
"Apa yang kau katakan?" Tanya Tania heran pada Ares. "Kenapa juga kau ada di sini?"
Pertanyaan Tania membuat Ares menjadi tersadar karena dirinya juga heran kenapa malah datang ke sana. Matanya terus berputar mencari jawaban dan sepertinya dia bisa mengira kalau kebingungannya di sadari oleh kedua orang yang menatapnya.
"Ya, kau benar... Seharusnya aku tidak menuruti permintaannya tadi." Ujar Kayden sambil bangkit berdiri. "Tolong jaga dia sebentar."
"Kau mau ke mana, Pak Guru?" Tanya Ares saat Kayden berjalan melewatinya.
"Merokok." Jawab Kayden setelah itu melangkah pergi dari ruangan itu.
Di luar ruangan, Kayden menghela napas dengan sangat berat. Mendengar perkataan Ares tadi membuatnya menjadi sangat buruk saat ini. Seharusnya dirinya memang tidak mengikuti keinginan Tania.
"Ada apa denganku?" Gumam Kayden kembali melangkah sambil merogoh sebungkus rokok di sakunya.
Sepeninggalan Kayden, Ares menjadi semakin bingung. Ditambah tatapan Tania seperti menanyakan kembali mengenai keberadaannya di sana.
"Kalau saja aku tidak seperti ini, aku pasti sudah mendekatimu untuk membunuhmu saat melihatmu datang tadi." Ucap Tania dingin yang tidak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun karena rasa sakit di punggungnya.
Ares mencoba menatap Tania dengan tatapan tajamnya, seolah-olah memperlihatkan dirinya yang dingin.
"Aku datang juga karena merasa bertanggung jawab pada kondisimu sekarang ini. Karena aku, kau mengalami hal buruk. Hanya itu alasan kenapa aku ke sini." Jawab Ares. "Tidak usah berterimakasih, aku memang orang yang baik dan sangat perhatian."
Tania tidak menjawab dan hanya menatap Ares saja. Bahkan tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukan gadis itu untuk menanggapi perkataan pemuda tersebut.
Hal itu membuat Ares semakin menjadi kebingungan hingga tanpa sadar dia mengusap tengkuknya karena bingung harus bersikap bagaimana lagi.
"Ke—kenapa kau diam saja?" Akhirnya Ares bertanya dengan perasaan canggung karena Tania terus menatapnya tanpa ekpresi yang berarti.
"Kau bilang aku tidak perlu berterimakasih, kalau begitu kenapa kau masih berdiri di sana?" Tanya Tania tatapannya tetap tidak teralih pada pemuda yang berdiri di dekat tirai yang sudah tertutup.
"Ah iya, kau tidak perlu berterimakasih padaku..." Ares melangkah mendekati Tania kenapah samping ranjang.
"Kau bisa pergi sekarang." Sela Tania yang membuat langkah Ares berhenti.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Ares terkejut mendengar perkataan Tania. "Kau mengusirku? Kenapa kau mengusirku?"
"Memang apalagi yang mau kau lakukan di sini? Bukannya kau hanya ingin melihat keadaanku saja? Kau sudah lihat kan? Jadi tidak perlu berada lama di sini." Jawab Tania.
Ares terdiam sesaat. Perkataan Tania memang benar, seharusnya setelah melihat keadaan gadis itu yang tampaknya baik-baik saja, dia bisa pergi dari sana. Namun entah kenapa ada perasaan enggan untuknya pergi meninggalkan gadis itu.
"Ada apa lagi?"
"Sudah aku bilang kan, aku akan bertanggung jawab. Karena itu aku tidak akan pergi sampai kau sakit." Ujar Ares.
"Sejujurnya apa yang terjadi padaku pun bukan kesalahanmu, bodoh. Aku sendiri yang masuk ke dalam perkelahian itu hingga mendapatkan tendangan keras tersebut." Pungkas Tania. "Jadi kau pun tidak perlu bertanggung jawab mengenai kondisiku. Lagi pula jangan mengasihaniku, karena aku tidak suka dikasihani oleh pria bodoh sepertimu."
"Tapi tetap saja kan, kalau aku tidak pergi meninggalkan sekolah kau tidak datang mengikutiku dan masuk ke perkelahian itu!" Seru Ares dengan nada suara sedikit keras karena dirinya menjadi kesal pada Tania.
Tania merasa aneh pada cara berpikir pemuda yang ada di dekatnya. Bagaimanapun dan berapa kalipun dia memikirkan apa yang terjadi padanya hanya disebabkan oleh kebodohannya sendiri dan bukan salah siapapun. Tetapi Ares malah menganggap apa yang terjadi padanya karena kesalahan pemuda itu.
"Kau memang bodoh." Ucap Tania dengan nada suara yang pelan.
"Diamlah, jangan mengaku kau bertanggung jawab kalau sebagai pelajar tidak menjalankan tanggung jawabmu." Seru Tania sambil berusaha merubah posisi tidurnya untuk membelakangi Ares.
Akan tetapi rasa sakit terasa di punggungnya hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Ares bangkit berdiri mendekati Tania dan tanpa sadar memegang lengan gadis itu.
"Singkirkan tanganmu!!" Tania melirik dingin pada Ares yang memegangnya.
Ares langsung menarik tangannya dengan mengalihkan tatapan, karena dirinya merasa melakukan kesalahan dengan tanpa sadar memegang Tania.
Segera pemuda itu kembali duduk di kursi, sedangkan Tania yang sudah merubah posisi tidurnya menjadi memunggungi Ares karena tidak ingin melihatnya.
Selang satu jam Kayden kembali ke dalam ruangan sehabis pria itu merokok di luar rumah sakit.
"Kau masih di sini?" Tanya Kayden pada Ares yang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Ya, kau lihat kan aku masih ada di sini, Pak Guru?" Jawab Ares melirik pada Kayden.
"Pulanglah, ini sudah malam." Seru Kayden.
"Aku tidak akan pulang, aku akan tetap di sini. Aku yang bertanggung jawab pada kondisinya." Jawab Ares kembali mengarahkan pandangannya ke ponsel.
"Tanggungjawab? Mengerti apa kau tentang tanggung jawab?" Kayden merasa heran mendengar perkataan Ares hingga mendengus kesal.
"Kalian berdua pulanglah kalau hanya ingin membuat kegaduhan di sini." Seru Tania merasa terganggu dengan suara kedua pria yang berada di sana.
"Sudah aku bilang, aku tidak akan kemana pun sampai kau keluar dari rumah sakit. Aku sudah mengatakan kalau aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku." Ujar Ares pada Tania.
Sekali lagi Kayden mendengus karena perkataan Ares yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
"Kau hanya seorang pelajar, tanggung jawabmu adalah belajar... Tapi selama ini kau malah mengabaikan tanggung jawabmu. Dan sekarang apa yang kau katakan terdengar sangat lucu. Apanya yang tanggung jawabmu?" Tanya Kayden diiringi tawa sarkastis pada Ares. "Kau hanya murid berandal yang tidak mengerti apa tanggung jawabmu yang sebenarnya."
"Astaga, Pak Guru ingin mengajariku mengenai tanggung jawab sedangkan kau sendiri sebagai wali kelas tidak pernah melakukan tanggung jawabmu." Ares tersulut emosi mendengar cercaan dari Kayden hingga bangkit berdiri dari duduknya. "Kalau kau bertanggung jawab lalu kenapa kau membiarkan muridmu yang lain menemui murid berandal untuk memintanya kembali ke sekolah? Apa itu bukan hal yang lucu juga?"
"Kalian berdua keluarlah dari sini." Ucap Tania.
"Jangan mengajariku tentang tanggung jawab kalau kau juga tidak menjalankan tanggung jawabmu." Lanjut Ares dengan sangat serius hingga tidak mendengar perkataan Tania.
Ucapan Ares membuat Kayden menjadi terdiam karenanya. Pria itu menjadi memikirkan sesuatu yang selama ini menjadi beban pikirannya. Sesuatu yang disebut dengan tanggung jawab.
Kayden membuang napas untuk menghilangkan rasa kesalnya pada pemuda yang merupakan muridnya itu. Sejenak pria itu melihat ke arah Tania dan setelah itu melangkah keluar lagi meninggalkan ruangan itu tanpa mengatakan apapun.
"Apa dia pergi?" Ares menoleh pada Tania saat Kayden pergi dari sana. "Apa Pak Guru marah? Apa kata-kataku keterlaluan?"
"Bodoh." Ucap Tania pada pertanyaan Ares yang melihat bodoh padanya.
Melihat sikap Kayden barusan membuat Tania mulai mengerti mengenai sesuatu hal pada pria itu. Ada hal yang selalu dipikirkan oleh gurunya itu selama ini.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1