PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
069. TERTIDUR


__ADS_3

"Kalian berdua sedang apa di sini?" Tegur Tasya pada kedua putrinya yang kembar.


Si kembar berada di depan pintu kamar Ares, mencoba untuk mengintip atau mendengar apa yang terjadi pada ketiga orang di dalam kamar.


Mereka berdua langsung terkejut dengan kehadiran ibu mereka yang datang membawa minuman beserta makanan ringan.


"Jangan mengintip atau mencuri dengar, itu tidak sopan." Seru Tasya.


Kedua si kembar hanya tersenyum mendapatkan teguran dari sang ibu.


"Tolong ketuk pintunya." Ucap Tasya dan Athena langsung melakukannya.


Tidak lama berselang, Ares membukakan pintu sehingga Tasya langsung berjalan masuk sedangkan Aphrodite dan Athena yang masih berada di depan pintu, melongok ke dalam kamar.


"Istirahatlah dulu, kalian pasti lelah sudah belajar sejak tadi." Ujar Tasya sambil meletakkan nampan berisi minuman dan makanan ringan di meja belajar.


"Terimakasih, Nyonya." Ucap Tania sambil mengeluarkan tiga gelas dari nampan dan meletakkannya ke hadapan masing-masing mereka.


"Ini sudah jam sembilan malam, lebih baik jangan terlalu malam selesainya." Ujar Tasya.


"Baik Nyonya, kami akan menyelesaikannya sebentar lagi. Anak Nyonya harus mengerjakan semuanya hingga benar baru kami akan selesai." Jawab Tania.


"Sepertinya itu mustahil." Celetuk Tyaga.


Ares mendelik pada Tyaga yang meremehkan kemampuannya dalam mengerjakan soal-soalnya.


"Ah iya Es, tadi Paman Lion menelepon, katanya Hany tidak bisa datang untuk menghadiri ulang tahunmu besok." Ujar Tasya.


"Benarkah? Apa karena Bibi Melo?" Ares terkejut pada kabar tersebut. "Ya, pasti Bibi Melo yang melarang Hany ke negara ini."


"Baiklah, silakan kalian selesaikan belajarnya. Aku keluar dulu ya." Ucap Tasya setelahnya berjalan keluar dari ruangan itu.


Ares yang masih berdiri, memikirkan kabar yang baru saja diberitahukan oleh ibunya mengenai sepupunya Harmony. Dia sudah berjanji pada Kayden untuk membuat sepupunya itu datang saat acara ulang tahunnya nanti.


"Apa yang kau pikirkan? Cepat selesaikan, aku harus segera pulang." Seru Tania membuat apa yang dipikirkan Ares buyar.


Pemuda itu langsung berjalan dan kembali duduk di kursi untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan padanya.


"Ini benar-benar memakan waktu. Semua soal itu bisa aku kerjakan hanya dalam waktu lima menit. Sebaiknya kau lebih banyak belajar lagi." Ujar Tyaga sambil beranjak berdiri dan mengambil tasnya. "Kau bisa menyelesaikan itu semua sendirian, sebaiknya kita pulang. Kau pasti juga sudah lelah kan, mantan ketua OSIS?"


"Kau bisa pulang sendiri, tidak ada yang memintamu juga untuk membantuku belajar." Seru Ares melirik Tyaga dari sudut matanya.


"Sepertinya benar juga." Timpal Tania sambil menutup bukunya. "Aku juga akan pu—" Tania ingin beranjak berdiri namun tiba-tiba Ares memegang tangannya sehingga menghentikan apa yang ingin dikatakannya dan membuatnya tetap duduk.


Melihatnya Tyaga hanya menghela napas, dan langsung berjalan ke arah pintu keluar.

__ADS_1


"Aku akan meminta ibumu untuk memantau kalian saat belajar berdua." Seru Tyaga sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Tyaga, Ares yang masih memegang tangan Tania tersadar dan membuatnya menjadi tampak malu saat Tania melihat ke arahnya untuk melepaskan tangannya.


Hal yang sama juga terjadi pada Tania, gadis itu menjadi teringat pada ciuman Ares tadi siang sehingga membuatnya langsung berpindah tempat ke kursi Tyaga sebelumnya yang jaraknya lebih jauh dari Ares.


"Seharusnya aku pulang bersama dengannya, kenapa kau memegang tanganku?" Tanya Tania dengan tidak menoleh pada Ares.


"Aku akan mengantarmu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Pak Guru." Jawab Ares. "Tunggulah sebentar, aku akan menyelesaikan ini semua."


"Baiklah." Ucap Tania menyetujui.


Segera Ares mencoba fokus kembali untuk mengerjakan soal matematika yang sejak tadi selalu salah dia jawab.


Hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat, dan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Akhirnya Ares selesai menyelesaikan semuanya, meski dirinya juga tidak yakin apa semua jawaban yang dia kerjakan benar atau tidak.


"Akhirnya selesai ju—" Ares meregangkan tubuhnya dan menoleh ke arah Tania, perkataannya terhenti karena melihat gadis itu tertidur dengan meletakkan kepalanya ke sisi meja. "Ya ampun, pantas saja suaranya tidak ada, ternyata dia tertidur."


Dipandangnya sesaat wajah pulas Tania yang berada di jarak sekitar satu dua meter darinya. Bahkan gadis itu masih memakai kacamatanya saat ini, itu membuktikan kalau dia tidak sengaja tertidur tadi.


"Ya, dia pasti sangat lelah." Gumam Ares sambil bangkit berdiri.


Segera pemuda itu berjalan mendekatinya untuk membangunkan Tania. Rencananya Ares ingin mengantar pulang Tania agar bisa bertemu dengan Kayden, karena ingin berbicara dengannya.


Namun Tania tetap terlelap dan tidak bergeming sedikitpun. Rasa lelah sudah menyelimuti gadis itu karena sejak pulang ke rumah ibunya, dia harus menjaga ibunya sehingga membuatnya menjadi kekurangan tidur.


"Sepertinya dia tidur dengan sangat pulas." Decak Ares dengan bingung.


Ares bingung harus melakukan apa. Dia juga berpikir kalau Tania pasti sangan lelah hingga sedikitpun tidak bergeming dari tidurnya meski pemuda itu sudah membangunkannya.


Segera dilepaskannya kacamata yang masih bertengger di batang hidung Tania dan meletakkan benda itu di meja. Lalu Ares mengangkat tubuh Tania dari kursi dan memindahkannya ke atas tempat tidur miliknya.


"Astaga, hanya ini yang terpikirkan olehku." Gumam Ares setelah menidurkan Tania di tempat tidur.


Pemuda itu berdiri dengan menunjukkan wajah kesalnya namun saat melihat wajah Tania yang tertidur, membuatnya menyunggingkan sebuah senyum tipis.


Ares menjadi teringat ciuman yang dia berikan pada Tania saat di ruang OSIS. Dan sekarang hal itu membuatnya memikirkan sesuatu.


Di liriknya arah pintu kamarnya untuk memastikan tidak akan ada yang masuk, bahkan matanya berkeliling ruangan meski dia tahu kalau tidak ada siapapun di sana selain dirinya dan Tania.


Dengan langkah ragu, Ares lebih mendekat ke arah tempat tidur dan segera duduk di sisinya. Sejenak di lihatnya wajah Tania, dan itu membuatnya semakin ingin melakukan apa yang dipikirkannya saat ini.


Segera pemuda itu mendekatkan wajahnya mengarah pada wajah Tania, untuk mencium gadis itu.

__ADS_1


Cklek!


Suara pintu terbuka sehingga membuat Ares melompat dari duduknya dan langsung berdiri, belum sempat dirinya melancarkan niatnya.


"Ada apa, Es? Kenapa kau seperti terkejut? Ya ampun, Tania tertidur?" Seru Tasya yang membuka pintu dan melihat Tania berada di atas tempat tidur dengan terlelap.


"Di—dia ta—tadi tertidur, ka—karena itu aku membawanya ke—ke tempat tidurku." Ujar Ares dengan sangat tergagap dan menjadi salah tingkah karena takut kalau ibunya tahu apa yang ingin dirinya lakukan tadi pada Tania.


"Kau baik sekali sampai ingin meminjamkan tempat tidurmu padanya, Es." Goda Tasya.


"Dia tertidur sangat lelap, tidak mungkin aku membangunkannya. Aku akan tidur di kamar tamu, Ma." Seru Ares menahan rasa malu dengan segera berjalan keluar dari kamarnya.


Di luar, kedua adiknya yang terus saja berada di sana tertawa kecil melihat tingkah Ares. Aphrodite dan Athena melihat ke dalam pada ibu mereka.


"Untung saja tepat waktu." Ucap Tasya dengan tawa kecil.


"Sudah kami bilang kalau waktu itu Kak Ares pun mencium Kak Tania, kenapa Mama tidak percaya?" Seru Athena.


"Ya, mama kira kakak kalian lebih mirip Papa, ternyata dia sangat mirip mama." Tawa Tasya. "Untung saja Mama ikutan mengintip mereka berdua."


"Itulah kenapa kami berdua selalu mengintip mereka, Mama." Senyum Aphrodite yang masih berada di ambang pintu bersama kembarannya.


"Ya, Untung juga ketua OSIS yang baru mengatakannya pada mama." Tasya tertawa kecil.


...***...


Pagi menjelang, suara alarm di ponsel Tania yang berada di atas meja, membuat gadis itu membuka matanya. Namun sebelum itu, matanya terbuka dengan tersentak kaget dan dirinya merasakan bibirnya terasa aneh.


Matanya menatap langit-langit ruangan dengan sebuah kebingungan mengenai di mana dia saat ini


Namun dirinya yang terbangun dengan terkejut karena suara alarm yang terus saja berbunyi, seperti membuatnya susah berpikir.


Tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup dengan perlahan, dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


Dengan pandangan masih samar-samar karena tidak memakai kacamata, Tania melihat kalau baru saja seseorang menyelinap keluar dari pintu dan menutup pintu dengan perlahan.


Kesadarannya penuh setelah dirinya mengusap matanya, dan membuatnya mengingat di mana dirinya saat ini berada. Saat tersadar, langsung membuatnya terkejut hingga beranjak duduk.


"Kenapa aku masih berada di sini dan kenapa aku ada di atas tempat tidur? Jam berapa sekarang?"


Tania sangat bingung dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Tania semakin bingung sambil memegang bibirnya yang terasa lembab. "Pakaianku?"


Rasa terkejut Tania semakin menjadi saat melihat dirinya sudah tidak lagi memakai seragam sekolahnya dan berganti dengan pakaian tidur.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2