatakan hal demikian, Kayden bergegas keluar dari kelas tersebut. Saat dia keluar, fokusnya teralih karena mendengar suara seruan Ares yang mengejar Tania.


Kayden terkejut saat Ares menabrak Tania yang tiba-tiba berhenti dan berbalik, hingga tubuh pemuda itu menimpa Tania dengan bibir mereka yang saling bersentuhan.


Baik Ares maupun Tania terlihat sama terkejutnya dengan apa yang terjadi. Pasalnya saat ini semua mata menatap pada apa yang mereka alami. Itu membuat wajah kedua pemuda-mudi itu terlihat merah padam.


Dengan terkejut dan sikap canggung Ares bangkit berdiri dari atas tubuh Tania. Begitu juga dengan Tania yang langsung beranjak bangun dengan tatapan tajam pada Ares.


"Ma—maafkan aku, aku tidak sengaja." Seru Ares merasa takut melihat wajah Tania yang terlihat marah. "Tapi aku rasa ini tidak masalah kan? Bukannya kau pernah bilang kalau kau tidak masalah walau hanya sekedar ciuman? Kau juga pernah menciumku, seharusnya tidak jadi masalah kalau hanya seperti tadi. Itu bukanlah apa—."


Sayup-sayup terdengar bisikan para murid lain mengenai mereka berdua. Hal itu membuat Ares menghentikan perkataannya saat menyadari kalau seharusnya dia tidak mengatakan semua itu karena saat ini banyak sekali murid menatap mereka.


Tatapan semua murid yang berada di sana membuat Ares menjadi merasa bodoh karena mengatakan semua itu, ditambah Tania yang semakin terlihat sangat marah dengan wajah menatap dingin pada Ares.


Tania merasa Ares benar-benar membuatnya malu dengan mengatakan semua hal itu di hadapan semua murid. Gadis itu merasa reputasinya sebagai ketua OSIS menjadi tercoreng karena perkataan bodoh tersebut.


Dengan sangat kesal, Tania mengangkat tangannya hendak memberikan sebuah pukulan pada Ares. Pemuda itu tahu kalau Tania akan memukulnya sehingga dia hanya menggunakan tangannya untuk menahan pukulan gadis tersebut.


Akan tetapi sebelum mendarat pada Ares, Kayden datang memegang lengan gadis itu. Ares dan Tania melihat pada kehadiran wali kelas mereka.


"Kalian berdua, ikutlah ke ruang guru sekarang." Ujar Kayden.


Selang beberapa menit, Ares dan Tania duduk bersebelahan di hadapan Kayden. Kedua murid itu berada di meja kerja wali kelasnya setelah Kayden meminta mereka mengikutinya ke ruang guru.


"Kenapa aku dipanggil lagi ke sini? Apa karena aku tidak sengaja menabraknya dan membuat kami berdua berciuman?" Tanya Ares dengan nada bicara yang selalu terdengar penuh emosi.


Hal yang dikatakannya membuat semua guru yang berada di ruangan itu mendengar apa yang dikatakannya, termasuk kepala sekolah yang baru saja masuk ke dalam ruang guru.

__ADS_1


Ares tahu semua mata mengarah pada mereka karena perkataannya. Sekali lagi pemuda itu menjadi tampak bodoh karena mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak dirinya katakan.


Berbeda dengan Ares, Tania menahan rasa malunya dan terus bersikap dingin. Gadis itu tidak ingin membahas masalah yang terjadi lebih lanjut.


"Katakan saja apa yang akan pak guru lakukan pada kami. Akan tetapi aku hanya ingin bilang kalau yang terjadi tadi hanya sesuatu kecelakaan. Aku rasa tidak ada yang harus dipermasalahkan. Dan jika pak guru ingin mempermasalahkan mengenai aku yang ingin memukul si bodoh ini. Aku rasa itu juga adalah hal yang wajar untuk seorang gadis melakukannya. Tapi aku akan menerima konsekuensinya jika memang harus aku dapatkan." Ucap Tania dengan tatapan serius pada Kayden.


"Ya, itu sebuah kecelakaan, dan aku yang hampir dipukul. Seharusnya aku tidak dipanggil ke sini—"


"Ya kau benar, Tania." Seru Kayden tidak menghiraukan perkataan Ares. "Aku hanya ingin mengatakan kalau kau adalah ketua OSIS di sini, sebaiknya kau tetap menjaga sikapmu. Kalau bisa lebih baik kau menjauh darinya."


"Apa? Kenapa dia harus menjauh dariku?" Protes Ares yang merasa tidak bisa menerima karena sepertinya Kayden menganggap kalau dirinya sangat buruk hingga Tania diminta menjauh darinya. "Apa salahku? Kenapa orang sepertinya harus menjauh dariku?"


"Kau itu hanya murid berandal yang tidak pernah masuk ke sekolah. Ini juga hari pertama kamu kembali ke sekolah, sebaiknya menjaga sikapmu dan jangan terlalu mendekat pada—"


"Dia benar pak guru." Sambar Tania menghentikan perkataan Kayden. "Aku tidak akan menjauhinya."


"Ya, begitu seharusnya." Timpal Ares sedikit senang mendengar perkataan Tania yang lebih setuju padanya.


"Apa yang kau katakan? Kenapa kau terus menerus mengatakan aku bodoh?" Protes Ares namun kembali terdiam karena pemuda itu tidak bisa melakukan apapun untuk memprotes.


"Kau tenang saja pak guru, tidak akan ada keributan seperti itu lagi. Aku berjanji padamu, aku juga akan membuat si bodoh ini lulus sekolah agar nama baik sekolah ini tetap terjaga." Ujar Tania dengan penuh keseriusan. "Aku juga sudah meminta ijin ke kepala sekolah mengenai hal ini, dan beliau sudah memberikan ijinnya padaku. Aku yang bertanggungjawab pada si bodoh ini."


Kayden tidak mengatakan apapun, pria itu hanya menatap Tania yang berbicara dengan tatapan serius padanya. Sejujurnya, dirinya merasa cemburu pada apa yang dilihatnya tadi, hal itu yang membuatnya mengatakan agar Tania menjauhi Ares.


"Sepertinya sudah tidak ada masalah lagi. Kalau begitu kami akan pergi karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."


Setelah mengatakan hal seperti itu, Tania beranjak berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Kayden hanya terdiam melihat Tania tanpa mengatakan sepatah katapun.


Sedangkan Ares menatap Kayden yang memandang kepergian Tania dengan siratan mata yang aneh. Melihat tatapan pria yang merupakan wali kelasnya itu, Ares tahu kalau ada perasaan yang Kayden sembunyikan.


Tersungging sebuah senyuman di bibir Ares saat dia mengambil asumsi pada apa yang dilihatnya. Dia menebak kalau Kayden menyimpan perasaan cinta pada Tania.

__ADS_1


"Baiklah pak guru, aku juga akan kembali ke kelas. Terimakasih karena sudah memintaku ke sini lagi." Ucap Ares dengan senyum menggoda.


Kayden tidak mengatakan apapun untuk menjawab Ares, pria itu masih saja terpaku pada kepergian Tania, namun matanya melirik pada pemuda yang baru saja bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Setelah itu Kayden menghela napas panjang dan menoleh pada keberadaan ibunya yang berjalan ke arahnya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Karen. "Jika tidak membantu sebaiknya tidak mengganggu. Ketua OSIS pasti bisa mengurus anak itu. Kau tidak perlu mencemaskan hal lainnya."


Kayden bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan guru, pria itu tidak ingin menjawab perkataan kepala sekolah sekaligus ibunya. Di luar Dia melihat Ares berjalan cepat untuk menyusul Tania yang sudah berjalan lebih dulu.


Dengan helaan napas panjang, Kayden mengeluarkan rokoknya dan berjalan ke arah atap gedung sekolah untuk merokok. Pria itu merasa cemburu pada yang terjadi di antara Ares dan Tania.


Ares memegang pundak Tania untuk menghentikan langkah gadis itu. Setelah mendengar perkataannya tadi, pemuda itu semakin yakin kalau Tania menyukainya. Entah apa yang dipikirkannya, Ares sangat yakin akan hal itu.


"Tunggu dulu!!" Seru Ares.


Tania berhenti dan menoleh melihat pemuda itu. Ares tersenyum padanya dengan penuh keyakinan.


"Ada apa? Sebaiknya kau tidak menggangguku saat berada di sekolah." Ujar Tania dingin.


Ares menarik tangannya dari pundak gadis itu saat mendengar perkataannya.


"Kenapa kau jadi—"


"Aku akan membantumu belajar, tapi jangan ganggu aku saat di waktu yang lainnya." Seru Tania memotong perkataa Ares. "Dan kalau bisa, menjauhlah dariku saat berada di sekolah."


Ares tidak mengatakan apapun lagi saat Tania berjalan pergi meninggalkannya. Dia melihat ke sekitar, di mana beberapa murid menatap pada mereka berdua tadi, dan menganggap kalau sikap Tania dengan perkataan dinginnya karena banyaknya orang di sana. Pemuda itu mengira kalau Tania hanya malu menjadi bahan tatapan yang lainnya.


Sedangkan Tania berjalan masuk ke kelas dengan menahan rasa kesalnya. Gadis itu sangat ingin meluapkan amarahnya saat ini karena sikap Ares.


"Jika saja membunuh bukan suatu dosa, aku pasti sudah membunuh si bodoh Itu." Gumam Tania dengan dinginnya.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2