PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
035. UNGKAPAN CINTA


__ADS_3

Ares masuk ke dalam tempat tinggal Tania. Segera pemuda tersebut mengambil obat-obatan gadis tersebut di atas meja yang biasa dijadikan gadis itu tempat belajar.


Tatapannya teralih saat meraih bungkusan plastik berisi obat. Dia melihat sebuah bingkai dengan selembar foto yang terpajang di atas meja. Foto tersebut adalah foto Tania bersama dengan sang ibu yang sedang merangkul.


"Dia sangat mirip dengan ibunya. Ternyata bola matanya dia dapat dari ibunya." Komentar Ares saat memperhatikan foto tersebut.


Tanpa sadar pemuda itu tersenyum saat melihat wajah Tania di foto tersebut.


Ares segera meletakkan kembali foto itu karena tidak ingin berlama-lama berada di sana. Sebelum kembali ke ruang UKS, dia berencana untuk membeli makanan agar Tania makan terlebih dahulu sebelum meminum obat.


Secepatnya pemuda itu keluar dari ruangan yang menjadi tempat tinggal Tania dan langsung menaiki motornya untuk kembali ke sekolah.


Sehabis membeli makanan di kantin, pemuda itu bergegas masuk ke dalam ruang UKS yang pintunya terbuka.


"Harmony Fleecysmith, apa itu nama wanita yang terus kau pikirkan saat sedang bersantai?"


Langkah Ares terhenti karena mendengar suara Tania menyebutkan nama salah satu kakak sepupunya. Itu membuatnya tahu kalau saat ini Tania sedang berbicara dengan seseorang.


"Dia adalah ketua OSIS yang tempo hari kau ceritakan. Seseorang yang mengatakan kalau tidak ada murid nakal di dunia ini dan yang ada hanyalah manusia yang tidak bertanggung jawab." Ucap Tania.


Ares terus berdiri di balik tirai yang sebagian tertutup untuk mendengarkan percakapan itu.


"Dan murid nakal yang membuat gadis itu merubah peraturan sekolah adalah kau. Apa aku benar?"


Tentu saja Ares sudah mengetahui hal tersebut. Dalam beberapa hari ini pemuda itu terus mencoba mengingat semuanya yang menimpa Harmony Fleecysmith—kakak sepupunya lima tahun lalu.


"Ya, kau benar. Aku murid nakal itu dan peraturan itu diubah juga karena aku. Tapi kau salah, aku tidak memikirkannya selama ini."


Sanggahan Kayden membuat Ares menjadi kesal. Dia tidak bisa menerima perkataan pria yang dulu pun pernah bertemu dengannya kala Kayden masih bersama dengan kakak sepupunya.


Tangannya terkepal, seperti ingin melampiaskan rasa kesalnya pada Kayden karena setelah membiarkan kakak sepupunya dulu mengalami hal buruk, dengan cepat Kayden melupakannya.


"Kau tidak perlu berbohong padaku. Aku selalu melihatmu saat kau sedang bersantai. Meski kau terlihat menikmati kesendirianmu namun sebenarnya ada sesuatu yang kau pikirkan—"


"Aku memikirkanmu."


Ares terlihat semakin marah saat Kayden menyela perkataan Tania dengan sebuah ungkapan hati pria itu.

__ADS_1


"Wanita yang aku pikirkan adalah kau. Aku menyukaimu, Tania."


Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Kayden membuat Ares seperti tidak bisa menahan amarahnya, namun dia mengingat mengenai kondisi Tania saat ini sehingga dirinya menghilangkan rasa kesal itu.


Untuk beberapa detik kesunyian terjadi, tak ada seorang pun mengatakan sesuatu. Hal tersebut yang membuat Ares langsung membuka tirai yang menutupi.


"Aku juga membelikanmu makanan. Sebelum minum obat kau harus makan terlebih dahulu." Ujar Ares berjalan lebih mendekat ke arah Tania hingga melewati Kayden. "Kau juga tidak sarapan kan tadi pagi?"


Tania hanya melihat kehadiran Ares karena gadis itu masih terkejut dengan pernyataan Kayden barusan.


"Pak Guru, kau ada di sini?" Ares menoleh ke arah Kayden yang dibelakanginya. "Tidak masalah, dia akan baik-baik saja. Habis makan dan minum obat dia akan segera pulih."


"Kalau begitu aku pergi dulu. Beritahu aku kalau ada sesuatu yang buruk." Ujar Kayden. "Tania, sebaiknya kau pulang dan beristirahat saja di rumah."


"Tidak, pulang sekolah nanti aku akan rapat OSIS, tidak mungkin aku tidak datang." Jawab Tania.


"Kalau begitu, kau beristirahat saja di sini hingga keadaanmu segera pulih, atau jika mau kau istirahat sampai jam sekolah berakhir nanti." Seru Kayden.


"Ya, baiklah." Jawab Tania.


Tania mengikuti tanpa memprotes karena dirinya ingin segera benar-benar sembuh agar Ares tidak terus menerus menempel padanya lagi.


Ares menarik sebuah kursi yang semula ada di ruangan di luar tirai. Pemuda itu diam sambil melihat Tania yang sedang bersiap untuk makan.


"Kenapa kau di sini?" Tanya Tania menjadi heran karena Ares malah duduk di sana melihat padanya.


"Memang kenapa?" Ares balik bertanya karena bingung maksud dari perkataan Tania padanya.


"Kau bisa pergi dan tinggalkan aku sendiri." Ujar Tania.


"Tidak, aku rasa aku harus memastikanmu makan dan meminum obatnya. Aku tidak percaya lagi padamu sekarang." Jawab Ares.


Tania sempat terdiam dengan menahan emosinya atas perkataan Ares yang tidak mempercayainya, namun setelahnya dia segera memakan makanannya.


Keberadaan Ares yang duduk di sana memperhatikannya makan membuat Tania menjadi agak canggung. Ditambah gadis itu berpikir kalau pemuda yang sesekali melihat layar ponselnya itu, mendengar perkataan Kayden tadi.


"Pulang sekolah nanti kita akan belajar, kan?" Tanya Ares, tatapannya mengarah pada layar ponsel.

__ADS_1


"Aku akan ke rumahmu setelah selesai rapat OSIS." Jawab Tania. "Tapi kau harus pulang dan belajar sendiri, besok itu ada ujian matematika."


Ares tidak menjawab, pemuda itu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


"Apa kau tahu mengenai lima tahun lalu?" Tanya Ares kembali menatap Tania.


Tania berpikir sejenak. Gadis itu tidak tahu pasti apa yang sedang dibahas Ares saat ini mengenai hal yang terjadi lima tahun lalu. Ya tentu saja, banyak hal terjadi lima tahun lalu di dunia ini. Setiap hari pun juga seperti itu.


"Apa maksudmu?" Tania balik bertanya untuk memastikan apa yang dimaksudkan oleh Ares.


"Sesuatu yang terjadi pada sepupuku—Harmony." Ujar Ares.


Tentu saja Tania tidak tahu menahu mengenai hal tersebut. Dia sama sekali tidak tahu apa pun hal yang dimaksudkan Ares mengenai sesuatu yang terjadi pada sepupu pemuda itu.


Tiba-tiba bel berakhirnya jam istirahat berbunyi sebelum sempat Tania bertanya atau pun Ares menjelaskan hal yang sedang dibahasnya.


"Baiklah, aku akan masuk ke kelas dulu." Ujar Ares bangkit berdiri. "Habiskan makanannya dan minumlah obatnya, lalu beristirahatlah di sini. Aku rasa kau tidak perlu mengikuti jam sekolah dulu."


Tania memandang Ares yang melangkah pergi dari sana. Dia menjadi penasaran mengenai pertanyaan Ares tadi, namun dirinya tidak tahu apakah pemuda itu akan menceritakan hal yang terjadi lima tahun lalu padanya atau tidak.


Namun satu hal yang diketahui Tania, ternyata Ares benar-benar mendengar apa yang dikatakan Kayden padanya tadi sehingga pemuda itu menanyakan hal tersebut.


Bel berakhirnya jam pelajaran berbunyi dan mengejutkan Tania yang tertidur pulas. Gadis itu benar-benar tertidur, padahal niatnya hanya ingin beristirahat sejenak sebelum kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.


Tania segera memakai kacamatanya dan beranjak turun dari ranjang. Dirinya berniat untuk segera ke ruang OSIS karena rapat akan dimulai setengah jam lagi, dan gadis itu harus menyiapkan materi pembahasan.


Saat Tania menggeser tirai untuk keluar dari sana, dia tersentak kaget karena saat yang bersamaan Ares juga membuka tirai tersebut. Pemuda itu pun sama terkejutnya.


"Ya ampun, kau sudah bangun?" Ares mendelik kaget.


"Kenapa kau ke sini?" Tatap Tania yang tidak menyangka Ares akan menemuinya lagi di ruang UKS.


"Aku hanya... Aku hanya ingin melihat keadaanmu." Jawab Ares dengan mata yang terlihat bingung.


Saat yang bersamaan Tania melihat kehadiran Kayden yang juga masuk ke dalam ruangan tersebut.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2