
Tania membuka mata ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi. Matanya mengelilingi sekitar ruangan untuk mencari keberadaan Ares, namun pemuda itu tidak ada.
Saat ini, Tania sudah merasakan kalau kondisi badannya sudah lebih baik sehingga dirinya sudah bisa lebih banyak bergerak.
Gadis itu langsung bangun dari posisi tidurnya dan berencana untuk ke kamar mandi. Sejujurnya sejak semalam dirinya menahan keinginannya untuk buang air kecil karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Ares di sana.
Sekarang, saat tidak ada pemuda itu di sana, Tania segera turun dari ranjang rumah sakit untuk ke kamar mandi.
Namun tiba-tiba Ares membuka tirai saat Tania sudah turun dari ranjangnya.
"Kau ingin ke mana?" Ares segera mendekati Tania dengan wajah yang khawatir.
Tania memutar matanya karena dirinya kembali merasa tidak nyaman. Meski begitu keinginannya untuk buang air kecil sudah tidak tertahankan lagi.
Gadis itu melangkahkan kakinya mengarah ke toilet. Namun langkahnya sangat perlahan hingga Ares langsung memapahnya tanpa diminta.
"Aku baru ingat, sejak semalam aku tidak melihatmu ke toilet." Seru Ares saat memapah Tania. "Apa kau menahannya?"
Tania menengadahkan kepalanya dan melihat pada Ares. Pandangan mereka sangat dekat hingga Ares mengalihkan tatapannya dari gadis itu dan melepaskan lengannya dari pinggang Tania karena merasa sadar kalau tidak seharusnya dia melakukan itu.
"Maafkan aku." Ucap Ares.
Tania segera masuk ke dalam toilet dan menutup pintunya. Di luar Ares tampak berpikir sesuatu.
"Jangan bilang dia menahannya karena malu padaku? Astaga, ternyata dia bisa malu juga untuk hal sepele seperti itu. Padahal dia menciumku waktu itu tidak malu sama sekali." Guman Ares di depan pintu toilet.
Tania yang berada di dalam toilet mendengar ucapan pemuda itu. Gadis itu jadi berdecak kesal. Dirinya juga tidak mengerti kenapa sekarang sepertinya ada perasaan malu yang dia rasakan pada Ares.
"Tidak mungkin aku terkesan pada sikapnya ini." Bisik Tania sambil berdecak kesal di tengah suara air yang mengalir dari kloset.
Segera gadis itu keluar dari toilet dan melihat Ares yang masih berdiri di depan pintu. Hal itu membuat Tania semakin heran.
"Benar kau menahannya? Itu tidak bagus untuk kesehatan. Kenapa kau tidak buang air kecil saja dan tidak menahannya? Tidak ada yang perlu membuatmu malu." Seru Ares.
Tania melihat ke arah di mana pasien yang seruangan dengannya memperhatikan mereka berdua, itu membuat gadis itu menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
Segera Tania berjalan masuk ke dalam tirai di mana ranjangnya berada, Ares mengikutinya masih terus mengoceh mengenai hal buruk yang akan terjadi kalau manusia menahan buang air kecil.
"Ginjalmu akan sakit kalau kau menahan—"
"Sebaiknya tutup mulutmu, kau mengganggu pasien lainnya dengan ocehan tidak bergunamu." Ujar Tania dingin.
Ares langsung menutup mulutnya dengan sedikit mengatup kesal.
"Ya kalau begitu lebih baik aku mandi dulu sekarang." Ucap Ares mengambil tas yang baru pemuda itu ambil dari mobil dan langsung menuju toilet di ruangan tersebut.
Melihatnya Tania jadi tahu kalau Ares baru saja mengambil pakaian yang dibawakan Tasya tadi malam. Pemuda itu baru mengambilnya dan bahkan belum sempat berganti pakaian sejak semalam apalagi mandi.
Dengan napas yang dalam dan helaan panjang, Tania duduk di atas ranjangnya saat Ares pergi mandi.
Tiba-tiba pasien yang dirawat di ranjang sampingnya membuka tirai tanpa Tania duga. Pasien tersebut merupakan seorang gadis muda juga yang sedang mengalami tangan yang retak. Pasien yang tadi memperhatikan Ares dan Tania saat berada di depan toilet.
"Apa kalian sepasang kekasih?" Tanya si pasien yang usianya tidak jauh berbeda dari Tania.
"Apa?" Tania terlihat terkejut mendengar pertanyaan gadis itu.
"Bu—bukan, dia bukan kekasihku." Sanggah Tania dengan bingung.
"Benarkah? Apa pria yang terlihat lebih tua yang membawamu masuk itu yang merupakan kekasihmu?"
Tania semakin tidak mengerti dengan pertanyaan gadis yang tangan kanannya terpasang gips itu. Namun dia langsung dapat menangkap siapa yang dimaksudkan pasien yang satu ruangan dengannya itu.
"Dia wali kelasku. Mereka berdua bukan kekasihku." Jawab Tania.
"Benarkah? Jadi pria itu bukan kekasihmu? Apa dia sudah punya kekasih?" Tanya gadis itu yang ranjang tempat tidurnya tepat bersebelahan dengan Tania.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya tidak punya karena tidak akan ada gadis yang menyukai pria seperti itu."
"Aku suka! Aku suka padanya."
"Hah?" Tatap Tania heran pada si gadis.
__ADS_1
"Ah, kenalkan... Namaku Dyara. Kalian berdua dari SMA Sansekerta kan? Aku lihat seragam kalian." Gadis yang bernama Dyara tersebut menyodorkan tangannya pada Tania untuk bersalaman. "Aku dari SMA Cahaya Pelita, kelas sebelas. Kau kelas berapa? Pria itu juga kelas berapa? Apa kalian berdua sekelas?"
"Ya, aku dengannya sekelas. Kami di kelas dua belas." Ucap Tania menyambut jabat tangan Dyara.
Dyara Rosalin adalah gadis yang tahun ini berusia 17 tahun. Pembawaannya sangat terus terang dan tampak ceria. Wajahnya cantik dengan tinggi badan 165 cm. Yang terpenting dari itu, dia merupakan seorang selebgram.
"Wah, benarkah? Apa aku harus pindah ke sekolahmu agar aku bisa mendekatinya?" Seru Dyara dengan sangat antusias. "Ngomong-ngomong siapa namanya? Dan kalau bukan kekasih lalu kenapa bisa dia yang menemanimu di rumah sakit? Apa kalian bersahabat dekat?"
"Tidak, bahkan kami tidak berteman. Dia hanya ingin bertanggung jawab karena dirinya aku masuk ke rumah sakit." Jawab Tania tanpa ekspresi berarti.
"Bertanggung jawab? Wah, dia pria yang sempurna... Wajahnya tampan, dengan tubuh tinggi yang sangat bagus. Ditambah dia juga pria yang bertanggung jawab. Aku sangat menyukainya." Oceh Dyara dengan wajah sumringah.
Tania semakin aneh melihat pada gadis yang baru saja berkenalan dengan dirinya tersebut. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa menyukai seseorang dengan begitu cepatnya dan tidak saling mengenal.
"Aku akan meminta papaku untuk pindah sekolah ke sekolah kalian." Ujar Dyara tak henti-hentinya tersenyum senang. "Eh, kau belum menyebutkan siapa namanya. Siapa namanya?"
"Ares." Jawab Tania.
"Ya, ada apa?" Tiba-tiba Ares berjalan masuk ke area tempat Tania di rawat sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk setelah dirinya abis keramas.
Tania melihat ke arah Ares yang baru saja mandi dan berganti pakaian santai. Melihatnya Tania sejenak seperti terpesona pada pemuda itu.
"Dia keren sekali." Gumam Dyara dengan suara perlahan dan hanya didengar oleh Tania saja.
"Kau memanggilku?" Tanya Ares terlihat aneh, terlebih pemuda itu melihat tirai di ranjang sebelah bergeser dan memperlihatkan seorang gadis yang merupakan pasien lainnya sedang menatap padanya. "Ada apa?" Ares melihat Tania lagi.
"Kak Ares, kenalkan namaku Dyara." Seru Dyara melambaikan tangannya pada Ares dan setelahnya membuka tirai semakin lebar. "Ah, bagaimana kalau tirai ini aku geser saja. Aku tidak ada yang menemani karena kedua orang tuaku sibuk bekerja karena itu juga aku menolak dirawat di kamar VIP. Aku dengar di rumah sakit itu sangat menyeramkan. Apa itu benar?"
Tania menoleh pada Dyara yang terus saja mengoceh pada Ares meski pemuda itu masih terlihat bingung pada gadis tersebut.
"Kakak pasti bingung kan padaku? Ya, aku memang banyak bicara karena itu juga aku tidak suka sendirian. Ah, iya... Kak Ares sepertinya aku menyukaimu." Ucap Dyara dengan sangat terus terang.
"Apa?" Ares tampak sangat terkejut pada pernyataan gadis yang baru saja satu menit lalu dirinya lihat.
Rasa terkejut juga dirasakan oleh Tania yang langsung menoleh pada Dyara yang duduk di atas ranjang sampingnya.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...