PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
052. SALAH SANGKA


__ADS_3

Ares keluar dari toilet pria dengan perasaan lega. Pemuda itu keluar sambil memegang perutnya setelah mengeluarkan isinya.


"Akhirnya setelah dua hari keluar juga." Gumam Ares sambil mengelus perutnya dengan perasaan yang lega.


Saat pemuda itu hendak berjalan kembali ke kelasnya, tiba-tiba pandangannya langsung menangkap seorang gadis yang ingin dia hindari.


"Sepertinya aku harus menghindar darinya." Ujar Ares saat melihat Dyara di ujung koridor yang mengarah ke ruang kelasnya.


Bisa pemuda itu lihat kalau Dyara hendak menemuinya di kelas. Gadis itu mengarah ke pintu masuk kelasnya.


Segera Ares berjalan ke arah sebaliknya untuk menghindari Dyara dengan langkah lebar dan sesekali menoleh ke belakang.


Melihat ruangan OSIS, pemuda itu langsung teringat pada Tania. Dia sangat yakin kalau gadis itu berada di dalam ruangan tersebut saat ini.


Tanpa berpikir apapun lagi, Ares langsung membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, bahkan pemuda itu langsung masuk dan menutup pintu karena takut Dyara akan melihatnya.


"Untung saja dia tidak lihat." Ares membuang napasnya dengan kelegaan.


Saat dia berbalik, dilihatnya Tania yang sedang menidurkan kepalanya di atas meja dengan sangat terlelap. Gadis itu sama sekali tidak bergeming saat Ares masuk dan menutup pintu sehingga Ares melihatnya sangat aneh.


"Dia benar tertidur?" Tanya Ares yang heran melihat Tania yang tertidur sangat pulas. "Pantas saja dia tidak mengusirku keluar tadi."


Dengan langkah perlahan Ares mendekati Tania dan duduk di kursi yang ada di samping gadis itu. Pandangannya mengarah pada formulir pendaftaran ketua OSIS milik Dyara. Sejenak pemuda itu membacanya.


Setelah membacanya sebentar, diletakkannya kembali ke meja dan menoleh ke arah Tania, menatap wajah gadis yang tertidur sangat lelap tersebut.


Tersungging sebuah senyuman di bibir pemuda itu saat memperhatikan Tania. Segera Ares mengambil ponselnya dan memotret wajah pulas Tania beberapa kali.


"Dia tidur sangat pulas, pasti dia kurang tidur. Ya, pekerjaannya banyak sekali sebagai ketua OSIS. Ah tidak, pekerjaannya tidak banyak kalau dia tidak ingin merubah peraturan sekolah." Ujar Ares dengan berbisik. "Apa ini?" Tanya Ares masih memperhatikan foto Tania yang barusan dia ambil.


Ares melihat sesuatu di atas kepala Tania melalui foto yang ada di ponselnya. Pemuda itu memperbesar untuk melihatnya.


"Benang?" Tanya Ares heran karena sehelai benang hitam yang tidak terlalu panjang berada di atas rambut Tania.


Di lihatnya secara langsung benang yang ada di kepala Tania. Warnanya hitam sehingga tidak terlalu terlihat jika tidak diperhatikan dengan seksama karena menyaru dengan rambut gadis itu.

__ADS_1


Melihatnya Ares hendak mengambil benang tersebut namun dirinya tidak ingin mengganggu tidur pulas Tania.


Ares langsung bangkit berdiri dari duduknya. Dia mikirkan sesuatu untuk menyingkirkan benang itu dari kepala Tania.


Segera Ares mencondongkan tubuhnya mengarah pada Tania yang meletakkan kepalanya di atas meja. Bibir pemuda itu terlihat agak di muncungkan untuk meniup benang dari kepala Tania.


Drrtt drrtt drrtt


Suara ponsel Tania yang berada di atas meja bergetar. Ares terkejut saat Tania membuka mata dan mengusapnya. Mata gadis itu langsung melihat padanya.


Ares sontak kaget saat Tania berteriak sangat keras ketika melihat padanya, membuat Ares langsung melangkah mundur, bahkan pemuda itu sampai bersandar ke jendela untuk menghindari Tania yang terkejut melihatnya.


Tania langsung bangkit berdiri setelah melihat Ares mundur. Gadis itu langsung memakai kembali kacamatanya dan melihat Ares dengan tatapan kesal.


"Apa yang kau lakukan?!" Suara Tania sangat keras menatap pada Ares.


"A—aku hanya—"


"Pasti kau ingin melakukan hal-hal yang tidak-tidak kan?" Hardik Tania masih sangat kesal pada keberadaan Ares di sana.


"Kau tidak perlu menyangkal lagi. Jelas-jelas kau ingin menciumku, kan?" Sela Tania tidak membiarkan Ares mengatakan sesuatu. "Kau tidak perlu berbohong! Kau pun pernah melakukannya, pasti kau juga ingin menciumku lagi, kan barusan?"


Mendengarnya Ares mendengus kesal pada Tania. Pemuda itu melangkah maju mendekati gadis yang jadi terdiam saat melihat dirinya memasang wajah kesal dengan tawa kecil karena tuduhan Tania.


"Aku hanya ingin menyingkirkan benang yang ada di rambutmu. Kenapa kau menuduhku seperti itu?" Kesal Ares. "Apa aku terlihat seperti pria buruk yang mencium gadis saat dia tertidur? Aku tidak ingin membangunkanmu karena itu aku berusaha meniupnya, tapi ternyata kau malah menuduhku yang tidak-tidak."


Tania melihat raut wajah marah dari Ares, sehingga membuatnya tidak berkata apapun lagi.


Ares bergegas keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sangat kesal karena mendengar tuduhan Tania.


"Seharusnya aku tidak masuk ke sini!" Kesal Ares sambil menutup pintu dengan sangat keras.


Tania tersentak kaget dan heran melihat kemarahan Ares.


"Kenapa dia jadi marah seperti itu? Sepertinya aku tidak salah apapun. Dia juga pernah menciumku tanpa persetujuan diriku sebelumnya." Gumam Tania.

__ADS_1


Gadis itu teringat perkataan Ares tadi, segera dia mengambil ponselnya untuk melihat benang yang di maksud Ares tadi.


"Ternyata dia tidak berbohong." Ucap Tania saat mengambil benang yang dimaksud Ares dari rambutnya. "Tapi seharusnya dia langsung mengambilnya, untuk apa meniupnya? Dasar bodoh!" Tania mendesis tidak habis pikir dengan tingkah Ares yang menurutnya sangat aneh.


Ares yang keluar dari ruang OSIS langsung dikejutkan dengan keberadaan Dyara yang tidak jauh dari sana. Gadis tersebut melihat Ares baru saja keluar dari ruangan itu, dan beberapa murid lainnya juga melihat ke arah pemuda itu.


Ares yang sedang kesal tidak ingin menggubris keberadaan Dyara. Pemuda itu berjalan melewati gadis tersebut tanpa menyapanya.


Beberapa murid yang memperhatikan mereka merasa aneh melihatnya, karena yang mereka tahu kalau Ares sudah berpacaran dengan Dyara, namun baru saja pemuda itu keluar dari ruang OSIS di mana Tania berada dengan wajah kesal, ditambah Ares berjalan begitu saja tanpa menyapa Dyara.


Dyara yang melihat beberapa murid menatap padanya dengan heran, membuat gadis itu menjadi kesal namun sebisa mungkin dirinya memperlihatkan wajah yang seperti biasanya meski sebenarnya Dyara merasa sangat marah pada yang terjadi.


Gadis itu jadi merasa diabaikan oleh Ares dan menuduh semua itu karena Tania.


Sejenak dia memperhatikan Ares hingga pemuda itu menaiki tangga mengarah atap sekolah. Segera Dyara melangkah mengarah menuju ruang OSIS.


Gadis itu langsung membuka pintu ruangan tersebut dengan sangat kasar.


Tania yang sedang duduk di depan laptop melihat kemunculan Dyara yang membuka pintu dengan sangat kasar. Gadis itu melihat raut wajah marah pada Dyara, dan bisa menebak apa yang hendak gadis itu katakan padanya.


"Kalau kau ingin marah, kenapa bukan marah padanya? Dia yang masuk ke ruangan ini tanpa ku minta." Ujar Tania dengan wajah datarnya menatap Dyara.


Terlihat beberapa murid di luar memperhatikan dirinya juga dari balik tubuh Dyara yang berdiri di ambang pintu.


"Dan lagi, tidak seharusnya kau marah seperti itu. Tidak ada yang terjadi antara aku dengan si bodoh itu, sama seperti kau dengannya. Bukan begitu?" Tanya Tania.


Dyara semakin kesal mendengar perkataan Tania padanya.


...–NATZSIMO–...


Yuk, baca novel author Melody 911 With The Three Musketeers untuk tahu cerita kedua orang tua Ares dan fakta dibalik ibu Tania yang dituduh mengancam muridnya hingga dikeluarkan dari sekolah.


Follow IG author buat visual karakter


@cacing_al.aska

__ADS_1


__ADS_2