
Sabtu pagi menjelang siang, Tania keluar dari kamarnya dan duduk di tempat duduk besar yang ada di tengah pekarangan. Gadis itu menatap ke arah luar pagar untuk menunggu sesuatu.
Tadi malam, ketika dirinya pulang dari mall, gadis itu langsung memesan jaket kulit untuk hadiah ulang tahun Ares di toko daring, dan saat ini Tania menjadi tidak sabar untuk menunggu benda itu tiba.
"Kenapa lama sekali? Padahal aku memakai super ekspres untuk pengirimannya." Keluh Tania yang tidak sabar menunggu. "Sudah diantar sejak jam tujuh pagi tadi, seharusnya tidak lama sudah sampai tapi ini sudah jam sepuluh kenapa belum datang?"
"Kau sedang menunggu sesuatu?" Tanya Kayden yang barusan keluar dari rumahnya dan berjalan mendekati Tania. "Tumben sekali kau berada di sini saat jam segini."
"Ya, aku sedang menunggu pesanan yang aku beli tadi malam." Jawab Tania sedikit merasa tidak enak kalau mengatakan hal itu adalah hadiah yang akan dirinya berikan pada Ares.
"Nanti mau pergi bersama ke acara ulang tahunnya?" Tanya Kayden.
Tania langsung menoleh pada Kayden karena tidak dia duga kalau Kayden berniat datang ke acara ulang tahun Ares.
"Kau juga akan datang ke sana?" Tatap Tania dengan wajah terkejut. "Aku pikir kau tidak akan datang ke acara itu."
"Secara khusus dia mengundang wali kelasnya yang berkharisma ini, jadi tidak mungkin aku tidak hadir." Jawab Kayden dengan senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya.
Tania mendengus mendengar ucapan Kayden. Tidak dirinya kira kalau Ares dan Kayden menjadi akrab sekarang.
"Acaranya jam tujuh malam, kan? Kalau begitu kita bisa berangkat jam enam sore saja. Kau pasti ingin lebih cepat datang kan." Ujar Kayden.
"Kau ini bicara apa?!" Oceh Tania malas menanggapi perkataan Kayden yang terdengar seperti menggodanya. "Ya, baiklah."
Tiiinnn tiinnn!
Suara klakson motor terdengar di luar pagar, saat bersamaan sebuah motor berhenti. Tania langsung beranjak berdiri untuk melihatnya.
"Akhirnya yang kau tunggu datang juga." Seru Kayden.
Tania segera bergegas menuju luar pagar untuk mengambil barang yang sudah dinantikannya itu. Setelahnya langsung bergegas kembali masuk ke pekarangan, menuju kamarnya.
"Apa itu hadiah untuk Ares?" Tanya Kayden tepat sekali.
Tania tidak menjawab, gadis itu sedikit merasa malu sambil membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
"Mereka berdua masih saja tidak mau jujur mengatakan yang sebenarnya." Ucap Kayden dengan tersenyum.
Tiba-tiba ponselnya masuk sebuah panggilan telepon dari Ares. Melihatnya, membuatnya langsung mengetahui hal apa yang hendak diberitahukan muridnya itu padanya.
"Pak Guru, dia sudah datang. Baru saja Hany mengabariku kalau dirinya dan keluarganya sudah menuruni pesawat. Saat ini dia dalam perjalanan menuju rumahku." Seru Ares.
Seketika dada Kayden terasa tersentak kaget dan bahkan lidahnya terasa kelu hingga pria itu tidak bisa mengeluarkan suaranya. Hal yang dirinya nantikan akhirnya akan segera terwujud, yaitu bertemu dengan wanita yang sudah sangat lama di rindukannya.
"Kau mendengarku, kan Pak Guru?"
"Y—ya, aku mendengarnya." Jawab Kayden.
"Kapan kau akan menemuinya? Saat dia sudah sampai di rumahku, aku akan mengabarimu." Ujar Ares.
"Baiklah." Jawab Kayden.
__ADS_1
Di dalam kamar Tania sedang membuka paket berisi hadiah yang akan dia berikan untuk Ares. Sebuah jaket kulit yang dibelinya dari toko daring semalam.
"Aku rasa ini bagus juga. Jika dilihat sekilas tidak ada bedanya dengan jaket kulit yang harganya sepuluh kali lipat dari harga jaket ini." Ujar Tania memperhatikan jaket yang di angkatnya dengan kedua tangan.
Ponselnya berbunyi. Setelah menelepon Kayden, Ares menelepon Tania.
"Ada apa?" Tanya Tania menjawab telepon Ares sambil duduk di kursi meja belajarnya.
"Jam berapa kau akan datang? Kau bisa datang lebih cepat? Kalau mau, aku bisa menjemputmu." Tanya Ares.
"Kenapa aku harus datang lebih cepat?" Tania balik bertanya. "Aku akan datang bersama Kay. Lagi pula untuk apa kau menjemputku?"
"Ba—baiklah kalau begitu. Aku hanya bertanya saja. Ya sudah, datanglah bersama Pak Guru."
Setelah berkata demikian, Ares langsung menutup teleponnya. Pemuda itu menjadi tampak heran pada dirinya sendiri.
"Seharusnya aku tidak meneleponnya. Aku jadi seperti menantikan kehadirannya." Gumam Ares menjadi merasa bodoh. "Ya, meski itu benar tapi aku tidak boleh terlihat sejelas itu!"
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Pemuda itu heran saat melihat nama Tania yang meneleponnya.
"Ada apa?" Tanya Ares heran.
"Selamat ulang tahun." Ucap Tania. "Aku akan meminta Kay untuk datang lebih cepat nanti."
Sebelum Ares menjawabnya, Tania sudah lebih dulu menutup teleponnya. Meski begitu tersungging sebuah senyuman di bibir pemuda itu saat mendengar ucapan Tania.
...***...
"Datanglah lebih cepat ke sini, An. Jujur saja sebenarnya aku sama sekali tidak ingin ulang tahunku dirayakan seperti ini." Ujar Ares. "Aku bukan lagi anak kecil, tapi ibuku sangat ingin merayakannya."
"Ya, tidak masalah. Kemarinpun Henry merayakan ulang tahunnya, sayangnya kau tidak hadir." Jawab Anton. "Aku akan bersiap-siap sekarang dan langsung ke rumahmu. Sediakan makanan yang banyak untukku."
"Kau tenang saja, akan aku pisahkan semuanya khusus untukmu." Tawa Ares.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncul Aphrodite dari luar.
"Kak Es, Paman Lion dan yang lainnya sudah sampai. Cepatlah temui mereka, Paman mencarimu." Seru Aphrodite.
"Benarkah?" Tanya Ares terkejut.
...***...
Tania duduk di meja belajar sehabis mengadakan les privat bersama murid-muridnya. Gadis itu melihat hadiah ulang tahun yang sudah dibungkusnya dengan kertas kado bermotif Beruang.
Tatapannya teralihkan pada suatu benda, yaitu lensa kontak yang terletak di atas wadah plastik, bercampur dengan penghapus dan benda lainnya. Di ambilnya benda itu segera.
Benda tersebut adalah pemberian Ares tempo hari. Saat ini terbersit pikiran untuk memakainya ke pesta ulang tahun Ares.
"Bagaimana cara memakai benda ini?" Tanya Tania dengan memperhatikan kemasan lensa kontak tersebut.
Ponselnya berbunyi, kali ini Tyaga meneleponnya. Tania tahu, itu berarti rapat komite sudah berakhir.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Tania saat menjawab telepon Tyaga.
"Seperti yang sudah aku perkiraan, mereka menyetujuinya dan saat ini peraturan yang baru sudah langsung diterapkan." Jawab Tyaga. "Aku berterimakasih padamu karena membuat peraturan tersebut."
"Tidak masalah, kalau bukan kau yang membawanya langsung ke komite sekolah, peraturan itu juga belum tentu disetujui." Jawab Tania.
"Ah iya, untuk sistem poin, aku belum mengajukannya. Kemungkinan akan aku ajukan saat tahun ajaran baru berlangsung." Ujar Tyaga. "Kau bisa bernapas lega untuknya. Tapi pastikan jangan sampai dia melanggar peraturan sekolah. Walau aku menantikan waktu untuk mengeluarkannya dari sekolah, tapi aku masih menghormatimu, Mantan Ketua OSIS."
Pikiran Tania menjadi sedikit risau setelah mendengar peraturan baru sudah ditetapkan. Itu membuatnya menjadi takut kalau Ares akan melanggar peraturan lagi.
Mengingat kejadian kemarin saat Ares berniat memberi pelajaran Shane setelah melihat Dyara yang terluka karena Shane. Jika itu sampai terjadi, Ares pasti akan langsung dikeluarkan.
Tok tok tok!
Pikiran Tania terpecah saat suara ketukan pintu. Segera gadis itu beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu.
"Aku meneleponmu tapi teleponmu sibuk." Seru Kayden terlihat tersengal-sengal.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat terburu-buru?" Tanya Tania heran melihat wali kelasnya.
"Bersiaplah, kita akan ke rumah Ares lebih cepat," ujar Kayden.
...***...
Sehabis memberitahu Kayden mengenai kehadiran Hany di rumahnya, Ares langsung mempersiapkan dirinya karena tahu Kayden akan datang bersama dengan Tania.
Pemuda itu menata rambutnya dengan sedemikian rupa dengan hati yang senang.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di meja belajar berbunyi. Muncul nama salah satu temannya yang bernama Brodie.
"Ada apa, Bro? Aku sedang bersiap-siap untuk pestaku. Datanglah lebih cepat. Anton bilang, dia juga akan datang lebih cepat, dan sepertinya saat ini dia sudah dalam perjalanan." Seru Ares masih sambil mengatur rambutnya.
"Es, baru saja Anton meneleponku. Dia bilang kalau Shane menghadang mobilnya bersama dengan kelompoknya. Saat ini aku bersama dengan yang lain ingin membantu Anton. Namun kami tidak tahu di mana dia, kami semua masih menyisir daerah danau dan mencari informasi dengan bertanya pada yang lainnya." Ujar Brodie.
Mendengar kabar tersebut, membuat Ares langsung naik pitam. Pemuda itu langsung menyambar jaketnya dan segera berjalan keluar kamar.
Ketika melewati keluarganya yang sudah berkumpul di lantai satu pun, dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan ibunya dengan tetap melangkah ke luar pintu.
Dalam pikirannya saat ini hanyalah ingin menolong sahabatnya yang dalam bahaya.
Segera pemuda itu menaiki motornya hendak menggasnya sedemikian cepat, sedangkan kedua adiknya terus memanggil dan terus bertanya padanya mengenai apa yang terjadi, namun tidak dihiraukannya.
Namun sebelum Ares menjalankan motornya, masuklah mobil Kayden. Tania yang berada di dalam mobil itu, melihat heran pada Ares yang berada di atas motornya. Gadis itu segera turun dan menghampiri pemuda tersebut.
"Kau mau kemana?" Tanya Tania dengan tatapan heran.
"Minggirlah, aku harus menolong sahabatku. Saat ini dia dalam bahaya!!" Seru Ares dengan penuh emosi di balik helm yang dikenakannya.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi." Jawab Tania yang berdiri di depan motor Ares dengan tatapan dingin pada pemuda itu.
...@cacing_al.aska...
__ADS_1