
Hari semakin berlalu, kondisi Tania semakin membaik saat ini. Gadis itu memilih untuk membaca buku pelajarannya. Sedangkan Ares beberapa kali keluar untuk menelepon teman-temannya.
Saat ini pun pemuda itu sedang tidak ada di ruangan setelah Anton meneleponnya, Ares beranjak keluar.
"Apa aku boleh bertanya?" Dyara menoleh pada Tania yang sedang sibuk membaca buku.
Tania hanya mengangguk dengan tatapan mengarah pada gadis yang ada di sebelah ranjangnya.
"Kak Ares itu tinggal di mana? Apa keluarganya sangat kaya? Maksudku, itu pastikan... Bahkan kemarin saat ibunya datang, itu terlihat sekali seberapa kayanya dia. Ah, maksudku kemarin itu aku tidak sengaja mendengar apa yang dikatakannya tentang melunasi biaya rumah sakitmu." Ujar Dyara terdengar sangat hati-hati saat bicara.
Tania tidak langsung menjawab, gadis itu berkutat pada pikirannya. Entah kenapa pertanyaan Dyara terdengar sangat aneh. Yang dikatakan gadis itu seharusnya bukanlah pembahasan yang perlu dipertanyakan oleh orang yang baru kenal seseorang.
"Memangnya ada apa?" Tanya Tania.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu saja, karena menurutku Kakak Ares sangat sempurna." Jawab Dyara dengan tidak menatap Tania.
"Ya, tentu saja. Kedua orang tuanya pengusaha. Mereka termasuk dalam urutan ke sepuluh orang terkaya di negara ini. Bahkan ayahnya dulu menjadi pengusaha muda terkaya saat usianya baru mencapai 20 tahun." Jawab Tania sambil menoleh memperhatikan Dyara.
"Benarkah? Itu keren sekali." Dyara tampak terpukau hingga gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Apa kau tau mengenai keluarga Sanzio? Ya, dia adalah anak dari keluarga itu." Tambah Tania.
"Apa? Sanzio? Kalau begitu... Apa ayahnya salah satu dari The Three Musketeers?" Tanya Dyara dengan penuh rasa keterkejutan.
Tania hanya mengangguk dengan tatapan heran melihat reaksi Dyara.
"Ada apa? Bukannya seharusnya itu hal yang biasa? Kaluargamu juga kaya kan? Apa usaha ayahmu?" Kali ini Tania bertanya karena penasaran. "Aku rasa kekayaan keluargamu juga tidak kalah dengan keluarganya. Bahkan rumahmu menggunakan lift bukan? Di rumahnya aku tidak melihat ada benda itu."
"Ah iya, ayahku seorang pengusaha dalam bidang teknologi berbasis komputer. Aku juga tidak paham mengenai usahanya itu." Jawab Dyara dengan mata melihat pada Tania yang sedang tidak menatapnya.
__ADS_1
"Apa nama perusahaannya?" Tanya Tania mengambil ponselnya siap untuk mencari tahu mengenai perusahaan keluarga gadis yang bersama dengannya. "Aku sangat suka bidang teknologi. Jika boleh, aku ingin melihat langsung cara kerjanya."
"Apa?" Tanya Dyara dengan siratan mata kebingungan. "Ah, sepertinya itu tidak bisa. Ayahku tidak suka aku datang ke perusahaannya. Dan lagi aku juga tidak ingin siapapun tahu lebih banyak tentangku."
Tania tidak mengatakan apapun lagi. Gadis itu hanya kembali menoleh dengan tatapan yang mengarah pada Dyara.
"Ya, aku mengerti. Kau tidak ingin seseorang menilaimu dari seberapa kaya ayahmu kan?" Ujar Tania kembali meletakkan ponselnya ke samping dirinya yang duduk di atas ranjang.
Ares masuk ke dalam kamar setelah menelepon. Pemuda itu berjalan masuk dengan tatapan mengarah pada Tania.
"Apa dokternya sudah datang memeriksa?" Tanya Ares. "Kau bilang tadi, kau sudah lebih baik kan? Seharusnya kau sudah bisa pulang."
Saat yang bersamaan, dokter spesialis ortopedi masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan seorang perawat.
Dokter tersebut memeriksa Dyara lebih dahulu dan bertanya-tanya tentang kondisi gadis itu saat ini.
"Kalau begitu, besok kau bisa pulang." Ujar Dokter.
Tania memikirkan sesuatu. Hari ini adalah hari sabtu sedangkan besok itu, hari minggu. Seharusnya di setiap hari sabtu dan minggu, dirinya akan mengajar les privat ketika siang menjelang. Hari ini karena dirinya masih dirawat sehingga diliburkan, namun dia tidak ingin jika besok dirinya libur lagi karena gadis itu membutuhkan uang, bahkan Tania juga harus membeli kacamata baru.
"Dokter, jika bisa aku ingin pulang pagi-pagi sekali. Apa itu mungkin?" Tanya Tania.
"Ya, tentu. Besok pagi aku akan datang untuk memeriksamu lagi apakah sudah benar-benar boleh pulang atau belum." Jawab Dokter.
"Dokter, ijinkan aku pulang juga besok. Aku sudah merasa lebih baik saat ini. Berada lama di sini akan membuatku malah semakin sakit." Ujar Dyara dengan wajah yang terlihat sedih. "Kalau dia pulang, aku akan berada sendirian lagi di sini."
"Besok aku akan datang memeriksa kalian berdua sebelum pulang." Jawab si Dokter.
Sepeninggalan dokter, Tania menerima sebuah panggilan telepon dari ibunya. Gadis itu sedikit heran karena ibunya tumben sekali menelepon tanpa mengirim pesan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tania, kau baik-baik saja?" Tanya ibu Tania yang bernama Widia di ujung telepon. "Temanmu tadi ada yang menelepon ibu dengan mengatakan kalau saat ini kau berada di rumah sakit karena kesalahannya. Dia meminta maaf pada ibu. Apa ibu harus ke sana sekarang?"
Mendengar ucapan Widia ditelepon, Tania langsung melihat pada Ares. Dia tahu kalau pemuda itulah yang menelepon ibunya.
Sedangkan Ares yang duduk di kursi di jarak satu meter dari ranjang, tahu jika saat ini orang yang menelepon Tania adalah ibu gadis itu yang sudah dirinya beritahu mengenai kondisi Tania.
"Tidak perlu bu, aku baik-baik saja. Besokpun aku akan pulang dari rumah sakit." Jawab Tania menahan rasa kesalnya pada Ares.
Gadis itu mengakhiri pembicaraannya dengan sang ibu ditelepon. Wajahnya memperlihatkan rasa marah pada Ares yang menurutnya apa yang dilakukan pemuda itu sangat tidak sopan.
Ares tahu kalau Tania sangat marah padanya saat ini, namun dia juga sudah tahu, sehingga dirinya telah mempersiapkan diri jika gadis itu marah padanya.
"Aku hanya ingin melakukannya karena sebaiknya tidak ada yang kau rahasiakan dari ibumu. Semalam aku membuka ponselmu saat kau sedang tertidur, dan tadi aku meneleponnya." Terang Ares.
"Kau tidak tahu apapun tentang itu! Kenapa kau ikut campur? Sekarang ibuku akan mengkhawatirkan diriku dan itu tidak bagus karena akan menggangu kesehatannya. Aku juga tidak ingin dia mengkhawatirkan aku hingga menjadi merasa bersalah karena tidak bisa datang ke sini melihat keadaanku. Itu akan membuatnya menjadi merasa terbebani karena dia tidak memiliki uang untuk menemuiku, meski dia ingin datang menemuiku." Seru Tania raut wajahnya terlihat sangat marah hingga air mata tanpa sadar membasahi sudut matanya.
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, aku juga mengatakan agar dia tidak perlu khawatir mengenai biaya rumah sakit—"
"Kau tidak tahu apapun, lalu kenapa kau berani sekali melakukannya?! Potong Tania yang semakin marah. "Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"
Ares sangat terkejut melihat reaksi Tania yang sangat marah. Dirinya tidak menyangka kalau gadis itu akan semarah itu padanya.
Segera Ares bangkit berdiri dari duduknya. Dia tahu kalau dirinya sudah melakukan kesalahan karena berbuat sesukanya tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Maafkan, aku." Ucap Ares.
Setelah berkata demikian, pemuda itu melangkah keluar dari ruangan itu dengan rasa bersalah yang dirinya rasakan.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1