
Kabar mengenai pesta ulang tahun Ares menjadi perbincangan utama di sekolah hari ini. Banyak sekali murid yang antusias ingin hadir ke acara tersebut.
Bahkan di forum sekolah, mereka membahas kalau pastinya Dyara lah yang akan mendapatkan suapan kue ulang tahun dari Ares.
Ketika jam istirahat Ares yang baru dari kantin untuk membeli air mineral, mencari Tania. Pemuda itu mencarinya karena tidak melihat gadis itu berada di kelas. Sedangkan tentunya Tania sudah tidak lagi datang ke ruang OSIS sejak kemarin.
"Di mana dia? Sebaiknya aku chat saja." Gumam Ares sambil membuka ponselnya dan berjalan.
Kau di mana? Habis ini test matematika, ayo kita belajar bersama sebentar.
Demikian isi pesan yang dikirimkan Ares pada Tania.
"Kak Ares," panggil Dyara dan menghentikan langkah pemuda itu.
"Bagaimana keadaan tanganmu? Apa sudah lebih baik?" Tanya Ares saat melihat balutan di tangan Dyara.
"Ya, sudah lebih baik." Jawab Dyara. "Kak, besok itu ulang tahunmu. Aku hanya ingin menanyakan apa ada sesuatu yang kau inginkan saat ini? Aku akan memberikannya sebagai hadiah." Ujar Dyara.
"Hadiah? Tidak perlu, kau tidak perlu memberikan apapun padaku." Jawab Ares. "Aku harus pergi, habis ini ada test matematika, karena itu aku harus belajar."
Setelah berkata begitu, Wanda melintas di arah mereka.
"Wanda, apa kau tahu di mana Tania?" Tanya Ares.
"Tania? Tadi aku lihat dia masuk ke perpustakaan." Jawab Wanda.
Dyara terlihat kesal saat Ares menanyakan Tania di depannya. Gadis itu merasa sangat cemburu karena Ares mencari gadis yang dianggapnya saingan itu.
***
Tania yang berada di perpustakaan menghela napasnya saat teringat kembali pada hadiah yang akan diberikannya pada Ares.
Meski semalam dirinya sudah memutuskan untuk hanya memberikan dua buku tulis, namun entah kenapa hatinya tetap merasa mengganjal.
"Apa aku harus membelinya? Tapi itu sangat mahal." Bisik Tania.
Ponsel yang diletakkannya di atas meja, di samping buku pelajaran muncul pesan dari Ares.
Tania membacanya namun dia sama sekali tidak berniat untuk membalasnya karena tidak ingin Ares datang menemuinya.
"Apa aku cari saja hadiah lainnya nanti sepulang sekolah?" Tanya Tania tampak berpikir. "Ya, sepertinya itu hal yang bagus."
Tania menidurkan kepalanya ke atas meja, gadis itu berniat untuk memejamkan matanya sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Untung saja perpustakaan selalu sepi sehingga tempat itu menjadi tempat yang cocok untuknya beristirahat setelah gadis itu tidak bisa lagi ke ruang OSIS.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" Tanya Ares yang tiba-tiba datang dan membuat Tania terkejut.
__ADS_1
Gadis itu kembali mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling. Tak ada siapapun selain mereka berdua di sana.
"Habis ini test matematika, aku yakin nilaiku akan bagus." Ujar Ares duduk di kursi yang ada si sebelah kiri Tania.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Tania heran pada pernyataan Ares. "Bahkan tadi malam saat belajar, kau masih saja melupakan banyak rumus."
"A—aku... Sehabis kau pulang... Aku kembali belajar. Dan aku rasa aku tidak akan melupakan apapun lagi." Jawab Ares tergagap meski wajahnya berusaha menunjukkan keyakinannya.
"Baguslah kalau begitu." Jawab Tania. "Hari ini kita tidak perlu belajar."
"Memangnya ada apa? Kenapa kita tidak belajar?" Tatap Ares penasaran.
"Aku ingin beristirahat. Besok itu juga acara ulang tahunmu, sebaiknya kau beristirahat juga." Seru Tania menyembunyikan hal yang sesungguhnya dari Ares.
"Baik... Lah, jika seperti itu." Ares tersenyum karena merasa senang perkataan Tania terdengar seperti menunjukkan rasa perhatian gadis itu.
Melihat senyum Ares, membuat Tania mengalihkan tatapannya dengan canggung karena gadis itu tahu kalau Ares salah mengartikan perkataannya.
Ketika jam pulang, Ares berjalan keluar gedung sekolah sambil menelepon temannya. Pemuda itu berjalan mengarah ke parkiran, di mana motornya berada.
"Kau harus datang Anton, kau juga harus mengenalkan kekasihmu padaku. Selama ini kau tidak mengatakannya padaku, sedangkan yang lain bilang kalau beberapa kali kau pergi dengan seorang gadis." Seru Ares pada sahabatnya di ujung telepon.
"Tidak, kau salah. Aku tidak memiliki kekasih. Gadis itu hanya temanku saja. Oh iya, ngomong-ngomong, siapa yang akan mendampingimu saat acara? Siapa gadis yang akan mendapatkan suapan pertama? Apa gadis itu? Si kacamata, siapa namanya? Tania?"
"Kau ini bicara apa, aku hanya akan memberikan suapan kue ulang tahunku pada ibu dan kedua adik tercintaku." Jawab Ares menyanggah perkataan Anton.
"Sudah dulu ya, aku harus berbicara dengan seseorang." Ujar Ares setelah itu menutup teleponnya.
"Ketua OSIS yang baru!" Panggil Ares sambil berjalan cepat mendekati Tyaga yang sudah membuka pintu mobilnya, hendak masuk. "Hari ini tidak ada rapat OSIS? Astaga, ternyata kau lebih pemalas dari si kacamata."
Tyaga tidak menanggapi ocehan Ares, dan hanya menatapnya dingin.
"Datanglah ke acara ulang tahunku besok." Seru Ares. "Kau bisa bersenang-senang dan tidak harus belajar dan mengerjakan sesuatu yang serius selalu."
"Aku tidak datang ke acara anak kecil." Jawab Tyaga. "Ah iya, besok itu rapat komite untuk menetapkan peraturan yang baru. Sebaiknya kau mulai mengingatnya untuk tidak berkelahi lagi mulai sekarang."
Setelah mengatakan hal tersebut, Tyaga masuk ke dalam mobilnya.
Ares hanya berdesis dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya mendengar perkataan sombong Tyaga tersebut.
...***...
Tania berjalan memasuki mall. Gadis itu berniat mencari hadiah ulang tahun yang akan dibelinya untuk Ares. Dia terus berkeliling sambil memikirkan apa yang hendak dirinya beli. Tentunya yang harganya terjangkau untuknya.
Namun sudah lebih dari tiga puluh menit Tania mengelilingi mall yang ukurannya sangat besar dan terdiri dari lima lantai tersebut. Tak ada yang terpikirkan olehnya, bahkan gadis itu tidak berani memasuki salah satu toko karena tahu kalau harga barang di toko-toko tersebut tidak bisa dirinya jangkau.
"Seharusnya aku tidak ke sini. Semua yang ada di sini sangat mahal." Ujar Tania dengan tidak semangat.
__ADS_1
Terpikirkan suatu keinginan dirinya untuk menuju toko yang merupakan brand dari jaket kulit yang diinginkan Ares.
Gadis itu memberanikan diri untuk masuk ke toko tersebut dan mencari jaket kulit itu, hanya untuk melihatnya secara langsung atau pun mengecek kembali harganya, kalau-kalau dirinya salah lihat ketika melihatnya di ponsel Aphrodite kemarin.
"Ternyata harganya memang segitu." Tania menghela napas perlahan ketika melihat label harga yang tertera di jaket yang dipajang. "Jaket ini memang sangat bagus, tapi harga segitu terlalu mahal hanya untuk sebuah pakaian. Apa semua orang kaya, membuang-buang banyak uang hanya untuk membeli pakaian?"
Tania semakin tidak tahu harus bagaimana. Sekarang dirinya menjadi berpikir kalau sepertinya tidak masalah jika dia membeli jaket yang dilihatnya di toko daring.
"Ku rasa tidak masalah aku membeli jaket itu untuk hadiahnya. Toh nanti dia juga akan membayarku karena membantunya belajar." Ujar Tania meyakinkan dirinya untuk membeli jaket yang ada di toko daring. "Kira-kira ukurannya apa ya?"
"Mantan ketua OSIS?"
Tiba-tiba terdengar suara Tyaga memanggil Tania. Gadis itu menoleh ke belakang dan memang benar kalau Tyaga berada di sana, berdiri di belakangnya.
"Kau? Kenapa kau di sini?" Tanya Tania heran melihat Tyaga.
"Bukannya seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Di sini hanya menjual pakaian dan aksesoris pria. Kenapa kau ada di sini?" Tyaga membalikkan pertanyaan Tania.
Tania menjadi bingung harus menjawab apa. Tentunya dirinya malu jika menjawab hal yang sesungguhnya, yaitu mencari hadiah untuk Ares.
"Apa jangan-jangan kau sedang mencari hadiah untuk Ares?" Pertanyaan Tyaga tepat sekali. "Kau tidak perlu malu mengatakannya padaku."
"Sejujurnya aku tidak mencari hadiah, aku hanya mengecek harga saja." Jawab Tania yang akhirnya mengatakan hal yang lebih jujur lainnya karena merasa tidak masalah jika mengatakan semua itu pada Tyaga.
"Apa jaket ini?" Tanya Tyaga mengambil jaket kulit yang tergantung dan melihat harganya. "Ini pasti sangat mahal untukmu."
"Ya, kau benar, karena itu aku tidak akan membelinya." Jawab Tania.
"Sayang sekali ya. Aku ingin menawarkan padamu kalau aku bisa membelikannya untukmu, tapi aku tahu kau tidak akan mau dan lagi akan terasa aneh jika memberikan hadiah ulang tahun untuk seseorang yang spesial, dari orang lain yang membelikannya. Karena itu aku tidak akan menawarkannya padamu." Seru Tyaga.
"Kau salah, dia bukan orang spesial untukku. Aku akan menolaknya memang karena aku tidak suka seseorang membelikan apapun padaku dengan cuma-cuma. Itu akan membuatku memiliki utang budi." Jawab Tania.
Tyaga mendengus dengan menyunggingkan bibirnya mendengar ucapan Tania.
Melihat Tyaga, Tania jadi mengingat sesuatu. Hal yang tadi dirinya tanyakan yaitu mengenai ukuran Ares. Tinggi badan Ares tidak jauh berbeda dari Tyaga sehingga dia bisa memakai ukuran Tyaga untuk membeli jaket yang akan dia pesan di toko daring nanti.
"Berapa ukuranmu?" Tanya Tania.
Tyaga melihat ukuran yang ada di dalam jaket kulit yang dipegangnya.
"Ini ukuranku." Jawab Tyaga.
Tania langsung melihat pada label ukuran di jaket kulit yang dipegang Tyaga membuat mereka terlihat berdekatan.
Tidak jauh dari sana, seseorang sedang menangkap posisi Tania dan Tyaga yang terlihat sangat dekat itu, memotretnya dengan kamera ponsel.
"Mereka berdua memang terlihat sangat serasi." Ucap Dyara, orang yang memotret.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...