
"Sepertinya kalian berdua sedang sibuk saat ini." Ucap Tasya dengan memulas sebuah senyum. "Maaf kalau mengganggu."
Tania melihat pada Ares yang berada di atasnya, segera gadis itu mendekatkan pensil ke pipi pemuda yang masih terkejut dengan kehadiran ibunya.
Seketika Ares berteriak dan beranjak turun dari tempat tidur dengan meringis kesakitan. Sedangkan Tasya yang masih berada di ambang pintu hanya tersenyum pada kedua remaja tersebut.
"Kenapa kau menusuk pipiku?!" Geram Ares dengan sangat kesal pada Tania yang juga sudah beranjak dari tempat tidur.
"Es, jangan berteriak pada wanita." Tegur Tasya meskipun begitu wajahnya masih terlukis sebuah senyum. "Sebaiknya kalian berdua turun, kita akan makan malam bersama."
Setelah berkata demikian, Tasya langsung menutup pintunya, dan pergi dari sana.
Ares melihat kembali pada Tania yang baru saja memakai kembali kacamatanya dan langsung menatap padanya. Pemuda itu menjadi sedikit aneh karena gadis di hadapannya menatapnya lekat.
"Ke—kenapa kau menatapku begitu?" Ares tampak heran dengan gestur waspada.
"Ada darah keluar dari pipimu." Jawab Tania.
Ares langsung memegang pipi yang tadi ditusuk Tania dengan pensil. Pemuda itu meringis dan melihat tangannya terdapat darah. Segera dirinya menuju cermin yang ada di sebelah meja belajar untuk melihat luka di pipinya tersebut
"Awhh!!" Ringis Ares sambil memperhatikan luka di pipinya dan melihat sedikit darah yang keluar dari pipinya.
Area melihat Tania yang berjalan mendekati arahnya melalui pantulan cermin. Pemuda itu berpikir kalau Tania tampaknya mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak masalah, ini akan segera sembuh." Ujar Ares kembali memperhatikan lukanya.
Tanpa dia duga, Tania yang berjalan mendekatinya memegang tangan kanan Ares dan langsung menusukkan pensil ke ibu jari pemuda itu. Ares yang terkejut meringis kaget karena merasa sakit. Namun kali ini tidak ada darah yang keluar dari bekas tusukan itu.
"Kenapa kau melakukannya lagi?!" Geram Ares namun langsung merasa tidak enak karena baru saja ibunya melarangnya berteriak pada seorang wanita.
"Ternyata sudah tumpul, makanya tidak menembus kulitnya." Ujar Tania tampak tidak menghiraukan perkataan Ares yang kesal memprotes dirinya. "Aku akan merautnya lagi."
Tania berjalan ke arah meja di mana alat tulis si pemilik kamar berasa semua di sana, termasuk peraut pensil.
"Apa-apaan kamu ini?!" Kesal Ares, wajahnya sudah memperlihatkan rasa putus asa menghadapi gadis yang tampak tidak memedulikan dirinya. "Dengarlah dulu..."
Ares merasakan sakit di pipinya akibat luka tusuk di pipinya, darah juga masih terlihat di luka itu, itu membuat dirinya memiliki ide.
__ADS_1
Segera pemuda itu mengusap darah yang keluar dari pipinya itu menggunakan ibu jari dan segera mendekati Tania yang sedang meraut pensil.
Di ambilnya kertas yang merupakan surat perjanjian yang diletakkan Tania dari atas meja, dan menempelkan ibu jarinya yang terdapat sedikit noda darah yang berasal dari luka di pipinya.
"Lihat, ini sudah selesai kan?" Ares tersenyum dengan ide cemerlangnya, merasa dirinya dengan cepat memikirkan jalan keluar, dia menjadi sedikit bangga pada diri sendiri.
"Tapi itu bukan darah dari ibu jarimu." Ucap Tania dengan datarnya.
Gadis itu sedang duduk di kursi belajar dengan menengadahkan kepalanya, menatap pada Ares dengan tatapan yang datar.
Melihat Ares yang wajahnya terlihat senang membuat Tania ingin bersikap sedikit baik.
"Ya baiklah." Jawab Tania masih melihat Ares yang berdiri di samping kirinya. "Sekarang kau harus belajar denganku. Cepat cari kursi lainnya karena aku akan mengajarimu malam ini juga."
"A—apa maksudmu?" Ares menatap Tania dengan serius.
"Di surat perjanjian ini sudah di katakan kalau aku akan membantumu untuk belajar. Jadi jangan buang-buang waktu, kau harus belajar sekarang juga." Jawab Tania.
Mendengarnya, Ares menggeram kesal sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dirinya sangat tidak mempercayai apa yang dialaminya saat ini. Ia harus berurusan dengan gadis menyusahkan seperti Tania.
"Aku sudah berjanji dengan surat perjanjian itu. Aku pasti akan menepatinya." Ucap Ares.
Tania menjadi memutar matanya karena tampak malu sekarang. Gadis itu memang sudah merasakan lapar sejak tadi, bahkan dirinya yang tidak makan siang semakin membuatnya merasakan lapar saat ini.
"Sepertinya kau sudah lapar ya." Ujar Ares menahan bibirnya agar tidak tertawa setelah mendengar suara perut Tania. "Kalau begitu sebaiknya kita turun dan makan. Tadi mamaku juga sudah meminta kita makan, kan?"
Tania mengalihkan tatapannya dari Ares yang menatapnya. Dirinya benar-benar menjadi merasa malu saat ini. Segera ia bangkit berdiri dari duduknya.
"Baiklah, kita akan mulai belajar besok. Ingatlah, besok juga kau harus masuk sekolah." Seru Tania sambil berjalan menuju pintu kamar untuk menghindar dari rasa malu yang dia tahan karena suara perutnya.
Melihat Tania yang keluar dari kamarnya membuat Ares tertawa karena melihat rasa malu dari gadis itu. Dirinya juga merasa menjadi lega karena akhirnya Tania keluar dari kamarnya.
Bisa dirinya tahu kalau gadis itu pasti akan langsung pulang karena kata-katanya terdengar seperti itu, sebelum dia keluar dari kamar barusan.
Dan besok, ya tentu saja, Ares berencana untuk tetap membolos dengan tidak memedulikan surat perjanjian yang baru saja dia tandatangani.
Pemuda itu sama sekali tidak ada niatan untuk masuk ke sekolah dan mengikuti pelajaran. Siapapun tidak akan ada yang mampu mengaturnya untuk hal yang satu itu.
__ADS_1
"Siapa yang peduli dengan sekolah?" Gumam Ares sambil melepas seragam sekolahnya dan hendak membersihkan diri sebelum ikut makan malam bersama dengan keluarganya.
Tiba-tiba ponselnya yang ada di dalam saku celana berbunyi. Segera Ares menjawab telepon tersebut. Sebuah panggilan telepon dari sahabatnya—Anton.
"Es, kau sudah dengar? Karena kemarin kau kau kabur, orang-orang dari One Punch menjelek-jelekkanmu. Mereka mengatakan kalau kau kabur kemarin kemarin karena takut mereka menghabisimu." Seru Anton di ujung telepon.
"Sialan! Aku tidak kabur! Gadis itu yang menarikku pergi dari sana. Berani sekali mereka mengatakan hal seperti itu padaku?!" Geram Ares sangat kesal.
"Parahnya, mereka juga mengatakan hal itu. Mereka bilang kalau kau sengaja membawa seorang gadis ke pertempuran untuk membuatmu kabur dari sana. Mereka benar-benar mengatakan hal-hal buruk mengenaimu." Jawab Anton lagi.
Mendengarnya, membuat kobaran api di tubuh Ares menyala. Rasa marahnya mendengar semua ejekkan yang dilontarkan musuh-musuhnya itu langsung membuat Ares tidak sabar menghabisi mereka.
"Dengar Anton, beritahu mereka. Besok di tempat kemarin kita menantang mereka lagi. Akan aku bungkam semua mulut para pecundang itu. Tidak akan aku beri ampun karena mereka sudah mengatakan hal-hal buruk tentangku! Apa kau dengar?" Seru Ares dengan kepala yang memanas.
"Ya, baiklah." Jawab Anton.
Ares langsung menutup teleponnya dengan sebuah geraman. Rasa kekesalannya tidak bisa dibendung lagi. Dia ingin waktu segera berlalu hingga besok dirinya akan membuat perhitungan pada musuh-musuhnya itu karena sudah berani mengejeknya.
"Akan aku bunuh mereka semua." Kesal Ares membanting lapisan kaos putih yang dikenakannya setelah membukanya.
Sehabis membersihkan tubuhnya, Ares bergegas turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Rasa lapar juga sudah sangat terasa dia rasakan. Amarahnya tadi saat ini sudah mereda setelah dirinya mandi.
Dengan Langkah yang santai sambil mengirim pesan pada Anton, Ares melangkah turun dan berjalan ke arah meja makan tanpa melihat mereka yang menunggu kehadirannya di meja makan.
"Aku benar-benar akan menghabisi mereka semua." Ares mengucapkan kalimat yang dirinya kirimkan melalui pesan pada Anton.
"Es, saat berjalan perhatikan jalanan dan jangan memainkan ponselmu." Seru Tasya menegur putra tertuanya.
Mendengar seruan ibunya, Ares langsung memasukkan ponselnya ke saku setelah mengirim pesan pada Anton. Tatapannya mengarah ke meja makan.
"Habis ini kau bisa pulang, biar Es yang mengantarmu." Ujar Tasya.
Perkataan Tasya bersamaan dengan tatapan Ares yang mengarah pada seseorang yang duduk di salah satu kursi di meja makan.
Seorang gadis berkacamata yang menoleh ke arahnya.
Ternyata dugaan Ares salah. Tania tidak langsung pulang dan masih berada di dalam rumahnya. Bahkan gadis yang bagi Ares sangat merepotkan itu, duduk bersama seluruh anggota keluarganya dan hendak makan malam.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...