PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
088. TENGAH MALAM


__ADS_3

Tania sudah berada di ruang rawat inap di rumah sakit. Hasil cek darahnya sudah keluar. Karena hasilnya tidak bagus, maka gadis itu harus di rawat hingga sembuh di rumah sakit.


Tyaga masih bersamanya. Pemuda itu menemani Tania saat perawat memindahkannya ke ruangan rawat inap, sedangkan Kayden harus kembali ke sekolah karena masih ada kelas mengajar.


"Seharusnya kau juga kembali ke sekolah. Untuk apa kau berada di sini?" Ujar Tania setelah perawat pergi sesudah memastikan infusan gadis itu berada di posisi yang tepat.


"Pak Guru memintaku untuk menemanimu di sini." Jawab Tyaga berdiri di samping ranjang di mana Tania berbaring.


"Aku baik-baik saja. Penyakitnya tidaklah buruk. Kemungkinan dua atau tiga hari aku juga akan sembuh. Di sini ada perawat, jadi tidak perlu kau menemaniku. Lagi pula aku jadi tidak leluasa kalau ada kau di sini." Ujar Tania mencoba membuat Tyaga mengerti dan mau pergi dari sana.


"Baiklah kalau memang seperti itu." Jawab Tyaga. "Jika terjadi apa-apa, kau bisa langsung menghubungiku."


"Untuk apa aku menghubungimu?" Tania menatap Tyaga dengan heran. "Ini hanya penyakit tifus, tidak akan terjadi apa-apa."


"Ponselmu sudah tidak rusak kan?" Tatap Tyaga memastikan.


"Ya, aku sudah memperbaikinya."


"Itu bagus, aku akan menghubungimu untuk menanyakan kondisimu." Ucap Tyaga. "Sekarang aku akan kembali ke sekolah. Pak Guru bilang kalau dia akan datang lagi setelah sekolah berakhir."


Tania menghela napasnya dengan dalam setelah Tyaga meninggalkannya sendirian. Tubuhnya yang terasa begitu sakit, membuat perasaannya semakin kacau.


Saat ini gadis itu menjadi bersedih. Dia memikirkan kembali apa yang dikatakan ibunya kemarin padanya.


Rasa sakit yang gadis itu rasakan, membuatnya menjadi ingin kembali ke rumahnya dan tinggal bersama dengan ibunya. Dia terus berkutat memikirkan hal tersebut.


...***...


"Benar kah?" Tanya Ares dengan wajah terkejut setelah mendengar perkataan Kayden. "Apa penyakitnya?"


"Tifus. Gadis itu selalu menahan lapar dan tidak memakan makanan yang bergizi. Hampir setiap hari dia hanya memakan roti atau pun mie instan. Dan sekarang dia menjadi tifus." Jawab Kayden.


Ares sedikit bernapas lega setelah mendengar perkataan lebih lanjut Kayden. Penyakit yang dikatakan Kayden sebelumnya ternyata tidak seburuk apa yang ada dipikirannya.


"Sudahlah, kalau kau ingin tahu keadaannya, kau bisa menjenguknya." Ujar Kayden setelah itu bergegas pergi.


"Kak, kau ingin menjenguknya?" Tanya Dyara yang sejak awal berada di sana dan terus memperhatikan ekspresi Ares.


"Kita akan menonton film, kan? Sehabis pulang sekolah, kita akan langsung ke Bioskop." Ucap Ares setelah itu berjalan masuk ke dalam kelas.


Dyara tersenyum senang mendengar jawaban pemuda itu. Itu berarti kalau Ares tidak akan menjenguk Tania dan memutuskan untuk pergi menonton film dengannya setelah pulang sekolah nanti.

__ADS_1


Ketika jam pulang sekolah, Ares berjalan bersama dengan Dyara hendak keluar gedung sekolah untuk pergi menonton di Bioskop.


Tyaga keluar dari kelasnya saat kedua orang tersebut melintas.


Ares menghentikan langkahnya tepat di hadapan pemuda itu. Saat melihat Tyaga, Ares menjadi ingin menanyakan sesuatu pada pemuda itu.


"Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau menemaninya?" Ujar Ares yang heran melihat keberadaan Tyaga di sekolah.


"Apa maksudmu?" Tyaga mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Ares. "Ah, maksudmu, kenapa aku di sini dan tidak berada di rumah sakit untuk menemani Mantan Ketua OSIS?"


Ares tidak merespon pertanyaan itu dan hanya diam saja.


"Tanyakan saja langsung padanya. Bukankah kalian berdua sangat dekat?" Seru Tyaga setelah mengatakan hal itu langsung berjalan pergi menuju ruang OSIS.


Ares hanya bisa melihat Tyaga yang pergi dengan menahan rasa kesalnya. Dipikirannya saat ini mengenai Tania yang berada seorang diri di rumah sakit, tanpa ada yang menemani gadis itu.


Hingga saat pemuda itu sedang menonton film di Bioskop bersama dengan Dyara, Ares terus memikirkan Tania yang berada sendirian di rumah sakit.


Pemuda itu memikirkan sesuatu. Saat di pertengahan film, Ares bergegas keluar studio Bioskop dan mengatakan kalau dirinya akan ke toilet pada Dyara.


Namun yang sebenarnya, Ares berniat menghubungi Kayden. Pemuda itu hanya ingin tahu di mana gurunya itu berada. Apakah dia bersama dengan Tania atau tidak.


"Ada apa kau menelepon? Tumben sekali." Ujar Kayden sambil berjalan kembali menuju ruangan di mana Tania di rawat.


"Pak Guru, kau di mana? Aku ingin datang untuk menanyakan beberapa soal yang ada di tugas yang kau berikan." Jawab Ares mencari alasan lainnya.


"Apa-apaan kau, kau kan bisa menanyakannya melalui telepon atau pesan? Saat ini aku sedang sibuk karena tidak berada di rumah." Jawab Kayden.


"Kau berada di mana? Aku akan datang menemuimu."


"Saat ini aku berada di rumah sakit. Kau bisa datang setelah jam sembilan malam ke rumahku." Jawab Kayden.


"Baiklah." Jawab Ares setelahnya menutup telepon.


Jawaban Kayden membuat Ares cukup lega karena ternyata gurunya itu sedang berada di rumah sakit untuk menemani Tania. Meski sepertinya Kayden pun juga tidak akan menemani gadis itu malam ini. Namun setidaknya untuk saat ini, Tania menjadi tidak sendirian.


Kayden masuk ke dalam ruangan kelas tiga di mana Tania di rawat. Baru saja dia menutup teleponnya dari Ares.


"Ck! Ada-ada saja. Seharusnya dia bertanya langsung saja dan tidak mencari alasan lainnya." Oceh Kayden yang tahu maksud Ares sesungguhnya kenapa menelepon dirinya.


"Ada apa?" Tanya Tania yang heran melihat Kayden berbicara sendiri.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Kayden tersenyum karena masih mengingat Ares yang meneleponnya.


"Seharusnya kau mengantarnya dan tidak berada di sini." Seru Tania membahas Kayden yang hanya mengantar Harmony ke luar dari rumah sakit.


"Tidak masalah, dia bilang aku tidak perlu mengantarnya. Lagi pula saudara kembarnya sudah menjemputnya di luar." Jawab Kayden sambil duduk di kursi yang berada di sana.


"Kalian harus segera menikah sebelum aku pergi." Ujar Tania.


"Kau ingin ke mana?" Tatap Kayden heran.


"Aku berencana kuliah di luar negeri. Aku akan mencari beasiswa penuh. Bukannya aku juga sudah mengatakannya padamu? Astaga, kau ini wali kelas seperti apa?!"


"Aku lupa." Tawa Kayden. "Jadi kau benar-benar akan mengikuti program beasiswa untuk bisa kuliah di luar negeri? Kau sudah mengatakannya pada ibumu?"


"Ya, kemarin aku sudah mengatakannya. Meski yang sebenarnya, ibu ingin aku kembali ke rumah dan tinggal bersama dengannya tapi dia juga tidak melarangku." Jawab Tania tidak melihat ke arah Kayden saat mengatakan hal tersebut.


"Ya, dia pasti ingin kau tidak tinggal sendirian karena mencemaskanmu."


"Pak Guru, apa sebaiknya aku kembali dan bersekolah di sana?" Tania bertanya sambil menoleh pada Kayden. "Ibu memintaku untuk pindah sekolah di sana. Sekolah di sana pasti akan menerimaku karena nilaiku sangat bagus. Apa seperti itu?"


"Maksudmu, kau ingin pindah sekolah? Sekitar tiga bulan lagi ujian kelulusan. Apa kau serius?" Tanya Kayden terkejut.


"Ya, aku berpikir seperti itu sejak kemarin. Tapi aku juga tidak terlalu yakin karena sekolah akan membantuku untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Kalau aku pindah sekolah di sana, maka aku akan kehilangan kesempatan itu. Tapi aku juga sudah menerima tawaran beasiswa lainnya di kotaku." Terang Tania.


"Sebaiknya kau pikirkan lagi. Apa alasanmu memutuskan jika ingin pindah sekolah? Apakah itu karena keinginanmu atau karena hal lainnya? Jangan sampai kau menyesalinya." Ucap Kayden memberikan saran.


...***...


Ares berjalan masuk ke sebuah tempat. Sehabis menonton film di Bioskop dan makan malam, pemuda itu mengantar Dyara pulang.


Setelah mempertimbangkan lumayan lama mengenai suatu hal, akhirnya Ares memutuskan untuk menuju ke tempat di mana saat ini pemuda itu berada.


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam saat pemuda itu membuka sebuah pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Di gesernya secara perlahan sebuah tirai berwarna krim.


Ares sedikit bernapas lega karena seseorang yang ingin dilihatnya saat ini sudah terlelap.


Pemuda itu bergegas masuk ke dalam tirai untuk mendekati Tania yang sudah tertidur pulas karena efek obat yang diminumnya.


Tidak ada yang dilakukan pemuda itu, Ares hanya ingin melihat kondisi Tania dan memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


"Syukurlah kau sudah baik-baik saja." Ucap Ares dengan suara yang sangat perlahan.

__ADS_1


Pemuda itu membelai rambut poni yang menutupi kening gadis yang tak sedikitpun bergeming dari posisinya.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2