PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
076. GADIS LUAR BIASA


__ADS_3

Ares berjalan masuk ke dalam gedung sekolah ketika lima menit lagi bel masuk berbunyi. Ketika pemuda itu hendak melintasi kelas Dyara, kebetulan gadis itu baru akan masuk ke dalam kelasnya.


Keinginannya muncul untuk memperingati Dyara untuk tidak mengunggah dirinya di akun media sosial gadis itu.


"Tunggu sebentar!" Seru Ares menghentikan langkah Dyara.


Dengan segera pemuda itu berjalan lebih cepat untuk mendekati gadis tersebut. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka saat ini.


Akan tetapi fokus Ares teralihkan saat melihat lebam di sisi mata kiri gadis itu. Lebam berwarna kebiruan yang terlihat tidak terlalu lebar dan ketika dia melihat lengan gadis itu, gadis itu kembali memakai pembalut lengan di tangan kanannya.


Melihatnya, Ares tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Itu semua pasti karena Shane. Semua itu seperti memantik amarahnya.


"Kak Es," ujar Dyara.


"Apa Shane yang melakukannya?" Tanya Ares.


Diujung koridor, Tania baru saja masuk ke dalam gedung sekolah. Langkahnya terhenti saat melihat Ares berbicara dengan Dyara. Gadis itu tidak bisa mendengar apa yang dikatakan mereka berdua karena jarak dirinya berdiri sekitar sepuluh meter.


"Kemarin dia datang lagi menemuiku, dan memaksaku untuk ikut dengannya tapi karena aku menolak, Shane memukul wajahku, bahkan dia memegang lengan kananku yang belum sembuh benar hingga kembali terasa sakit sekarang." Jawab Dyara dengan nada yang terdengar lirih.


"Sialan! Benarkah seperti itu? Berani sekali dia setelah aku memperingatinya kemarin!!" Seru Ares. "Ikutlah denganku, akan aku patahkan tangannya."


Ares langsung berbalik hendak mengarah ke luar gedung sekolah. Namun langkahnya tertahan saat melihat Tania berjalan mendekatinya.


Saat yang bersamaan bel masuk berbunyi. Semua murid satu per satu memasuki kelasnya.


"Kau ingin ke mana?" Tanya Tania pada Ares saat gadis itu sampai mendekati mereka.


"Aku harus memberi pelajaran pada pecundang yang hanya berani menyakiti seorang wanita." Jawab Ares dengan tatapan penuh amarah.


"Bel masuk sudah berbunyi." Ujar Tania dengan nada biasa. "Kau tidak boleh ke manapun."


"Jangan menghalangiku! Aku harus membuat pelajaran pada pecundang itu!!"


Tania mengarahkan tatapannya pada Dyara, bisa dia lihat lebam yang ada di sisi mata gadis itu. Namun dia juga melihat tatapan tidak suka terpancar dari mata Dyara padanya.


"Sudah aku bilang kau tidak boleh melanggar peraturan lagi. Apa kau lupa?" Tanya Tania pada Ares, mengingatkan mengenai hal penting tersebut.


Ares menjadi terdiam, meski begitu dirinya masih tidak bisa menahan emosinya dan tetap ingin memberi pelajaran pada Shane.

__ADS_1


"Kak, aku takut Shane akan melakukannya lagi. Dia terus-menerus menyakitiku." Ucap Dyara pasa Ares.


"Biarkan aku pergi. Aku tidak peduli meski dikeluarkan sekalipun." Ujar Ares.


Saat yang bersamaan, Tyaga yang baru saja keluar dari ruang OSIS berjalan hendak ke kelasnya yang berada di sebelah kelas Dyara.


"Baguslah kau ada di sini, Ketua OSIS baru." Seru Tania pada Tyaga dan membuat pemuda itu menghentikan langkahnya. "Aku membutuhkan bantuanmu."


"Bantuanku? Untuk apa?" Tanya Tyaga heran dan segera berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. "Apa yang kalian bicarakan?"


"Anak sekolah lain melakukan kekerasan pada Dyara, sebagai ketua OSIS kau bisa mendatangi sekolahnya dan mengatakan semua hal itu pada pihak sekolahnya." Jawab Tania. "Kau harus melakukannya agar murid itu mendapatkan hukuman karena berani menyakiti murid sekolah kita."


"Benarkah? Sekolah mana? Dan siapa yang berani melakukannya?" Tanya Tyaga melihat pada Dyara.


"Aku akan menemanimu ke sekolah itu bersama dengan Dyara, agar dia sendiri yang menunjuk pelakunya. Tunggulah di sini, aku akan meminta ijin kepala sekolah untuk kita bertiga." Lanjut Tania.


"Baiklah." Jawab Tyaga.


"Dan kau, masuklah ke kelas. Apa yang terjadi tidak ada kaitannya denganmu." Seru Tania pada Ares setelahnya gadis itu bergegas ke ruang kepala sekolah untuk meminta ijin.


"Sayang sekali, padahal sepertinya ini kesempatanku. Tapi sayangnya mantan ketua OSIS berpikir dengan cermat." Ujar Tyaga memulas senyuman dinginnya pada Ares.


...***...


"Dialah memukulku kemarin. Tidak, dia sering melakukannya, bahkan dia juga yang menyebabkan lenganku retak beberapa waktu lalu." Seru Dyara saat pihak sekolah membawa Shane datang ke ruang kepala sekolah.


"A—aku tidak melakukannya." Seru Shane membela diri.


Tania yang semula duduk di kursi di hadapan kepala sekolah tersebut bersama dengan Tyaga dan Dyara, bangkit berdiri. Gadis itu melihat pada Shane dengan tatapan dinginnya.


"Kau tidak mengakuinya? Apa kau tidak melakukannya? Katakan saja untuk membela dirimu." Seru Tania. "Dyara, di mana kejadiannya?"


"Tempat karaoke milik keluarganya." Jawab Dyara dengan terlihat ragu saat mengatakannya.


"Baiklah Shane, jika kau masih tidak mengakuinya, sekolah kami akan melapor ke pihak berwajib dan pastinya kasus ini akan diusut. Polisi akan mencari bukti dengan meminta rekaman CCTV. Dan selanjutnya kau pun bisa mengira apa yang akan terjadi." Ucap Tania dengan nada tenang.


Shane hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.


"Baiklah, Bu Kepala Sekolah, kami tidak ingin menyita waktu anda dan memperpanjang masalah ini. Dari pihak kami, kami hanya mau kalau pelaku mengakui perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kami juga tidak ingin kalau pelaku menemui lagi murid yang menjadi korban di sekolah kami." Tambah Tyaga sambil dengan serius. "Untuk hukuman yang akan didapatkan pelaku, kami menyerahkan sesuai dengan peraturan sekolah ini."

__ADS_1


"Baiklah, kami mengerti." Jawab Kepala Sekolah tersebut yang merupakan seorang pria berusia 40 tahun lebih.


Akhirnya Shane mengakui akan perbuatannya, sehingga pemuda itu menandatangani surat perjanjian agar tidak mengulangi hal tersebut lagi.


Tania bersama yang lainnya kembali ke sekolah mereka. Saat sampai, Dyara langsung bergegas masuk ke dalam gedung sekolah meninggalkan Tania dan Tyaga.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Tyaga saat pemuda itu keluar dari mobil dan menghentikan langkah Tania yang baru saja keluar dari mobil juga dan hendak berjalan menuju gedung sekolah.


"Silakan, tanya saja." Ujar Tania yang berada di seberang mobil.


"Apa kau menyadari sesuatu?" Tanya Tyaga.


"Tentu saja, karena itu aku juga berterimakasih padamu." Jawab Tania setelahnya berjalan pergi meninggalkan Tyaga.


Dyara yang berada di toilet wanita, keluar dari sana dan dikejutkan dengan sosok Tyaga yang berdiri di luar tempat itu.


Gadis itu tidak mengerti maksud dan tujuan pemuda itu berdiri seperti menunggunya keluar.


"Kau membuatku terkejut. Ada apa?" Tanya Dyara mencoba bersikap biasa saja di depan Tyaga.


"Sebenarnya apa tujuanmu? Beruntung pria itu sangat bodoh hingga mudah digertak begitu saja." Ujar Tyaga.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti dengan perkataanmu." Dyara memasang wajah polosnya.


"Kenapa kau datang menemuinya? Apa kau sengaja agar pria itu menyakitimu?" Tanya Tyaga dengan tatapan penuh selidik. "Kau benar-benar gadis luar biasa, bahkan kau menipu semua orang dengan apa yang kau unggah di akun media sosialmu. Tapi kau tidak akan bisa menandingi mantan Ketua OSIS."


Dyara tampak pucat saat mendengar perkataan Tyaga padanya.


...***...


Tania memasuki ruang kelasnya di mana pelajaran sedang berlangsung. Ares terlihat penasaran dari tatapannya pada gadis itu. Murid lain pun juga terlihat berbisik karena penasaran apa yang terjadi.


"Bagaimana? Apa yang terjadi?" Tanya Ares.


"Aku peringatkan sekali lagi padamu, jangan melanggar peraturan sekolah. Apa kau mengerti?" Ucap Tania tanpa menoleh pada Ares.


"Baiklah, aku berjanji." Jawab Ares yang juga berbisik dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Tania yang duduk di depannya.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2