
Tania berdiri di depan motor Ares. Gadis itu tentu saja tidak akan membiarkannya pergi, apalagi dia tahu kalau pemuda itu pergi untuk berkelahi.
Peraturan sekolah yang baru sudah diterapkan hari ini, sehingga jika Ares ketahuan berkelahi, maka dia sudah pasti akan dikeluarkan dari sekolah. Tania tidak ingin hal itu terjadi.
Mendengar larangan Tania, Ares membuka helmnya dengan kesal. Pemuda itu merasa tidak punya waktu dan ingin segera pergi untuk menolong Anton.
"Minggirlah, aku harus menolong sahabatku." Seru Ares dengan dingin pada Tania yang tidak sedikitpun bergeming dari tempatnya berdiri.
"Ada apa ini?" Tanya Kayden yang baru saja turun dan berjalan ke arah mereka berdua.
"Pak Guru, tolong buat dia menyingkir dari sana, aku harus pergi menolong sahabatku. Saat ini dia dalam bahaya." Ujar Ares melihat pada Kayden.
"Dalam bahaya? Kau ingin pergi berkelahi?" Tatap Kayden heran.
"Ya, aku harus menolongnya karena si berengsek itu pasti melakukan sesuatu padanya." Jawab Ares. "Aku harus pergi sekarang."
"Apa kau tahu kalau peraturan yang baru sudah diterapkan hari ini? Jika kau ketahuan berkelahi, maka kau akan langsung dikeluarkan dari sekolah." Seru Kayden.
"Aku tidak peduli! Aku harus menolongnya." Jawab Ares dengan pandangan saling tatap dengan Tania.
Mendengarnya, Kayden berdecak. Pria itu tidak mungkin membiarkan muridnya pergi untuk berkelahi dan pastinya akan dikeluarkan dari sekolah.
"Kau mendengarku kan, Pak Guru?" Kali ini Ares menoleh melihat Kayden.
"Tetaplah di sini, aku yang akan pergi menolongnya." Ucap Kayden.
Ares terlihat menahan rasa kesalnya karena dirinya masih memikirkan mengenai peraturan sekolah yang baru. Pemuda itu menatap pada Tania seraya berpikir sesuatu.
Ponselnya berbunyi dan masuk sebuah panggilan dari Brodie lagi. Ares segera menjawabnya untuk mengetahui kabar terbaru dari Anton.
"Es, kami sudah menemukan di mana Shane membawa Anton, sekarang kami dalam perjalanan ke sana dan kami sudah dekat dengan lokasi. Kau juga sudah dalam perjalanan, kan?" Tanya Brodie.
"Maafkan aku, aku tidak bisa ke sana." Dengan berat hati Ares menjawab seperti itu.
Tiba-tiba Kayden merampas ponselnya untuk berbicara pada Brodie. Pria itu menanyakan di mana lokasi Anton yang di maksud, sambil berjalan ke arah mobilnya untuk pergi ke sana.
Sesaat Ares melihat Tania yang terus menatapnya. Pemuda itu langsung bergegas turun dari motornya ketika Kayden pergi untuk menolong Anton.
__ADS_1
Ares berjalan masuk ke dalam rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Melihatnya, Tania menghela napas karena berhasil melarangnya pergi untuk berkelahi. Gadis itu juga bersyukur karena tiba di sana tepat waktu, sebelum Ares pergi dengan motornya.
Tanpa mengetuk pintu, Tania masuk ke dalam kamar Ares. Pemuda itu sedang duduk di sisi tempat tidur dengan rasa cemasnya. Kehadiran Tania di sana tidak membuatnya menolah pada gadis itu.
"Tenang saja, semuanya pasti baik-baik saja. Kay sudah pergi untuk membantu sahabatmu." Ujar Tania mencoba membuat Ares tenang.
Ares menoleh pada Tania yang berada di dekat pintu. Mendengar perkataannya membuatnya mencoba untuk tidak terlalu cemas lagi.
Pemuda itu bangkit berdiri dan menghadap pada Tania di jarak sekitar tiga meter darinya.
"Apa kau yakin dia akan baik-baik saja?" Tanya Ares.
Pemuda itu melontarkan pertanyaan tersebut untuk meyakinkan dirinya kalau dia tidak perlu khawatir lagi, dan berpikir kalau Anton akan baik-baik saja.
"Ya, pasti dia akan baik-baik saja. Kay sudah dalam perjalanan menolongnya. Baru saja dia menelepon kalau dia juga sudah melaporkannya ke polisi agar polisi datang membantunya. Teman-temanmu yang lain juga datang untuk membantu sahabatmu." Jawab Tania. "Semua pasti baik-baik saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir dan kita tunggu saja kabar dari Kay."
"Kau benar. Semua pasti baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir." Ares mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa cemasnya dengan begitu. "Anton pasti akan baik-baik saja. Dia juga bisa berkelahi dengan baik, meski tidak sehebat aku."
"Berjanjilah untuk tidak berkelahi lagi, kau harus lulus sekolah dan jangan sampai dikeluarkan dari sekolah." Ujar Tania berjalan mendekati Ares. "Kau mendengarku?"
"Baguslah, aku akan keluar. Ambillah, Kay pasti akan meneleponku untuk memberitahu kabar mengenai sahabatmu." Ujar Tania sambil memberikan ponselnya pada Ares.
Ares menerimanya dengan mengangguk kecil pada Tania.
"Aku akan mengambil minuman untukmu, agar kau bisa sedikit tenang."
Tania berbalik ke arah pintu dan langsung keluar dari sana. Kedua adik Ares yang berada di depan pintu, melihat pada gadis itu dengan penuh tanya.
"Apa yang dilakukan Kak Es saat ini, Kak?" Tanya Aphrodite penasaran.
"Tidak ada, dia hanya menunggu kabar dari Pak Guru." Jawab Tania sambil berjalan dan diikuti si kembar.
Tasya datang menemui Tania. Ibu Ares tersebut terlihat ingin menanyakan sesuatu hal pada gadis itu.
"Beberapa jam yang lalu, aku menerima pemberitahuan mengenai peraturan sekolah yang baru. Apa benar jika peraturan yang lama diperbaharui dengan memberlakukan hukuman untuk murid yang melanggar?" Tanya Tasya membuat langkah Tania terhenti.
__ADS_1
"Benar Nyonya. Saat ini siapapun yang melanggar peraturan sekolah, akan menerima hukuman." Jawab Tania. "Karena itu aku menghentikannya agar tidak berkelahi lagi. Dia akan langsung dikeluarkan dari sekolah jika ketahuan berkelahi."
"Benarkah seperti itu?"
Tiba-tiba datang seorang wanita cantik dengan balutan pakaian berwarna putih yang terlihat sangat elegan. Wanita dengan rambut panjang tergerai indah dan kulit seputih susu, berdiri di samping Tasya.
Melihat wanita itu, Tania tahu siapa dia. Gadis yang lima tahun lalu merubah peraturan sekolah dengan cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang. Seseorang yang gambar dirinya juga berada di daftar riwayat ketua OSIS sekolahnya.
Dia adalah Harmony Fleecysmith, Ketua OSIS yang menghapus hukuman di peraturan sekolah. Wanita yang juga sangat ingin ditemui Kayden.
"Kenapa Ketua OSIS itu merubah peraturan yang sudah ada?" Tanya Harmony dengan tatapan heran. "Dan bukannya peraturan yang baru selalu diterapkan di tahun ajaran baru?"
"Sebenarnya, aku yang membuat peraturan tersebut dan Ketua OSIS yang baru hanya membantuku agar peraturan itu bisa diterapkan tanpa menunggu tahun ajaran baru." Jawab Tania, entah kenapa gadis itu menjadi merasa bersalah saat ini.
Tania membawa segelas minuman berjalan mengarah kamar Ares. Benaknya saat ini menjadi memikirkan peraturan sekolah yang baru saja diterapkan.
Entah kenapa dirinya menjadi merasa bersalah karena membuat peraturan yang baru tersebut. Semua itu karena rasa cemasnya yang sekarang muncul mengenai Ares.
Dia sangat tidak ingin kalau Ares sampai melanggar peraturan sekolah dan membuatnya langsung dikeluarkan. Masih tersisa sekitar tiga bulan hingga ujian akhir, itu berarti Ares tidak boleh sampai melakukan hal-hal yang melanggar peraturan sekolah.
Di bukanya pintu kamar Ares untuk memberikan jus Jeruk yang dibawanya untuk Ares. Sudah hampir dua puluh menit berlalu sejak Kayden pergi untuk membantu Anton.
Pandangan Tania langsung mengarah pada Ares yang tampak sangat terkejut dengan ponsel milik gadis itu terselip di telinganya.
Tania tahu kalau Ares pasti mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Kayden, untuk mengabari pemuda itu mengenai hal yang terjadi pada sahabatnya.
Ares tampak tidak bisa berkata apapun, menatap pada Tania dengan mata yang terlihat memerah dengan guratan kesedihan yang tampak jelas dari raut wajahnya.
Bahkan ponsel yang semula berada di telinganya terlepas dari tangannya hingga jatuh ke lantai begitu saja.
"Ada apa? Apa kata Kay? Semua baik-baik saja, kan? Sahabatmu sudah di selamatkan bukan?" Tania berjalan mendekati Ares setelah meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja.
Ares tidak langsung menjawab. Pemuda itu terlihat sangat menahan kesedihan hingga tubuhnya tampak gemetar.
"Katakan, apa kata Kay?" Tanya Tania penasaran dan menjadi khawatir karena reaksi Ares yang seperti itu.
"Mereka semua menghajar Anton hingga dia kehilangan nyawanya." Jawab Ares dengan suara yang sangat bergetar dan sebutir air mata keluar dari sudut mata kanannya.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...