PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
086. KEHILANGAN KESADARAN


__ADS_3

"Aku baik-baik saja bu. Aku hanya terlalu lelah karena sibuk belajar. Tapi sekarang aku sudah tidak menjadi Ketua OSIS, jadi seharusnya aku bisa lebih bersantai." Ujar Tania berbicara di telepon dengan ibunya.


Waktu menjelang malam saat ini. Sejak kembali dari sekolah, Tania hanya tidur sepanjang waktu setelah memakan roti yang tersisa kemarin dan meminum obat.


Meski belum sembuh benar, saat ini gadis itu sudah merasa lebih baik.


Telepon dari ibunya membangunkannya dari tidur. Hal itu juga membuat Tania heran karena tiba-tiba saja sang ibu—Widia meneleponnya dengan merasa khawatir.


"Ibu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Tambah Tania setelah beranjak duduk.


"Benarkah seperti itu? Tapi kenapa perasaan ibu tidak enak tentangmu. Kau tidak membohongi ibu, kan?" Tanya Widia di dalam telepon, memastikan keadaan putrinya.


"Aku baik-baik saja bu. Jika sesuatu terjadi padaku, aku pasti sudah memberitahu ibu." Jawab Tania mencoba untuk berbicara dengan sedikit bernada agar ibunya tidak terlalu mencurigai dirinya.


"Kau harus memberitahu ibu jika terjadi sesuatu padamu. Aku akan meminta Pamanmu untuk melihat keadaanmu."


"Tidak perlu bu. Paman Wisnu sangat sibuk, aku tidak ingin merepotkannya." Seru Tania merasa tidak enak jika harus membuat adik dari ibunya itu sampai datang menemuinya. "Tiga bulan lagi aku akan ujian kelulusan. Aku juga sudah mendapatkan tawaran beasiswa di perguruan tinggi di daerah rumah sana, tapi aku ingin mencoba beasiswa penuh di luar negeri."


"Apa harus kau ke luar negeri?" Tanya ibunya di ujung telepon. "Tania, pindahlah sekolah ke sini. Dengan nilaimu pasti tidak masalah kalau kau pindah sekolah saat akan ujian kelulusan. Sekolah di sini tidak lebih bagus dari sekolahmu di sana, mereka pasti akan menerimamu."


"Karena itu bu, aku bersekolah di sini. Aku berencana mendapatkan perguruan tinggi di luar negeri, sekolah ini akan membantuku mendapatkannya." Jawab Tania.


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi ibu lebih berharap kalau kau kembali ke sini." Ujar Widia. "Ibu selalu mencemaskanmu karena kau selalu menyembunyikan keadaanmu dari ibu."


Tania hanya bisa membuang napasnya setelah mengakhiri pembicaraannya dengan ibunya. Setiap kali mereka berkomunikasi, sang ibu selalu memintanya untuk kembali dan tidak hidup seorang diri sana.


Namun gadis itu memiliki rencana lain untuk mencapai tujuannya di dalam hidup, sehingga dia selalu menolaknya. Akan tetapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Tania merasa ingin mendengarkan perkataan ibunya itu untuk kembali ke rumahnya.


"Sepertinya itu semua karena efek badanku yang kurang sehat, sehingga aku merasa sangat ingin pulang ke rumah." Ucap Tania sambil merebahkan kembali tubuhnya.


Tok tok tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar, segera Tania beranjak bangun dengan tubuh yang masih sangat lelah, membuka pintunya.


"Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Kayden yang datang untuk melihat keadaan Tania.


Tania hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan tersebut.


"Kau sudah minum obat?" Tanya Kayden lagi.

__ADS_1


"Tadi saat kembali dari sekolah aku sudah meminum obat pereda demam." Jawab Tania.


"Kau pasti hanya memakan roti kan?" Tanya Kayden lagi, kali ini pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban. "Ikutlah ke rumah, kita makan malam bersama setelah itu kau bisa meminum obat lagi dan kembali beristirahat."


Tania menuruti perkataan Kayden. Gadis itu datang ke rumah Kayden untuk makan malam bersama dengan wali kelasnya itu.


Ketika dia masuk ke dalam rumah itu, senyum ramah menyambutnya. Senyuman dari seorang wanita cantik yang berdiri di dapur rumah itu, sedang mempersiapkan makan malam.


"Kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat." Ucap Harmony yang menyambut kehadiran Tania di sana.


"Seharusnya aku tidak mengganggu acara makan malam kalian berdua." Ujar Tania saat gadis itu berdiri di dekat meja makan.


"Tidak masalah, aku malah senang kau ikut makan bersama kami. Duduklah." Seru Harmony melepas apron yang dikenakannya dan duduk di kursi meja makan.


Tania mengikuti perkataan Harmony dengan duduk di kursi meja makan yang ada di hadapan wanita itu.


"Dia sedang tidak sehat. Tadi siang dia ijin dari sekolah untuk pulang." Ujar Kayden duduk di samping Harmony.


"Apa yang kau rasakan?" Tanya Harmony.


"Hany adalah seorang dokter, katakan keluhan yang kau rasakan." Timpal Kayden.


"Aku hanya demam dan kepalaku sangat berat. Seluruh tubuhku terasa sangat pegal-pegal. Tapi saat ini aku sudah merasa lebih baik." Jawab Tania.


"Baiklah. Terimakasih untuk sarannya." Jawab Tania.


"Kalau begitu sekarang kita makan." Seru Kayden langsung menyendok makanannya.


Tania memperhatikan pasangan tersebut. Gadis itu merasa ingin tahu apa yang terjadi pada mereka sebelum ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua? Kenapa kalian tidak saling bertemu meski saling mencintai?" Tanya Tania penasaran.


"Ada apa? Kenapa kau jadi ingin tahu?" Kayden balik bertanya dengan mulut yang dipenuhi makanan.


"Itu sangat aneh, kalian berdua mencintai tapi kalian berdua tidak bertemu dalam waktu yang lama. Apa sesuatu yang terjadi adalah hal yang rumit hingga kalian seperti itu?" Tania mengulangi pertanyaannya.


"Ya, kau benar. Cinta itu memang rumit. Tapi semuanya menjadi tidak rumit lagi setelah kedua orang yang saling mencintai berkata yang sejujurnya." Jawab Harmony dengan senyum menghiasi wajahnya. "Karena itu, saat kau mencintai seseorang, lebih baik kau mengatakannya dengan jujur padanya."


"Kalau begitu, apa kalian akan segera menikah?" Tanya Tania.

__ADS_1


Pertanyaan Tania membuat Kayden yang sedang mengunyah makanan menjadi tersedak hingga batuk. Harmony langsung memberikan minuman pada pria itu dengan menyunggingkan senyumannya.


"Ternyata masih lama." Ucap Harmony pada Tania saat melihat respon Kayden seperti itu.


Tania sedikit tersenyum melihat pasangan tersebut, lalu mencoba untuk menyendok makanannya. Walau yang sebenarnya, gadis itu merasa tidak napsu makan sama sekali.


"Oh iya, apa benar kalau kau menyukai Ares?"


Tania kembali mengarahkan tatapannya pada Harmony dengan terkejut. Setelahnya, gadis itu menggeser pandangannya ke Kayden. Dia yakin sekali kalau Kayden yang berasumsi seperti itu mengenai dirinya.


"Ternyata memang benar." Ujar Harmony lagi. "Kau tahu, apa yang terjadi pada kita sama. Aku juga merubah peraturan sekolah karena seseorang yang pada akhirnya membuatku mencintainya. Sayangnya, kasus kita berbeda. Tetapi semua orang memiliki cara pandang sendiri mengenai sesuatu hal, meski pada akhirnya mungkin saja mengakibatkan sebuah penyesalan, namun itu bukan suatu masalah."


Tania tidak berkata apapun dan hanya menyimak perkataan Mantan Ketua OSIS di sekolahnya dulu. Ketua OSIS yang dianggap memiliki cara pandang unik dalam segala hal.


"Ya, tidak ada masalah yang benar-benar menjadi suatu masalah saat kita mempunyai solusinya." Lanjut Harmony. "Karena itu, kau tidak perlu terlalu khawatir."


Sekembalinya dari makan malam, Tania merasakan mual di perutnya hingga akhirnya makanan yang sudah susah patah dirinya paksa masuk ke dalam mulutnya, harus keluar kembali.


"Kenapa aku harus seperti ini?" Gumam Tania setelah mencuci mulutnya dengan air di wastafel.


Keesokan harinya Tania bangun dengan kondisi yang belum ada perubahan. Gadis itu masih merasakan demam dan sakit kepala yang teramat sangat. Badannya juga terasa sangat pegal, lebih pegal dari hari kemarin.


Meskipun begitu, gadis itu tetap berniat untuk ke sekolah. Setelah memakan roti dan meminum obat, dia berharap kalau kondisinya lebih baik.


Dengan langkah yang perlahan, Tania berjalan dari tempat tinggalnya menuju sekolah. Saat sampai dan memasuki gerbang sekolah, Tyaga melihat ke arahnya dan langsung berjalan mendekati gadis itu.


"Kenapa kau sudah masuk? Seharusnya kau beristirahat lagi karena tampaknya kau masih belum sembuh. Wajahmu masih sangat pucat." Seru Tyaga.


Belum sempat Tania menanggapi perkataan pemuda itu, Ares bersama dengan Dyara melintas dengan motor yang dikendarai Ares, dan kembali menarik perhatian siapapun yang berada di sana.


Tania memperhatikan Ares saat pemuda itu turun dari motor dengan Dyara merangkul lengannya. Sempat Ares melihat padanya namun setelahnya berjalan pergi menuju gedung sekolah.


"Bukankah di larang bermesraan saat di area sekolah?" Tyaga menghela napas ketika melihat Ares bersama Dyara.


Bruk!


Tyaga menoleh ke arah Tania yang baru saja terjatuh karena kehilangan kesadaran.


Seketika suasana menjadi riuh saat Tania pingsan.

__ADS_1


Ares yang baru akan melangkah masuk ke dalam gedung sekolah, mendengar hal tersebut dan langsung menoleh ke arah Tania. Secara spontan pemuda itu berlari dengan penuh kekhawatiran ke arah gadis yang terbaring di bawah.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2