PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
084. SEBUAH TAWARAN


__ADS_3

Tania masuk ke dalam tempat tinggalnya setelah kembali dari rumah Ares. Gadis itu langsung duduk di sisi tempat tidurnya dengan pikiran yang kalut.


Perkataan Ares dan jawaban dirinya yang tidak akan menemui pemuda itu lagi membuat dirinya menjadi bersedih saat ini. Namun begitu, dia sudah membuat keputusan kalau kali ini dialah yang akan mendengarkan perkataan Ares, meski perkataan itu berarti mereka tidak akan seperti kemarin lagi.


Gadis itu terus mencoba agar semua itu tidak menjadi masalah untuk dirinya, asalkan Ares tidak melakukan apapun yang bisa membuat pemuda itu dikeluarkan dari sekolah, Tania akan melakukan apapun itu.


Sayangnya, ucapan dirinya tadi tidak mendapatkan tanggapan dari Ares. Tidak ada suara yang keluar dari pemuda tersebut hingga akhirnya Tania memutuskan untuk pergi dari sana. Itu berarti masih ada kemungkinan kalau Ares akan melakukan hal-hal yang bisa melanggar peraturan sekolah.


Tiba-tiba muncul sebuah pesan dari Wanda. Tania membuka pesan tersebut dan melihat sebuah foto dikirimkan temannya itu padanya.


Foto yang di dalamnya, Tania bersama dengan Tyaga. Ya, Dyara menyebarluaskan foto tersebut ke seluruh murid di sekolahnya.


Saat ini fotomu dengan Ketua OSIS yang baru menjadi perbincangan semuanya. Katakan padaku apa kalian berdua sedang pergi berkencan di foto?


Demikian isi chat Wanda yang terlampir dari pesan yang dikirimkan bersama dengan foto Tania dan Tyaga di dalamnya.


Melihatnya, Tania hanya menghela napas sangat dalam dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Wanda, tentunya itu juga merupakan pertanyaan banyak murid mengenai foto Tania dan Tyaga tersebut


"Siapa yang memotretnya? Dan siapa juga yang menyebarluaskan foto itu?" Tanya Tania tampak berpikir.


...***...


Sehabis makan malam, Ares berjalan menaiki tangga, saat yang bersamaan bel rumah tersebut berbunyi. Akan tetapi sama sekali dirinya tidak ingin mengetahui siapa yang datang.


Ares terus berjalan dan masuk ke dalam kamarnya. Pemuda itu langsung duduk di kursi meja belajar. Dirinya membuka forum sekolahnya di laptopnya untuk melihat pembahasan saat ini.


Awalnya pemuda itu mengira kalau forum sekolahnya akan di penuhi dengan pembahasan mengenai peraturan sekolah yang baru, namun dugaannya salah. Semua murid lebih tertarik dengan membahas foto Tania dan Tyaga di mana saat ini terpampang di layar laptopnya karena seseorang mengirimkan foto tersebut dengan akun anonim.


Ares melihatnya dan muncul kembali ingatan tadi, di mana dirinya berkata kasar pada Tania, bahkan tanpa tidak bisa dirinya tahan, pemuda itu mengatakan kalau dia tidak ingin gadis itu menemuinya lagi.


Sejujurnya di hati yang paling dalam, pemuda itu merasakan kecemburuan saat melihat foto Tania dan Tyaga, ditambah dalam foto tersebut, mereka berdua tampak sangat akrab dengan berdiri di jarak yang sangat dekat. Terlihat Tania sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Tyaga dalam foto itu.


Di lihatnya sebuah kado yang masih terbungkus rapi di atas meja. Kado tersebut adalah hadiah ulang tahun dari Tania. Tak ada niatan dirinya untuk membukanya saat ini.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ares langsung menoleh ke arah pintu dan melihat Dyara berjalan masuk dengan Aphrodite yang berdiri di luar pintu.

__ADS_1


"Terimakasih karena sudah mengantarku." Ujar Dyara pada Aphrodite dan langsung menutup pintu kamar.


Setelahnya, Dyara berbalik dan berjalan mendekati Ares yang masih terdiam dengan tatapan heran dengan keberadaannya di sini.


"Kak, aku turut berduka cita pada apa yang menimpah sahabatmu. Saat mendengarnya, aku benar-benar merasakan kesedihan." Ujar Dyara memegang lengan kiri Ares yang masih duduk di kursi meja belajar. "Aku ingin menghubungimu untuk menanyakan kabarmu tapi aku takut mengganggu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke sini."


Ares tidak menjawab, pemuda itu masih merasa keberatan mengenai kehadiran Dyara yang tiba-tiba saja datang menemuinya. Meski begitu dirinya tidak mau mengatakan apapun mengenai hal itu.


"Aku dengar kalau Shane lah yang menyuruh teman-temannya melakukan semua itu pada sahabatmu, tapi dia sendiri malah tidak mendapatkan hukuman karena tidak berada di sana. Apa itu benar, Kak?" Tanya Dyara, tangannya masih memegang lengan Ares.


Ares langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya saat mendengar perkataan Dyara mengenai Shane. Amarahnya kembali muncul hingga pemuda itu beranjak berdiri dari duduknya.


"Pasti itu semua karena aku, kan?" Ujar Dyara melihat lekat pada Ares yang masih terlihat menahan rasa marahnya. "Aku minta maaf Kak, jika tahu akan seperti ini maka aku tidak akan membiarkanmu ikut campur masalahku dengan Shane."


Akhirnya Ares mengarahkan tatapannya pada gadis yang berdiri di jarak tidak lebih dari satu meter darinya.


"Tidak ada kaitannya denganmu. Kau tidak perlu meminta maaf. Sejak dulu aku dengan si pecundang itu memang sudah berseteru, jadi apa yang terjadi pada sahabatku bukanlah salahmu." Jawab Ares yang akhirnya membuka mulutnya. "Sebaiknya kau segera pulang, ini sudah malam."


"Aku ingin membantumu, Kak." Seru Dyara tidak memedulikan imbauan Ares padanya. "Aku juga tahu kalau saat ini Shane sedang bersembunyi. Dia menghindarimu, bukan begitu?"


"Aku bisa membantumu. Aku ingin membantumu untuk mengurangi kesedihanmu, Kak. Kau ingin membalaskan semua perbuatan Shane pada sahabatmu bukan?" Tanya Dyara.


Ares tak langsung menjawab, pemuda itu mencerna semua perkataan Dyara mengenai keinginan gadis itu membantunya.


"Kau harus membalaskan apa yang dilakukan Shane pada sahabatmu, Kak. Itu bisa mengurangi kesedihan yang ada pada dirimu. Dengan begitu semuanya menjadi adil."


"Ya, kau benar. Aku ingin keadilan untuk sahabatku. Dengan begitu juga rasa penyesalan di dalam diriku akan terobati." Jawab Ares yang menyetujui perkataan Dyara.


Dyara memulas sebuah senyuman karena perkataannya mendapatkan respon yang baik dari Ares.


"Kalau begitu aku akan berada di sisimu. Aku akan membantumu untuk mencari keberadaan Shane, kalau perlu aku akan memancingnya keluar untukmu agar kau bisa memberikan keadilan untuk sahabatmu." Ucap Dyara, tangan kanannya kembali memegang lengan kiri pemuda yang langsung menunjukkan raut wajah seperti mendapatkan secerca harapan dari apa yang dikatakannya.


Tawaran Dyara sungguh membuat Ares sedikit merasakan sebuah harapan. Pemuda itu menjadi tertarik dengan semua yang dikatakan gadis yang saat ini di matanya tampak seperti seorang dewi keadilan.


"Kau tenang saja, apapun akan aku lakukan untukmu. Aku akan memberikan Shane padamu, semua akan aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, Kak. Karena itu mulai sekarang, aku mohon biarkan aku berada di sisimu." Ucap Dyara.

__ADS_1


"Ya, baiklah." Jawab Ares.


Mendengarnya, Dyara langsung masuk ke dalam pelukan pemuda yang memasang wajah yang dipenuhi kebencian pada sosok orang yang sudah membuat Anton pergi untuk selamanya.


"Aku sangat senang kau mau bersama denganku, Kak." Tatap Dyara sangat lekat pada Ares.


Gadis itu langsung berjinjit untuk mencium bibir Ares yang hanya diam saja saat Dyara melakukannya.


...***...


Tania berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah ketika kurang dari lima menit lagi bel masuk sekolah berbunyi.


Hari ini kesehatannya sedang kurang bagus, saat bangun tidur tadi, gadis itu merasakan demam dan kepala yang sangat berat. Karena hal tersebut, Tania bangun ke siangan sehingga hadir di sekolah lebih lambat dari biasanya.


Para pengurus OSIS sedang berjaga di depan gerbang sekolah untuk menertibkan para murid yang hadir. Tyaga juga berada di sana.


Pemuda itu menatap pada Tania yang terlihat sangat pucat ketika gadis itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Tyaga pada Tania saat gadis itu berada di dekatnya.


Semua mata langsung mengarah pada mereka. Kabar yang beredar kemarin mengenai foto yang tersebar, membuat semua murid yang berada di sana menjadi tampak ingin tahu hal yang sebenarnya.


Tania yang merasa lemas, semakin enggan mengeluarkan suaranya. Dia hanya mengangguk merespon pertanyaan Tyaga padanya.


"Kau tampak pucat. Kau sudah sarapan?" Tanya Tyaga lagi.


Tania menyadari jika saat ini mereka berdua menjadi bahan perhatian yang lainnya, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Sepertinya hari ini semua murid memakai seragam dengan benar. Peraturan yang baru diterapkan benar-benar berefek positif." Ucap Tania mengalihkan pembicaraan Tyaga dengan tidak menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Ya, kau benar. Semua berkatmu karena membuat peraturan itu." Jawab Tyaga.


Tiba-tiba terdengar suara motor Ares yang melaju sangat cepat masuk ke dalam gerbang sekolah. Kehadiran pemuda itu mengalihkan perhatian semua murid yang awalnya memperhatikan Tania dan Tyaga.


Tania pun juga memperhatikan kehadiran pemuda tersebut yang datang bersama dengan seseorang, yaitu Dyara.

__ADS_1


...^^^@cacing_al.aska^^^...


__ADS_2