PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
045. SAINGAN


__ADS_3

Ares langsung terdiam melihat sosok gadis yang tersenyum senang melihat padanya. Dilihatnya ke sekeliling kalau saat ini mereka menjadi bahan tatapan murid lainnya.


"Hari ini aku pindah ke sekolah ini, biar kita bisa bertemu setiap hari, Kak." Seru Dyara yang langsung memeluk Ares yang membatu.


Wanda yang berada di sana mendehem untuk memperingatkan Dyara agar melepas pelukannya.


"Dilarang bermesraan saat ada di lingkungan sekolah." Tegur Tania yang masih berdiri di ambang pintu.


Ares menoleh padanya dengan tatapan seksama yang menyiratkan rasa risihnya pada kehadiran Dyara di sana.


"Kita juga bertemu lagi." Dyara tersenyum pada Tania dengan senyum simpul. "Ah, jadi apa ini ruangan OSIS?" Tanya Dyara menoleh pada Wanda.


"Ya, ini ruang OSIS-nya, dan—"


"Baiklah, kalau begitu di mana ketua OSIS? Siapa Namanya? Kak Tania?" Sambar Dyara memotong perkataan Wanda.


Ares merasa aneh pada gadis itu karena pertanyaannya. Dyara tidak mengenali kalau orang yang bernama Tania, yang sedang ingin ditemuinya adalah gadis yang sudah dia kenal.


"Aku ketua OSIS di sekolah ini. Namaku Natania, tapi semua orang memanggilku Tania." Ujar Tania.


"Ah, jadi kau ketua OSIS? Ya ampun, bagaimana mungkin aku bisa lupa namamu." Seru Dyara dengan wajah tampak terkejut.


Sebenarnya Tania tahu dengan yang terjadi. Dyara sama sekali tidak pernah menanyakan namanya, dan hanya bertanya apapun mengenai Ares. Karena itu gadis tersebut tentunya tidak tahu siapa nama Tania. Namun Tania tidak ingin membahasnya karena menurutnya itu bukanlah sesuatu yang penting.


"Jadi murid pindahan yang membuat heboh itu adalah kau?" Tanya Tania.


"Jadi kau sudah mengenalnya, ketua OSIS?" Tanya Wanda terkejut.


"Lalu ada apa kau mencariku?" Tanya Tania lagi.


"Apa murid pindahan sepertiku bisa mendaftar sebagai kandidat ketua OSIS?" Tanya Dyara.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Pendaftaran baru saja ditutup akhir minggu ini. Tapi syarat mendaftar sebagai kandidat, kau harus memiliki rekomendasi dari guru karena nilaimu atau kau juga bisa mendapatkan setidaknya lima puluh pendukungmu." Terang Tania. "Selain itu, kau juga harus mengirimkan visi dan misinya sebelum pendaftaran ditutup."


"Oke, baiklah... Aku akan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu." Jawab Dyara setelah itu menoleh pada Ares yang berdiri dekat dengannya. "Kak, bagaimana keadaanmu? Kau sudah sembuh? Adik-adikmu bilang kalau kau sakit dan ada kemungkinan penyakitnya menular. Tapi sepertinya kau sudah sangat sehat."


Ares menggigit bibirnya sambil melirik pada Tania yang menatap padanya, karena sebelumnya pemuda itu mengatakan pada Tania kalau Dyara yang sakit. Karena itu dia membatalkan untuk pergi ke acara ulang tahun temannya.


Bel jam istirahat berakhir.


"Sebaiknya aku kembali ke kelas." Ujar Ares yang langsung bergegas pergi untuk menghindari Dyara dan agar Tania tidak mendengar jawabannya pada Dyara mengenai pertanyaan gadis itu yang menanyakan sakitnya.


"Kak Ares!" Panggil Dyara yang bingung melihat kepergian Ares dari sana.


Gadis itu langsung menekuk wajahnya dengan masam dan berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi pada Tania ataupun Wanda.


"Dia langsung pergi begitu saja?" Tanya Wanda yang heran melihat sikap Dyara yang menurutnya tidak punya sopan santun di depan kakak kelas dan ditambah keberadaan Tania yang merupakan ketua OSIS. "Dia sangat tidak sopan. Apa semua selebgram seperti itu? Apa dia tidak menganggap kita?" Tatap Wanda dengan nada suara kesal.


"Kembalilah ke kelas. Tidak usah memikirkan semua hal yang tidak penting." Seru Tania sambil berjalan masuk ke ruangan untuk mematikan laptopnya dan segera kembali ke kelas.


Tania berjalan menuju kelasnya bersama Wanda. Gadis itu memikirkan perkataan Dyara pada Ares. Perkataan gadis itu bertolak belakang dengan yang dikatakan Ares padanya mengenai alasan Ares tidak pergi ke acara ulang tahun temannya. Itu membuatnya tahu kalau pemuda itu berbohong mengenai alasan yang sebenarnya.


"Tidak, aku hanya memperhatikan jalanku." Sanggah Tania yang tidak mengakui.


"Entah kenapa aku jadi tidak menyukai selebgram itu. Dia terlihat seperti gadis kaya lainnya. Ya, dia pasti tidak menganggap kita karena kita tidak sekaya keluarganya, karena itu dia hanya bersikap manis di depan Ares. Terlihat sekali kalau dia menyukai Ares." Oceh Wanda.


Sejak awal melihat Dyara, Tania juga beranggapan seperti itu padanya. Itu sangat terlihat jelas sekali, buktinya gadis itu tidak pernah sekali pun bertanya mengenai siapa namanya.


Dan jika dipikirkan lagi, meskipun dirinya tidak pernah menyebutkan namanya, tetapi perawat atau pun dokter yang datang memeriksa mereka berdua selalu menanyakan siapa nama mereka sebelum memberikan obat.


Itu membuat Tania tahu kalau sejak awal, Dyara hanya ingin dekat dengan Ares. Bahkan sejak pertama kali melihatnya, gadis itu sudah terang-terangan mengatakan hal tersebut pada Ares.


Tapi jika diperhatikan dari sikap Ares, terlihat kalau pemuda itu tidak terlalu nyaman dengan keberadaan Dyara. Hal itu berarti juga menampik kalau gadis itu adalah gadis yang dimaksud Ares saat menolak pernyataan cinta adik kelas tadi.

__ADS_1


"Ternyata dia hanya mengarang alasan lagi." Gumam Tania tanpa sadar.


"Apa? Siapa yang mengarang alasan lagi?" Tatap Wanda heran pada Tania.


Tania hanya memutar bola matanya karena dirinya yang terus berpikir tanpa sadar kelepasan berbicara.


Bel pulang berbunyi ketika mata pelajaran terakhir adalah matematika.


Tanpa menunggu lagi Ares langsung beranjak dari tempat duduknya. Pemuda itu berjalan hendak pergi menemui teman-temannya. Tatapannya mengarah pada Kayden dengan sudut bibir terangkat dengan sinis pada gurunya itu.


Melihatnya Kayden tidak bereaksi hingga pemuda itu keluar dari kelas, dan membuatnya menjadi mendengus dengan tawa kecil.


Tania yang duduk di urutan kursi terdepan melihat Kayden yang bereaksi seperti itu. Segera gadis itu bergegas keluar juga dari kelasnya.


Dengan langkah yang terasa berat, Tania berjalan mengarah ke ruang OSIS karena seperti biasanya, setengah jam lagi, dia akan memimpin rapat OSIS.


Tatapannya teralih pada Dyara yang melambaikan tangannya pada Ares yang sedang berjalan di koridor.


Tentu saja semua mata langsung memperhatikan kedua orang tersebut, dan banyak dari mereka berbisik-bisik mengenai Ares dan Dyara, bahkan Tania sayup-sayup mendengar namanya disebut juga.


Gadis itu mengalihkan tatapannya dari Dyara yang menghampiri Ares dan mencoba berjalan cepat masuk ke dalam ruang OSIS. Tania tidak ingin peduli pada apa yang terjadi dan tidak ingin juga memikirkan apa yang akan terjadi di antara Ares dan Dyara.


Secepatnya Tania mengalihkan fokusnya dengan menghidupkan laptop dan segera duduk di hadapannya. Dia mencoba fokus agar tidak memikirkan kedua orang yang dilihatnya tadi.


Namun sayangnya, gadis itu tidak bisa dengan mudah menghalau rasa ingin tahunya pada mereka berdua.


"Aarrgghh!!" Teriak Tania dengan kesalnya pada dirinya sendirinya.


"Kau sedang apa?"


Tania menoleh ke arah pintu yang dibelakanginya ketika seseorang membuka pintu dan bertanya padanya. Gadis itu langsung membeku karena merasa malu seseorang melihatnya menggeram kesal.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Tanya Wanda lagi sambil berjalan masuk dan menutup pintu ruangan tersebut.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2