
Ares bersama dengan teman-temannya berada di tempat bowling. Pemuda itu sedang menggulirkan bola bowling dengan gerakan yang mantap namun sayangnya yang terjadi hanyalah sebuah chop, di mana bola mengenai pin depan, tetapi pin belakang dan kiri kanannya tetap berdiri.
Dengan menggeram kesal, Ares menghentakan kakinya sambil berjalan ke suatu sofa karena malas melanjutkan permainan. Pemuda tersebut menjatuhkan tubuhnya dengan santai mencoba tidak memikirkan rasa kesal yang mengganggunya sejak tadi.
Sejak meninggalkan rumah sakit, pemuda itu berada di area bermain bowling bersama dengan Anton dan teman-temannya yang lain.
Jika mengingat bagaimana Tania terluka namun enggan untuk diperiksa dan malah memutuskan untuk kembali ke sekolah, membuatnya sangat kesal. Itu membuat Ares merasa menyesal karena mengkhawatirkan gadis itu sebelumnya.
"Sepertinya kau benar-benar mengkhawatirkan gadis itu, Es." Ujar Anton dengan tawa meledek pada sahabatnya yang duduk di sofa sampingnya. "Apa jangan-jangan kau jadi menyukainya, ya?"
"Apa yang kau katakan? Jangan bicara hal-hal aneh seperti itu. Gadis itu sama sekali bukan tipeku. Aku juga tidak mengkhawatirkannya." Sanggah Ares dengan bersungut-sungut.
Anton semakin melancarkan tawa mengejeknya. Dia sangat mengenal watak Ares, melihatnya saja membuat dirinya yakin kalau pemuda yang sudah dirinya kenal sejak kecil itu memang sedang mengkhawatirkan kondisi seorang gadis.
"Jangan tertawa seperti itu, aku akan membunuhmu!!" Seru Ares terlihat kesal pada Anton. "Dengar ya, aku sangat tidak peduli pada gadis itu... Aku juga tidak peduli dengan sekolah lagi!!"
Anton tidak menggubris, pemuda itu hanya menghela napas dengan bersandar ke sofa. Tatapannya mengarah pada ponsel yang ada di depan matanya.
"Lalu kau tidak akan ke sekolah lagi?" Tanya Anton. "Padahal tadinya aku pun berpikir untuk mulai masuk ke sekolah, tapi memang kita lebih baik seperti itu."
"Ya, aku tidak akan datang ke sekolah itu lagi. Aku juga tidak ingin bertemu dengan gadis menyebalkan itu lagi." Ujar Ares dengan raut wajah kesalnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kemarin aku melihat website sekolahmu. Kau benar-benar keterlaluan, dengan sengaja kau menabrak gadis itu dan menciumnya. Ck! Kau dan gadis itu menjadi pembahasan di forum sekolah sejak kemarin." Seru Anton dengan pandangan mengarah pada layar ponselnya.
"Sialan, mana mungkin dengan sengaja aku menciumnya. Sudahku bilang kalau dia bukan tipeku!" Protes Ares terlihat tidak senang.
"Bukankah kemarin kau bilang akan mendekatinya? Apa yang terjadi kemarin itu juga salah satu caramu untuk mendekati gadis itu? Bahkan kau juga sudah mengatakan pada si kacamata kalau kau menyukainya kan?" Tanya Anton tak sekalipun mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
"Siapapun tidak akan ada yang mempercayai saat aku mengatakan aku menyukainya kemarin. Lagi pula aku tidak akan benar-benar mendekatinya. Gadis menyebalkan yang merepotkan sepertinya aku akan menghindarinya mulai saat ini."
Tiba-tiba ponsel Ares berdering, pemuda itu mengambilnya di atas meja antara sofa yang di dudukinya dengan sofa yang di duduki Anton.
"Lihat, si kacamata ini memang sangat menyebalkan. Setelah tidak mendengarkan perkataanku sekarang dia mencariku. Sepertinya dia memang sangat sangat menyukaiku. Seharusnya dia bilang saja kalau menyukaiku dan tidak menjadikan alasan aku yang membolos untuk mendekatiku." Ujar Ares kembali meletakkan ponselnya ke meja dan tidak berniat untuk menjawab telepon Tania.
Anton mendengus dengan tawa kecil menanggapi perkataan Ares.
"Ya, tentu saja. Aku sangat yakin kalau dia The Bloody Rose meski dia berusaha menyembunyikan. Dan apa kau tahu? Sepertinya dia juga menyukai si kacamata itu. Ya, ampun bagaimana bisa seorang guru menyukai anak muridnya. Dan lagi apa yang dilihatnya dari si kacamata itu?" Ares menunjukkan wajah herannya dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Apa yang dia lihat dari si kacamata? Gadis itu sama sekali tidak menarik dan membosankan. Sebisa mungkin aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak akan ke sekolah. Ya, mungkin sekarang alasanku tidak masuk ke sekolah saat ini karena tidak ingin melihat gadis menyebalkan itu."
"Apa ini?" Seru Anton yang melihat sesuatu di layar ponselnya. Tubuh pria itu menjadi menegak dengan mengernyitkan dahinya saat menggulir ponselnya ke bawah. "Gadis itu..."
"Ada apa?" Tanya Ares melihat pada Anton yang perkataannya terhenti karena serius dengan apa yang dilihatnya. "Katakan ada apa?" Ares terlihat penasaran karena Anton tidak menjawab dan tatapannya sangat serius pada layar ponsel.
"Si kacamata pingsan saat berada di kelasnya, dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Apa katamu?" Ares menegakkan duduknya dengan serius.
"Siapa nama gadis itu? Tania. Ya, di forum sekolahmu sedang hangat dibicarakan kalau beberapa menit lalu gadis itu jatuh pingsan ketika hendak keluar dari kelas." Jawab Anton menoleh pada Ares.
Mendengarnya, Ares sontak terkejut hingga pemuda itu langsung bangkit berdiri. Tanpa memedulikan apapun, dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan menyambar tasnya lalu melangkahkan kakinya dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu.
"Apa-apaan dia? Apanya yang tidak mengkhawatirkannya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi?" Anton tidak percaya saat melihat sikap Ares yang berbeda dengan perkataannya tadi. "Dasar bodoh, bahkan dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun." Ujar Anton tertawa kecil pada sahabatnya.
Ares menghabiskan satu jam lebih di perjalanan menuju rumah sakit. Hari menjelang sore dan jalanan padat di tambah pemuda itu sebelumnya berada di kota sebelah, sehingga memakan waktu yang cukup lama menuju tujuannya.
Dengan sangat cepat Ares masuk ke dalam rumah sakit dan menanyakan di mana Tania saat ini dirawat. Setelah mendapatkan informasi, pemuda itu bergegas dengan langkah lebar mengarah ke elevator menuju lantai tempat ruangan Tania berada.
Dibukanya sebuah tirai saat masuk ke ruangan di mana terdapat beberapa ranjang. Melihat Tania yang tampak baik-baik saja dan sudah tidak lagi pingsan membuat pemuda itu menjadi sangat lega.
"Sudah aku bilang kan seharusnya kau tidak kembali ke sekolah dulu dan beristirahat. Lihat sekarang apa yang terjadi padamu?!" Seru Ares dengan tatapan kesal menatap pada Tania.
Tania melihat pada pemuda itu dengan heran karena tidak mengerti kenapa dia bisa datang menemuinya saat ini. Padahal telepon sebelumnya pun tidak dijawabnya.
Kayden yang menemani Tania juga sama herannya dengan kehadiran Ares. Entah kenapa melihat kehadiran pemuda itu di sana membuat kerisauannya muncul. Pria itu tidak menyukai keberadaan Ares yang datang untuk melihat keadaan Tania.
"Kau juga salah Pak Guru, seharusnya kau pun tidak mengikuti perkataannya dan tidak membawanya kembali ke sekolah. Tidak seharusnya kau membiarkannya menahan rasa sakitnya. Bagaimana kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi padanya?" Lanjut Ares dengan sangat kesal melihat pada Kayden. "Apa karena kau seorang guru dan lebih mementingkan nilai hingga kau mengabaikan keadaannya?"
__ADS_1
...–NATZSIMO–...