PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
062. WANITA YANG MASIH DICINTAI


__ADS_3

Ares datang ke rumah Kayden setelah menelepon gurunya tersebut. Dirinya diminta datang ke sana untuk membicarakan apa yang akan diperintahkan pria itu padanya.


Ares duduk di meja makan sedangkan Kayden sedang membuat makan siang untuk mereka berdua, karena saat ini hari menjelang waktu makan siang.


"Kapan dia akan kembali? Kenapa dia meninggalkan ponselnya?" Tanya Ares heran pada Tania.


"Sepertinya karena terlalu khawatir dengan keadaan ibunya, tidak sengaja dia meninggalkan ponselnya." Jawab Kayden sambil membawa dua piring nasi goreng dan meletakkannya di hadapan mereka berdua masing-masing. "Pamannya menelepon dan langsung datang menjemputnya tengah malam tadi. Ibunya masuk rumah sakit sejak kemarin lusa, tapi tidak memberitahu apapun padanya."


"Di mana dia tinggal?" Tanya Ares.


"Ada apa? Kau mau menyusulnya?" Kayden yang sedang menikmati makanannya melirik pada Ares.


Pertanyaan Kayden membuat Ares bingung. Dia tidak tahu kenapa ingin tahu di mana kampung halaman gadis itu, tidak mungkin juga menyusulnya ke sana.


"Aku hanya ingin tahu saja." Jawab Ares sambil menyendok nasi goreng yang diberikan Kayden.


Kayden menatap Ares tanpa kata, pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu sambil menyelidiki suatu hal pada diri Ares yang sedang memakan makanannya.


"Apa kau menyukai Tania?"


Sontak Ares tersedak saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kayden tersebut.


"Kenapa kau bertanya seperti itu lagi?" Kesal Ares setelah minum dan menghilangkan tersedaknya.


"Sejujurnya apa yang terjadi padamu, juga terjadi padaku dulu." Ujar Kayden tanpa melihat pada Ares karena fokus melihat pada nasi goreng di piringnya untuk menyendoknya.


"Maksudmu kau dan Hany—sepupuku?" Tanya Ares.


Kayden meletakkan sendoknya sebelum menyuap. Pria itu duduk dengan tegak dan menatap pada Ares.


"Katakan saja apa yang kau ingin aku lakukan untukmu, Pak Guru." Seru Ares merasa kalau Kayden ingin mengatakan sesuatu hal yang menurutnya ada kaitannya dengan kakak sepupunya.


"Kau bertanya padaku kenapa aku tidak menjadi seorang pembalap, kan?" Tanya Kayden dengan tatapan serius. "Kau juga sudah tahu apa yang terjadi dulu antara aku dan sepupumu."


"Ya, tentu saja. Meski waktu itu aku masih kecil dan tidak mengerti apapun tapi baru-baru ini aku bertanya langsung pada Pamanku—Lion." Jawab Ares.


"Lalu apa kata Pamanmu?" Tanya Kayden penasaran.


"Seperti biasanya, dia selalu memberitahu apapun yang aku tanyakan. Dia menceritakan segalanya. Tapi kau tenang saja, dia sama sekali tidak membencimu." Jawab Ares. "Yang jadi masalah adalah Bibiku—Melody. Aku tahu kalau Bibi Melody langsung tidak ingin Hany berhubungan denganmu setelah apa yang terjadi pada Hany."


Kayden menghela napas mendengar perkataan Ares tersebut.

__ADS_1


"Dia tidak ingin aku menjadi seorang pembalap, dan lebih mendukungku menjadi seorang guru." Ujar Kayden bercerita. "Saat kejadian itu terjadi, dia memintaku untuk tetap pergi ke ujian nasional saat musuh-musuhku menghadang kami."


"Lalu kau meninggalkan sepupuku hanya karena dia memintanya?!" Ares terlihat emosi karena tidak setuju dengan keputusan Kayden dulu. "Hany seorang wanita, meski dia juga memiliki ilmu bela diri, tetap saja dia seorang wanita! Kenapa kau meninggalkannya?!"


"Aku tahu, keputusanku memang salah karena mendengarkan perkataannya dulu." Jawab Kayden dengan air muka yang terlihat muram. "Karena itu, aku ingin kau membantuku."


Ares mendengus mendengar perkataan Kayden. Dirinya tidak percaya kalau orang yang dulu membiarkan sepupunya yang seorang wanita menghadapi sekelompok pria hingga sempat mengalami luka parah meminta bantuannya.


"Kau tahu, kau pun salah karena dulu tidak langsung meminta ampun pada bibiku dan lebih memilih untuk menghindar dengan mengikuti amarah dari bibi Melody!!" Kesal Ares.


Kayden tidak menjawab karena dirinya pun menyesali akan hal itu.


Ares menghela napasnya untuk meredam emosinya, dan melihat pada Kayden tanpa amarah.


"Jadi kau belum bisa melupakannya?" Tatap Ares pada Kayden yang seperti membatu. "Kau ingin menemuinya?"


"Apa itu mungkin? Saat ini dia tinggal di Amerika bersama dengan Rhapsody." Ucap Kayden. "Kalau kau bisa memberitahu di mana—"


"Aku akan memintanya datang saat ulang tahunku nanti." Sambar Ares setelahnya menghela napas. "Dia pasti akan datang kalau aku yang memintanya. Kau bisa menemuinya."


"Be—benarkah?" Kayden terlihat terkejut dengan tidak percaya.


"Sabtu depan aku akan merayakan ulang tahunku. Aku akan memintanya untuk datang. Kebetulan dia juga sudah lulus kuliah dan memang ingin kembali ke negera ini." Terang Ares tanpa melihat pada Kayden namun setelahnya menoleh pada gurunya itu. "Asal kau tahu, dulu aku tinggal bersama dengannya sebelum tahun lalu kembali ke sini. Aku tahu kalau dia pun masih tidak melupakanmu."


"Aku rasa kalau kau benar-benar meminta maaf pada bibi Melody, dia akan memaafkanmu. Bagaimanapun kedua orang tua Hany dengan ibumu adalah teman sekolah dulu." Seru Ares setelahnya meminum air putih yang ada di gelas dekatnya.


Kayden mengangguk menyetujuinya. Dia berniat ingin menebus kesalahannya dulu agar dirinya bisa kembali bersama dengan wanita yang dulu dicintainya dan bahkan masih tidak bisa dia singkirkan itu dari dalam hatinya.


"Sebelumnya aku berterimakasih padamu." Ucap Kayden.


"Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan dulu, tapi jika aku adalah dirimu... Aku tidak akan pernah meninggalkan wanita yang aku cintai dalam bahaya, meski dia sendiri yang memintaku untuk pergi. Aku yang akan melindunginya, bukan dia yang melindungiku. Tidak ada yang lebih penting dari dirinya. Itu yang diajarkan ayahku padaku." Ujar Ares.


"Kau benar... Tidak ada yang lebih penting dari orang yang kita cintai, itu juga alasan yang dikatakan Hany saat menyuruhku pergi." Jawab Kayden. "Baiklah, sebagai gantinya, aku menarik laranganku yang memintamu menjauhi Tania. Kau bisa mendekatinya lagi."


"Benarkah?" Tatap Ares.


"Bahkan aku juga akan membantumu mendekatinya." Tambah Kayden dengan menyunggingkan senyumnya.


"Sudah aku bilang, aku tidak menyukainya!!" Seru Ares masih tidak ingin mengakui perasaan sukanya pada Tania.


"Kau akan menyesalinya saat kau terlambat mengatakannya." Imbau Kayden dengan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya dan memperlihatkan lesung pipi tunggal miliknya.

__ADS_1


Ares hanya berdesis menanggapi ocehan gurunya tersebut, dengan tetap menyembunyikan perasaannya.


...***...


Senin pagi di sekolah, kabar mengenai Dyara yang menginap di rumah Ares tersebar dengan cepat. Bahkan kabar tersebut mengalahkan ketenaran pemilihan ketua OSIS yang diadakan hari ini.


Ares yang semula tidak ingin menggubris mengenai gosip yang mengatakan kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih menjadi tidak nyaman. Ditambah dengan apa yang dikatakan kedua adik kembarnya dan Kayden kemarin.


Saat jam istirahat dan setelah pemilihan ketua OSIS yang baru, Ares meminta Dyara untuk menemuinya di belakang sekolah. Dia ingin mengatakan agar gadis itu tidak mendekatinya lagi untuk meredam kabar yang beredar.


"Seperti yang sudah aku bilang waktu itu, aku ingin serius belajar agar bisa lulus. Tapi yang terjadi semua murid mengatakan kalau kita berpacaran. Aku tidak mengerti kenapa mereka mengatakan hal itu dan bahkan mereka bisa sampai tahu kalau kau menginap di rumahku." Ujar Ares yang berdiri berhadapan dengan Dyara.


"Jadi maksud Kakak, apa aku yang—"


"Tidak, aku tidak mengatakan seperti itu. Aku juga tidak ingin tahu dari mana kabar itu beredar." Jawab Ares. "Aku hanya ingin mengatakannya lagi kalau sebaiknya kita tidak terlalu dekat. Aku ingin meredam kabar yang beredar sekarang."


Dyara terlihat menahan rasa kesalnya dengan tidak berkata apapun.


"Kau mengerti kan?" Tanya Ares.


"Ya, baiklah." Jawab Dyara mau tidak mau.


"Terimakasih kau mau mengerti." Seru Ares. "Aku akan kembali ke kelas sekarang."


Setelah mengatakan hal itu, Ares berjalan meninggalkan Dyara seorang diri.


Dyara menatap kesal pada kepergian Ares. Gadis itu tidak bisa menerima himbauan Ares yang ingin dirinya tidak mendekati pemuda tersebut.


"Pasti semua ini karena si kacamata itu?!!" Kesal Dyara sangat kesal. "Padahal kau juga yang mendekatiku kemarin. Kenapa sekarang kau ingin kita tidak terlalu dekat?!"


Ares berjalan di koridor sekolah dengan melihat ke bawah. Dia memikirkan Tania, karena ingin tahu kapan gadis itu akan kembali.


Tanpa di sengaja pemuda itu menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan dengannya.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja menabrakmu." Ucap seorang murid laki-laki yang ditabrak Ares.


Ares mengangkat kepalanya, dirinya yang ingin marah menjadi terurungkan karena seseorang yang dia tabrak barusan membuatnya harus menahan amarahnya.


"Ah, tidak... Seharusnya kau yang meminta maaf karena kau yang tidak melihat ke depan saat berjalan." Ujar pemuda yang ada di hadapan Ares. "Tapi sepertinya tidak masalah, aku lihat saat ini kau sedang memikirkan sesuatu hingga berjalan seperti itu. Bukan begitu, kakak kelas Ares?"


Pemuda yang berkata seperti itu dengan sebuah senyum membuat Ares mendengus. Dia adalah ketua OSIS yang baru saja terpilih hari ini, Tyaga Zeza Jayantaka.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2