
Ares berjalan ke arah ruang OSIS ketika jam istirahat tiba. Saat pelajaran tadi, Tyaga memanggil pemuda itu untuk datang menemuinya.
Pikiran Ares sudah yakin kalau dirinya akan segera dikeluarkan dari sekolah. Namun hal yang membuatnya merasa heran adalah, kenapa dia di panggil ke ruang OSIS dan bukan ke ruang kepala sekolah?
Tanpa mengetuk pintu pemuda itu langsung membuka pintu ruangan di mana Tyaga sudah menunggu kehadirannya.
"Kenapa kau masih saja tidak sopan? Sudah ku bilang untuk mengetuk pintu terlebih dahulu saat ingin masuk ke ruangan orang lain dan jangan membukanya sebelum kau dipersilakan masuk." Tegur Tyaga yang duduk di kursi yang menghadap pintu masuk.
Ares tidak menggubris perkataan pemuda itu. Dia hanya berjalan masuk ke ruangan dan menutup pintu. Selanjutnya pemuda itu hanya berdiri dengan terdiam tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun.
Sejenak Tyaga juga terdiam dengan pandangan yang mengarah pada Ares yang hanya melihat ke bawah, tidak memandang pada dirinya.
"Ada apa? Apa sekarang kau menyesal?" Tanya Tyaga yang melihat sedikit perubahan dari sikap Ares. "Sepertinya memang begitu. Akhirnya kau menyesalinya juga, kan?"
Akhirnya Ares mengangkat kepalanya dan melihat pada Tyaga. Memang benar kalau dirinya merasakan sedikit penyesalan pada yang terjadi tadi malam, akan tetapi yang dia rasakan saat ini, lebih dari itu.
Ares merasakan kekosongan dalam dirinya. Pemuda itu seperti sedang berada di tengah ombak di tengah laut sendirian. Merasa tidak tahu harus berbuat apa pada situasi sekarang ini.
"Sayangnya rasa penyesalan yang kau rasakan sudah sangat terlambat." Tyaga menyunggingkan bibirnya dengan mata yang saling tatap dengan Ares.
"Sebaiknya katakan saja apa yang kau ingin katakan. Jika memang aku dikeluarkan karena melanggar peraturan sekolah maka katakan secepatnya. Aku akan langsung meninggalkan sekolah ini. Aku muak mendengar ocehanmu." Ujar Ares dengan nada dingin.
Mendengar yang dikatakan Ares padanya, Tyaga beranjak bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Ares. Berdiri di jarak sekitar tiga meter saling berhadapan dengan Ares.
"Aku heran kenapa dia jadi seperti ini? Tampaknya tipenya ada pria bodoh sepertimu." Tyaga mendengus heran.
Ares tidak mengerti arah pembicaraan Tyaga padanya. Apa maksud dari perkataan pemuda yang ada di depannya ini? Siapa yang di maksud olehnya? Begitu yang dipikirkan oleh Ares.
"Kau beruntung karena kau tidak dikeluarkan dari sekolah." Ucap Tyaga dengan tatapan serius.
Sontak Ares semakin bingung dengan perkataan Tyaga barusan. Padahal dia kira sebelumnya dirinya akan dikeluarkan dari sekolah hari ini juga, mengingat kebencian Tyaga padanya.
"Apa maksudnya? Kenapa aku tidak dikeluarkan dari sekolah?" Tanya Ares dengan wajah penuh keheranan.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan karena gadis itu?" Jawab Tyaga.
Mendengar kata gadis, Ares langsung memikirkan Tania. Dia yakin sekali kalau gadis yang dimaksid oleh Tyaga adalah Tania. Namun dirinya tetap tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa Tania membuat orang seperti Tyaga yang sangat ingin mengeluarkannya dari sekolah memutuskan untuk tidak melakukannya.
__ADS_1
"Aku tidak melaporkan pelanggaran yang kau buat tadi malam ke komite sekolah. Kalau kau melakukannya lagi, aku akan mengeluarkanmu—"
"Katakan, apa yang terjadi? Kenapa kau merubah pikiranmu? Bukannya kau selalu mengatakan kalau kau ingin mengeluarkan aku dari sekolah? Lalu kenapa kau tidak melakukannya?"
Tyaga hanya menyunggingkan senyumnya pada Ares.
"Ada apa? Katakan yang sebenarnya!"
"Sudah aku katakan, semua karena Mantan Ketua OSIS. Dia memohon padaku agar aku tidak melaporkan pelanggaranmu ke komite sekolah." Jawab Tyaga.
"Tidak! Yang aku tanyakan, kenapa kau menuruti permintaannya? Kenapa kau merubah keputusanmu hanya karena dia memohon padamu? Katakan, apa yang terjadi?" Seru Ares dengan penasaran.
"Keluarlah! Aku sudah memutuskan seperti itu, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku merubah pikiranku." Ucap Tyaga tidak berbuat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Ares.
Bukannya menurut, Ares malah melangkah maju mendekati Tyaga. Pemuda itu langsung mencengkram baju Tyaga karena rasa ingin tahunya mengenai alasan Tyaga yang merubah pikirannya.
"Jawablah, apa kau menyukainya?' Tatap Ares pada Tyaga. "Apa karena itu kau menuruti permohonannya?"
"Apa urusannya denganmu? Aku rasa itu sama sekali tidak ada kaitannya padamu. Aku bisa menyukai siapapun. Bukankah seperti itu?" Tyaga menyunggingkan bibirnya seperti menyeringai. "Lepaskan tanganmu dariku, atau aku akan menganggapnya ini sebuah pelanggaran?!"
Dengan sangat kesal Ares melepaskan cengkraman tangannya dari Tyaga. Pemuda menahan emosinya yang terlihat memuncak karena rasa penasarannya. Walaupun begitu, dia harus menahan diri agar tidak melewati batas.
Ares yang sedang menahan emosinya, kembali melihat pada Tyaga saat pemuda itu berkata dengan penuh keyakinan padanya. Dia mendengus meresponnya.
"Kita lihat saja nanti." Jawab Ares setelah berbalik ke arah pintu untuk keluar dari ruangan itu.
"Pertanyaanmu tadi..." Ujar Tyaga menghentikan langkah Ares saat hendak membuka pintu. "Seharusnya aku melakukan sebaliknya jika itu benar."
Ares tidak mengerti maksud perkataan Tyaga, namun pemuda itu sama sekali tidak ingin menanyakannya lagi karena tahu Tyaga pastinya tidak akan menjawab apapun yang ditanyakan dirinya.
Secepatnya Ares membuka pintu dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Dia benar-benar sangat bodoh! Aku heran kenapa gadis sepertinya bisa menyukainya?" Ucap Tyaga.
Dyara berjalan mendekati Ares saat pemuda itu keluar dari ruang OSIS. Sedangkan Ares berusaha meredam emosinya dengan menghela napas.
"Kak, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat sangat marah seperti itu?" Tanya Dyara memegang lengan Ares. "Lalu tadi malam, apa kau sudah bertemu Shane? Kenapa telepon dan pesanku tidak dibalas?"
__ADS_1
"Tolong jangan ganggu aku dulu." Ucap Ares dengan dingin setelahnya melangkah pergi.
Dyara tampak heran dengan sikap Ares. Dia tidak mengerti ada apa dengannya.
"Aku pikir dia akan semakin bersikap baik padaku setelah aku memberikan apa yang diinginkannya. Kenapa malah seperti ini?" Gumam Dyara dengan wajah kesal melihat kepergian Ares.
Sepulang sekolah, Tyaga datang ke rumah sakit untuk menjenguk Tania lagi. Dia juga ingin mengatakan mengenai keputusannya mengenai Ares pada gadis itu.
"Kapan kau keluar dari rumah sakit?" Tanya Tyaga sesaat setelah sampai di tempat Tania berada.
"Sepertinya besok. Keadaanku hari ini sudah lebih baik. Besok aku yakin sudah dibolehkan pulang." Jawab Tania melihat Tyaga yang berdiri di sisi kanan ranjang yang dia tiduri.
"Baguslah. Jangan kabur lagi seperti tadi malam. Jangan bertindak bodoh meski apapun alasannya. Dirimulah yang harus kau utamakan." Ucap Tyaga. "Kau tidak perlu memedulikan hal lainnya. Apalagi jika tidak ada yang memedulikanmu."
"Kau sedang bicara apa? Sebagai ketua OSIS, tidak maksudku, sebagai mantan Ketua OSIS aku harus tetap memedulikan murid lainnya, itu semua untuk menjaga nama baik sekolah." Jawab Tania.
Tyaga menjadi tertegun mendengar jawaban Tania. Dia merasa itu bukanlah alasan yang sebenarnya kenapa tadi malam gadis itu sampai kabur dari perawatannya dan pergi ke kantor polisi.
"Sepertinya seseorang akan bertindak bodoh karena orang yang dicintainya." Guman Tyaga dengan suara yang terdengar sangat perlahan.
"Apa yang kau katakan?" Tatap Tania dengan dahi yang mengernyit.
"Beristirahatlah agar kau benar-benar sembuh dan pulang besok."
Tania mengangguk kecil menjawabnya, tetapi gadis itu melihat pada Tyaga dengan sebuah tatapan penasaran akan suatu hal.
"Katakan padaku, apa kau mengeluarkannya dari sekolah?" Tanya Tania yang sudah sejak awal menahan rasa penasarannya mengenai hal itu.
"Bagaimana bisa aku mengeluarkannya setelah mendengarkan permohonanmu yang pertama dan yang terakhir kalinya?" Ujar Tyaga dengan raut wajah dingin yang kesal.
Tania menyunggingkan senyum kecilnya mendengar jawaban Tyaga. Dia merasa sangat lega karena Tyaga mau mendengarkan permohonannya.
"Terimakasih. Aku tidak menyangka kalau kau akan mendengarkan permohonanku. Aku berterimakasih padamu." Ucap Tania dengan wajah yang tampak senang dengan senyum kecil.
"Tidak usah berterimakasih. Aku melakukannya karena kau bilang, kau ingin pindah sekolah dan itu adalah permohonanmu yang terakhir kalinya. Saat kau tidak ada, aku akan langsung berbuat sesuatu agar dia dikeluarkan dari sekolah." Tyaga berkata begitu dengan nada suara yang sangat kesal.
Tania hanya tersenyum kembali dengan memikirkan keputusannya kemarin. Keputusan yang pada akhirnya akan dia ambil setelah merasa dirinya lebih baik pergi.
__ADS_1
"Jadi, kapan kau akan pindah sekolah dan kembali tinggal dengan ibumu?" Tanya Tyaga menatap Tania yang mengarahkan tatapannya ke bawah, tampak melamun.
...@cacing_al.aska...