
Tania berjalan keluar dari sekolah saat rapat OSIS berakhir. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Gadis itu berencana langsung ke rumah Ares.
Sambil tatapannya mengarah ke ponsel, Tania berjalan mengarah pintu gerbang. Saat ini dia hanya ingin segera sampai ke rumah Ares untuk belajar bersama dengan pemuda itu.
Gadis itu memeriksa pesan di ponselnya, dan merasa aneh karena tidak menerima pesan dari Ares. Padahal dia kira kalau pemuda itu akan mengirimkan banyak pesan padanya.
"Tumben sekali, aku pikir dia akan menterorku dengan mengirimkan banyak pesan. Apa dia pergi bermain dan tidak pulang?" Tanya Tania sambil memasukkan ponselnya ke tas yang diselempangkan ke bahunya.
Tiba-tiba terdengar suara klakson saat Tania hendak keluar dari gerbang sekolah. Tania menoleh dan melihat Tyaga berada di dalam mobil. Pemuda itu hendak meninggalkan sekolah juga.
"Ingin tumpangan? Aku bisa mengantarmu pulang atau ke manapun kau mau." Seru Tyaga membuka kaca jendela mobil.
"Tidak, terimakasih." Jawab Tania.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu." Pamit Tyaga dan Tania mengangguk kecil.
Sebelum pergi ke rumah Ares, Tania mampir ke minimarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah.
Gadis itu berjalan masuk ke dalam tempat itu dan menuju rak roti berada. Sebelum ke rumah Ares, dirinya berencana untuk mengganjal perutnya yang sudah terasa lapar dengan memakan roti.
Tania terkejut saat melihat Tyaga berdiri di depan rak roti, sedang memilih-milih roti yang akan dibelinya.
"Kau di sini?" Sapa Tania terkejut.
Tyaga menoleh pada Tania, "Ketua OSIS, ah maksudnya mantan ketua OSIS. Kau ke sini juga?" Tyaga sama terkejutnya.
"Ya, aku ingin membeli roti." Jawab Tania.
"Apa roti ini?" Tanya Tyaga lagi sambil menunjukkan roti yang di tangannya. "Aku ke sini juga karena ingin membeli roti ini. Tadi pagi kau memberiku roti ini dan aku merasa roti ini sangat enak karena itu aku membelinya. Kau suka rasa keju ya?"
Tania mengangguk menjawabnya.
"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu, ah maksudku, aku ingin mengganti yang tadi pagi." Ujar Tyaga.
Setelah membayarnya di kasir, Tania dan Tyaga duduk di kursi yang terdapat di luar minimarket. Mereka berdua duduk bersama untuk menikmati makanan dan minuman yang mereka berdua beli.
"Seharusnya kau tidak perlu menemaniku duduk di sini dan segeralah pulang." Ucap Tania. "Kau juga bisa makan malam di rumahmu, tentunya dengan menu makanan yang lebih lezat dibandingkan dengan roti ini."
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku juga memang ingin segera memakan roti ini. Kebetulan bertemu denganmu." Jawab Tyaga sambil membuka air mineral yang dibelinya dan meneguknya.
"Kenapa orang kaya selalu aneh." Ujar Tania sehabis itu menggigit roti keju kesukaannya.
"Apa maksudnya?"
"Tidak, aku hanya merasa orang-orang yang memiliki uang cara berpikirnya lebih beda dari padaku." Jawab Tania. "Sudahlah, tidak usah dipikirkan." Tania kembali memakan rotinya.
"Apa kau selalu hanya memakan roti ini?" Tatap Tyaga menyelidiki.
Tania yang sedang menggigit rotinya menjadi melirik pada Tyaga karena perkataan pemuda itu sangat tepat. Tidak jarang Tania hanya memakan sebungkus roti setiap sarapan, makan siang dan bahkan makan malam.
"Ya tentu saja, kau tinggal seorang diri di kota ini, bahkan kau juga mencari uang untuk membiayai kehidupanmu sendiri." Ujar Tyaga.
"Da—dari mana kau tahu?" Tania sedikit terkejut dan heran saat mendengar perkaatan Tyaga karena pemuda itu mengetahui hal yang dirinya rahasiakan.
"Aku ini ketua OSIS sekarang, ah tidak... Aku tahu banyak hal sebelum menjabat sebagai ketua OSIS. Aku juga tahu kalau pamanmu merupakan seorang direktur produksi di perusahaan milik ayah Ares. Tapi aku heran kenapa kau malah hidup seperti ini, aku yakin kalau mau pamanmu juga akan membiayai hidupmu."
"Tidak, ini hidupku... Aku tidak ingin bergantung atau mempunyai hutang budi pada orang lain, sekalipun orang itu adalah pamanku sendiri." Seru Tania menatap serius pada Tyaga.
"Mengenai hal apa? Kau bisa menanyakannya, dan aku akan menjawab kalau aku bisa menjawabnya." Jawab Tania.
"Apa hubunganmu dengan Ares? Kenapa rasanya dia tidak suka kalau kita bersama? Apa kalian berpacaran? Karena itu dia selalu mengganggu setiap kali kita bersama, dan melihat reaksimu, kau juga tidak keberatan pada apa yang dilakukan dia, baik tadi pagi, maupun saat jam istirahat tadi. Bukankah kabar yang beredar kalau dia dan seorang murid perempuan di kelas XI adalah sepasang kekasih?" Seru Tyaga dengan panjang lebar.
"Dyara maksudmu?" Tanya Tania memastikan siapa yang dimaksudkan oleh Tyaga. "Tidak, kabar yang beredar tidaklah benar. Mereka tidak berpacaran."
"Kalau begitu apa itu berarti kau dengannya berpacaran?" Selidik Tyaga penasaran.
"Hah? Tidak. Kami tidak berpacaran. Kau salah." Jawab Tania tanpa melihat pada Tyaga.
"Jika seperti itu, kenapa kalian berdua terlihat dekat?"
"Aku hanya ingin membantunya belajar agar semua kelas XII bisa lulus sekolah, semua itu demi nama baik sekolah kita yang selalu mendapatkan kelulusan 100% setiap tahunnya." Jawab Tania.
"Benarkah seperti itu?" Tatap Tyaga. "Kenapa kau repot-repot melakukannya. Saat peraturan ditetapkan, aku yakin sekali kalau dia akan dikeluarkan dari sekolah. Kalau dia dikeluarkan maka tidak ada yang mencoreng nama sekolah."
Mendengarnya Tania merasa tidak setuju. Jika dulu dirinya memang ingin Ares pindah sekolah agar tidak ada yang tidak lulus, maka sekarang semuanya berbeda.
__ADS_1
"Hari senin minggu depan adalah rapat komite, aku akan membawa sistem poin yang aku buat. Setelahnya aku akan menghitung semua kesalahan semua murid di sekolah. Dia pasti akan mendapatkan poin tertinggi di sekolah, dia pasti akan dikeluarkan." Ucap Tyaga dengan penuh keyakinan.
"Katakan padaku, kenapa sepertinya kau sangat ingin mengeluarkan Ares?" Kali ini Tania bertanya dengan tatapan serius pada Tyaga.
"Sudahku bilang saat pidato pertamaku menjabat sebagai ketua OSIS kemarin. Aku akan menyingkirkan mereka yang kemungkinan berpotensi merusak nama baik sekolah, dan Ares ada di urutan pertama." Terang Tyaga. "Ah, aku lupa... Kemarin kau tidak ada saat aku terpilih."
...***...
Ares yang berada di kamarnya merasa kesal karena sudah jam enam sore dan hari juga sudah mulai gelap, Tania belum juga tiba. Dirinya ingin menelepon gadis itu namun dia menahan untuk melakukannya. Pemuda itu tidak ingin terlihat terlalu menunggu kehadiran gadis tersebut.
"Argh!" Geram Ares yang sejak tadi melihat layar ponselnya sambil duduk di sisi tempat tidur. "Kemana dia? Kenapa jam segini belum juga datang?"
Ares bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Pemuda itu menuruni tangga masih melihat layar ponselnya sambil bersungut-sungut kesal karena Tania belum juga datang.
"Ada apaa denganmu, Kak Es?" Tanya Aphrodite yang berada di ruang keluarga, sedang menonton televisi bersama kembarannya.
"Apa kau menunggu seseorang? Kak Tania?" Timpal Athena melihat pada Ares yang baru saja menuruni tangga.
Ares tidak ingin menggubris perkataan kedua adiknya, pemuda itu berjalan ke meja makan di mana ibunya sedang menyusun makan malam.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Padahal tadi kau terlihat sangat senang." Ujar Tasya pada Ares yang duduk di salah satu kursi di meja makan.
Ares hanya berdecak dan tidak menjawab pertanyaan ibunya. Matanya masih mengarah ke layar ponselnya dan membuka nomer telepon Tania.
Akhirnya dia memutuskan untuk meneleponnya, namun saat pemuda itu menekan tombol telepon, lebih dulu suara bel rumah berbunyi.
Segera dia beranjak berdiri dari duduknya dan wajahnya berubah seketika. Yang awalnya terlihat kesal, kedua adik dan ibunya bisa melihat perubahan ekspresi di raut wajah Ares yang langsung menunjukkan rasa senangnya.
Hal itu membuat kedua si kembar saling tatap, sedangkan Tasya hanya menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyum, melihat heran pada Ares yang berjalan cepat ke arah pintu.
Dengan cepat Ares membuka pintu rumahnya. Dia tahu kalau yang datang pastilah adalah Tania. Dan ternyata memang dugaannya tepat.
Saat membuka pintu Ares melihat Tania berdiri di depan pintu. Namun lagi-lagi raut wajah senang pemuda itu langsung memudar saat melihat seseorang berdiri di samping seorang gadis yang sudah lama dirinya nantikan kedatangannya.
"Sebelumnya aku minta maaf karena tiba-tiba datang dan tidak mengabarimu sebelumnya, Kakak Kelas." Ujar Tyaga dengan senyum tipis yang dingin.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1