PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
065. KEMBALI BERSAMA


__ADS_3

Ares yang membuka pintu ruangan OSIS mendapat teguran langsung dari ketua OSIS yang baru, yakni Tyaga.


Meski begitu, seperti tidak ingin menghiraukan imbauan dari Tyaga, Ares mengalihkan pandangannya pada Tania.


"Apa kau membaca pesan yang aku kirim?" Tanya Ares yang masih berdiri di ambang pintu dengan kondisi pintu yang terbuka.


Hal tersebut membuat murid-murid yang lalu lalang di luar, memperhatikan ke arah mereka. Bahkan Dyara yang berada di sana pun juga ikut memperhatikan dari kejauhan.


"Kau pasti membacanya, kan?" Lanjut Ares dengan nada suara yang lebih keras.


"Ya, aku membacanya." Jawab Tania menjadi merasa sedikit bersalah karena melupakan keinginannya untuk menelepon Ares.


"Lalu, kenapa kau tidak melakukannya? Kenapa kau tidak meneleponku?" Ares menjadi kesal karena jawaban Tania.


Tania terdiam, dirinya tersadar setelah merasa apa yang terjadi saat ini menurutnya sangatlah aneh. Dia menjadi heran karena merasa tidak mengerti dengan sikap Ares saat ini.


"Kenapa dia harus menghubungimu? Apa dia kekasihmu?" Tegur Tyaga pada Ares.


Mata Ares langsung berputar mendengar pertanyaan Tyaga karena tersadar. Dia juga tidak mengerti kenapa dirinya menjadi seperti itu pada Tania, sedangkan mereka berdua bukanlah sepasang kekasih.


"Kenapa kau diam saja saat pria yang bukan kekasihmu berkata seperti itu dengan penuh emosi?" Kali ini Tyaga berbicara pada Tania.


Tania masih terdiam, gadis itu melihat ke balik tubuh Ares yang berdiri di ambang pintu. Beberapa murid terlihat memperhatikan mereka.


"Penuh emosi? Aku tidak seperti itu. Siapa yang seperti—"


"Masuklah dulu dan tutup pintunya." Seru Tania memotong ucapan Ares.


Tania merasa tidak enak kalau apa yang terjadi saat ini menjadi tontonan murid lain yang terlihat penasaran pada apa yang terjadi.


Tyaga mengernyitkan dahinya menatap Tania setelah perkataan gadis itu. Dia tidak mengerti kenapa Tania malah menyuruh Ares masuk ke dalam ruangan.


Dengan santai Ares menuruti perkataan Tania. Segera pemuda itu masuk dan menutup pintunya.


Melihatnya, Tyaga beranjak berdiri dari duduknya.


"Aku akan kembali ke kelas. Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi." Ujar Tyaga sambil merapikan berkas-berkas miliknya dan meletakkannya di atas meja. "Istirahat nanti aku akan ke sini lagi."


Setelah berkata seperti itu, Tyaga berjalan menuju pintu. Saat melewati Ares, pemuda itu melihat dingin pada Ares.

__ADS_1


Ares hanya melirik pada Tyaga dengan tidak memedulikan pemuda itu.


"Kenapa kau tidak menghubungi." Seru Ares.


"Kenapa aku harus menghubungimu?" Ujar Tania sambil mengarahkan pandangan ke berkas-berkas dihadapannya.


Ares berkacak pinggang melihat Tania dengan kesal.


"Kenapa kau juga tidak memberitahuku mengenai ibumu yang sakit?" Tatap Ares.


Tania menutup kembali berkasnya dan beranjak berdiri. Gadis itu menatap kembali pada Ares yang masih menunggu jawabannya.


"Itu bukan urusanmu, untuk apa aku memberitahumu? Kita tidak seakrab itu sampai-sampai aku memberitahumu mengenai ibuku." Jawab Tania dengan dingin.


"Ta—tapi, kau sudah berjanji padaku untuk membantuku belajar lagi. Karena kau pergi dan tidak bisa dihubungi, aku jadi tidak bisa belajar. Selama dua hari ini tidak ada yang membantuku belajar ah tidak, aku rasa sudah lebih dari itu. Aku sudah membuang-buang waktuku karena kau tidak mau membantuku, dan saat kau sudah berjanji ingin membantuku, kau malah pergi tanpa bisa dihubungi." Seru Ares menunjukkan raut wajah emosi.


"Kenapa sekarang kau baru memikirkan mengenai belajar? Kenapa tidak sejak awal?" Ucap Tania heran. "Sudahlah, aku akan membantumu belajar lagi sekarang. Tapi kau harus mendengarkan perkataanku. Jangan melanggar peraturan sekolah mulai saat ini."


Tania berharap Ares mengerti dengan perkataannya. Karena dia tahu kalau ada kemungkinan Tyaga akan menambahkan peraturan mengenai sistem poin yang dihitung sejak awal murid bersekolah di sekolah tersebut.


Jika itu sampai terjadi, Ares akan dalam bahaya karena kemungkinan pemuda itu akan dikeluarkan dari sekolah.


Sekarang Tania tidak ingin Ares sampai dikeluarkan, entah karena apa. Gadis itu merasa kalau Ares sudah banyak berubah.


"Kau mengerti?" Tanya Tania memastikan.


"Memangnya kapan aku melanggar peraturan sekolah?" Ujar Ares dengan bersungut-sungut, namun merubah ekspresinya saat melihat tatapan Tania yang tampak sangat serius. "Ya, baiklah. Aku juga tidak berniat untuk membuat masalah lagi. Aku akan benar-benar belajar dan lulus bersamamu."


Mendengar perkataan Ares, Tania langsung mengalihkan tatapannya. Perkataan pemuda yang berdiri dibatasi oleh meja darinya membuat gadis itu menjadi merasa canggung.


Segera Tania mengambil tasnya karena berniat untuk ke kelas sebelum bel masuk berbunyi. Gadis itu melangkah ke arah pintu dengan melewati Ares yang masih memperhatikan dirinya.


Tanpa Tania duga, Ares memegang lengan gadis itu ketika hendak membuka pintu. Kepalanya langsung menengadah melihat pada Ares.


"Bagaimana keadaan ibumu? Apa dia sudah baik-baik saja?" Tanya Ares.


"Ya, dia sudah lebih baik sekarang." Jawab Tania setelahnya langsung membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut.


Ares mengikuti Tania yang keluar dari ruangan OSIS, semua mata murid lain menjadi memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


Mereka merasa aneh karena yang mereka tahu kalau Ares adalah kekasih Dyara, dan karena itu pemuda itu tidak lagi dekat dengan Tania.


Namun yang terjadi saat ini adalah, Ares baru saja keluar dari ruang OSIS dan bahkan berjalan bersama dengan Tania menuju kelasnya.


Di kejauhan Dyara juga melihat pemandangan tersebut, sehingga beberapa murid langsung melihat ke arahnya dengan tatapan heran.


Gadis itu menahan rasa kesalnya dan tidak menunjukkan pada siapapun. Segera dirinya berjalan masuk ke dalam kelas.


Bel istirahat berbunyi, Tania berjalan ke arah ruang OSIS. Saat yang bersamaan Tyaga juga hendak masuk, mereka berdua bertemu di depan pintu ruangan tersebut.


"Sepertinya ruangan ini sekarang akan menjadi tujuanku saat jam istirahat." Seru Tyaga sambil membuka pintu ruangan dan berjalan masuk dengan disusul Tania.


"Kalau begitu saat semua selesai aku akan berhenti ke ruangan ini lagi." Sahut Tania sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Tyaga, membelakangi pintu masuk.


"Tidak perlu sampai seperti itu, kau bisa datang ke sini hingga nanti kau lulus." Ujar Tyaga sambil membuka laptop yang dibawanya.


"Kau pasti merasa tidak nyaman nanti. Kadang orang seperti kita lebih baik berada sendiri dan tidak ada yang mengganggu." Seru Tania.


"Ya, kau benar. Tapi itu terjadi jika orang yang bersama kita adalah pengganggu." Jawab Tyaga. "Baiklah. Aku sudah membuat susunan poin yang akan diberikan menurut jenis pelanggarannya. Aku akan mengirimkannya padamu."


"Benarkah? Kau baru mengatakannya dan baru beberapa jam kau sudah selesai menyusunnya?" Tania terpukau dengan kemampuan Tyaga tersebut.


"Aku memgerjakannya selagi guru menjelaskan pelajaran. Aku tidak ingin membuang-buang waktu dan mau segera peraturan yang baru diterapkan."


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut diketuk seseorang dari luar.


"Siapa?" Tanya Tyaga namun tidak ada jawaban dari orang yang mengetuk pintu.


Hanya ada ketukan pintu sekali lagi.


Tania ingin beranjak berdiri untuk membukakan pintu tersebut namun Tyaga memintanya untuk tetap duduk.


"Masuklah, pintunya tidak dikunci." Seru Tyaga dengan suara sedikit keras.


Seseorang di luar membuka pintu dengan sebuah senyuman yang diperlihatkan olehnya.


"Terimakasih sudah mempersilakan aku masuk." Ujar Ares dengan segera masuk ke ruangan dengan menutup pintu.


Tyaga dan Tania sama-sama heran melihat kehadiran Ares lagi di ruangan itu.

__ADS_1


Sedangkan Ares masih berdiri di dekat pintu dengan mengembangkan senyuman. Pemuda itu membawa beberapa buku di tangannya.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2