
Ares keluar dari kelas dan melihat Tania berjalan ke arah ruang OSIS. Pemuda itu tidak ingin mengganggu Tania saat ini, namun semuanya berubah ketika dia melihat Tyaga bertemu dengan Tania di depan pintu ruang OSIS.
"Lagi-lagi mereka berdua berada di ruangan tertutup itu bersama." Gumam Ares dengan berdecak kesal saat melihat Tania dan Tyaga masuk ke dalam ruangan OSIS bersama. "Bagaimana kalau si sombong itu mengambil kesempatan untuk menyentuh si kacamata? Gadis itu gadis aneh. Bahkan dia menciumku waktu itu, pasti dia juga akan membiarkan si sombong itu kalau menyentuhnya."
Ares merasa harus melakukan sesuatu sekarang. Segera dia kembali ke kelas untuk mengambil kembali beberapa buku. Setelahnya berjalan kembali ke arah ruang OSIS.
Sebelumnya dia berencana ingin membuka langsung pintu ruangan tersebut, namun dia mengingat perkataan Tyaga tadi pagi sehingga Ares memilih mengetuk pintunya. Hingga akhirnya Tyaga menyuruhnya masuk.
Ares membuka pintu dengan memulas sebuah senyuman pada kedua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Tania yang duduk memunggunginya menoleh dengan tatapan heran padanya. Segera Ares masuk dan menutup pintu ruangan tersebut.
"Maaf aku datang lagi dan mengganggu. Aku hanya mencari tempat belajar yang aman dan nyaman. Dan aku rasa di sinilah tempatnya. Lagi pula, kau bisa membantuku saat belajar." Ujar Ares langsung duduk di kursi di samping Tania.
Tyaga menahan rasa kesalnya melihat kakak kelasnya yang menurutnya sangat mengganggu tersebut.
Pemuda itu kembali beranjak berdiri seperti halnya tadi pagi, dan berjalan ke arah pintu.
"Sepulang sekolah aku akan mengadakan rapat OSIS, kau harus datang dan aku rasa kau harus tetap membantuku dalam mengesahkan peraturan yang baru nanti." Seru Tyaga yang berdiri di depan pintu pada Tania.
"Baiklah." Jawab Tania tanpa menoleh ke arah Tyaga.
Tyaga melihat pada Ares yang juga memandang ke arahnya, dan setelahnya keluar dari ruangan tersebut.
"Kenapa dia selalu keluar saat aku datang?" Tanya Ares heran.
Tania menoleh pada Ares yang berkata demikian sambil tetap menoleh ke arah pintu.
"Kenapa kau terus mengganggu? Kenapa kau datang ke sini lagi?" Tanya Tania dingin.
"Sudah aku katakan, aku ingin mencari tempat belajar. Kau juga harus membantuku." Jawab Ares.
"Aku memang mengatakan kalau aku akan membantumu, tapi jangan menggangguku terus menerus." Kesal Tania meski terlihat menahan emosinya.
"Jangan berduaan bersama seorang pria di dalam ruangan. Apa kau tidak takut kalau dia akan macam-macam padamu?" Ujar Ares. "Bagaimana kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak pada—"
Perkataan Ares terhenti karena tanpa dia duga Tania malah menarik tengkuknya dan langsung mencium bibirnya.
Ares sontak terkejut karena lagi-lagi Tania menciumnya seperti waktu awal mereka bertemu.
"Kenapa kau menciumku?" Tanya Ares heran meski pada dasarnya di lubuk hati terdalam ada rasa senang saat Tania melakukannya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak pernah menganggap hal itu sesuatu yang penting." Ucap Tania.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak peduli meski dengan siapapun aku melakukannya, bagiku ciuman bukan sesuatu yang penting. Kau bilang apa aku tidak takut kalau dia macam-macam padaku, dan jawabanku adalah tidak." Seru Tania.
Ares mendengus mendengar perkataan Tania, pemuda itu sangat heran dengan pemikiran gadis yang duduk di dekatnya.
"Sepertinya kau tidak mengerti apa saja yang bisa dilakukan seorang pria." Ares terus menatap heran pada Tania. "Bagaimana kalau dia melakukan lebih dari itu?"
Tania hanya diam tidak menjawab. Menurut gadis itu apa yang dilakukan dirinya pada Ares barusan bukanlah ciuman karena dia hanya menempelkan bibirnya pada pemuda itu saja.
Sejujurnya Tania yang belum pernah melakukan hal-hal lebih dari itu menganggap kalau sejak awal ciuman memang bukanlah sesuatu yang penting.
"Jangan mencium pria mana pun seperti itu, karena kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Imbau Ares dengan mendengus.
"Aku tidak peduli." Tania kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.
Namun tiba-tiba Ares memegang wajahnya dengan kedua tangannya, menahannya untuk terus melihat padanya dan langsung mencium gadis itu.
Yang dilakukan Ares lebih dari yang dilakukan Tania tadi. Ares ingin memperlihatkan pada Tania apa yang dimaksudkan dirinya tadi.
Hingga akhirnya Ares berhenti dan menatap Tania dengan tajam.
"Sekarang kau pasti merasa takut kan?" Tanya Ares yang melihat keterkejutan dari mata Tania di balik kacamata gadis itu. "Jangan pernah mencium seorang pria lebih dulu. Bisa saja yang terjadi akan lebih dari yang aku lakukan barusan."
Tania masih membeku karena yang dikatakan Ares benar. Saat ini rasanya dirinya sangat terkejut dan menjadi sedikit takut.
"Jangan memancing terlebih dahulu. Kau mengerti?" Seru Ares yang wajahnya masih sangat dekat di pandangan Tania.
Tania hanya mengedipkan matanya untuk mengiyakan seruan Ares tersebut.
"Baguslah, pulang nanti kita akan belajar di rumahku. Kau ada rapat OSIS kan? Aku akan menunggumu di rumah." Ujar Ares setelahnya beranjak berdiri dengan membawa buku-bukunya dan segera keluar dari sana.
Tania yang mematung langsung menghela napasnya dengan perasaan yang lega. Baru saja dirinya seperti menahan napas karena saking terkejutnya.
"Apa yang dilakukannya?" Gumam Tania sambil memegang bibirnya.
Saat ini bahkan dirinya masih bisa merasakan bekas ciuman Ares tadi.
Ares yang berjalan menuju kelasnya menjadi tertawa kecil saat mengingat apa yang baru saja dirinya lakukan pada Tania. Pemuda itu tampak senang setelah mencium gadis yang tanpa disadarinya sudah mengambil hatinya.
__ADS_1
Sepulang sekolah Ares langsung bergegas pulang ke rumah. Dia berencana untuk menunggu Tania di rumah dan nanti akan belajar bersama dengannya lagi.
Saat berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang senang, Ares melihat ibunya berada di rumah saat ini.
"Kau sudah pulang?" Sapa Tasya yang berdiri menyambut kehadiran putranya.
Ares berjalan mendekati Tasya dan langsung memberikan pelukan pada ibunya itu.
"Aku sangat menyayangi Mama." Ucap Ares sambil mendekap ibunya dengan erat.
"Iya, mama juga menyayangimu, sayang." Senyum Tasya yang merespon rasa senang anak tertuanya.
Saat yang bersamaan kedua adiknya yang kembar baru saja masuk ke dalam pintu rumah. Mereka berdua menjadi heran melihat kakak laki-lakinya bertingkah aneh dengan memeluk ibu mereka.
"Ada apa denganmu? Apa kau baru saja mendapatkan nilai seratus saat ujian?" Seru Athena pada Ares.
Ares melepas pelukannya dari Tasya dan melihat pada kedua adiknya. Segera dirinya menghampiri mereka dan juga langsung memeluknya.
"Aku menyayangi kalian berdua, adik-adikku yang cantik." Ucap Ares sambil memeluk si kembar.
"Astaga sepertinya dia sudah gila." Oceh Athena sambil mendorong Ares agar melepaskannya. "Lepaskan aku!"
Ares tidak menggubrisnya, pemuda itu masih memeluk kedua adiknya dengan sebuah senyuman senang karena hatinya saat ini merasakan kesenangan.
"Kak, kau senang apa karena Kak Tania sudah pulang? Atau kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" Tanya Aphrodite.
Mendengar pertanyaan Aphrodite, Ares melepas pelukannya. Pemuda itu menjadi seperti tersadar dari rasa senang yang tadi dia rasakan.
"Sepertinya memang ada kaitannya dengan Kak Tania." Tambah Athena dengan senyum miring.
Ares tidak menjawabnya karena tidak ingin mengakui hal tersebut. Pemuda itu segera berbalik dan berjalan ke arah tangga untuk menuju ke kamar.
Ibu dan adiknya menatap heran padanya yang terlihat seperti menghindari mereka.
"Kak Es benar-benar menyukai Kak Tania." Ucap Aphrodite pada Athena dan ibunya.
Ares yang berada di ambang tangga mendengar ucapan salah satu adiknya itu hingga membuatnya menjadi berpikir mengenai hal tersebut.
"Itu tidak mungkin, aku tidak mungkin menyukainya." Gumam Ares dengan memperhatikan langkahnya.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1