PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
064. PERTEMUAN DI PAGI HARI


__ADS_3

Jam satu malam, Tania sampai di depan rumah Kayden. Gadis itu keluar dari mobil pamannya dan berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut.


"Kau sudah kembali?" Tanya Kayden yang masih merokok di tempat favoritnya.


Kayden langsung berdiri dan menghadap Tania yang baru saja berjalan masuk.


"Ya, aku tidak bisa meninggalkan sekolahku terlalu lama." Jawab Tania.


"Bagaimana keadaan ibumu? Apa sudah sembuh?" Tanya Kayden lagi.


"Sudah lebih baik." Jawab Tania lagi. "Bagaimana pemilihan ketua OSIS di sekolah? Aku tidak sengaja meninggalkan ponselku."


"Ya, seperti kataku kemarin, Tyaga yang terpilih. Kau juga pasti senang, kan?" Ujar Kayden.


Tania mengangguk menjawabnya.


"Itu bagus. Tidak ada kandidat lain sebagus dia. Aku yakin sekali kalau sekolah akan lebih baik saat dia menjadi ketua OSIS." Jawab Tania. "Sebaiknya kau berhenti merokok dan pergilah tidur. Kesehatanmu akan buruk kalau kau terus begadang dan merokok seperti itu."


Kayden hanya mendengus dengan tawa kecil menanggapi perkataan Tania.


Tania kembali melangkah dan berjalan ke arah tempat tinggalnya, sebuah kamar yang terletak di luar bangunan yang merupakan rumah Kayden. Gadis itu langsung berjalan masuk setelah membuka pintu.


Rasa lelah bercampur mengantuk membuat Tania menghela napas panjang ketika masuk dan menutup pintu.


Dihidupkannya lampu dan langsung menuju meja belajarnya untuk mengambil ponsel miliknya yang tertinggal kemarin.


Ponselnya tersebut kehabisan baterai sehingga dia harus mengisi dayanya terlebih dahulu untuk mengecek siapa saja yang menghubungi dirinya.


Sehabis membersihkan dirinya dan bersiap untuk beristirahat, Tania menghidupkan ponselnya yang baterainya sudah lumayan terisi.


Banyak pesan yang dirinya terima dan banyak juga laporan beberapa orang menghubunginya.


Salah satunya adalah Ares. Tania langsung melihat kalau beberapa kali Ares mengirim pesan padanya dengan bertanya apakah dia sudah pulang atau belum.


Di pesan terakhir pemuda itu, dia meminta Tania untuk langsung menghubunginya jika gadis itu sudah membaca pesannya tersebut.

__ADS_1


"Kenapa aku harus menghubunginya?" Gumam Tania merasa tidak mengerti dengan maksud tujuan Ares dengan pesannya. "Ini sudah terlalu malam, apa tidak masalah aku meneleponnya?"


Setelah berpikir sejenak, Tania memutuskan untuk menelepon Ares. Namun sayangnya sebuah panggilan telepon lebih dulu masuk.


"Maafkan aku menelepon semalam ini." Ujar Tyaga yang ternyata adalah orang yang menelepon Tania. "Aku melihat pesan yang aku kirimkan terkirim dan aku menebak kalau kau sudah kembali, karena itu aku langsung meneleponmu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan... Hhmm, apa aku mengganggu?"


"Katakan saja apa yang ingin kau katakan." Ujar Tania sambil duduk di sisi tempat tidur.


"Apa kau sudah tahu kalau akulah yang terpilih sebagai ketua OSIS yang baru?" Tanya Tyaga memastikan terlebih dahulu.


"Ya, selamat. Aku rasa kau lebih kompeten dari aku sebagai ketua OSIS, dan aku berharap sekolah akan lebih maju nantinya." Ucap Tania.


"Terimakasih, karena itu juga aku langsung meneleponmu. Maksudku, aku sudah melihat peraturan baru yang kau buat dan ternyata kita memiliki pandangan yang sama mengenai peraturan sekolah." Jawab Tyaga. "Tapi sepertinya ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika besok pagi kita membahasnya di ruangan OSIS?"


"Baiklah, aku juga berencana datang pagi untuk menyelesaikan urusan OSIS yang tertunda." Jawab Tania.


"Ngomong-ngomong apa kondisi ibumu sudah membaik?"


"Ya, dia sudah lebih baik." Ucap Tania.


"Syukurlah kalau begitu." Sahut Tyaga. "Oke, kau pasti lelah kan? Istirahatlah sekarang, kakak kelas."


Tania langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur karena rasa lelah sudah menyelimuti dirinya, hingga tanpa sadar gadis tersebut terlelap.


Pagi-pagi sekali Tania sudah berjalan masuk ke sekolah ketika sekolah masih sepi. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi.


Gadis itu masuk ke dalam ruang OSIS yang sejak tahun lalu menjadi tempat favoritnya di sekolah.


Tidak dia kira kalau Tyaga sudah lebih dulu berada di ruangan itu. Pemuda itu sedang duduk dengan berkas-berkas yang sedang dibacanya.


"Selamat pagi, maaf aku tidak mengetuk pintu. Aku pikir belum ada siapapun yang datang." Ucap Tania berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Tidak masalah. Aku juga tidak memberitahumu kalau aku sudah sampai di sekolah." Jawab Tyaga setelahnya kembali dengan kesibukannya.


"Kenapa kau datang sepagi ini?" Tanya Tania sambil duduk di selang satu kursi dari Tyaga. "Kau sudah sarapan?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin cepat membaca dan memahami peraturan yang kau buat agar saat rapat komite dengan mudah aku bisa meyakinkan mereka." Jawab Tyaga.


Tania membuka tas sekolahnya dan mengambil dua bungkus roti yang dirinya beli di minimarket 24 jam tadi.


"Ambillah, kau bisa sambil memakannya." Ujar Tania. "Kita tidak bisa berkonsentrasi saat perut kosong."


"Tidak juga, aku bisa konsentrasi dalam keadaan apapun." Ucap Tyaga menatap Tania. "Tapi baiklah, terimakasih." Tyaga langsung mengambil roti tersebut dan membukanya untuk dimakan.


"Sampai mana kau membacanya?" Tanya Tania sambil membuka salinan peraturan baru yang dia buat.


"Sampai pelanggaran berat seperti murid ketahuan berkelahi hingga berurusan dengan pihak berwajib." Jawab Tyaga dengan pandangan terarah ke berkas dihadapannya. "Menurutmu apa itu termasuk pelanggaran berat?"


"Ya tentu saja karena itu bisa mencoreng nama sekolah. Bukan begitu?" Tania sambil membuka bungkus roti miliknya. "Karena itu aku masukkan ke pelanggaran berat dan hukumannya adalah langsung dikeluarkan dari sekolah."


"Aku juga berpikir seperti itu. Baiklah, kalau begitu tidak ada masalah dengan ini." Seru Tyaga kembali membolak-balikan berkasnya.


Mereka berdua terus membahas hingga satu jam berlalu, dan keadaan sekolah menjadi sangat ramai.


"Lalu apakah murid yang sebelumnya melanggar peraturan akan bisa mendapatkan hukuman saat peraturan yang baru disahkan?" Tanya Tyaga menoleh pada Tania yang duduk di sebelah kirinya.


Tania berpikir sejenak, gadis itu jadi memikirkan Ares yang sebelum ini melakukan banyak sekali pelanggaran dan salah satunya tidak pernah hadir ke sekolah selama satu semester berlangsung.


"Ada apa? Apa ada pertimbangan hal lain yang sedang kau pikirkan?" Tanya Tyaga menyelidiki.


"Sebaiknya itu tidak perlu. Aku merasa bisa saja mereka sudah berubah sekarang dan lebih bertanggung jawab."


Tyaga menutup berkasnya dan duduk dengan tegak sambil menghela napas panjang.


"Bagaimana kalau kita memberikan sistem poin untuk berapa banyak pelanggaran yang dilakukan mereka. Jika sudah mencapai batas yang ditetapkan maka sekolah bisa memberikan sanksi pada mereka."


Tania terdiam memikirkannya lagi. Untuknya itu sesuatu yang sulit karena dia tahu Ares akan mengumpulkan poin pelanggaran yang banyak dari pelanggaran-pelanggaran yang lalu.


Tyaga menatap Tania dan menunggu jawaban gadis itu.


Tiba-tiba pintu terbuka hingga membuat mereka berdua terkejut dan menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


Tania semakin terkejut karena Ares yang membuka pintu. Melihat pemuda tersebut membuatnya teringat mengenai pesannya yang dia baca. Itu membuatnya juga mengingat kalau dirinya lupa meneleponnya semalam.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2