PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
056. BUKAN GADIS PERTAMA


__ADS_3

Ares mendatangi sebuah tempat karaoke bersama dengan Dyara untuk menemui Shane. Tempat karaoke tersebut merupakan milik keluarga Shane.


Dengan langkah lebar, Ares membuka tiap pintu karaoke di mana dalamnya terdapat pengunjung untuk mencari keberadaan Shane.


Hingga akhirnya sebuah ruangan VIP yang dibuka olehnya menunjukkan pemuda yang dicari.


Kehadiran Ares bersama Dyara langsung membuat suasana ruangan yang dipenuhi oleh pemuda dan pemudi tersebut menjadi berubah.


"Ke—kenapa kau ke sini?" Tanya Shane yang langsung melangkah mundur dan menghentikan nyanyiannya saat Ares masuk.


Tanpa basa-basi, Ares langsung mendaratkan tinjunya pada Shane dan beberapa teman dari pemuda yang membuatnya marah itu.


Tak ada yang bisa menghentikan Ares, pemuda itu memang terkenal jago berkelahi seperti ayahnya dulu. Ditambah amarahnya membuat diri pemuda itu tidak bisa dihentikan.


"Hanya pria pecundang yang menyakiti seorang wanita. Jangan pernah melakukannya lagi, atau aku akan mematahkan kedua tanganmu!!" Seru Ares dengan tatapan mengancam sambil mencengkram kemeja Shane, dan menatap lekat pemuda tersebut.


"Dia itu milikku, aku bisa berbuat apapun padanya. Kau tidak perlu ikut campur!!" Sahut Shane yang sudut bibirnya berdarah setelah menerima pukulan keras Ares.


"Tidak. Sudah aku bilang, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun." Sanggah Dyara yang berdiri di belakang Ares.


"Kau mendengarmya? Jadi berhenti menemuinya!" Timpal Ares lagi dan setelahnya melepaskan cengkramannya dari Shane. "Jangan menemuinya lagi! Aku tidak main-main dengan ucapanku. Seharusnya kau juga sudah tahu mengenai keluargaku. Kami tidak pernah menarik perkataan kami!!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Ares memegang lengan Dyara dan berjalan menuju pintu.


"Sialan! Aku akan membalas perbuatanmu! Kau pikir aku takut denganmu dan keluargamu?" Geram Shane yang tersulut kesal pada ocehan Ares.


Ares tidak menggubrisnya dan langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Dyara.


Shane menjadi sangat kesal melihat dirinya diperlakukan seperti itu oleh Ares. Pemuda itu ingin menuntut balas atas pukulan dan rasa malu yang diperlihatkan Ares pada dirinya di depan para teman-temannya yang ada di sana.


"Aku akan membalasnya. Dia berani mempermalukan aku hanya demi gadis sialan itu." Ancam Shane mengusap darah di sudut bibirnya.


Ares berada di tempat parkir bersama dengan Dyara. Pemuda itu meredam emosinya setelah itu.


"Maafkan aku kak, karena aku kau jadi ikut campur masalahku dengannya." Ucap Dyara saat mereka berdua hendak menaiki motor.

__ADS_1


"Tidak masalah. Katakan padaku kalau si berengsek itu masih menyakitimu. Aku akan benar-benar mematahkan kedua tangannya." Jawab Ares.


Tiba-tiba Dyara memeluk Ares, dan membuat pemuda itu terkejut sekaligus kikuk harus bagaimana.


"Terimakasih Kak. Aku berharap kita bertemu sejak dulu. Ya, seharusnya aku bertemu denganmu lebih dulu." Dyara semakin memeluk erat Ares.


"Ti—tidak usah berterimakasih." Sahut Ares bingung dan tidak berani memegang tubuh Dyara dengan sedikit mengangkat kedua tangannya. "Sekarang aku akan mengantarmu pulang."


Dyara melepas pelukannya dan menatap Ares. Gadis itu memikirkan sesuatu setelah mendengar perkataan Ares.


"Kak, aku belum ingin pulang. Apa aku boleh ikut ke rumahmu?" Tanya Dyara dengan tatapan penuh harapan.


"Rumahku?" Ares memastikan karena dia menjadi heran kenapa Dyara ingin datang ke rumahnya.


"Apa tidak boleh?" Jawab Dyara.


Akhirnya Ares membawa Dyara ke rumahnya. Pemuda itu tidak bisa menolak permintaan gadis itu sehingga mau tidak mau dia mengiyakan keinginan Dyara dengan menuruti keinginannya.


Kedua adik kembarnya merasa heran kenapa kakak mereka yang mereka kira tidak menyukai Dyara, malah membawa gadis itu lagi ke rumah mereka.


Aphrodite dan Athena saling tatap saat Dyara dan Ares masuk ke dalam rumah.


"Tidak masalah. Kau bisa datang kapanpun kau mau, apalagi kalau Kak Es yang membawamu." Jawab Aphrodite dengan tersenyum.


"Ya, kau juga bukan gadis pertama yang sering datang ke rumah ini." Tambah Athena yang sifatnya selalu blak-blakan. "Ada apa dengan wajahmu? Kenapa luka seperti itu?"


"Ah ini... Tidak apa-apa, ini hanya luka ringan. Nanti juga akan sembuh dengan cepat." Jawab Dyara merasa tidak enak.


"Aku akan berganti pakaian dulu." Ucap Ares yang langsung berjalan meninggalkan para gadis dan menuju lantai dua untuk pergi ke kamarnya.


Sejenak perbincangan ketiganya tertunda saat Dyara memperhatikan Ares menaiki tangga.


"Duduklah dulu, aku akan meminta seseorang membawakanmu minuman." Seru Aphrodite dengan mempersilakan Dyara untuk duduk di sofa dengan gerakan tangannya.


Dyara mengikuti perkataan Aphrodite dan langsung duduk di sofa, Athena juga ikut duduk di salah satu sofa lainnya sedangkan Aphrodite pergi ke dapur untuk meminta asisten rumah tangga membuatkan minumannya.

__ADS_1


"Maaf, kau ini Aphrodite atau Athena?" Tanya Dyara pada Athena. "Kalian berdua sangat mirip, aku jadi tidak bisa membedakan kalian."


"Aku Athena, kau bisa memanggilku Thena." Jawab Athena yang duduk di sofa satu seat dengan sebelumnya memfokuskan dirinya pada ponsel miliknya.


"Oh iya Thena, tadi kau bilang aku bukan gadis pertama yang sering datang ke rumah ini. Kalau boleh tahu siapa gadis sebelumnya?" Tanya Dyara ingin tahu pada perkataan Athena sebelumnya.


"Oh itu, dia adalah Kak Tania. Sebelumnya dia sering datang ke rumah ini karena membantu Kak Es belajar. Bahkan mereka juga beberapa kali belajar di kamar Kak Es berdua saja." Jawab Athena. "Aku dan Odite mengira Kak Es menyukainya, karena kami pernah melihat Kak Es menciumnya saat di kamar. Tapi sepertinya Kak Tania tidak menyukai Kak Es. Karena itu dia tidak pernah datang lagi ke sini."


"Kak Ares menyukainya? Dia mencium gadis itu?" Dyara tampak terkejut mendengar perkataan Athena.


"Hhmm... Kami semua juga menyukai Kak Tania. Dia gadis yang unik, bahkan sepertinya Papa dan Mama juga menyukainya." Tambah Athena dengan tatapan ke layar ponselnya.


"Benarkah seperti itu?" Tanya Dyara dengan wajah terlihat terkejut.


Athena mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menatap pada Dyara.


"Ya, kami semua menyukai Kak Tania. Dia gadis yang pintar dan berpendirian teguh. Dia gadis yang sangat sederhana dan selalu mengatakan semuanya dengan jujur. Tapi sayang seperti yang aku bilang, tampaknya dia tidak menyukai Kak Es." Lanjut Athena.


"Lalu bagaimana denganku? Apa kau menyukaiku? Apa Papa dan Mama dan juga Kak Ares akan menyukaiku?" Tanya Dyara berharap mendapatkan jawaban yang seperti diinginkan olehnya.


"Semuanya tergantung denganmu—"


"Ya, benar sekali... Kami semua pasti akan menyukaimu juga." Sela Aphrodite yang memotong perkataan Athena. "Kakak tidak perlu khawatir, asalkan kakak selalu jujur dan tidak menyembunyikan apapun, kami semua pasti akan menyukaimu. Tentunya Kak Es juga. Apalagi kau sangat cantik, Kak."


Dyara tersenyum mendengar jawaban dari Aphrodite. Perkataannya itu membuat gadis tersebut seperti memiliki harapan.


...***...


Tania duduk di meja belajarnya setelah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Gadis itu menatap ke layar ponselnya.


Saat belajar dan bahkan sejak dirinya kembali ke tempat tinggalnya, dia terus melihat ke ponselnya. Entah kenapa gadis itu menunggu Ares menghubunginya.


Saat ini langit sudah gelap dan waktu menunjukkan sudah saatnya makan malam. Itu membuat Tania penasaran apa yang dilakukan Ares dan Dyara tadi karena sudah beberapa jam berlalu namun Ares tidak menghubunginya.


"Apa sebaiknya aku menghubunginya lebih dahulu ya?" Pikir Tania sesudah melihat ponselnya yang masih tidak menerima pesan dari Ares. "Untuk apa aku menghubunginya?!" Tania berdecak sambil meletakan ponselnya ke meja.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Mendengarnya membuat Tania berpikir kalau itu mungkin saja Ares. Hal itu membuatnya menyunggingkan senyumnya tanpa sadar.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2