
Ares langsung bergegas keluar dari kelas saat bel pulang sekolah berbunyi. Pemuda itu hendak pulang ke rumah untuk mengikuti perkataan Tania, namun langkahnya terhenti saat melihat Kayden yang baru keluar dari suatu kelas berjalan mengarah yang berlawanan dari ruang guru.
Melihatnya Ares tahu kalau Kayden hendak pergi ke ruang UKS untuk menemui Tania.
Entah kenapa saat mendengar Kayden mengatakan suka pada Tania tadi membuat pemuda itu kesal. Pasalnya Ares yang sudah mengetahui bagaimana hubungan pria itu dengan sepupunya dulu, tidak suka kalau Kayden bisa dengan mudahnya melupakan sepupunya itu. Padahal sesuatu yang buruk terjadi pada kakak sepupunya itu dulu karena ulah pria tersebut.
Seorang murid menghentikan langkah Kayden, hal itu membuat Ares memikirkan sesuatu.
Pemuda itu melihat pada murid perempuan yang membawa tas sekolah Tania dan berencana untuk memberikannya pada gadis tersebut di ruang UKS.
"Berikan padaku tasnya. Aku yang akan mengantarnya." Seru Ares langsung menyambar tas Tania tanpa menunggu persetujuan murid perempuan itu.
Ares segera menyusul dan menyalip Kayden yang masih meladeni murid yang menghentikan langkahnya. Pemuda itu berjalan masuk ke dalam ruang UKS mendahului Kayden.
Tania muncul dari balik tirai saat Ares menggeser tirainya juga. Mereka berdua sama-sama terkejut karena hal itu.
"Ya ampun, kau sudah bangun?" Ares mendelik kaget.
"Kenapa kau ke sini?" Tania balik bertanya.
"Aku hanya... Aku hanya ingin melihat keadaanmu." Jawab Ares dengan mata yang terlihat bingung.
Saat yang bersamaan Tania melihat kehadiran Kayden yang juga masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ya, aku kan bertanggung jawab hingga kau benar-benar pulih, karena itu aku akan terus bersama denganmu. Aku juga membawakan tas sekolahmu." Lanjut Ares yang menyadari Tania melihat ke belakangnya di arah pintu masuk di mana Kayden muncul.
"Aku akan rapat OSIS, sudah aku bilang sebaiknya kau pulang saat jam pelajaran berakhir." Seru Tania kembali melihat pada Ares.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kayden yang semakin mendekat ke arah Tania berdiri.
"Dia sudah semakin baik, Pak Guru. Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan memastikan semuanya agar dia benar-benar sembuh." Sahut Ares menjawab pertanyaan Kayden.
Sejujurnya Tania juga masih merasa tidak enak untuk bertemu dengan Kayden saat ini. Gadis itu menjadi bingung saat pria itu mengatakan kalau Kayden mencintainya. Dia tidak yakin pada ungkapan hati pria tersebut.
"Aku akan ke ruang OSIS sekarang." Ujar Tania pada Kayden, setelahnya berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Ares mengekor gadis itu hingga Tania masuk ke dalam ruangan OSIS. Pemuda itu berniat masuk ke ruangan tersebut namun Tania berbalik dan berencana menutup pintu, beruntung secepatnya Ares menahan pintunya.
__ADS_1
"Biarkan aku masuk." Pinta Ares menahan pintu agar tidak tertutup.
"Kau mau apa? Pulanglah dan belajar sendiri. Aku akan ke rumahmu nanti. Rapat tidak akan lama." Ujar Tania berusaha menutup pintu.
"Aku akan ikut rapatnya..."
"Kau bukan anggota OSIS, bagaimana bisa kau ikut rapat." Jawab Tania dengan wajah datar.
"Tidak masalah, aku akan duduk di pojokan sambil membaca buku pelajaran. Aku tidak akan menggangu rapatnya." Ares memberikan senyumnya mencoba untuk meyakinkan gadis tersebut. "Biarkan aku masuk."
Tania melihat beberapa murid berlalu-lalang dengan pandangan memperhatikan mereka berdua, karena itu dirinya membuka pintu dengan lebar dan membiarkan Ares masuk.
Tania langsung berjalan ke arah meja yang selalu dijadikan tempat rapat tersebut. Gadis itu duduk dengan membuka laptop untuk mempersiapkan bahan rapat.
"Aku akan duduk di sini." Ares menarik sebuah kursi dan meletakkannya ke arah yang agak menyamping dan di belakangi oleh Tania. "Kau tenang saja, aku akan duduk manis di sini dan tidak akan mengganggu siapapun. Aku tidak akan mengganggu rapatnya. Ya, aku akan mencoba untuk belajar dengan membaca buku." Ujar Ares dengan menyunggingkan senyumnya pada Tania yang menoleh padanya.
Tania tidak menjawab apapun, gadis itu kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop dengan mencoba untuk fokus. Dia harus menyiapkan semuanya karena anggota OSIS lainnya akan segera hadir.
Selang berberapa menit, dua orang anggota OSIS masuk ke dalam ruangan. Terlihat tatapan aneh mereka mengarah pada Ares yang berada di sana. Satu per satu anggota OSIS hadir dan mereka semua sama terkejutnya dengan keberadaan Ares di sana.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian. Anggap saja aku tidak ada." Ucap Ares dengan mengembangkan senyumnya pada mereka yang menatap pada dirinya.
Ares yang duduk di sana dengan membaca buku pelajaran tanpa sadar bersiul dengan telinga yang tersumpal earphone bluetooth.
Tania yang sedang berbicara menjadi merasa terganggu. Gadis itu menutup matanya sejenak untuk mengatur emosinya. Lalu dengan cepat Tania menoleh pada Ares.
Melihat Tania menoleh padanya, Ares sadar kalau siulannya telah mengganggu jalannya rapat.
"Maafkan aku, tanpa sadar aku bersiul." Ujar Ares setelah melepaskan earphone dari telinganya.
Tania melanjutkan rapatnya dengan pembahasan lainnya, yaitu agenda mengenai keinginannya untuk merubah kembali peraturan sekolah dengan memunculkan hukuman bagi murid yang melanggar peraturan seperti dulu.
"Aku ingin merubah peraturan sekolah dengan membuat atau mengembalikan peraturan yang sebelumnya, peraturan sebelum lima tahun lalu diubah oleh ketua OSIS yang menjabat." Seru Tania. "Hukuman akan diberlakukan kembali pada mereka yang melanggar, bahkan sekolah juga akan mengeluarkan mereka jika kesalahan atau pelanggaran yang diperbuat sudah sangat berlebihan."
Ares yang sedang membaca buku langsung menoleh ke arah meja di mana berlangsungnya rapat. Fokusnya langsung teralihkan.
"Kenapa harus merubahnya? Tidak, kenapa harus mengembalikan hukuman untuk murid yang melanggar?" Tanya Ares yang terkejut pada keputusan Tania.
__ADS_1
Semua mata langsung mengarah pada pemuda itu. Siapapun tahu kalau Ares termasuk dalam murid yang bermasalah karena tidak pernah hadir ke sekolah selama ini.
Tania tidak menggubris pertanyaan Ares dan kembali melanjutkan rapatnya bersama dengan para anggota OSIS lainnya.
Ares yang tidak menyetujui hal tersebut hanya bisa menahan dirinya untuk tidak ikut campur pada pembahasan yang berlangsung di dalam rapat. Meski dirinya sangat ingin menolak hal itu.
Hingga rapat berakhir dan para anggota OSIS lainnya keluar dari ruang rapat untuk pulang. Tersisa Tania bersama dengan Ares berada di sana.
"Memangnya ada apa dengan peraturan sebelumnya?" Tanya Ares yang langsung mendekati Tania ketika gadis itu berdiri siap pulang.
"Peraturan sebelumnya? Aku rasa itu bukan sebuah peraturan karena tidak ada hukuman di dalamnya." Jawab Tania dingin. "Selama lima tahun ini para murid berandal yang nakal diuntungkan karena semua itu, karena itu aku akan mengubahnya dan mengembalikan hukuman. Ya, agar murid sepertimu tidak diberikan kesempatan untuk melanggar."
Ares mendengus mendengar perkataan Tania. Yang dipikirkan gadis itu memang tidak salah, namun dia tetap tidak setuju karena seperti halnya alasan peraturan tanpa hukuman itu dibuat, Ares juga menganggap kalau sekolah adalah tempat mendidik bukan tempat menghukum.
"Apa kau tahu alasan kenapa hukuman ditiadakan sejak lima tahun lalu? Apa kau tahu kenapa sepupuku melakukannya?" Tanya Ares yang tepat berdiri di hadapan Tania.
"Ya, aku tahu, tapi menurutku itu semua tidak sepenuhnya benar. Seperti kataku tadi, peraturan tanpa hukuman hanyalah angin lalu. Semua orang akan berbuat sesukanya dan memang itu yang terjadi." Ucap Tania.
"Tapi lihatlah yang terjadi, apakah ada murid yang tidak lulus sekolah ini?" Tanya Ares bersungut-sungut.
Tania tertegun karena jawabannya tidak ada. Meski selalu ada murid nakal tiap tahun, namun semua murid lulus sekolah tersebut.
"Tidak ada kan? Lalu apa gunanya hukuman itu?" Tatap Ares dengan raut wajah sedikit kesal.
"Ya, memang tidak ada. Tapi semua hal selalu ada yang pertama, dan bisa saja kaulah yang menjadi murid pertama yang tidak lulus sekolah di sekolah ini." Jawab Tania dengan siratan mata tajam pada Ares. "Kenapa? Apa kau takut kau dikeluarkan saat peraturan itu diubah? Tenang saja, peraturan akan berubah saat tahun ajaran baru di mulai. Tapi sebaiknya kau pastikan bisa lulus sekolah, karena jika tidak kau akan dikeluarkan dari sekolah ini saat ajaran baru dimulai."
Ares berdecak mendengar ucapan Tania dengan mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Tapi sepertinya aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum kau tidak lulus." Lanjut Tania sambil berjalan ke arah pintu.
Rasa kesal Ares tersulut, pemuda itu bergegas ke arah Tania dan langsung menarik lengan gadis itu. Dengan gerakan cepat Ares memojokkan Tania ke arah tembok dengan tatapan tajam menatap dekat padanya.
"Aku pasti akan lulus. Jangan mengatakan hal seperti itu lagi padaku. Kau mengerti?!" Seru Ares dengan mengertakan giginya. "Sudahlah, ayo kita ke rumahku. Aku akan membuktikan padamu kalau aku pun akan lulus sekolah ini."
Tania masih terkejut saat Ares melepaskan lengannya dan menjauh dari dirinya. Sejenak gadis itu menghela napas tipis saat Ares keluar dari ruangan. Namun gadis itu menjadi kesal dengan perlakuan Ares padanya barusan.
"Aku akan benar-benar membunuhnya suatu saat nanti." Gumam Tania dengan tatapan dingin mengarah pada pintu.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...