PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
029. KELUAR DARI RS


__ADS_3

Tania menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Ares, setelah pemuda itu pergi.


Gadis itu sangat tidak ingin membebani ibunya, sehingga dia sama sekali tidak ingin ibunya itu tahu kalau dirinya masuk rumah sakit.


"Kau keterlaluan sekali. Kau tidak perlu sampai mengusirnya seperti itu." Ujar Dyara membuat Tania menoleh padanya. "Aku rasa kak Ares tidak salah apapun. Kau hanya bersikap kasar padanya untuk hal yang tidak terlalu penting."


Tania menahan dirinya untuk tidak menjawab perkataan gadis yang tidak tahu apapun mengenai dirinya tersebut, dan memilih untuk berbaring saja.


Meskipun dirinya kesal pada Ares, namun sejujurnya dia juga sedikit merasa menyesal karena sepertinya dirinya memang terlalu berlebihan marah padanya, bahkan sampai mengusirnya seperti itu.


Ponsel Tania berbunyi kembali, kali ini Kayden yang menelepon gadis itu untuk menanyakan mengenai kabarnya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?" Tanya Kayden.


"Ya, aku semakin baik-baik saja. Dokter juga sudah mengijinkan aku pulang besok setelah dia memeriksa sekali lagi." Jawab Tania. "Kay, besok bisa kau menjemputku? Aku harus segera pulang dan membeli kacamata sebelum siangnya mengajar private."


Dyara yang berbaring menyimak percakapan Tania di telepon tersebut.


"Memangnya murid berandal itu ke mana? Bukankah dia bilang kalau akan bertanggungjawab untuk menjagamu hingga kau sembuh? Apa sekarang dia menarik perkataannya?" Suara Kayden terdengar kesal.


"Aku mengusirnya. Apa kau bisa menjemputku? Aku akan membayar jasamu." Ujar Tania yang sebenarnya merasa tidak enak hati meminta bantuan Kayden.


"Aku ini wali kelasmu, bukan supir taksi." Seru Kayden dengan nada kesal. "Bahkan sebelum jadi wali kelasmu, kita sudah berteman. Kau seperti sedang menghinaku."


Tania tertawa kecil mendengar ucapan Kayden.


"Ya, maafkan aku. Datanglah pagi-pagi sekali besok. Aku ingin segera meninggalkan rumah sakit secepatnya." Ucap Tania.


Tania meletakkan ponselnya ke meja samping ranjang dan berniat untuk tidur kembali.


"Kau keterlaluan, kau meminta pria lain untuk menjemputmu setelah mengusir Kak Ares." Ucap Dyara yang sejak awal memperhatikan Tania.


Tania menoleh pada gadis itu dengan tatapan datar. Gadis itu tampak tidak tertarik untuk menjawab apapun perkataannya karena bagi dirinya, Dyara tidak tahu apapun mengenai dirinya.


"Kau membuatku iri karena sepertinya kau memiliki beberapa pria yang memperhatikan dirimu." Tambah Dyara yang berbaring mengarah ke Tania.


Perkataan gadis itu membuat Tania langsung menoleh padanya. Mendengar kalimat yang dikatakan Dyara membuatnya heran.


"Bukannya kau pun juga memiliki banyak pria yang memperhatikanmu? Lagi pula mereka tidak benar-benar memperhatikanku. Mereka hanya merasa apa yang terjadi padaku hanyalah tanggung jawab mereka." Jawab Tania.

__ADS_1


Dyara langsung merubah posisi tidurnya untuk menghindari tatapan Tania.


Tania yang tertidur dikejutkan dengan suara ponsel berdering. Gadis itu membuka matanya dan melihat Dyara menerima sebuah panggilan telepon.


"Iya, aku tidak akan merepotkanmu... Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Kau tidak perlu menghubungiku lagi." Ucap Dyara dengan berbisik.


Dyara melihat Tania yang terbangun dan langsung segera merubah posisi duduknya.


Tania memperhatikan Dyara yang berbicara di telepon, gadis itu terlihat seperti ucapannya tidak ingin didengar olehnya karena Dyara berbicara sambil duduk memunggunginya dan suaranya juga sangat perlahan.


"Diamlah, Bu! Aku sedang sibuk saat ini. Jangan meminta uang padaku terus."


Samar-samar Tania mendengar kalimat tersebut terucap dari Dyara. Itu sedikit membuat gadis itu menjadi berpikir sesuatu.


"Maaf ya mengganggu tidurmu." Ujar Dyara tersenyum saat selesai menelepon.


"Tidak masalah, aku pun juga menelepon beberapa kali tadi." Jawab Tania.


"Ibuku meneleponku setelah aku mengatakan kalau besok aku bisa pulang. Tapi sepertinya dia tidak bisa menjemputku karena saat ini kedua orang tuaku sedang berada di Inggris untuk urusan bisnis." Seru Dyara. "Kau tahu kan bagaimana sibuknya para pengusaha besar... Kadang aku juga merasa kesepian karena mereka jarang di rumah. Tapi mau tidak mau aku harus menerimanya."


"Sejujurnya aku tidak mengerti karena aku tidak pernah merasa kesepian seperti itu. Aku selalu sibuk belajar dan mencari uang, tidak ada waktu untuk terbuai dengan semua perasaan yang tidak penting." Jawab Tania dengan dingin seperti biasanya.


Dyara hanya bisa terdiam pada perkataan Tania yang terdengar sangat dingin itu.


Tania merapikan semua barangnya dan memasukkan ke dalam tas, saat Kayden masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Dyara sedang keluar dari ruangan setelah perawat melepaskan jarum infus dari tangan mereka.


"Kau sudah siap pulang?" Tanya Kayden pada Tania saat masuk ke dalam ruangan tersebut. "Dokter sudah mengijinkannya kan? Aku baru saja ke bagian administrasi dan mereka bilang kalau semua pembayarannya sudah terselesaikan."


"Ya, ibu dari si bodoh itu yang membayarnya. Dia bilang sebagai bentuk permintaan maaf padaku karena putranya yang menyebabkan aku mengalami hal seperti ini." Jawab Tania sembari menutup tas miliknya. "Aku akan mengembalikan uangnya saat sudah mengumpulkannya nanti."


"Tidak perlu, aku yang akan me—"


"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak ingin memiliki hutang budi pada siapapun. Aku sendiri yang akan membayarnya nanti." Sela Tania yang sudah dapat memperkirakan apa yang ingin dikatakan Kayden padanya.


Kayden tidak bisa berkata apapun lagi. Pria itu memilih untuk tidak membahasnya lagi karena meski dipaksa, Tania juga tetap tidak ingin menerima bantuannya.


"Sekarang kita pulang?" Tanya Kayden mengambil tas milik Tania.


"Tunggu sebentar." Jawab Tania.

__ADS_1


Pintu terbuka dan muncul Dyara berjalan masuk ke dalam ruangan. Gadis itu melihat pada Tania dan Kayden yang menoleh pada kehadirannya.


"Apa sudah selesai?" Tanya Tania pada Dyara.


"Apa?" Tanya Dyara bingung. "Aku habis keluar mencari udara segar."


"Kau akan pulang juga kan? Apa jemputanmu sudah tiba? Jika belum ikutlah bersama kami, kami akan mengantarmu pulang dulu." Ucap Tania.


"Kau tidak ada yang menjemput? Kau yang tadi di ruang administrasi kan? Ternyata kau pasien juga." Ujar Kayden.


Dyara terlihat bingung mendengar ucapan Kayden. Gadis itu memutar bola matanya tampak berpikir.


"Ikutlah bersama kami, kau bisa bilang pada supirmu untuk tidak menjemputmu." Seru Tania sambil berjalan mendekati Dyara.


Akhirnya Dyara tidak bisa menolak tawaran tersebut. Gadis itu ikut bersama dengan Tania, menumpang di mobil Kayden.


Mereka menuju kawasan perumahan yang sangat mewah yang berada di kota tersebut. Kawasan yang sama mewahnya dengan rumah Ares, namun lokasi yang berbeda. Sebelumnya, mereka hendak menuju rumah Dyara setelah mengikuti petunjuk gadis itu untuk menuju tempat tinggalnya berada.


"Ternyata kau anak orang kaya." Ujar Kayden saat memasuki kawasan perumahan tersebut. "Katakan di mana rumahmu? Jangan sampai terlewat ya." Kayden melihat Dyara dari pantulan spion mobil.


"Maaf, sebaiknya aku turun di sini saja dulu. Ada sesuatu yang ingin aku beli." Seru Dyara saat mobil melintasi daerah pertokoan di dekat pintu gerbang komplek perumahan tersebut.


"Kami akan mengantarmu sampai rumah." Jawab Kayden.


"Tidak perlu, aku akan menelepon supirku saat selesai membeli apa yang ingin aku beli." Tolak Dyara dengan sebuah senyuman.


Kayden menghentikan mobilnya di pinggir jalan setelah mendengar permintaan Dyara yang ingin turun.


"Padahal kami bisa mengantarmu sampai rumah. Biarkan kami menunggumu sebentar." Ucap Tania menoleh pada Dyara sebelum gadis itu turun.


"Tidak perlu, aku berterimakasih atas kebaikan kalian." Jawab Dyara. "Aku keluar sekarang ya."


"Hati-hatilah." Ucap Kayden.


Dyara memberikan senyumnya sebagai respon atas ucapan Kayden dan setelahnya keluar dari mobil.


Tania yang duduk di kursi depan memperhatikan Dyara melalui kaca spion. Dia melihat Dyara terus berdiri di pinggir jalan dan tidak langsung segera masuk ke dalam minimarket. Hal itu membuatnya sedikit heran.


"Ada apa?" Tanya Kayden yang melihat Tania terus mengarahkan pandangannya ke kaca spion di samping pintu mobil.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa." Jawab Tania langsung merubah pandangannya dan mengambil ponselnya untuk membaca sebuah pesan yang baru saja dia terima.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2