PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
089. HAL YANG DITAKUTKAN


__ADS_3

Perawat sedang mengganti cairan infusan yang sudah habis pada Tania. Kondisi gadis itu sudah lebih baik dari kemarin meski begitu, kesehatannya belum pulih sepenuhnya.


"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Tanya si Perawat setelah selesai dengan pekerjaannya.


"Aku merasa sudah lebih baik." Jawab Tania.


"Kenapa tidak ada yang menemanimu? Di mana pemuda yang tadi malam datang? Aku pikir dia menemanimu hingga hari ini," ujar si Perawat.


Tania sempat tidak mengerti dengan perkataan Perawat tersebut. Namun yang dirinya tangkap adalah, pemuda yang dimaksud oleh si Perawat adalah Kayden.


"Dia harus mengajar pagi ini, tidak mungkin kalau dia berada di sini." Jawab Tania.


"Mengajar? Aku pikir kalian seumuran," ucap si Perawat dengan sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa heran. "Tapi itu aneh, kenapa dia datang tengah malam, mungkin kau juga sudah tidur, makanya tidak tahu."


Tania menjadi bingung dengan perkataan Perawat yang usianya jauh lebih tua darinya. Orang yang di maksudnya pastilah bukan Kayden. Hanya Tyaga yang terpikirkan olehnya namun tidak dia mengerti kenapa pemuda itu datang saat tengah malam dan pergi tanpa memberitahunya.


...***...


Jam istirahat Ares keluar dari kelas, saat yang bersamaan Dyara datang menemui pemuda itu. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada Ares, tentunya mengenai Shane.


"Kak, Shane sudah membalas pesanku. Sepertinya saat ini dia sudah kembali ke sini. Dia memintaku untuk datang ke tempatnya tapi aku memintanya untuk bertemu di tempat lain." Ujar Dyara saat tiba di hadapan Ares berdiri.


"Benarkah?" Tanya Ares tampak sangat terkejut. Terlihat ekspresi senang bercampur kemarahan saat mengetahui Shane sudah berada di dekatnya.


"Aku memintanya untuk menemuiku di tempat lain. Kau bisa mengatakan di mana aku harus bertemu dengannya, Kak." Ucap Dyara.


Ares langsung memikirkan sebuah rencana untuk menemui Shane. Dia sudah sangat ingin membalaskan semua perbuatan pemuda itu pada sahabatnya—Anton.


Sepulang sekolah, Tyaga datang menjenguk Tania yang masih dirawat di rumah sakit. Hari ini sedang tidak ada kegiatan OSIS sehingga pemuda itu bisa lebih cepat meninggalkan sekolah.


"Bagaimana keadaanmu? Kau sudah lebih baik?" Tanya Tyaga sambil meletakkan parsel buah yang dibawanya untuk Tania.


"Dibandingkan kemarin, sekarang aku merasa sudah lebih baik." Jawab Tania segera beranjak duduk di atas ranjang ketika Tyaga berdiri di samping ranjangnya. "Bagaimana keadaan sekolah? Apa ada murid yang melanggar peraturan?"


"Sampai saat ini, tidak ada pelanggaran berat. Aku merasa peraturan baru membawa efek yang baik untuk murid dan sekolah." Jawab Tyaga. "Tidak lama lagi ujian kelulusan, sebaiknya kau menjaga kesehatanmu agar bisa lulus dengan baik."


"Ya, kau benar. Akhir-akhir ini aku selalu tidak memedulikan diriku. Nilaiku juga menurun dibandingkan sebelumnya." Ucap Tania menatap ke arah ranjang yang di dudukinya. "Sepertinya aku harus berhenti bermain-main lagi sekarang dan lebih berusaha keras."


"Tidak, kau hanya perlu untuk tidak memaksakan dirimu. Aku tahu mengenaimu dan kesibukanmu selama ini. Mulai sekarang lebih baik kau memperhatikan dirimu sendiri dan berfokus pada tujuanmu tanpa memedulikan hal lainnya, tapi jangan terlalu memaksakan dirimu."

__ADS_1


Tania memikirkan perkataan Tyaga. Sejak dirinya berniat membantu Ares lulus sekolah, gadis itu memang lebih sibuk dari biasanya. Itu membuatnya sering tidak memikirkan waktu makan dan apa lagi waktu tidur. Terkadang, dia hanya tidur dia atau tiga jam setiap hari.


"Tyaga," panggil Tania menoleh pada Tyaga yang masih berdiri di samping ranjang. "Suster bilang kalau kau datang tadi malam ke sini. Kenapa kau datang tengah malam seperti itu dan pergi?"


Sejenak Tyaga merasa bingung dengan pertanyaan Tania namun pemuda itu langsung mengira kalau orang yang dimaksud Tania sebenarnya bukanlah dirinya melainkan orang lain, yakni Ares.


"Kau sangat aneh. Lain kali jangan datang tengah malam seperti itu. Atau kau bisa membangunkan aku saat aku sedang tidur. Ah, tidak! Seharusnya kau tidak perlu sering datang ke sini." Ujar Tania melihat Tyaga yang hanya berekspresi datar seperti biasanya.


Pemuda itu hanya diam saja dan tidak mengatakan yang sebenarnya, bahkan tak ada jawaban darinya mengenai hal itu pada Tania.


...***...


Ares melajukan motornya dengan sangat cepat menuju suatu tempat. Pemuda itu sudah tidak sabar untuk menemui seseorang. Seseorang yang sudah membuat sahabatnya pergi untuk selamanya.


Di balik helm yang dikenakannya, wajah pemuda itu sungguh terlihat menegang, menahan emosi amarah yang sangat ingin dia luapkan secepatnya.


Dengan bantuan Dyara, Shane kembali ke kota ini dan ingin menemui gadis itu, namun yang terjadi adalah, Areslah yang sedang dalam perjalanan menuju tempat di mana dirinya akan membalaskan semua perbuatan Shane pada Anton.


Hari sudah gelap dan waktu menunjukkan lebih dari jam tujuh malam ketika Ares sampai di sebuah restoran. Pemuda itu turun dari motornya dan melangkahkan kakinya dengan sangat lebar mengarah masuk ke dalam restoran mewah.


Matanya langsung memutar ke seluruh isi restoran, mencari sosok yang ingin dirinya temui. Hingga pandangannya menangkap ke sosok pemuda yang tampak terkejut saat melihat dirinya.


Shane sedang duduk di salah satu meja, matanya terbelalak ketika melihat Ares berada di tempat dirinya berada. Pemuda itu bangkit berdiri dari duduknya saat Ares berjalan ke arahnya.


"Akhirnya aku bisa menemukanmu." Ucap Ares dengan nada datar.


Terlihat wajah ketakutan Shane pada Ares. Namun keberadaan mereka saat ini sedikit membuat dirinya lebih merasa tenang.


Mereka berdua berada di tempat umum, sehingga tidak mungkin Ares akan melakukan hal-hal buruk seperti menghajarnya.


"Ke—kenapa kau ingin menemuiku?" Tanya Shane mencoba terlihat berani.


Mendengar perkataan Shane seperti menyulut emosi Ares lebih lagi. Pemuda itu sudah tidak sabar untuk menghajar orang yang berani membuat sahabatnya pergi selamanya.


Ares langsung mencengkram kerah baju Shane, seketika semua mata menatap pada kedua pemuda itu.


"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Ares dengan tatapan tajam, masih berusaha menahan amarahnya.


Shane mendengus menjawab pertanyaan Ares. Pemuda itu berusaha menunjukkan keberaniannya karena tidak mungkin Ares akan berani melakukan sesuatu padanya di saat semua mata menatapnya.

__ADS_1


"Bukankah semua itu juga salahmu? Aku dengar kau tidak datang ke gudang itu karena kau lebih sibuk dengan persiapan pesta ulang tahunmu." Jawab Shane menyunggingkan bibirnya, terlihat menantang Ares.


Jawaban Shane itu langsung membuat Ares mendaratkan sebuah pukulan padanya.


Semua pengunjung di tempat itu menjadi gaduh karena perbuatan Ares itu.


Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, Ares menyeret Shane yang terlihat kesakitan dengan pukulan yang di terimanya. Dengan penuh amarah, Ares menarik pemuda itu dengan kedua tangannya dan penuh amarah hingga ke luar dari restoran.


Berada di luar restoran, Ares terus melancarkan pukulannya pada Shane dengan membabi buta. Beberapa pekerja di restoran itu yang ikut keluar saat melihat mereka, berusaha untuk melerai, namun amarah yang sudah dipendam Ares sejak kematian Anton, membuat pemuda itu sama sekali tidak berniat menghentikan pukulannya.


"Aku mohon, hentikan," pinta Shane dengan menahan rasa sakit yang dideritanya akibat pukulan-pukulan Ares.


"Kau membunuh sahabatku. Jangan harap kalau aku mengampunimu. Aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama!!" Geram Ares setelahnya langsung meninju bagian perut Shane dengan sangat keras.


...***...


"Dokter bilang kalau besok keadaanku sudah lebih baik, aku dibolehkan pulang." Ujar Tania pada Kayden yang datang menjenguknya.


"Itu bagus sekali. Sebaiknya kau banyak istirahat sekarang agar besok kondisimu benar-benar pulih agar dokter membolehkanmu pulang." Seru Kayden yang duduk dengan santai di kursi. "Malam ini aku akan menemanimu di sini."


"Untuk apa? Itu tidak perlu. Aku tidak akan merasa nyaman jika seorang pria berada di sini." Jawab Tania. "Pulanglah, aku tidak perlu siapapun menemaniku di sini. Kau pasti juga merasa lelah kan?"


Sebelum sempat Kayden menjawab pertanyaan Tania, ponselnya menerima sebuah panggilan. Pria itu terlihat mengerutkan dahinya ketika melihat nomer yang muncul di layar ponselnya.


"Selamat malam," Ucap Kayden menerima telepon tersebut.


Tania terus memperhatikan raut wajah Kayden yang terlihat tidak menyenangkan saat mendengarkan orang yang menelepinnya berbicara.


"Ada apa?" Tanya Tania sangat penasaran saat Kayden menutup teleponnya dan beranjak berdiri dengan terlihat terburu-buru. "Siapa yang meneleponmu? Kenapa sepertinya bukan kabar yang bagus?"


"Kantor polisi. Ares ditangkap karena berkelahi dan saat ini polisi menahannya." Jawab Kayden.


Mendengarnya, Tania sontak sangat terkejut. Hal yang dirinya takutkan, sekarang benar-benar terjadi.


"Aku harus pergi ke kantor polisi." Ujar Kayden.


"Aku ikut denganmu." Seru Tania.


"Apa? Itu tidak mungkin. Untuk apa kau ikut?" Kayden terlihat heran pada gadis yang tatapannya dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


"Aku mohon, biarkan aku ikut denganmu ke kantor polisi." Ucap Tania.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2