PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
073. BERLUTUT MEMOHON


__ADS_3

Ares menjadi terdiam saat Tyaga mempertanyakan hal tersebut padanya. Dirinya menjadi bingung harus menjawab apa.


Jika dipikirkan memang benar semua kabar mengenai mereka berdua tidak ada kaitannya dengannya, namun untuk Ares itu sangat mengganggu sekali.


"Apa kau cemburu?" Tanya Tyaga lagi.


Tania hanya diam sambil menoleh ke arah Ares yang dipunggunginya. Gadis itu melirik ke luar ruangan di mana beberapa murid memperhatikan mereka lagi seperti hari kemarin.


"Aku akan ke kantin karena perutku lapar." Ujar Tania bangkit berdiri.


Gadis itu tidak ingin menjadi bahan tontonan semua murid sehingga memilih untuk pergi dari sana. Ditambah, dirinya merasa kalau lebih baik dia menghindar karena Ares terlihat aneh dengan datang ke ruang OSIS hanya karena kabar yang beredar mengenai dirinya dan Tyaga.


Saat keluar dari ruangan, Tania melirik pada Ares yang juga melihat padanya. Dengan cepat Tania menutup pintu ruangan tersebut saat Ares melangkah masuk ke dalam.


Sedangkan Ares menjadi semakin bingung karena Tania malah keluar dari ruangan tersebut meninggalkan dirinya bersama dengan Tyaga.


Tyaga menyunggingkan senyum dingin pada Ares karena melihat raut wajah kebingungan pemuda itu.


"Kau itu memang bodoh, bahkan kau tidak bisa menahan emosimu hanya karena kabar yang beredar." Ujar Tyaga.


"Apa maksudmu?" Tanya Ares semakin bingung.


"Hanya orang yang merasa cemburu yang terganggu dengan kabar mengenai aku dan mantan ketua OSIS." Jawab Tyaga. "Benar seperti itu, kan?"


"Cih! Apa maksudmu? Siapa yang kau sebut cemburu?" Sangkal Ares masih tidak ingin mengakui. "Aku sama sekali tidak terganggu. Ma—maksudnya, aku tidak merasa cemburu!"


Tyaga tertawa kecil mendengar perkataan Ares. Hanya dari melihat raut wajah dan mendengar cara bicara pemuda itu saja, dia bisa tahu kalau Ares cemburu pada dirinya.


"Baiklah, jika kau memang tidak terganggu ataupun merasa cemburu, aku rasa tidak ada masalah apapun lagi." Ujar Tyaga mengarahkan tatapannya ke layar laptop.


Ares masih terdiam, dia masih bingung dengan maksud perkataan Tyaga.


"Keluarlah, aku tidak ingin berdebat dengan orang bodoh." Seru Tyaga sambil mengetik dan tanpa melihat ke arah Ares.


Tania yang berjalan menuju kantin dihadang oleh Dyara. Meski begitu, gadis itu masih menunjukkan ekspresi wajah biasanya.


"Maaf mantan ketua OSIS, ada yang ingin aku katakan padamu." Ujar Dyara.


"Silakan, kau bisa mengatakannya." Jawab Tania.


Dyara melihat ke sekitar karena banyak sekali pasang mata memperhatikan mereka. Itu membuatnya jadi tidak mungkin mengatakan hal tersebut di depan banyak orang.

__ADS_1


"Ikutlah denganku. Aku tidak bisa mengatakannya di sini." Seru Dyara.


Sambil menghela napas, Tania berjalan mengikuti Dyara menuju tempat yang sepi. Sejujurnya, gadis itu merasa sangat malas mendengar apa yang akan Dyara katakan padanya nanti.


"Apa kau sudah dengar kabar yang beredar mengenaimu dan ketua OSIS yang baru?" Tanya Dyara.


Tania tidak menjawab, gadis itu bahkan tak ada niatan mengeluarkan suaranya.


"Bukankah itu hal yang bagus? Tyaga juga sangat keren, selain itu keluarganya juga sama kayanya dengan keluarga Kak Ares. Kau bisa bersama dengannya, apalagi kalian berdua memiliki sifat yang sama dan itu membuat kalian menjadi tampak serasi." Seru Dyara panjang lebar.


"Apa foto itu kau yang mengambil dan menyebarkannya?" Tanya Tania pada akhirnya tidak bisa menahan dirinya untuk mengetahui apa yang diinginkan Dyara. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kau sangat menyukai si bodoh itu? Tidak ada yang menarik darinya."


Dyara berdecak mendengar ucapan Tania. Gadis itu melirik Tania dari sudut matanya dengan kesal.


"Jika memang seperti itu, sebaiknya kau yang menjauh darinya. Kau tidak menyukainya, kan?" Ujar Dyara.


"Sudah aku katakan, kau bisa mengatakannya langsung padanya. Meski sebelum ini aku memintanya untuk tidak berada di sekitarku, dia malah memintaku untuk membantunya belajar lagi." Jawab Tania dengan santainya. "Kenapa kau jadi seperti ini? Apa semua gadis sepertimu bersikap seperti ini? Padahal jika kau mau, kau bisa mendekatinya atau bahkan mencari pria lainnya yang sesuai dengan yang kau inginkan."


"Apa maksudmu?"


"Kau sangat cantik dan keluargamu sangat kaya, kau bisa menarik pria manapun dengan semua itu. Jika dibandingkan denganmu aku tidak ada apa-apanya. Jadi kau tidak perlu takut padaku, aku bukan sainganmu dalam menarik hati si bodoh itu atau pun pria lainnya." Terang Tania dengan nada dan ekspresi yang sangat datar. "Dan lagi, aku juga tidak ada niatan untuk mendekati siapapun. Kau tidak perlu khawatir. Sebaiknya kau tidak perlu menemuiku lagi jika hanya masalah ini yang ingin kau bahas denganku."


"Apa-apaan dia? Apa dia pura-pura tidak tahu kalau Kak Ares menyukainya? Apanya yang jangan menganggapnya saingan?" Kesal Dyara melihat punggung Tania yang berjalan menjauh.


Jam sekolah berakhir, Tania merapikan barang-barangnya dan hendak bergegas ke ruang OSIS.


"Kau ingin rapat OSIS?" Tanya Ares. "Aku ada keperluan dengan Pak Guru, saat selesai rapat kau bisa menghubungiku agar kita bersama ke rumahku. Pak Guru hari ini tidak masuk karena sakit, kan?"


"Baiklah." Jawab Tania dengan singkat setelah itu bergegas keluar dari kelas.


Ares sedikit kesal karena Tania hanya menjawabnya sangat singkat. Namun tak ada yang bisa dirinya lakukan.


Segera pemuda itu berjalan keluar kelas juga untuk secepatnya menuju rumah Kayden. Namun pandangannya terhenti pada Tania dan Tyaga yang bertemu di depan pintu masuk ruangan OSIS. Hal itu membuat beberapa murid menjadi berbisik mengenai mereka berdua.


Segera Ares berjalan melewati mereka berdua yang terlihat sedang mengobrol, pemuda itu berdehem sambil lalu pada Tania dan Tyaga.


Mereka berdua hanya menoleh sesaat pada Ares dan kembali melanjutkan obrolan mereka berdua.


"Sialan! Mereka berdua tidak menggubrisku." Kesal Ares dengan berbisik.


Tidak berapa lama Ares sampai di rumah Kayden. Pemuda itu menekan bel dan tidak berapa lama, Kayden membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Selamat siang menjelang sore, Pak Guru. Aku datang menjengukmu." Seru Ares sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya dari minimarket.


Kayden mendengus melihat muridnya itu. Sebelumnya Ares tidak memberitahunya mengenai kedatangannya ke rumahnya sehingga membuat pria itu sedikit terkejut.


"Tidak aku kira kalau kau bisa sakit hingga tidak masuk ke sekolah, Pak Guru." Seru Ares saat dirinya dan Kayden duduk di meja makan.


"Kau hanya membeli minuman soda di saat menjenguk orang sakit. Ck!" Protes Kayden sambil mengeluarkan plastik yang dibawa Ares.


Isi plastik minimarket tersebut hanya beberapa minuman soda kaleng dan tidak ada yang lainnya.


"Kenapa kau datang ke sini?" Tanya Kayden yang duduk di hadapan Ares.


"Aku ingin menyampaikan kabar buruk." Ujar Ares dengan memasang wajah serius.


Kayden tahu apa yang hendak dikatakan Ares padanya. Dirinya bisa menebak kalau hal itu mengenai Harmony.


"Hany tidak bisa datang ke acara ulang tahunku. Bibi Melody melarangnya pulang ke negara ini. Sepertinya dia memang tidak ingin kalau Hany bertemu lagi denganmu, Pak Guru." Seru Ares.


Sejenak Kayden tidak merespon perkataan Ares. Pria itu menjadi mematung sesaat karena kabar yang diucapkan Ares merupakan kabar buruk baginya.


Sebelum ini dirinya sudah sangat berharap kalau dia bisa bertemu kembali dengan Harmony dengan bantuan Ares, namun ternyata itu semua tidaklah mudah.


"Sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan. Maafkan aku, Pak Guru. Bibi Melody itu sangat keras kepala, tidak ada yang bisa merubah keputusannya. Aku tidak bisa membantumu." Lanjut Ares karena melihat raut wajah kekecewaan di ekspresi wali kelasnya tersebut. "Kau mendengarku, kan?"


Tiba-tiba Kayden bangkit berdiri dari duduknya dengan tatapan kosong. Tanpa Ares duga gurunya tersebut menjatuhkan dirinya untuk berlutut padanya.


"Apa yang kau lakukan, Pak Guru?" Ares terkejut hingga bangkit berdiri dari duduknya.


"Aku mohon, bantulah aku. Buat dia datang ke negara ini lagi. Aku sangat berharap kau membantuku. Apapun akan aku lakukan, bahkan aku bisa memberikanmu bocoran soal ujian matematika besok dan seterusnya." Ucap Kayden sambil menundukkan kepalanya dalam simpuhnya.


"Apa kau serius?" Tanya Ares semakin terkejut pada perkataan Kayden.


"Asalkan kau membantuku hingga aku bisa bertemu dengan sepupumu, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Aku memohon padamu." Ujar Kayden lagi dengan nada memohon.


"Ada apa ini? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memohon padanya, Kay?"


Ares dan Kayden terkejut saat mendengar seseorang datang dengan bertanya seperti itu. Mereka berdua langsung melihat ke arah gadis yang berdiri di depan pintu masuk.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Tania heran pada pemandangan yang dilihatnya.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2