PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
095. SEMUANYA AKAN BERAKHIR


__ADS_3

Perkataan Kayden membuat Ares tidak bisa berkata apapun. Dia sangat terkejut karena hal tersebut. Perasaannya saat ini menjadi terasa sakit karena Tania pergi tanpa memberitahunya.


"Kenapa dia tidak memberitahuku? Padahal tadi aku menemuinya." Ucap Ares dengan nada bicara yang terdengar tidak terlalu keras.


Kayden tahu mengenai rasa keterkejutan pemuda itu. Itu sangat nampak di wajahnya yang langsung terlihat sangat muram.


"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" Kali ini tatapan Ares menjadi menyiratkan rasa kesalnya pada Kayden. "Bukannya kau bilang, kalau kau akan membantuku untuk masalah apapun?" Seru Ares dengan mencengkram baju gurunya.


Ares tampak sangat kesal karena rasa kecewanya yang mengetahui kalau Kayden membantu Tania menyembunyikan rencana kepindahannya.


"Apa karena itu Tyaga juga merubah keputusannya? Apa karena dia memohon untuk yang terakhir kalinya agar aku tidak dikekuarkan dari sekolah?" Tambah Ares. "Ya, pasti karena itu kan?" Ares melepas cengkramannya karena Kayden tidak menjawabnya.


Melihat sikap muridnya seperti itu, Kayden membuang napasnya sangat dalam sambil merapikan kaos yang dikenakannya, setelah itu melihat kembali pada Ares.


"Dengarlah, kau memang sangat bodoh! Dari pada kau meluapkan rasa kesalmu padaku, lebih baik kau mengejarnya dan mencegahnya agar tidak pergi." Seru Kayden dengan tatapan kesal. "Kau tahu? Masalahmu ini disebabkan dari kalian berdua yang tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya. Semua tidak ada apa-apanya dari yang pernah aku alami."


Setelah mendengar ucapan Kayden, Ares langsung kembali melajukan motornya dengan sangat cepat. Pemuda itu meluncur bagai roket, dan tidak memedulikan hal lainnya.


Dia hanya ingin menemui Tania agar gadis itu tidak pergi dan meninggalkan kota ini. Pemuda itu menjadi sangat menyesali hal yang dilakukannya kemarin dengan membuat jarak diantara mereka berdua.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?!" Geram Ares sangat kesal sambil menarik gas motornya lebih dalam.


...***...


Tania sedang menunggu jam penerbangannya, gadis itu datang lebih cepat sehingga masih harus menunggu lebih lama.


"Iya paman, aku sudah sampai di bandara." Jawab Tania yang mendapatkan telepon dari Wisnu. "Maaf, tadi ponselku aku matikan karena sesuatu."


Saat di perjalanan tadi, beberapa kali Ares meneleponnya sehingga dia yang sudah memutuskan dengan bulat rencana kepindahannya, tidak menjawab telepon tersebut dan menonaktifkan ponselnya.


"Boarding pass baru akan dibuka setengah jam lagi. Aku terlalu cepat datang, Paman." Ucap Tania di telepon. "Ya, tidak masalah, aku bersama dengan temanku. Ingat ya paman, jangan memberitahukan kepulanganku pada ibu dulu. Aku ingin memberinya kejutan."


Setelah mengakhiri telepon dari pamannya, Tania menoleh pada Tyaga yang duduk selang dua kursi darinya. Pemuda itu sedang mengutak-atik ponselnya.


"Sebaiknya kau pulang saja dan tidak perlu menemaniku di sini." Ujar Tania pada Tyaga.


"Seharusnya kau tidak perlu terburu-buru berangkat. Kau kan bisa menghabiskan waktu di rumah Pak Guru tadi." Sahut Tyaga sambil mengutak-atik ponselnya. "Kau membuang-buang waktu dengan menunggu di sini."


"Maka dari itu, aku bilang kau pulang saja. Kau tidak perlu menemaniku menunggu di sini." Seru Tania melihat heran pada Tyaga. "Aku bisa menunggu sendiri di sini."


Tyaga beranjak berdiri dari duduknya dan menghadap Tania.


"Apa kau serius ingin pindah?" Tanya Tyaga memastikan keputusan Tania.

__ADS_1


"Kenapa kau menanyakannya terus?" Tatap Tania heran pada pemuda itu. "Aku sudah memutuskannya, tidak akan ada yang bisa melarangku."


"Bagaimana kalau aku memintamu untuk tidak pindah? Apa kau akan menuruti permintaanku, seperti aku menuruti permohonanmu untuk tidak mengeluarkan si bodoh itu?" Tanya Tyaga dengan tatapan sangat serius pada Tania.


"Apa yang kau katakan?"


"Jangan pindah, tetaplah di sini. Aku ingin kau mendengarkan perkataanku." Seru Tyaga.


Tania terdiam mendengar perkataan Tyaga padanya. Dia mencoba menyelidiki maksud dari perkataan pemuda itu.


"Kenapa aku harus mendengarkan permintaanmu? Aku tidak punya alasan untuk itu. Sudah aku bilang tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanku. Aku akan tetap pindah." Jawab Tania dengan mantap.


"Apa kau yakin? Kau tidak ingin mendengarkan permintaanku? Anggap saja ini permintaanku yang terakhir" Sekali lagi Tyaga berkata seperti itu dengan harapan Tania mengubah keputusannya seperti dirinya yang mengubah keputusannya saat gadis itu mengatakan kalau itu merupakan permohonannya yang terakhir. "Tetaplah di sini, sampai kau lulus sekolah. Apa itu sulit?"


Tania beranjak berdiri dari duduknya dan melihat pada Tyaga dengan sangat serius.


"Ada apa denganmu? Aku tahu kau tidak mengatakannya dengan bersungguh-sungguh meminta hal itu padaku." Jawab Tania dengan sangat dingin. "Sebaiknya kau pulang, aku tidak akan mengubah keputusanku. Aku juga bisa menunggu di sini sendiri. Kau bisa meninggalkan aku sekarang."


"Huuft!!" Tyaga menghela napas dengan sangat kesal sambil mengalihkan pandangannya pada Tania.


Tyaga melangkah maju berniat pergi dari sana, namun ketika di langkahnya yang ketiga, pemuda itu berhenti dan menoleh kembali pada Tania.


"Apa kau yakin tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanmu?" Sekali lagi Tyaga mengulang pertanyaan yang sama.


"Baguslah, aku berharap tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanmu. Jika kau mengubahnya, itu sama saja kalau apa yang kau katakan tadi di mobil memang benar. Kau memang tidak seperti dulu lagi." Ucap Tyaga setelahnya melangkah pergi meninggalkan Tania sendiri di sana.


Tania kembali duduk sambil memikirkan perkataan Tyaga tersebut.


Gadis itu merasa kalau keputusannya sudah sangat bulat. Dia ingin segera pindah dan pergi dari kota ini dan hidup kembali seperti itu.


Dia ingin melupakan semua hal mengenai apa yang terjadi padanya, terutama mengenai perasaannya pada Ares.


Hal tersebutlah yang membuatnya memutuskan untuk pindah. Karena perasaan itu membuat gadis tersebut merasakan perasaan yang tidak nyaman, apalagi ketika Ares memintanya untuk tidak lagi menemuinya.


"Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Aku tidak harus merasakannya terus menerus. Ini benar-benar membuat aku merasa tidak nyaman." Gumam Tania.


Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi dan muncul nama Ares di layarnya. Pemuda itu meneleponnya.


Tania hanya memandangi layar ponsel yang ada di genggamannya, tidak berniat dirinya untuk menjawab telepon pemuda itu.


Hingga berkali-kali Ares menelepon, namun Tania tetap tidak mengangkatnya.


"Kenapa dia harus datang dan meminta maaf saat aku sudah memutuskan untuk pergi?" Ucap Tania sambil memandang nama Ares yang muncul di layar ponselnya.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan mengenai penerbangan yang akan Tania tumpangi. Semua penumpang sudah dipersilakan untuk melakukan check-in.


Tania memasukkan ponselnya ke saku jaket yang dipakainya, lalu menyandangkan tas kecil yang dibawanya dan membawa kedua koper besar miliknya menuju ke tempat check-in.


Entah kenapa langkahnya menjadi terasa begitu berat saat ini padahal dia sudah memutuskan untuk pergi namun sekarang ada rasa yang enggan untuknya.


Meski begitu gadis itu tepat melangkahkan kakinya menuju tempat check-in. Dikeluarkannya tiket dan berkas lainnya ketika sampai di depan konter tempat check-in, namun tiba-tiba seseorang datang merampas semua itu dari tangannya.


Tania sangat terkejut hingga menoleh pada pemuda yang datang dengan merampas semua itu.


"Kenapa kau tidak mau mendengarkan perkataanku?" Seru pemuda tersebut dengan nada yang terdengar sangat kesal.


...@cacing_al.aska...


...----------------...


Halo para pembaca novel Penebus Dosa Sang Mafia. Kali ini author hadir untuk mempromosikan novel terbaru, bisa dibilang adalah lanjutan dari kisah Vernon dan Vivian. Ya, walaupun nggak ada kaitannya dengan mereka 🤭


Kisah di ambil dari anak perempuan Arthur dan Renata. genre-nya sedikit mirip dari cerita PDSM.


Yuk di intip novel terbaru dengan judul Belenggu Dosa Putri Mafia.



Berikut sinopsis singkatnya.


Ruella Arthur La Nostra adalah putri pertama dari pimpinan mafia yang terbesar di Italia. Wanita berusia 22 tahun itu mencintai seorang duda yang merupakan pengusaha besar di negara tersebut. Meski usia pria bernama Donzello d'Este tersebut dua kali lipat dari usianya, Ruella ingin menikah dengannya.


Sebagai permintaan hadiah ulang tahun, meminta hadiah ulang tahun pada Donzello yang merupakan teman dari ayahnya. Hadiah tersebut adalah menikah dengannya.


Meski pada akhirnya mereka menikah, naasnya pertemuannya dengan seorang pria di klub malam membuat pernikahannya menjadi tidak berjalan dengan lancar. Pasalnya Ruella yang bercinta dengan pria tersebut ternyata mengandung anaknya.


Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah, pria yang merupakan ayah dari anak dari kandungannya merupakan anak dari Donzello bernama Savero d'Este.


Bagaimana kah kelanjutan dari kisah mereka?


Entahlah, author juga masih bingung 🤣


Baca ajalah, kali aja suka 🤭


...****************...


Yuk langsung di subscribe dan ikuti terus kisahnya. Jangan lupa beri dukungannya dengan like, komen, vote, rate dan beri gift juga boleh.

__ADS_1


Kasih kritik dan saran dipersilakan ya.


__ADS_2