PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
097. KEMBALI SEPERTI DULU


__ADS_3

Ares menghentikan motornya di depan rumah Kayden. Tania segera turun dan berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah di mana Kayden masih berada di tempat favoritnya, padahal sekarang sudah lebih dari tengah malam.


Melihat kehadiran Tania, Kayden yang sedang memakan buah salak, menahan tawanya karena gadis itu tidak jadi pergi dan malah datang kembali.


"Aku tidak memberitahunya, dia sendiri yang datang ke sini sesaat setelah kau pergi." Seru Kayden. "Aku menepati janjiku padamu. Tapi dia memaksaku untuk mengatakan kemana kau pergi."


"Diamlah! Berikan saja kunci kamarku!" Ujar Tania dengan dingin, malas mendengarkan ocehan Kayden saat ini.


"Aku tidak memaksamu! Kau sendiri yang mengatakan padaku dan malah kau menyarankan aku agar cepat mengejarnya!!" Tandas Ares yang mendengar perkataan Kayden tersebut. Pemuda itu berjalan masuk ke dalam pekarangan.


Kayden menahan tawanya sekali lagi karena memang dirinya berbohong mengenai hal itu pada Tania.


Segera pria itu memberikan kunci kamar pada Tania.


Tania langsung berjalan mengarah ke mana kamarnya berada dan membukanya segera. Ares mengikuti langkah gadis itu.


"Sedang apa kau di sini?" Tatap Tania heran melihat Ares yang berada di depan pintu kamarnya, ingin ikut masuk ke dalam.


Ares baru sadar kalau seharusnya dirinya tidak mengikuti gadis itu.


"A—aku hanya ingin bertanya, bagaimana dengan koper-kopermu?" Ares mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Tania tersebut.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Pergilah, aku ingin istirahat. Jujur saja, aku masih sedikit merasa tidak enak badan." Seru Tania.


"Baiklah, besok aku akan menjemputmu saat pergi ke sekolah."


"Tidak perlu. Aku akan berangkat sendiri seperti biasanya." Tolak Tania merasa tidak ingin menjadi bahan perbincangan lagi dengan murid lain mengingat Ares yang sudah dikenal adalah kekasih Dyara.


"Ba—baiklah." Jawab Ares mencoba mengerti keinginan Tania. Kalau begitu aku pulang dulu. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, sebaiknya kau langsung istirahat."


Tania mengangguk menjawab perkataan Ares.


"Dan... Terimakasih untuk hadiah ulang tahun yang kau berikan." Ucap Ares.


Tania tidak bereaksi apapun mendengar ucapan Ares, meski dalam dirinya dia merasa senang mendengar Ares mengatakan seperti itu padanya.


"Aku akan memakainya besok—"


Plok!


Tiba-tiba Ares merasakan sesuatu menimpuk kepalanya, membuat pemuda itu meringis kesakitan. Dilihatnya sebuah biji salak berada di bawah, benda itu yang baru saja mengenai kepalanya.


Matanya langsung mengarah pada Kayden yang berdiri memperhatikan mereka berdua dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!" Geram Ares sangat kesal karena gurunya itu menimpuknya dan membuat kepalanya menjadi sakit.


"Ini sudah malam, pergilah dari sana!!" Seru Kayden pada Ares.


"Sialan!" Ucap Ares kembali menoleh pada Kayden.


Namun tanpa pemuda itu duga, Tania langsung menutup pintu kamarnya, dan membuat Ares terdiam dengan bingung karena perlakuan gadis itu padanya.


"Pergilah dari sana, atau aku yang akan menyeretmu?!" Seru Kayden lagi.


Dengan menahan rasa kesalnya, Ares berjalan mendekati gurunya itu. Sesuatu ingin dirinya katakan pada pria tersebut.


"Dengarlah! Seharusnya kau membantuku untuk semua hal, aku sudah memberikan apa yang kau inginkan. Mulai sekarang kau adalah saudaraku, karena itu kau harus memberi tahuku dan tidak merahasiakan apapun seperti tadi." Ujar Ares pada Kayden. "Atau aku akan meminta Hany untuk meninggalkanmu lagi!!"


Kayden merasa sangat kesal pada perkataan Ares. Pria itu tampak ingin marah pada ancamannya, namun Ares lebih dulu berlari keluar dari pekarangan rumah itu dan langsung melajukan motornya dengan sangat cepat.


"Sialan! Berani sekali dia mengancamku seperti itu?!" Geram Kayden kembali mengambil biji salak dan mencoba untuk melemparnya ke arah Ares namun pemuda itu sudah lebih dulu pergi dengan motornya.


Tidak lama dari itu, mobil Tyaga berhenti depan rumah Kayden. Pemuda itu turun dari mobilnya dan langsung membuka bagasi mobil.


Kayden yang masih berada di dalam pekarangan rumah, memperhatikan pemuda itu yang berjalan dengan membawa kedua koper besar milik Tania masuk ke dalam pekarangan rumahnya.


Melihatnya, Kayden tertawa sangat keras karena Tyaga mau melakukan hal itu untuk Tania.


Tania meminta pemuda itu untuk membawa pulang kedua kopernya, semua itu sebagai hukuman Tyaga.


"Aku membawa kopermu." Seru Tyaga mengetuk pintu kamar Tania.


"Kau bisa meninggalkannya di depan pintu, nanti aku akan membawanya masuk." Jawab Tania dari dalam.


"Baiklah." Jawab Tyaga lagi.


Segera pemuda itu berbalik dan berjalan ke arah luar pekarangan. Namun Kayden mengikuti langkahnya.


"Tya," panggil Kayden sebelum Tyaga masuk ke dalam mobil.


"Jangan memanggilku seperti itu!!" Ujar Tyaga dengan wajah dingin dan nada suara yang datar.


Kayden menahan tawanya lagi, namun pria itu segera menghilangkan hal itu darinya karena ingin menanyakan sesuatu pada pemuda tersebut.


"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Kayden. "Apa alasanmu mau melakukan semua yang dikatakan Tania?"


"Apa ya?" Tyaga menunjukkan wajah berpikirnya. "Aku juga tidak tahu kenapa. Aku hanya kagum dengannya. Dia mengingatkan aku dengan seseorang."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Tyaga langsung masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju pergi.


"Jawaban yang aneh. Aku yakin, dia tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh." Gumam Kayden sambil berjalan masuk.


Di dalam kamar, Tania yang baru saja membersihkan tubuhnya merebahkannya ke tempat tidur.


Walaupun rasa lelah yang dia rasakan saat ini, namun hatinya merasa sangat senang. Semua itu karena Ares yang menghentikan keinginannya yang berniat pergi.


"Aku harus memberitahu Paman, kalau aku tidak jadi pulang." Ucap Tania yang teringat mengenai Pamannya.


...***...


Keesokan harinya, Ares menuruni tangga dengan seragam yang sudah dikenakannya. Pemuda itu hendak berangkat ke sekolah. Wajahnya terlihat senang, karena mengingat mengenai hubungannya dengan Tania sudah mulai membaik.


"Selamat pagi, Kak."


Ares terkejut melihat Dyara yang berada di rumahnya. Dia lupa kalau setiap hari gadis itu memang selalu datang ke rumahnya untuk berangkat dengannya ke sekolah.


Melihat gadis itu di sana, membuat Ares merasa bingung harus menghadapinya bagaimana setelah ini. Namun dia sudah siap untuk mengatakan semuanya pada Dyara, dan meminta maaf pada gadis itu.


Ares melaju masuk ke dalam gerbang sekolahnya bersama dengan Dyara. Ketika sampai di parkiran dan membantu turun gadis itu, Ares yang sudah mempersiapkan dirinya ingin mengatakan semuanya pada Dyara.


"Ada yang ingin aku katakan padamu." Ujar Ares pada Dyara.


Melihat ekspresi wajah Ares, membuat Dyara seperti bisa membaca apa yang akan di katakan pemuda itu padanya.


"Maaf Kak, sepertinya aku harus segera masuk ke kelas. Aku lupa mengerjakan tugasku, karena itu aku harus mengerjakannya sebelum bel masuk berbunyi." Ujar Dyara mencari alasan agar segera pergi dari Ares.


Secepatnya gadis itu melangkah pergi dari sana, namun Ares bergegas mengejar Dyara. Keinginannya untuk menyelesaikan semuanya dengan gadis itu membuatnya harus mengatakannya sekarang juga.


"Tunggu dulu!" Seru Ares melangkah mengejar Dyara.


Dyara tidak menghiraukannya, dan tetap melangkah keluar dari area parkiran.


"Aku akan mengatakannya dengan cepat!" Seru Ares menggapai lengan Dyara agar gadis itu berhenti berjalan dan mau mendengarkan perkataanya.


Saat yang bersamaan, Tania yang baru saja masuk ke dalam gerbang sekolah melihat pada mereka berdua.


Ares pun menoleh pada Tania yang menjadi berhenti melangkah karena melihatnya dengan Dyara.


Banyak pasang mata juga yang memperhatikan Ares dan Dyara saat ini. Begitu pun dengan Tyaga yang berdiri di dekat gerbang sekolah, juga memperhatikan mereka.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2