PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
085. MENAHAN DIRI


__ADS_3

Kehadiran Ares bersama dengan Dyara membuat Tania terkejut. Dia tidak mengerti apa yang terjadi saat ini di antara kedua orang itu.


Semua orang yang ada di sana juga berbisik dengan mengatakan kalau Ares dan Dyara semakin hari semakin menunjukkan kebersamaan mereka dan saat ini semua menjadi jelas, kalau kedua orang itu merupakan sepasang kekasih.


Tania hanya berdiri melihat ke arah parkiran yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, saat Ares membantu Dyara turun dari motor, bahkan pemuda itu juga membantunya melepas helm, sama seperti saat itu pada Tania.


Sedangkan Tyaga berjalan menghampiri Ares yang masuk ke dalam gerbang sekolah dengan melajukkan motornya terlalu cepat, tidak sesuai dengan ketentuan peraturan sekolah.


"Seharusnya kau tidak melajukkan motormu dengan kecepatan yang melebihi 10 km/jam saat ada di daerah sekolah." Tegur Tyaga.


Ares menatap sebentar ke arah Tania yang berada di jarak sekitar sepuluh meter darinya, setelahnya melihat pada Tyaga yang berdiri di hadapannya.


"Maafkan aku, aku lupa. Besok tidak akan aku ulangi lagi." Ucap Ares dengan entengnya setelah itu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Dyara bergegas menyusul Ares dengan langsung merangkul lengan pemuda tersebut. Mereka berdua berjalan memasuki gedung sekolah dengan santainya di saat semua mata melihat pada mereka berdua.


Tania melanjutkan perjalanannya dengan memasuki gedung sekolahnya dan terus berjalan ke arah kelas. Langkahnya sangat berat karena kondisi tubuhnya yang terasa semakin kurang sehat.


Meski begitu, gadis itu tetap berusaha meyakinkan dirinya kalau dia baik-baik saja.


Bel masuk berbunyi saat yang bersamaan ketika dirinya melangkah masuk ke dalam kelas. Langkahnya sempat tertahan saat melihat Ares berpindah tempat duduk. Yang awalnya pemuda itu duduk di belakang mejanya, saat ini dia sudah berada di meja yang terletak paling pojok di ruang kelas.


Pemuda itu melihat kehadiran Tania sejenak namun saat Tania melihat padanya, Ares langsung membuang muka dan melihat ke jendela kelas.


Tania bersikap biasa saja dengan segera duduk di kursinya.


Ketika jam istirahat tiba, Tania berada di Perpustakaan. Hanya tempat itu yang bisa menjadi tempatnya menghabiskan waktu istirahat saat ini.


Gadis itu berusaha untuk berkonsentrasi belajar, namun tubuhnya yang masih demam membuatnya tidak bisa melakukannya walau seberusaha apapun dia coba.


Saat jam pelajaran tadi pun, sama sekali dirinya tidak bisa fokus. Keringat dingin juga mengucur di tubuhnya.


Sekarang, gadis itu meletakkan kepalanya ke atas meja untuk memejamkan matanya sesaat. Sejak pagi, Tania belum makan apapun, rasa pahit yang dia rasakan membuatnya enggan untuk makan apapun. Perutnya yang kosong menambah rasa tidak nyaman di dalam dirinya.


Akhirnya Tania memejamkan matanya dengan tertidur sangat pulas.


"Bangunlah! Apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Tania membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya sangat lemas bahkan untuk mengangkat kepalanya pun dirinya harus mengerahkan tenaganya.


"Sepertinya kau sedang sakit."


Tania mengangkat kepalanya dan duduk dengan tegak. Dilihatnya Tyaga berdiri di sampingnya. Pemuda tersebut yang membangunkannya.


"Jam berapa saat ini? Aku tertidur sangat pulas." Ucap Tania.


"Jam istirahat berakhir lima belas menit yang lalu." Jawab Tyaga.


Pemuda itu menatap wajah Tania yang semakin pucat jika dibandingkan tadi pagi. Secara reflek pemuda itu memegang kening Tania untuk mengukur suhu tubuh gadis itu.


"Kau demam?" Tatap Tyaga dengan ekspresi sangat terkejut. "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Bangunlah."


"Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat sebentar." Jawab Tania. "Jika boleh aku ijin pulang untuk beristirahat. Apa kau bisa membantuku untuk memintakan ijin pada wali kelasku? Saat ini mata pelajarannya sedang berlangsung di kelasku."


"Tidak masalah, aku juga akan mengantarmu pulang." Jawab Tyaga.


Tyaga segera berjalan menuju kelas Tania untuk memintakan ijin gadis itu agar dibolehkan pulang agar bisa beristirahat.


"Permisi, aku ada keperluan dengan Pak Guru." Ujar Tyaga saat membuka pintu kelas.


Terutama dengan Ares, yang langsung menancapkan tatapan tajam pada pemuda yang membuat dirinya selalu kesal saat melihatnya.


"Ya, ada apa?" Tanya Kayden berjalan mendekati Tyaga yang masih berada di ambang pintu.


"Mantan Ketua OSIS... Maksudku, aku di sini untuk meminta ijin karena Tania sedang sakit. Dia memintaku untuk mengatakannya pada Pak Guru agar diijinkan pulang."


"Tania? Pantas saja dia tidak kembali saat jam istirahat berakhir." Ujar Kayden terkejut. "Bagaimana keadaannya?"


"Saat istirahat tadi, tidak sengaja dia tertidur di Perpustakaan. Karena itu dia tidak langsung kembali ke kelas. Saat ini dia masih berada di sana." Jawab Tyaga. "Jika diberikan ijin, maka aku akan mengantarnya pulang agar dia bisa beristirahat."


Sayup-sayup terdengar suara para murid di kelas membahas apa yang dikatakan Tyaga barusan.


Ares yang juga mendengar kabar mengenai Tania yang sakit, membuat dirinya sedikit merasa cemas, akan tetapi dia berusaha untuk tidak memikirkan keadaan gadis itu. Rasa marahnya masihlah besar pada Tania, sehingga pemuda itu menghalau perasaan khawatirnya pada gadis itu.


Kayden memberikan ijin pada Tania untuk pulang agar gadis itu beristirahat di rumah.

__ADS_1


Tyaga kembali ke Perpustakaan untuk menemui Tania lagi dan membantu gadis itu berjalan menuju mobilnya untuk di antarkan pulang oleh pemuda itu.


Ketika Tyaga pergi dari kelasnya, Ares beranjak dari duduknya dan berjalan, berniat keluar kelasnya.


"Aku ijin ke toilet." Ujar Ares pada Kayden tanpa menghentikan langkahnya dan langsung berjalan keluar kelas.


Akan tetapi alasan Ares tersebut bukanlah yang sesungguhnya, karena pemuda itu berjalan ke arah Perpustakaan.


Ya, tujuannya untuk melihat Tania yang dibilang Tyaga sedang sakit.


Pada kenyataannya, pemuda itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengkhawatirkan Tania.


Saat Ares hampir sampai di Perpustakaan, bersamaan dengan Tania dan Tyaga berjalan keluar dari pintu Perpustakaan.


Segera Ares bersembunyi di ruangan yang ada di samping Perpustakaan. Beruntung pintu ruangan itu terbuka sehingga dirinya bisa bersembunyi di sana.


Pemuda itu memperhatikan Tania yang berjalan terlihat sangat lemah dengan wajah pucat. Tyaga hanya mengiringi langkah gadis itu dengan wajah yang terlihat cemas kalau Tania terjatuh.


Melihatnya, Ares merasa semakin khawatir pada Tania. Baru kali ini dia melihat Tania terlihat seperti itu. Bahkan sewaktu punggung gadis itu sakit, dia tidak terlihat sangat lemah seperti saat ini.


Akan tetapi Ares tidak melakukan apapun. Pemuda itu menahan dirinya lagi agar tidak mengikuti kata hatinya yang ingin menghampiri gadis itu dan membawanya ke rumah sakit.


Tania dan Tyaga sudah berada di luar gedung sekolah, berjalan ke arah parkiran.


Tiba-tiba langkah Tania begitu lemah dengan pandangan yang menjadi gelap sesaat, itu membuat tubuhnya goyah dan hampir terjatuh. Beruntung Tyaga memegang kedua pundak gadis itu untuk menopangnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Tyaga sedikit terkejut saat Tania seperti akan tumbang. "Apa sebaiknya kita ke rumah sakit? Kau terlihat begitu sangat lemah. Aku bisa mengantarmu ke rumah sakit. Tadi Pak Guru juga menghimbau agar aku membawamu ke rumah sakit untuk diperiksa."


"Tidak perlu, aku akan kembali sehat setelah beristirahat di rumah. Ini bukan sesuatu yang serius." Jawab Tania sambil kembali melangkah dengan perlahan.


Tyaga ikut melangkah menyusul gadis itu menuju mobilnya terparkir.


Ares mengikuti mereka berdua hingga sampai di pintu gedung sekolah. Dia hanya menatap pada apa yang terjadi dengan terus menahan dirinya untuk tidak melakukan apapun.


Pemuda itu masih terus berada di sana sampai Tania pergi bersama dengan Tyaga meninggalkan sekolah dengan mobil pemuda itu.


"Apa yang aku lakukan di sini? Seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan gadis sepertinya." Gumam Ares sambil membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam kelas.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2