
"Sedang apa bocah itu?" Gumam Kayden memperhatikan arah depan ketika hampir sampai di depan rumahnya.
Tania mengarahkan pandangannya ke depan, dan melihat Ares berada di luar rumah, berdiri di samping mobil sedan yang dikendarainya.
Kayden memasukan mobilnya ke dalam pekarangan rumah. Ares segera menghampiri Tania yang baru saja keluar dari mobil.
"Maafkan aku." Ucap Ares pada Tania.
Tania menatap pada Ares yang ada dihadapannya. Gadis itu sudah melupakan kesalahan pemuda tersebut sejak Ares meninggalkan ruangan tempatnya dirawat.
"Aku memang salah karena melakukan hal yang sama sekali aku tidak mengerti. Karena itu maafkan aku. Sebagai gantinya..." Ares menyodorkan sebuah paper bag pada Tania.
Paper bag yang terdapat gambar kacamata di luarnya.
Tania mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti maksud Ares memberikan benda itu padanya. Tidak jauh dari sana, Kayden memperhatikan mereka berdua.
"Ambillah... Kacamatamu rusak kan? Sebagai gantinya aku membelikan yang baru untukmu." Terang Ares memberitahukan isinya meski siapapun sudah tahu hanya dengan melihat bungkusnya.
Tanpa berpikir lagi, Tania mengambil benda itu dan menbukanya. Gadis itu mengambil isinya dan mengeluarkannya segera.
Dibukanya tempat tersebut dan terlihat kacamata di dalamnya. Hanya melihatnya saja, Tania tahu kalau harga kacamata tersebut jauh lebih mahal dari yang kemarin dia beli.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku? Aku menanyakan berapa minus matamu karena aku ingin membelikan benda ini untukmu. Karena aku kacamata milikmu jadi rusak."
Tania tidak menjawab, gadis itu langsung mengambil kacamata tersebut dan mencoba memakainya. Seketika matanya menjadi sangat buram dengan memberikan efek pusing, karena ukuran minus kacamata tersebut tidaklah cocok dengan matanya.
"Ada apa? Apa aku salah?" Tanya Ares.
"Kau pikir mataku rusak separah ini?" Ujar Tania memasukkan kembali kacamata tersebut ke dalam tempatnya dan memberikannya pada Ares kembali.
__ADS_1
Tania mengambil tasnya dari dalam mobil dan berjalan mengarah ke ruangan yang merupakan tempat tinggalnya.
"Aku tidak tahu, maka dari itu aku bertanya. Kita bisa menggantinya. Ikutlah bersamaku." Seru Ares.
Pemuda itu berjalan membuntuti Tania dari belakang, namun Tania tidak menggubrisnya. Saat Tania membuka pintu, Ares langsung memegang lengan gadis itu.
"Kalau tidak, beritahu aku berapa minus lensanya yang benar? Biar aku pergi sendiri menukarnya." Ujar Ares menahan Tania agar tidak masuk dulu ke dalam kamarnya.
"Tidak usah, kacamata itu harganya terlalu mahal untukku. Aku tidak ingin berhutang pada siapapun. Kau juga tahu kan kalau aku sudah berhutang pada ibumu karena dia membayar biaya rumah sakit." Ucap Tania menatap Ares.
"Itu bukan hutang. Ibuku membayarnya sebagai bentuk rasa bersalahnya karena ulahku. Begitu juga dengan aku. Ini bukan hutang, kau tidak perlu membayarnya. Kau harus menerimanya agar aku tidak mengganggumu lagi." Ares meyakinkan Tania agar gadis itu mau menerima pemberiannya.
"Kau tidak akan menggangguku lagi?" Tatap Tania.
Ares mengangguk dengan ragu.
Sejujurnya gadis itu sama sekali tidak berharap kalau Ares akan menyetujuinya. Bahkan surat perjanjian yang sudah pemuda itu tandatangani pun tetap diabaikan oleh Ares.
"Ya, ya aku berjanji. Aku akan melakukan semua itu demi bisa menebus semua rasa bersalahku atas apa yang kau alami." Jawab Ares penuh keyakinan.
Tania menepis tangan Ares yang menahan lengannya, dan hendak berjalan masuk ke dalam.
"Apa kau tidak percaya?" Tanya Ares yang bingung karena Tania tidak berkata apapun.
"Tunggulah, sepuluh menit lagi aku keluar." Jawab Tania berjalan masuk dan langsung menutup pintu.
Napas gadis itu terhembus dari hidungnya dengan sangat dalam. Tania langsung duduk di kursi meja belajar. Dia sama sekali tidak habis pikir pada Ares dan sikap pemuda itu yang untuknya terasa aneh.
Tidak dia kira kalau Ares akan bersikap begitu padanya, setelah hal buruk yang menimpa dirinya. Sebenarnya Tania masih berpikir kalau apa yang terjadi padanya sama sekali bukan karena kesalahan pemuda itu, melainkan atas kebodohannya sendiri yang masuk ke dalam perkelahian tersebut. Bahkan saat ini Tania jadi merasa kalau yang dikatakan Ares mengenai dirinya yang selalu bersikap masa bodoh itu adalah benar.
__ADS_1
Ares menoleh ke arah Kayden yang sejak tadi memperhatikan dirinya dan Tania. Pemuda itu berjalan ke arah Kayden saat pria itu hendak masuk ke dalam rumahnya.
"Pak Guru, terimakasih ya karena kau sudah menggantikan aku dengan datang menjemputnya." Ucap Ares ikut masuk ke dalam rumah.
Kayden mendengus dengan tawa kecil tidak percaya. Apa yang dikatakan dari seorang pemuda padanya membuat pria itu menjadi lucu dalam arti negatif.
"Meski aku tahu kau melakukannya pun dengan kerelaan hatimu, aku tetap berterimakasih padamu." Tambah Ares sambil menutup pintu rumah.
Kayden membalikkan badannya melihat pada Ares yang berdiri dibelakangnya. Pria itu semakin kesal mendengar perkataan muridnya itu padanya. Di tatapnya Ares dengan tatapan tajam namun tak ada perkataan yang langsung terlontar darinya.
"Ada apa?" Tanya Ares dengan tatapan seolah-olah tidak mengerti pada siratan kemarahan gurunya itu padanya. "Kenapa Pak Guru menatapku seperti itu? Apa perkataanku menyinggungmu atau aku melakukan kesalahan?"
"Sebenarnya tujuanmu apa? Kenapa sepertinya dengan sengaja kau mencoba untuk membuatku kesal." Ucap Kayden dengan kesal.
"Apa kau melihatnya seperti itu?" Tanya Ares lagi. "Kenapa aku harus membuatmu kesal?"
Kayden tidak menjawab, pria itu menjadi bingung saat Ares membalikkan perkataannya. Dia memang tahu kalau Ares mencoba memancingnya, dan sepertinya pemuda itu berhasil memancing dirinya hingga tanpa sadar Kayden bersikap seperti itu.
"Ada apa? Kenapa sekarang kau diam Pak Guru? Apa kau jadi bingung?" Tanya Ares lagi. "Kau tidak perlu khawatir, aku sama sekali tidak ingin mencari tahu apapun karena aku sudah tahu semuanya. Apa yang aku lakukan saat ini memang pada kenyataannya hanya karena aku ingin bertanggung jawab atas semua perbuatanku pada gadis itu."
"Benarkah seperti itu? Kau selalu mengatakan mengenai tanggung jawab. Memangnya apa yang kau mengerti mengenai hal itu?" Pertanyaan tersebut diajukan Kayden dengan penuh emosi yang tertahan. "Kau mengerti apa jika tanggung jawabmu sebagai seorang pelajar kau abaikan?"
Ares mendengus dengan menyunggingkan bibirnya dengan tatapan seperti mengejek gurunya itu.
"Kenapa kau diam? Sekarang kau mengerti tanggung jawabmu yang seharusnya kan?" Ujar Kayden tidak mau kalah melancarkan tatapan dingin pada Ares.
"Tanggung jawab sebagai seorang pelajar aku rasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tanggung jawab sebagai sesama manusia. Ya, sepertinya aku harus mengingatkan kembali apa yang terjadi sekitar lima tahun lalu. Sesuatu hal yang menimpa seorang gadis malang karena diabaikan seseorang yang mencintainya." Ucap Ares dengan tatapan dingin terpancar pada Kayden.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1