PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
087. DALAM BAHAYA


__ADS_3

Ares melajukan motornya memasuki gerbang sekolah. Kali ini pemuda itu membawanya lebih lambat dari kemarin. Semua itu karena Tyaga menegurnya kemarin.


Tatapan pemuda itu mengarah pada Tania yang berdiri membelakangi arah dirinya masuk. Dia menjadi penasaran mengenai kondisi gadis itu sekarang.


Akan tetapi saat melihat Tania hari ini masuk ke sekolah, Ares merasa lega karena berpikir gadis itu sudah baik-baik saja.


Matanya mengarah pada Tania yang menatapnya namun segera pemuda itu menariknya saat berjalan hendak masuk menuju gedung sekolah.


Wajah Tania yang masih terlihat tampak pucat, membuat Ares menjadi berpikir kalau gadis itu belum sembuh benar. Bahkan dalam benaknya, dia menjadi heran karena Tania datang ke sekolah.


Ares terus berjalan bersama dengan Dyara yang memeluk lengannya. Pemuda itu tidak ingin memikirkan Tania terus menerus sekarang.


Suara kegaduhan mengalihkan perhatian Ares, pemuda itu langsung menoleh ke arah keributan.


Dia sangat terkejut ketika melihat Tania berasa di atas tanah, berbaring tak sadarkan diri. Secara spontan, pemuda itu berlari hendak ke tempat Tania, namun sebelum itu, Tyaga sudah lebih dulu mengangkat tubuh Tania.


Ares menghentikan langkahnya saat Tyaga membawa Tania ke dalam mobil. Sedangkan Dyara yang melihat reaksi Ares seperti itu merasa sangat kesal karena tanpa pemuda itu sadari, dia menyingkirkan lengan Dyara yang merangkul lengannya.


Pemuda itu masih belum bergeming dari tempatnya berdiri hingga mobil yang membawa Tania keluar dari sekolah.


Tyaga bersama dengan beberapa anggota OSIS lainnya membawa Tania ke rumah sakit. Gadis itu langsung diberikan pertolongan dengan masuk ke ruang IGD.


Tania yang sudah tersadar sesaat sebelum sampai rumah sakit, melakukan cek darah untuk mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Keyden pada Tyaga dengan wajah yang tampak cemas


"Kami masih menunggu hasil cek darahnya." Jawab Tyaga yang berdiri di luar tirai yang menutupi Tania berada.


Segera Kayden masuk ke dalam tirai untuk melihat langsung kondisi gadis itu. Wajahnya tampak khawatir sekaligus terlihat rasa kesalnya.


"Kenapa kau pergi ke sekolah kalau kau masih belum sehat?" Seru Kayden dengan nada suara yang memperlihatkan rasa kesalnya. "Seharusnya kau beristirahat saja, dan langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Hany sudah mengatakannya padamu seperti itu. Seharusnya kau bilang padaku agar aku menemanimu."


"Astaga, kau terlalu berlebihan. Aku hanya jatuh pingsan, kau tidak perlu bereaksi seperti itu." Jawab Tania yang masih berbaring di ranjang dalam ruangan Instalasi Gawat Darurat.


"Tetap saja kau harus beristirahat dan tidak terlalu memaksakan dirimu." Tambah Kayden masih belum mengurangi rasa kesalnya. "Aku harus memberitahu ibumu. Dia pasti akan sangat mengkhawatirkanmu."


"Karena itu, jangan memberitahunya." Seru Tania menghentikan Kayden yang mengambil ponselnya dari saku celana.

__ADS_1


Pemuda itu berniat untuk menelepon ibu dari Tania.


"Aku mohon, jangan memberitahunya. Sebelum ini dia sudah merasa mengkhawatirkan aku, jadi jangan membuatnya semakin khawatir." Pinta Tania.


Tyaga yang berdiri di sana hanya diam saja sambil memperhatikan Tania yang masih terlihat sangat pucat.


...***...


Pikiran Ares dipenuhi dengan rasa penasaran dirinya mengenai kondisi Tania saat ini. Ingin rasanya dia berlari ke rumah sakit untuk melihat gadis itu agar dirinya tahu bagaimana keadaannya saat ini.


Sepanjang jam pelajaran, Ares sangat tidak bisa fokus belajar. Hingga jam istirahat tiba, pemuda itu hanya berdiam diri di dalam kelas karena rasa khawatirnya Ares pada Tania.


"Ares, apa kau sudah mendapatkan kabar mengenai kondisi Tania?" Tanya Wanda menghampiri tempat pemuda itu berada.


Ares hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan teman sekelas itu.


"Bukan kah kau dan Tania sangat dekat? Aku pikir dia sudah memberitahumu mengenai kabar kondisinya." Ujar Wanda dengan mengerutkan dahinya. "Ah, sepertinya kalian bertengkar ya, karena itu kau pindah tempat duduk. Bahkan kau juga tidak membantunya saat jatuh pingsan tadi."


Setelah mengatakan hal itu, Wanda berjalan pergi meninggalkan Ares yang menoleh ke arah luar jendela.


Ares melihat pada gadis itu. Dyara memperlihatkan senyumnya dengan melambaikan tangan, terlihat sangat senang.


Melihat kehadiran Dyara, Ares langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri gadis yang sudah menunggunya di luar kelas.


"Kak, nanti sepulang sekolah bagaimana kalau kita menonton ke bioskop?" Tanya Dyara, wajahnya masih terus menunjukkan kebahagiaannya. "Kita harus menonton film komedi untuk menghiburmu."


Ares tidak langsung menjawab. Pemuda itu tampak berpikir sesaat. Sejujurnya dirinya sama sekali tidak ingin pergi ke manapun apalagi menonton di bioskop. Yang diinginkan pemuda itu saat ini hanyalah melihat Tania.


Akan tetapi, tentu saja Ares tidak akan datang ke rumah sakit meski dirinya sangat ingin ke sana. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau sekarang dia menganggap Tania seperti murid lainnya dan tidak lebih dari itu. Hal itu yang membuatnya harus berusaha menahan diri untuk tidak pergi ke rumah sakit.


"Kak, kenapa diam saja? Kau mendengarku kan? Apa kau tidak mau?" Dyara berkata seperti itu dengan kedua tangan yang menggoyangkan lengan kiri Ares. "Aku rasa menonton film di bioskop akan membuatmu menjadi terhibur. Kau harus menghibur dirimu dulu, Kak."


Ares menarik lengannya yang sejak dirinya keluar dari kelas, Dyara langsung memeluknya dengan kedua lengan gadis itu.


"Baiklah jika kau tidak mau." Ujar Dyara menunjukkan wajah yang kecewa. "Aku akan kembali ke kelasku. Maafkan aku karena mengganggumu di jam istirahat."


"Tunggu dulu!" Seru Ares menghentikan langkah Dyara yang hendak berjalan pergi meninggalkan dirinya seorang diri. "Kau bilang film yang akan kita tonton bersama adalah bergenre komedi? Apa itu benar?"

__ADS_1


"Ya, aku sudah membaca sinopsis ringannya, aku rasa kau pasti akan terhubur." Jawab Dyara memperlihatkan tampak antusia kembali. "Ayolah, Kak. Aku ingin menghiburmu."


"Baiklah, ayo kita pergi menonton." Jawab Ares dan langsung membuat Dyara mengembangkan senyumnya. "Ah iya, apa kau tahu kalau baru saja Shane mengunggah di mana dia berada?"


Mendengar nama Shane, membuat Ares menjadi sangat kesal. Itu terlihat sangat jelas di raut wajahnya.


"Beritahu aku di mana dia berada saat ini?" Tanya Ares merasa penasaran. "Aku harus memberinya pelajaran secepatnya."


"Kau tenanglah dulu, Kak." Seru Dyara memegang lengan kiri Ares. "Dia pernah mengajakku ke tempat itu. Mansion keluarganya yang berada di pulau B."


"Benarkah? Berikan alamatnya padaku. Aku akan ke sana untuk menghajarnya, kalau perlu aku juga akan mengotori tanganku dengan darahnya." Geram Ares.


Dyara menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan Ares yang terdengar sangat marah.


"Aku akan mengirim pesan padanya untuk bertemu dengannya. Kau tidak perlu jauh-jauh pergi menemuinya, Kak." Ujar Dyara. "Dialah yang akan mendatangimu nanti."


Ares terlihat sedikit senang saat mendengarkan perkataan Dyara. Gadis yang berada di hadapannya saat ini, memberikan kabar yang baik pada pemuda itu. Begitu yang dipikirkan Ares.


Tiba-tiba Kayden berjalan di koridor, hendak melewati Ares dan Dyara dengan terus berjalan. Pria itu baru saja kembali dari rumah sakit untuk melihat keadaan Tania saat ini.


"Pak Guru," panggil Ares.


Kayden yang baru saja hendak melewati Ares, membuat langkahnya berhenti dan langsung menoleh ke arah pemuda itu.


"Ada apa? Aku sedang terburu-buru saat ini. Aku harus melaporkan mengenai kondisi Tania pada Kepala Sekolah." Jawab Kayden menoleh pada Ares.


Ares menjadi enggan untuk menanyakan kondisi Tania saat ini. Namun rasa penasarannya karena khawatir pada gadis itu tidak bisa dia tahan lagi. Dan itu membuatnya menjadi sedikit bingung.


"Baiklah kalau tidak ada apa—"


"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Akhirnya Ares menanyakan kondisi Tania pada Kayden.


"Tidak ada yang baik-baik saja. Hasil test darahnya baru saja keluar. Dan kondisi tubuhnya sangat lemah karena penyakit itu." Jawab Kayden. "Tania dalam bahaya."


Mendengarnya, Ares menjadi mematung karena rasa terkejutnya membuat pemuda itu tidak mampu bereaksi apapun, semua itu karena rasa kekhawatirannya yang besar pada Tania berubah menjadi lebih besar lagi setelah mendengar perkataan Kayden mengenai gadis itu padanya.


......@cacing_al.aska......

__ADS_1


__ADS_2