PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
081. KESEDIHAN PANGLIMA PERANG


__ADS_3

Ares berada di kamarnya seorang diri. Walaupun sudah berusaha untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Anton, namun tetap saja dirinya terus mengkhawatirkan sahabatnya itu. Entah kenapa kalau dirinya merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ares terus saja berjalan mondar-mandir dan duduk di sisi tempat tidur dengan melihat ponsel milik Tania. Berharap kalau Kayden segera menghubunginya untuk memberikan kabar baik.


Waktu sudah berlalu beberapa menit, hingga akhirnya ponsel Tania masuk sebuah panggilan dari Kayden.


Ares yang sedang berjalan mondar-mandir langsung meraih ponsel yang dia letakkan di atas tempat tidur. Pemuda itu sudah tidak sabar untuk mengetahui kabar Anton—sahabatnya.


"Pak Guru, apa semua baik-baik saja? Kau bersama dengan Anton di sana? Berikan ponselnya padanya, aku ingin bicara dengannya." Seru Ares yang langsung menjawab telepon dari Kayden.


"Ares, dengarkan aku. Saat kami semua datang, dia sudah dihajar sedemikian rupa hingga akhirnya kehilangan nyawanya." Jawab Kayden di ujung telepon. "Saat ini jasadnya sudah dibawa ke rumah sakit."


Bagai di sambar petir, Ares sangat terkejut mendengar kabar buruk tersebut. Perasaan yang tidak enak, yang dirinya rasakan tadi ternyata merupakan firasat kalau apa yang ditakutkannya benar terjadi.


"Kau bicara apa, Pak Guru? Berikan saja ponselnya pada Anton. Aku ingin bicara dengannya sekarang juga." Ujar Ares yang masih tidak ingin menerima kenyataan bahwa sahabatnya itu sudah pergi meninggalkannya.


Di ujung telepon, Kayden tidak berkata apapun karena dia tahu mengenai kesedihan yang dirasakan Ares saat ini.


"Walau dia tidak sehebat aku, tapi dia juga bisa berkelahi, Pak Guru. Kenapa dia bisa kalah seperti itu?" Ucap Ares dengan nada suara yang lirih. "Aku menyuruhnya untuk datang lebih cepat, tapi kenapa dia malah pergi di hari ulang tahunku?—"


"Ares!" Panggil Kayden untuk menghentikan perkataan pemuda itu yang terdengar sangat memilukan untuknya. "Datanglah ke rumah sakit untuk melihat sahabatmu untuk terakhir kalinya." Ujar Kayden.


Ares tidak menjawab perkataan Kayden, dan saat yang bersamaan pintu kamarnya terbuka. Muncul Tania dari balik pintu dengan membawa minuman untuknya.


"Kau mendengarku, kan?" Tanya Kayden memastikan Ares namun pemuda itu tidak menjawab dan hanya melihat ke arah Tania. "Kuatkan dirimu, dan datanglah ke sini. Semua teman-temanmu menunggumu di sini."


Ares melepas ponsel yang berada di telinganya hingga ponsel tersebut terjatuh ke lantai dengan memutuskan panggilan telepon Kayden.


...***...


Bersama dengan Tania, Ares berjalan masuk ke dalam rumahnya menuju kamar jenasah. Kehadirannya langsung membuat puluhan teman-temannya beranjak menghampirinya.

__ADS_1


Kayden yang juga berada di sana melihat pada Tania yang berjalan di belakang Ares.


"Es, kami tidak bisa menolongnya." Ujar Brodie dengan wajah yang terlihat sembab karena tidak bisa membendung air matanya. "Anton pergi meninggalkan kita. Sebagai teman kita semua tidak ada membantunya."


Ares berjalan perlahan menuju tubuh Anton yang sudah terbujur kaku dan sudah ditutupi oleh kain putih. Brodie dan beberapa temannya, mengikuti langkah pemuda yang terlihat berusaha menahan kesedihannya itu.


Dibukanya kain yang menutupi bagian kepala Anton, agar Ares bisa melihat sahabatnya untuk yang terakhir kalinya.


Wajah Anton tampak babak belur dengan banyak lebam memenuhinya. Melihatnya, Ares langsung merasa tersulut emosi. Hanya ada satu keinginannya saat ini, yaitu membalaskan semua perbuatan Shane pada sahabatnya itu.


Dengan langkah yang cepat, Ares berjalan keluar, melihatnya, Kayden langsung menoleh dan menghampiri pemuda yang terus mengarahkan tatapannya pada satu arah tersebut.


"Kau mau ke mana?" Tanya Kayden memegang lengan Ares agar pemuda itu berhenti melangkah.


"Katakan di mana Shane saat ini, Pak Guru? Apa polisi sudah menangkapnya? Aku akan menemuinya dan akan membalaskan semua perbuatan yang dilakukannya pada sahabatku." Jawab Ares dengan cara bicara penuh dengan penekanan.


"Tidak, polisi tidak menangkapnya." Ujar Kayden sehingga membuat Ares menoleh menatapnya.


Bagaimana Shane bisa tidak ditangkap polisi? Padahal sudah sangat jelas, dia sudah menganiaya hingga menyebabkan kematian.


"Es, saat kami tiba di sana, Shane tidak ada. Bahkan sejak awal dia tidak berada di sana." Ujar Brodie menjelaskan situasi yang terjadi.


"Bagaimana bisa dia tidak ada di sana?" Ares semakin heran mendengar hal itu. "Bukan kah dia dan kelompoknya yang melakukannya?"


"Dia sengaja melakukannya. Shane hanya meminta teman-temannya untuk melakukannya tapi dia tidak berada di sana. Bahkan dia menyangkal kalau dirinya yang meminta untuk menganiaya Anton. Polisi juga tidak menemukan bukti keikutsertaannya, maka dari itu, polisi tidak menangkapnya." Terang Brodie.


"Sialan!! Sudah jelas kalau dialah yang merencanakan semua ini!! Bagaimana bisa dia tidak ditangkap?!" Geram Ares terlihat penuh dengan emosi. "Tapi itu bagus. Jika polisi tidak menangkapnya, itu berarti aku memiliki kesempatan lebih besar untuk membalaskan kematian Anton!! Aku akan mencarinya dan akan aku bunuh dia!!"


Ares kembali melangkahkan kakinya lagi, namun Kayden yang berdiri di dekatnya kembali menahan langkahnya dengan memegang lengan pemuda itu.


"Apa yang akan kau lakukan? Membunuhnya katamu?" Seru Kayden memegang lengan kiri Ares dengan tangan kanannya agar pemuda itu tidak pergi.

__ADS_1


"Ya, itu sudah jelas kan?" Jawab Ares dengan wajah penuh amarah. "Aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Anton—sahabatku!!" Ares berkata demikian dengan sangat penuh emosi.


"Kau tidak boleh bertindak bodoh!! Tidak akan ada yang berubah kalau kau juga membunuhnya!! Yang ada kau hanya akan masuk ke dalam penjara." Ucap Kayden mencoba meyakinkan Ares agar tidak melakukan apapun yang bisa membuat pemuda itu dalam bahaya.


Ares terlihat memikirkan perkataan Kayden dengan menahan langkahnya dan terdiam seperti berpikir.


"Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana mungkin aku tidak berbuat apapun atas kematian sahabatku, Pak Guru? Aku harus melakukan sesuatu karena semua yang terjadi pada Anton adalah kesalahanku. Jika saja aku datang menolongnya, maka dia tidak akan pergi meninggalkan aku seperti ini." Ucap Ares dengan mata yang memerah karena menahan kesedihannya kembali. "Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku kehilangannya tapi yang lebih buruk dari itu, aku tidak berbuat apapun sebelumnya. Lalu, apa sekarang aku juga harus diam saja dan tidak melakukan apapun untuknya?"


Keadaan menjadi terasa lebih dingin dan keheningan menyelimuti. Ares terlihat begitu sangat bersedih dengan menahan air matanya agar tidak mengalir keluar.


Semua teman-temannya yang berada di sana juga tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, karena rasa sedih yang saat ini mereka semua rasakan juga sama besarnya dengan yang dirasakan Ares. Semua karena merasa kehilangan sekaligus perasaan bersalah pada Anton.


"Aku pasti akan membalaskan semua perbuatan si pecundang itu." Ucap Ares dengan nada suara yang sangat marah.


Tania melangkah mendekati Ares. "Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang bisa membuatmu sampai dikeluarkan dari sekolah."


Perkataan Tania mengalihkan tatapan Ares hingga melihat pada gadis yang sudah berdiri di dekatnya.


"Tenangkan dirimu dulu. Sahabatmu juga pasti tidak ingin melihatmu sampai salah langkah." Ucap Tania dengan tangan kanannya memegang lengan Ares.


Namun tanpa gadis itu duga, Ares menepisnya dengan menbuang wajahnya, tidak ingin melihat pada Tania.


"Pergilah, kau tidak perlu berada di sini. Aku mendengarkan semua perkataanmu, tapi semua yang terjadi lebih buruk dari hal yang kau khawatirkan." Ujar Ares dengan sangat dingin.


Setelah berkata seperti itu, Ares berjalan pergi dari sana bersama dengan teman-temannya yang mengikutinya.


Sedangkan Tania menjadi terdiam mendengar perkataan dan sikap dingin Ares padanya tadi. Bahkan pemuda itu sampai menepis tangannya. Itu adalah sesuatu hal yang sangat mengejutkan untuk Tania.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Dia hanya sedang bingung harus bagaimana. Sebaiknya kau pulang saja, biar aku yang mencegahnya untuk tidak melakukan hal-hal yang buruk." Seru Kayden setelah itu berjalan meninggalkan Tania untuk menyusul Ares.


Tania masih tidak bergeming. Dirinya masih memikirkan reaksi Ares tadi. Ucapan pemuda itu terdengar seperti sebuah penyesalan karena mendengarkan perkataan dirinya. Lebih dari itu, Ares menjadi terlihat seperti membencinya karena mendengarkan semua yang dikatakannya.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2