PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
090. SEBUAH PENYESALAN


__ADS_3

"Tolong biarkan aku ikut bersamamu." Ucap Tania memohon lagi.


"Tidak, kau harus tetap di sini dan beristirahat. Untuk apa kau ke sana?" Jawab Kayden. "Beristirahatlah, jika tidak keadaanmu akan semakin buruk lagi."


Tania melihat kepergian Kayden dengan menahan dirinya agar mengikuti perkataan pria yang sudah dianggapnya seperti seorang kakak tersebut.


Namun perasaannya yang ingin datang menemui Ares di kantor Polisi membuat Tania tidak bisa menahan dirinya untuk tidak pergi.


Secara perlahan, gadis itu melepaskan jarum infus dengan menekannya agar tidak terjadi apapun. Lalu bergegas turun dari ranjang.


Kayden berjalan mengarah mobilnya terparkir dan hendak membuka pintu mobilnya.


"Kay!"


Segera pria itu menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Tidak dia sangka kalau Tania datang menghampirinya.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Kayden sangat heran saat Tania berjalan mendekatinya.


"Biarkan aku ikut bersamamu." Jawab Tania dengan wajah yang memohon dengan tangan kanannya memegang lengan kirinya di mana ada bekas jarum infusan.


Mau tidak mau Kayden membawa Tania bersamanya. Dia tahu kalau gadis itu pasti tidak akan mungkin mendengarkan perkataannya dan akan terus memaksa ikut.


Kayden bersama dengan Tania berjalan masuk ke kantor polisi. Saat yang bersamaan Tyaga juga datang dari arah yang berlawanan.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Tania heran melihat Tyaga berada di sana.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Bukankah kau masih di rawat di rumah sakit? Kenapa kau ada di sini?" Tyaga membalikkan pertanyaan Tania karena pemuda itu tidak mengerti kenapa Tania yang seharusnya masih belum sembuh malah datang ke kantor Polisi. "Ya sepertinya aku tahu kenapa kau sampai ke sini. Mereka berkelahi di restoran milik keluargaku dan secara kebetulan, tadi sedang datang untuk makan malam di restoran itu."


"Sebaiknya ayo masuk." Seru Kayden.


Mereka bertiga langsung masuk ke dalam kantor polisi. Ares bersama dengan sedang duduk di depan hadapan seorang polisi. Sedangkan Shane yang wajahnya di penuhi luka duduk di sofa yang tidak jauh dari sana.


"Permisi, saya adalah wali kelas dari Ares." Ujar Kayden.


"Sebagai gurunya aku minta maaf." Ujar Kayden pada Shane meminta maaf pada pemuda itu.


Kayden meminta Shane agar tidak memperpanjang masalah tersebut dan membebaskan Ares dengan menyelesaikan semua urusan yang terjadi secara kekeluargaan.


"Apa-apaan, mana mungkin aku membebaskannya begitu saja. Dia sudah memukuliku seperti ini. Aku akan menuntutnya agar dia di penjara." Jawab Shane dengan penuh kekesalannya.


Tania berjalan mendekati arah Kayden yang sedang berbicara dengan Shane setelah mendengar jawaban pemuda itu.

__ADS_1


"Lebih baik semuanya diselesaikan dengan damai. Aku juga yakin kalau kau tidak ingin sampai pihak sekolahmu tahu, bukan? Itu akan buruk karena sebelum ini kau juga bermasalah setelah melakukan kekerasan pada murid di sekolah kami." Seru Tania berbicara dengan Shane.


Wajah Shane berubah. Pemuda yang pada dasarnya nyalinya tidak lebih besar dari rasa sombongnya itu menjadi ketakutan.


"Kalau semuanya diselesaikan dengan damai, maka tidak akan ada masalah yang terjadi." Tambah Kayden.


Pada akhirnya Shane mencabut laporannya dan mengambil jalan damai dengan membebaskan Ares setelah takut jika pihak sekolahnya tahu.


Ares yang sedang duduk di balik jeruji besi tampak tertegun dengan wajah yang dingin. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, namun perasaannya menyesal karena tadi dirinya tidak langsung menghabisi Shane ketika ada kesempatan.


Seorang polisi membuka pintu jeruji dan meminta Ares untuk keluar. Dengan tatapan yang mengarah ke bawah, pemuda itu masuk ke dalam ruangan di mana yang lainnya berada.


"Kau ini memang murid berandal yang bodoh!!" Geram Kayden saat melihat Ares.


Ares menoleh ke arah Kayden namun tatapannya langsung mengarah pada Tania yang ikut datang bersama dengan wali kelas yang dijadikan penjaminnya.


Ares merasa heran kenapa Tania datang ke sini sedangkan seharusnya gadis itu masih dirawat di rumah sakit. Pemuda itu menjadi kesal pada Kayden karena membolehkan Tania ikut bersama dengannya.


Kayden membawa ketiga anak muridnya keluar dari kantor polisi dengan perasaan yang sangat lega.


"Kau tahu, ini adalah hari yang aku tunggu. Akhirnya kau melanggar peraturan sekolah dengan berkelahi hingga melibatkan pihak berwajib." Ucap Tyaga ketika mereka berempat keluar dari kantor polisi dan hendak berjalan menuju tempat parkir.


Ares menghentikan langkahnya dan melihat pada Tyaga yang tersenyum seperti menyeringai padanya.


"Benarkah? Tapi keluargamu akan peduli mengenai hal itu." Ujar Tyaga.


Kayden memperhatikan kedua muridnya yang saling melihat dengan kebencian. Sedangkan Tania yang berdiri di paling belakang terlihat wajahnya semakin pucat.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Kayden menoleh pada Tania.


Kedua pemuda yang sedang bersitegang tersebut ikut melihat ke arah Tania.


"Sebaiknya kau kembali ke rumah sakit. Tyaga, tolong antar dia kembali ke rumah sakit. Bisa-bisa dia pingsan."


Tyaga mengikuti perintah Kayden dengan membantu Tania dengan merangkul gadis itu berjalan ke mobilnya.


Ares hanya terdiam melihat pada Tania yang berjalan menjauh darinya dan pergi dengan Tyaga menggunakan mobil pemuda itu untuk kembali ke rumah sakit.


"Tamatlah riwayatmu, bodoh!" Seru Kayden yang sejak awal memperhatikan Ares melihat kepergian Tania bersama dengan Tyaga.


Ares menoleh pada gurunya dengan menunjukkan wajah kesalnya juga.

__ADS_1


"Kenapa kau membawanya ke sini? Bukankah dia masih belum sehat? Sekarang kondisinya akan menjadi semakin buruk!!" Kesal Ares pada Kayden.


"Kenapa kau menjadikan aku penjaminmu? Seharusnya kau menghubungi orang tuamu!! Polisi menelepon saat aku sedang bersama dengan Tania, karena itu dia meminta ikut meski aku sudah melarangnya." Jawab Kayden.


"Kau bilang, kau akan selalu membantuku masalah apapun setelah aku membuatmu bertemu kembali dengan Hany, kan? Karena itu aku menjadikanmu penjaminku." Jawab Ares. "Tidak aku kira kalau kau akan datang bersama dengannya."


"Ya untungnya dia ikut datang kalau tidak musuhmu tidak akan menarik laporannya." Ujar Kayden.


"Kau memang tidak berguna!!" Cerca Ares.


"Sialan!" Geram Kayden mendengar hinaan Ares. "Tapi sebaiknya kau mempersiapkan diri, besok Tyaga pasti akan melaporkan pelanggaranmu ke pihak sekolah dan kau akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Aku tidak bisa membantumu dalam masalah ini."


Ares berdecak mendengar perkataan Kayden. Sejak awal dirinya sudah memikirkan semua hal yang dilakukannya, bahkan dia juga sudah siap jika memang harus dikeluarkan dari sekolah.


"Aku tidak peduli dengan itu!" Seru Ares setelah itu berbalik dan berjalan pergi.


"Dasar bodoh!!" Ucap Kayden dengan perlahan dan melihat punggung muridnya yang semakin menjauh.


...***...


Tania kembali berbaring di ranjang rumah sakit setelah Perawat memasang kembali infusan di lengan kirinya. Kondisi tubuhnya menjadi kembali buruk setelah pergi keluar tadi.


"Jangan ulangi lagi. Seharusnya kau sudah bisa pulang besok, tapi karena kau kabur, sekarang kondisimu menjadi sedikit buruk lagi. Kau harus lebih beristirahat lagi." Seru Perawat setelah memasang infusan di lengan Tania setelah itu bergegas keluar dari ruangan itu.


"Kau beruntung karena Shane orang yang benar-benar bodoh. Jika menjadi dia, aku tidak akan mencabut laporanku. Kasus yang kemarin sudah selesai, dan lagi dia adalah korban, sekolahnya tidak akan menghukumnya atau pun sampai mengeluarkannya." Ujar Tyaga.


"Kau benar, dia lebih bodoh dari si bodoh itu." Jawab Tania.


Gadis itu langsung beranjak duduk untuk mengatakan sesuatu pada Tyaga. Tentu saja, apa yang ingin dikatakannya mengenai Ares yang sudah melakukan pelanggaran.


"Dengarkan aku..."


"Tidak, kau tidak perlu mengatakan apapun, tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanku. Besok aku akan melapor ke komite mengenai pelanggaran yang dilakukannya. Aku akan langsung mengeluarkannya dari sekolah." Ujar Tyaga dengan penuh keyakinan. "Percuma saja kau berusaha mengubah keputusanku, aku tidak akan mendengarkannya."


Tania menghela napas sangat dalam mendengar perkataan Tyaga. Gadis itu ingin meminta Tyaga untuk tidak melaporkan apa yang dilakukan Ares hingga berurusan dengan polisi dan yang akan mengakibatkan pemuda itu dikeluarkan dari sekolah.


Namun dia tahu itu akan sulit karena Tyaga selalu mengatakan ingin mengeluarkan Ares dari sekolah, akan tetapi gadis itu akan tetap memohon padanya.


"Aku mohon padamu, untuk kali ini jangan keluarkan dia dari sekolah." Tatap Tania dengan penuh harap pada Tyaga.


Tyaga mendengus kesal melihat pada Tania yang tetap memohon seperti itu padanya. Padahal jelas-jelas dia sudah mengatakan kalau tidak akan ada yang bisa mengubah keputusannya.

__ADS_1


"Sekarang aku benar-benar menyesal karena mengubah peraturan sekolah." Ucap Tania dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2