
Kehadiran Kayden membuat Ares dan Tania terkejut.
"Menyingkir dariku!" Seru Tania dingin.
Pemuda itu pun segera melepaskan pelukannya dari Tania dan menjadi terlihat sangat canggung karena dirinya juga tidak mengerti mengapa dia memeluk Tania.
Yang pasti rasa bersalah Ares rasakan saat melihat Tania jatuh pingsan. Pemuda yang selalu diajarkan untuk menjaga seorang gadis dan tidak membuatnya terluka itu, merasa sangat buruk ketika melihat seorang gadis terluka di depan matanya. Hal itu yang membuatnya tanpa sadar mengkhawatirkan kondisi Tania hingga memeluknya.
Saat melihat seorang gadis terluka, Ares menjadi ingat mengenai ibunya yang dulu ketika masih seusia dengannya sering mendapatkan kekerasan fisik dari tunangannya. Sejak itu dia berjanji tidak akan membuat seorang gadis terluka dan melindunginya.
Kayden tampak menahan emosinya saat melihat pemandangan yang seharusnya tidak dirinya lihat tersebut.
"Bagaimana kondisimu, Tania?" Tanya Kayden mencoba untuk bersikap tenang. "Kenapa kau sudah berdiri?"
"Aku akan memanggil dokter dulu. Katanya dia harus melakukan rontgen ketika dia sudah bangun." Ujar Ares yang langsung bergegas pergi dari sana.
Tania memperhatikan Ares yang berjalan meninggalkannya. Dengan cepat gadis itu kembali naik ke ranjang dan duduk di sisinya.
"Kenapa kau bisa seperti ini?" Tanya Kayden mendekati Kayden dan berdiri di hadapan gadis itu. "Kenapa kau pergi meninggalkan sekolah? Apa kau mengikuti murid berandal itu? Apa karena itu kau jadi seperti sekarang ini?"
"Tidak, aku tidak mengikutinya. Aku hanya terjatuh dari sepeda saat di jalan menuju rumah untuk mengambil buku yang tertinggal. Saat yang bersamaan si bodoh itu melihatku." Jawab Tania yang tiba-tiba saja menjadi mengarang cerita.
Kayden tertegun menatap muridnya. Dia sangat tahu kalau Tania berbohong karena dirinya juga sudah diceritakan hal yang sebenarnya saat Ares menghubunginya tadi.
Namun mendengar kebohongan Tania, membuatnya menjadi tidak mengerti kenapa gadis itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Bahkan cerita yang dikarangnyapun sangat terdengar seperti sebuah kebohongan.
"Kay, aku akan kembali ke sekolah dan mengikuti test pelajaran Biologi. Kau membawa mobil kan? Ayo kita ke sekolah. Bilang juga pada si bodoh itu kalau aku tidak perlu melakukan rontgen atau apapun." Ujar Tania dengan tatapan penuh harapan pada Kayden agar pria itu mau mendengarkan ucapannya.
Saat yang bersamaan Ares datang dengan dokter tadi.
"Dokter, aku walinya... Sepertinya dia baik-baik saja karena itu tidak perlu melakukan pemeriksaan apapun." Ujar Kayden pada sang dokter.
__ADS_1
"Apa? Dia baru saja terkena tendangan yang sangat keras, tidak mungkin kalau baik-baik saja?!" Seru Ares tampak tidak setuju dengan perkataan Kayden. "Dia harus diperiksa, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya?"
"Aku baik-baik saja. Yang tahu kondisiku adalah aku sendiri." Jawab Tania dengan dingin melirik Ares.
"Setidaknya biar lebih yakin kau harus diperiksa lebih lanjut—"
"Benar dokter, dia tidak perlu melakukan pemeriksaan. Aku akan membawanya pulang." Sambar Kayden tidak memedulikan perkataan Ares.
Hal itu membuat Ares terlihat sangat kecewa. Dirinya yang sangat mengkhawatirkan Tania menjadi sangat kesal karena perkataannya tidak dihiraukan.
Segera pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak pergi dari sana.
"Kau mau ke mana? Kau harus ke sekolah bersama kami juga!!" Seru Tania mencoba menghentikan Ares.
Meski begitu Ares tetap melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut dan langsung pergi dari rumah sakit.
Perasaannya menjadi sangat kesal karena sedikitpun rasa khawatirnya tidak dihiraukan oleh Tania. Rasa bersalahnya masihlah besar karena itu dia ingin memastikan kalau gadis itu baik-baik saja dengan melakukan pemeriksaan.
...***...
Tania bersama dengan Kayden kembali ke sekolah. Sebenarnya gadis itu masih merasakan rasa sakit di punggungnya, bahkan terasa nyeri ketika dirinya berjalan mau pun duduk.
Gadis itu berjalan masuk dengan langkah yang lambat dengan Kayden memapahnya menuju kursinya. Tatapan Tania mengarah pada meja Ares yang berada di belakang mejanya.
Meja tersebut kosong karena Ares tetap tidak kembali ke sekolah. Tania sedikit merasa kesal namun dirinya pun tahu kalau pemuda itu tampak marah saat meninggalkan rumah sakit. Semua itu bisa dia maklumi karena perkataan Ares tidak didengar olehnya.
Segera Tania duduk di kursinya karena pelajaran Biologi baru saja akan di mulai dan guru yang bersangkutan sudah membagikan kertas test ke semua murid.
Tania mencoba fokus mengerjakan test tersebut meski dirinya merasa tidak nyaman karena merasa sakit dibagian punggung bahkan tengkuk lehernya. Kepalanya juga jadi terasa sangat sakit karena dipaksa untuk berpikir menjawab soal test. Ditambah kacamata gadis itu pecah dan sekarang dia tidak memakainya. Itu semakin membuat dirinya kesusahan.
Sesekali Tania menahan dan membuang napasnya di sela mengerjakan test. Bahkan dirinya menjadi keringat dingin saat ini. Meski begitu gadis itu tetap berhasil menyelesaikan testnya.
__ADS_1
Bel pulang berbunyi, Tania sedikit merasa lega karena akhirnya dirinya bisa segera pulang dan beristirahat. Namun pikirannya teralihkan pada Ares yang tetap tidak mengikuti test Biologi dan pergi entah ke mana.
Rasa kesal gadis itu muncul lagi. Diambilnya ponsel miliknya untuk segera menelepon Ares. Beberapa kali dia meneleponnya karena ingin melampiaskan rasa kesalnya pada pemuda yang tidak pernah memegang ucapannya tersebut. Akan tetapi tak ada jawaban dari Ares.
Sepertinya Tania lupa dengan rasa sakit ditubuhnya saat menjadi kesal pada Ares. Keinginannya untuk mencari pemuda itu lebih kuat dari pada rasa sakit yang menyerang dirinya. Bahkan gadis itu tidak memedulikan meski keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya.
Sambil berdecak kesal Tania bangkit berdiri dari duduknya dan keluar dari mejanya. Gadis itu mengambil tas miliknya dan melangkah, namun tiba-tiba punggungnya seperti dihantam benda yang sangat berat dengan keras dan langsung membuat pandangannya gelap.
Tania terjatuh dengan kesadaran yang hilang karena tidak mampu menahan rasa sakit yang terasa di bagian belakang tubuhnya.
Beberapa murid yang masih berada di dalam kelas terkejut dan langsung mencari bantuan dengan memanggil guru. Kayden segera berlari masuk ke dalam kelas itu dan segera membawa Tania ke rumah sakit.
Kesadaran Tania pulih ketika sampai di rumah sakit. Gadis itu langsung melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan melakukan foto rontgen.
"Sebaiknya kau beristirahat beberapa hari dulu. Beruntung tidak ada cedera yang serius dan punggungmu hanya mengalami trauma karena benturan yang keras. Untuk sementara berbaring terus sampai rasa sakitnya benar-benar pulih." Ujar Dokter memberitahukan kondisi tubuh Tania.
Saat ini Tania sudah berada di sebuah ruang rawat inap dan Kayden ada di sana bersama dengannya. Gadis itu hanya berbaring dengan kondisi punggung yang masih terasa sakit meski baru saja dirinya meminum pereda nyeri.
Sepeninggalan Dokter, Tania memikirkan bagaimana tadi Ares sangat ingin dirinya melakukan pemeriksaan rontgen namun gadis itu tidak mendengarkannya sedikitpun.
"Tidak apa-apa, punggungmu pasti akan segera sembuh. Sebaiknya kau istirahat saja agar cepat pulih. Aku akan menemanimu di sini." Ujar Kayden. "Apa aku perlu menelepon ibumu?"
"Tidak! Jangan memberitahunya. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Ini akan segera sembuh jadi tidak usah memperbesar masalahnya seolah-olah ini adalah hal yang serius." Jawab Tania.
"Ya, baiklah." Kayden yang duduk di kursi dekat ranjang mengangguk kecil.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan tirai ruangan tersebut yang terbuka. Tania mau pun Kayden langsung menoleh pada seseorang yang membukanya.
"Sudah aku bilang kan seharusnya kau tidak kembali ke sekolah dulu dan beristirahat. Lihat sekarang apa yang terjadi padamu?!" Seru Ares dengan tatapan kesal menatap pada Tania.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1