
Sejak bangun dari tidur, Ares merasa sangat kesal. Pemuda itu kesal karena masih belum juga bisa mengalahkan gurunya yang ternyata adalah The Bloody Rose. Ditambah dengan perintah yang diajukan Kayden padanya.
Jika Ares ingin menantang gurunya itu lagi, maka Ares harus melakukan perintah karena kekalahan semalam, yaitu menjauhi Tania.
Entah kenapa pemuda itu menjadi merasa sangat terganggu pada perintah tersebut. Karena itu sejak bangun tidur tadi, pemuda itu terus menerus menggeram saat mengingat hal tersebut.
"Kenapa dia harus mengajukan perintah seperti itu? Apa tujuannya?" Gumam Ares dengan bersungut-sungut kesal saat menuruni tangga.
Saat ini jam makan siang akan berlangsung, pemuda itu menuju meja makan di mana keluarganya sudah menunggu dirinya, kecuali sang ayah yang sedang pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis.
"Apa yang kau bicarakan, Es sayang?" Tanya Tasya —sang ibu menoleh pada Ares saat mendengar ocehan putranya tersebut.
Ares tidak menjawab, pemuda itu hanya langsung duduk di kursi yang ada di samping kiri ibunya. Meski begitu pikirannya masih terganggu karena masalah sebelumnya, dan wajahnya masih saja menyiratkan rasa kesal yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Apa kau bertengkar dengan Kak Tania, Kak?" Tanya Aphrodite yang duduk di hadapan Ares.
"Sepertinya memang seperti itu." Timpal Athena sambil mengunyah makanannya.
"Kalian berdua tutup mulut kalian!! Jangan menambah rasa kesalku, ya!!" Seru Ares menatap tajam pada kedua adiknya.
"Es, kau kenapa? Bukannya nanti kau akan pergi ke acara ulang tahun temanmu? Tania akan pergi bersamamu kan?" Tanya Tasya menoleh pada Ares.
"Tidak, dia tidak ingin pergi—"
"Jadi karena itu kau jadi sangat kesal?" Sahut Athena dengan sebuah tawa mengejek.
"Tidak! Siapa bilang aku kesal karena itu?!" Seru Ares semakin kesal.
"Jadi Kak Es tidak akan pergi ke acara itu? Aku bisa menemanimu jika kau mau, Kak." Ujar Aphrodite, adiknya yang satu itu memang lebih lembut pada Ares dibanding Athena.
"Aku tetap akan pergi." Jawab Ares.
"Benarkah? Kalau begitu kau akan pergi sendirian?" Tanya Athena.
"Kalian berdua berisik sekali." Kesal Ares malas menjawab pertanyaan adik-adiknya tersebut.
"Jadi kenapa kau kesal kalau kau tetap akan pergi ke acara itu?" Kali ini Tasya—ibu pemuda itu menoleh dengan bertanya. "Apa terjadi sesuatu antara hubunganmu dengan Tania?"
Ares melirik pada ibunya dengan tatapan aneh karena tidak mengerti maksud ibunya itu.
__ADS_1
"Maksud Mama apa? Hubungan apa? Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun." Jawab Ares dengan heran.
"Benarkah? Mama pikir kalian berpacaran, karena itu kau kesal saat ini."
"Sudah aku bilang kalau bukan—"
"Lalu apa hal yang membuatmu kesal ada kaitannya dengan gadis itu?" Sela Tasya dengan tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya.
Ares terdiam, karena memang benar hal yang membuatnya kesal ada kaitannya dengan Tania. Namun dia tidak ingin mengatakannya.
"Aku yakin dia kesal memang karena Kak Tania tidak ingin ikut ke acara itu." Oceh Athena pada Aphrodite.
Kembarannya hanya mengangguk dengan sebuah senyum, menyetujuinya juga.
Mendengarnya Ares menatap kesal pada kedua adiknya, dan setelahnya bergegas kembali ke kamarnya.
"Ya, seharusnya dia tidak menolakku dan pergi bersama denganku ke acara itu. Berani sekali dia menolak ajakanku." Geram Ares menjadi terprovokasi karena mendengar perkataan kedua adiknya.
Segera diambilnya ponsel miliknya untuk menghubungi Tania, namun tiba-tiba saja masuk sebuah panggilan telepon. Telepon tersebut adalah telepon Dyara.
"Kak Ares, beritahu aku di mana rumahmu. Aku akan datang ke rumahmu untuk pergi ke acara ulang tahun temanmu itu." Ujar Dyara saat Ares menerima teleponnya.
"Aku saja yang akan menjemputmu. Beritahu di mana rumahmu, nanti aku akan datang menjemputmu. Kau tidak perlu repot-repot datang ke sini." Jawab Ares.
"Tidak masalah, Kak. Aku ingin ke rumah Kakak terlebih dahulu. Aku akan datang satu jam sebelum kita pergi, apa boleh?" Tanya Dyara. "Sejujurnya aku sudah tahu di mana rumahmu."
"Benarkah?" Tanya Ares heran. "Dari mana kau tahu?"
"Itu rahasia." Jawab Dyara. "Baiklah kak, sekarang aku akan bersiap-siap agar penampilanku sempurna saat datang ke rumahmu. Sampai bertemu nanti, Kak Ares yang sangat keren."
Sebelum Ares sempat berkata apapun, Dyara sudah lebih dulu mematikan teleponnya. Pemuda itu menjadi semakin heran dengan gadis yang sama sekali tidak dirinya kenal tersebut.
Diliriknya jam yang tertera di layar ponselnyanya dan waktu masih menunjukkan kurang dari jam satu siang. Sekarang masih sangat lama dari waktu acara ulang tahun yang akan dimulai pukul lima sore.
Karena itu Ares memutuskan untuk tidur siang, sebelum nanti akan pergi. Segera pemuda itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan langsung terlelap.
Lebih dari dua jam Ares tertidur sangat pulas. Pemuda itu terbangun dengan tersentak karena dirinya teringat sesuatu. Seharusnya tadi dia berencana untuk menelepon Tania, namun pemuda itu lupa karena Dyara meneleponnya lebih dulu.
Segera Ares mengambil ponselnya dengan posisi masih berbaring. Dia hendak menelepon Tania, akan tetapi kebingungan melandanya.
__ADS_1
Sebelumnya dirinya hendak mengajak Tania lagi untuk pergi ke pesta dengan mengingatkan gadis itu mengenai kekalahannya saat menantang Ares menulis dengan rapi, tapi tidak mungkin juga dia membatalkan rencananya yang akan pergi dengan Dyara.
"Sekarang aku harus apa?" Gumam Ares sambil berpikir dan berdecak kesal. "Sepertinya tidak masalah kalau aku hanya sekedar meneleponnya. Oh iya, apa dia sudah meminum obatnya atau belum ya?"
Tanpa memikirkan apapun lagi, Ares mencari nama Tania di daftar telepon dan segera meneleponnya. Akan tetapi nomernya tidak aktif.
"Kenapa tidak aktif?" Tanya Ares heran sambil menatap layar ponsel.
Beberapa kali Ares menelepon gadis itu namun nomernya masih saja tidak aktif.
"Kak Es, seorang gadis cantik datang mencari kakak."
Terdengar suara Aphrodite mengetuk pintu kamar Ares.
Ares yakin sekali kalau gadis yang dimaksud adalah Dyara. Segera pemuda itu keluar meski sejujurnya dirinya sangat enggan.
"Siapa gadis itu Kak? Dia gadis yang cantik. Apa dia yang akan pergi dengan Kak Es ke acara ulang tahun?" Tanya Aphrodite yang berdiri di luar pintu bersama dengan Athena.
"Ya, itu sudah pasti kan, tapi rasanya aku tidak asing dengan wajah gadis itu." Timpal Athena.
Ares tidak menggubris perkataan adik-adiknya, pemuda itu langsung bergegas ke lantai satu untuk menemui Dyara yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Langkah pemuda itu terhenti saat melihat Dyara duduk di sofa dengan mata yang mengelilingi seisi rumahnya.
"Kau benar-benar datang lebih cepat. Aku belum bersiap-siap." Ujar Ares pada Dyara yang duduk di sofa.
Dyara segera bangkit berdiri dari duduknya dengan sebuah senyuman. Gaun yang dipakai gadis itu sangatlah cantik dan sesuai dengan bentuk tubuhnya sehingga melengkapi kecantikannya.
"Tidak masalah Kak, kakak bisa bersiap-siap nanti saat kita akan pergi." Jawab Dyara dengan memulas senyuman ciri khasnya.
"Lalu untuk apa kau ke sini di jam segini? Ini masih terlalu cepat." Terlihat tatapan malas dari wajah Ares saat bertanya seperti itu.
"Siapa gadis cantik ini?" Tiba-tiba Tasya hadir di sana. "Dia temanmu, Es?"
Ares menoleh pada kehadiran ibunya dengan menghela napas perlahan. Pemuda itu tahu kalau ibunya melihat seorang gadis datang menemuinya pasti akan berpikiran yang tidak-tidak. Dan itu akan menyulitkan dirinya.
"Atau dia kekasihmu?" Tanya ibu pemuda itu lagi dengan tatapan penuh selidik pada putranya.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1