PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
058. TENGAH MALAM


__ADS_3

Dyara memeluk Ares saat pemuda itu hendak meninggalkannya. Gadis itu memeluknya dari belakang dengan sangat erat.


"Kak, sepertinya orang tua Kakak menyukaiku." Ujar Dyara masih di posisinya yang memeluk Ares. "Aku senang karena ibu kakak memintaku menginap."


Ares memegang lengan Dyara yang melingkari tubuhnya untuk merenggangkan dekapan gadis itu, dengan kata lain melepaskan pelukan gadis tersebut. Berbaliklah dirinya dengan sedikit mundur.


"Ibuku memang selalu seperti itu. Dia sangat ramah dengan semua orang." Jawab Ares.


"Tapi, apa aku gadis pertama yang menginap di rumah ini?" Tanya Dyara.


Ares hanya mengangguk tipis menjawabnya sehingga Dyara memulas senyum, memperlihatkan rasa senang dirinya.


"Aku sangat senang. Aku harap kau pun juga senang karena aku menginap di sini." Ujar Dyara dengan tatapan lekat pada Ares.


"Ya aku senang." Jawab Ares tanpa mempertimbangkan apapun.


Pemuda itu paling tidak bisa menyakiti seorang gadis sehingga dirinya memilih untuk mengatakan apa yang ingin didengar oleh Dyara.


"Aku harus keluar, mereka berdua pasti mengintip di luar pintu." Ujar Ares setelahnya melangkah pergi dan keluar dari kamar tersebut.


Dyara tersenyum mendengar perkataan Ares yang baginya, dirinya seperti mendapatkan kesempatan untuk mendekati Ares karena pemuda itu sedikit demi sedikit mulai menyukainya. Begitu yang dipikirkan oleh gadis tersebut.


Ares yang keluar dari ruangan itu melihat kedua adik kembarnya berdiri di depan pintu. Tepat sekali, si kembar memang mengintipnya tadi.


"Kalian berdua berhentilah mengintip seperti itu, kalau tidak mata kalian akan bintitan." Seru Ares sedikit kesal pada Aphrodite dan Athena yang menunjukkan senyumnya pada kakak laki-laki mereka.


"Kak, apa kau sudah tidak menyukai Kak Tania? Apa sekarang kau menyukainya?" Tanya Aphrodite penasaran.


"Ya, itu sudah jelas kan sekarang?" Timpal Athena.


Ares hanya menatap kedua adiknya dengan pikiran yang menjadi teringat pada Tania. Itu membuatnya ingin segera menghubungi gadis itu.


"Kalian berdua memang berisik. Jangan berkata hal yang aneh-aneh." Seru Ares sembari melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Saat berada di kamar, Ares segera mengambil ponselnya. Pemuda itu hendak menelepon Tania.


Sambil duduk di sisi tempat tidur, Ares menelepon gadis yang sempat dirinya lupakan tersebut. Namun keinginannya terurungkan karena kembali mengingat perkataan Kayden yang menyuruhnya untuk menjauh dari gadis itu.


Dirinya berpikir kalau sebaiknya untuk saat ini hingga besok pertandingannya dengan Kayden, dia tidak menghubungi Tania.


Dengan menghela napas Ares meletakkan ponselnya dengan diakhiri sebuah gerakan karena kesal.


"Besok aku harus mengalahkannya!!" Ucap Ares dengan penuh tekat.


...***...


Tania keluar dari rumah Kayden. Saat masuk kembali ke kamarnya, gadis itu langsung mengambil ponselnya yang ditinggalkan tadi.


Dia berharap kalau Ares menghubunginya, akan tetapi tak ada panggilan telepon atau pun pesan dari pemuda itu.

__ADS_1


Sambil merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, Tania membuka akun sosial media miliknya. Karena penasaran apa yang terjadi dengan Ares dan Dyara, gadis itu melihat akun media sosial Dyara.


Sebuah gambar Dyara yang diambilnya di sebuah kamar yang terlihat mewah, dengan deskripsi;


Awal yang bagus untuk masuk ke keluarga ini.


Karena penasaran, Tania melihat ratusan komentar unggahan tersebut. Sebagian besar menanyakan apa yang sedang dilakukan gadis itu dan sedang berada di mana dia.


Dyara hanya membalas salah satu komentar dengan mengatakan, Aku bermalam di rumah pria yang ku cinta.


Banyak sekali balasan dari komentar Dyara tersebut yang menanyakan apakah gadis itu bermalam di rumah Ares atau tempat lainnya, namun tidak ada jawaban apapun lagi dari Dyara.


Membaca semua itu, membuat Tania menghela napas panjang setelah meletakkan ponselnya di samping tubuhnya yang berbaring. Rasa penasarannya membuat menjadi sangat lelah sekarang.


Tania ingin tahu, apakah Dyara benar bermalam di rumah Ares atau tidak. Dan entah bagaimana, sekarang Tania merasa terganggu dengan hal tersebut.


Diambilnya lagi ponselnya dan gadis itu kembali melihat unggahan Dyara. Dibacanya kembali komentar yang ada dengan berharap kalau Dyara akan membalas komentar tersebut untuk kebenarannya.


Akan tetapi karena tangan yang licin membuat ponselnya terjatuh dan menimpa wajahnya.


"Ish... Astaga, kenapa aku tidak memegangnya dengan benar?" Ringis Tania merasa sakit dibagian keningnya.


Diambilnya ponselnya dan dilihatnya lagi unggahan Dyara. Gadis itu sontak kaget karena tanpa dia duga, dirinya tidak sengaja memberikan suka pada postingan Dyara tersebut.


"Apa yang ku lakukan?" Tania bangkit duduk dengan terkejut.


Sambil menahan rasa kesalnya pada dirinya sendiri, Tania membaringkan tubuhnya lagi.


"Ada apa denganku?" Sekali lagi Tania menghela napas. "Dia pasti tahu kalau aku melihat unggahannya tersebut."


...***...


Ares terkejut saat ponsel yang dia letakkan di sampingnya berbunyi panggilan masuk. Baru saja pemuda itu tertidur tanpa sengaja di atas tempat tidurnya.


"Es, kau di mana? Kau bilang akan menemui kami?" Suara Anton langsung terdengar di ujung telepon ketika Ares menjawab teleponnya.


Di lihatnya jam yang tergantung di dinding kamarnya. Saat ini hampir tengah malam, dia lupa memberitahu kalau dirinya tidak jadi menemui teman-temannya itu.


"Astaga, aku lupa." Ujar Ares sambil mengusap wajahnya yang masih merasa sedikit mengantuk.


"Jangan bilang kalau kau tidak jadi ke sini? Ayolah, kawan, datanglah ke sini. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Besok itu juga libur sekolah kan?" Seru Anton.


"Oke, baiklah. Aku akan langsung ke sana sekarang." Jawab Ares setelahnya menutup telepon tersebut.


Setelah mencuci wajahnya dan berganti pakaian, Ares keluar dari kamar. Waktu sudah menunjukkan lewat dari tengah malam.


Pemuda itu menuruni tangga dengan langkah perlahan, namun ternyata ayahnya masih berada di ruang tengah, sehingga pemuda itu menahan langkahnya saat berada di ambang tangga.


Athos—sang ayah yang sedang duduk di sofa dengan pandangan mengarah ke layar tablet ponselnya mengetahui kehadiran putranhay, meski begitu dia tidak menoleh sedikit pun.

__ADS_1


Ares tahu kalau ayahnya menyadari kehadirannya, sehingga pemuda tersebut melanjutkan langkahnya setelah berdecak bingung harus melakukan apa.


"Aku akan menemui teman-temanku." Ujar Ares dengan terus terang.


"Aku tidak bertanya apapun. Kau bisa pergi dan melakukan apapun yang kau mau." Jawab Athos sedikit pun tidak melihat pada Ares.


"Aku akan pulang besok pagi dan sarapan di rumah." Ucap Ares merasa sedikit tidak enak.


Ayahnya tidak mengatakan apapun lagi padanya. Dengan sedikit canggung Ares melangkah menuju pintu keluar untuk menemui teman-temannya.


Saat pemuda itu keluar dari rumahnya, Tasya—ibunya yang melihat kepergian Ares baru saja keluar dari dapur dan menghampiri suaminya dengan membawa segelas kopi.


"Dia pergi?" Tanya Tasya dengan heran melihat Ares keluar dari rumah. "Padahal gadis itu sedang menginap di sini, kenapa dia pergi?"


Athos melihat pada istrinya dengan sebuah senyuman.


"Dalam dirinya mengalir darahku. Dia tidak mudah tergoda dengan gadis lainnya sepertiku. Bahkan dia juga bisa menahan diri meski bersama dengan gadis yang disukainya." Jawab Athos menanggapi perkataan Tasya. "Dia itu mirip denganku."


Tasya berdesis mendengar ucapan suaminya. "Seharusnya dia masuk ke kamar gadis itu, seperti dulu aku sering masuk ke kamarmu." Ujar Tasya dengan tertawa sambil duduk di samping Athos dan memeluk lengan pria itu, sama seperti kebiasaannya ketika mereka masih muda dulu.


"Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan gadis itu." Ujar Athos menoleh pada Tasya.


"Kau tidak perlu memikirkannya, aku sudah tahu semuanya mengenai gadis itu." Jawab Tasya langsung mengecup bibir suaminya.


Selang beberapa menit Ares pergi, Dyara yang masih terjaga membaca banyak komentar yang penasaran di mana dirinya menginapnya.


Dilihatnya sebuah pemberitahuan suka dengan nama yang dirinya kenal, itu adalah akun sosial media Tania. Gadis itu menyadari kalau Tania melihat unggahannya tersebut dan tanpa sengaja memberikan suka namun dibatalkannya.


"Apa-apaan dia? Dia memata-matai akunku?" Gumam Dyara dengan kesal. "Maaf saja ya, kau bukan tandinganku, gadis culun."


Dyara mendengus saat memikirkan Tania, gadis itu sudah menganggap Tania sebagai saingannya dan rasa bencinya mulai tumbuh semakin jadi saat ini.


Terlintas sebuah rencana untuk menujukkan kalau dirinya lebih unggul dari Tania.


Dengan segera Dyara keluar dari kamar tempatnya menginap. Gadis itu berjalan perlahan menuju kamar Ares.


Dibukanya perlahan pintu kamar Ares yang tidak terkunci, dengan harapan kalau pemuda itu sedang tidur terlelap di kamarnya.


Tujuannya hanya satu, yaitu memotret Ares yang sedang tertidur di kamarnya agar dirinya bisa mengunggahnya di akun sosial medianya. Semua itu demi menunjukkan keunggulannya dibandingkan Tania.


Namun sayangnya, rencananya tidak bisa dilakukan karena Ares tidak ada di kamarnya.


Melihat pemuda itu tidak ada, membuat Dyara heran karena bingung ke mana Ares tengah malam begini.


"Kau sedang apa di sini?"


Dyara terkejut mendengar seseorang menegurnya di belakang dirinya. Segera dia berbalik, dan dilihatnya kedua adik kembar Ares berdiri melihat padanya dengan tatapan heran.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2